Di siang hari, Arkana Baswara adalah pengusaha paling terhormat di kota, sosok tampan berkuasa yang diperebutkan setiap wanita. Namun ketika malam turun, ia berubah menjadi Sang Iblis: penguasa dunia hitam yang paling ditakuti, seorang pria yang tak pernah mengizinkan siapa pun menyentuh hatinya.
Salsabila hanyalah gadis penjual bunga miskin dengan satu mimpi sederhana: menjadi dokter dan mengangkat keluarganya dari kesulitan. Sampai satu malam kelam mengubah seluruh hidupnya, dan meninggalkan sebuah rahasia yang harus ia jaga dengan nyawanya.
Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Kini sang mafia menemukan apa yang selama ini disembunyikan darinya, dan ia tak akan melepaskannya begitu saja. "Kau dan dia adalah milikku," katanya. Tapi Salsabila punya satu tekad: melarikan diri, sejauh apa pun, berapa kali pun.
Namun bagaimana caranya kabur dari seorang pria yang menguasai seluruh kota? Bagaimana caranya membenci pria yang perlahan meruntuhkan setiap tembok di hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 — Permohonan
Salsabila menaiki tangga rumah terbengkalai itu sambil menggandeng Alika.
"Mama, apa Kakek benar-benar akan datang menjemput kita? Tempat ini menyeramkan sekali."
"Kakek pasti datang, Nak. Ia akan datang menjemput kita."
Salsabila tak tahu apa yang telah terjadi pada temannya dulu. Kini pria itu berubah jahat dan terobsesi padanya. Tatapan Devan membuatnya sangat ketakutan, sementara tatapan Arkana kadang serius, tapi tak pernah sekali pun membuatnya takut, dan justru itulah yang membuatnya bergidik.
Ia menyesal. Tak pernah ia menyangka akan terjebak di situasi yang lebih buruk. Ia kabur dari seorang mafia, dan tanpa sengaja jatuh ke tangan bajingan lain karena kesalahannya sendiri.
Salsabila mengosongkan tasnya untuk mengambil obat sang gadis kecil. Syukurlah dr. Adnan telah membekalinya beberapa camilan dan jus untuk Alika.
"Nak, Mama beri obat dan sarapanmu dulu, lalu Mama mau kamu coba istirahat sebentar. Ingat, semakin banyak tidur, semakin cepat kamu pulih, dan nanti kamu bisa berlari lagi."
"Iya, Mama. Alika akan makan semuanya dan jadi anak penurut seperti yang Om bilang."
Hati Salsabila mengerut mendengar putrinya bicara tentang Arkana. Pria itu memang luar biasa, dan ia telah memperlakukan Alika dengan sangat baik.
Kamar itu bersih, tapi tak bisa dipungkiri semuanya serba seadanya. Hanya ada satu ranjang tunggal, satu meja kecil, dan sebuah kursi. Dingin dan lembap.
Setelah mengurus Alika, Salsabila turun untuk menyelesaikan urusannya dengan Devan. Setiap anak tangga tua rumah terbengkalai itu yang ia turuni membuat jantungnya berdegup makin kencang. Sesampainya di lantai bawah, napasnya seakan terhenti bersama detak jantungnya. Devan duduk di tempat yang sama, mengisap cerutu.
"Aku di sini. Katakan apa maumu supaya kau melepaskanku."
"Kau tak akan pergi dari sini. Aku akan menunggu sampai malam, saat teman-temanku datang menjemput kita. Begitu kita sampai di seberang, tak ada lagi yang bisa menemukanmu. Bahkan Sang Iblis sekalipun tak akan bisa melacakmu."
"Kau tak perlu membahas orang yang tak ada di sini. Aku datang untuk bernegosiasi."
Devan mengisap asap cerutunya lalu mengembuskannya ke tubuh Salsabila. Ia tetap duduk bagai seorang raja, sementara Salsabila berdiri dengan aura yang menantang. Ia telah mengumpulkan segenap keberanian. Kalau sampai Devan mencium ketakutannya, hampir pasti ia akan mengalami kembali kisah bertahun-tahun lalu, saat ia tak berdaya melawan Arkana yang memerkosanya.
"Kalau begitu, biar kuberi tahu. Di sini tak ada yang namanya negosiasi. Aku menginginkanmu, dan aku sudah mendapatkanmu."
"Kau tak pernah memilikiku dan tak akan pernah."
Salsabila bertekad melawan dengan tinju dan cakar.
Devan bangkit dari sofa dan berjalan ke arahnya, mengembuskan segumpal besar asap dari mulutnya hingga Salsabila terbatuk-batuk keras.
"Uhuk, uhuk, uhuk. Apa-apaan kau, dasar binatang."
Devan mencengkeramnya kuat-kuat, menarik tubuh mungil itu ke arahnya untuk menciumnya dengan paksa.
"Lepaskan, keparat."
Salsabila menjerit sambil mencakari wajah dan lengan pria itu.
Alika, yang tadi keluar dari kamar, berdiri di ujung tangga sambil mendengar teriakan ibunya tanpa bisa melihatnya. Karena ketakutan, ia berlari masuk kembali dan menyusup ke kolong ranjang, sampai ia teringat sesuatu. Om pernah bilang bahwa medalinya ajaib dan bisa mengabulkan satu permohonan. Tanpa berpikir lebih lama, gadis kecil itu menggenggam erat medali berbentuk hati itu, lalu mengucapkan permohonannya dengan lantang.
Di bawah, pergulatan masih berlangsung dengan tinju dan cakaran. Devan telah beberapa kali memukul tubuh dan wajah mungil Salsabila. Salsabila tak merasakan sakit. Ia hanya ingin bebas, dan tak ingin ada satu pun pria yang menguasai takdirnya.
°°°° Semoga Om datang menyelamatkanku. °°°°