NovelToon NovelToon
Suami Kontrakku, Cleaning Service

Suami Kontrakku, Cleaning Service

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Wardani

"Saya tidak sedang berusaha menghukum kamu, dan saya juga tidak peduli kamu ini OB, kuli, atau apa pun. Saya butuh seorang suami dalam waktu cepat, dan kamu butuh uang untuk biaya rumah sakit ibumu. Sederhana, kan?"

"Tapi pernikahan bukan transaksi main-main seperti ini, Bu!" sergah Mirza, untuk pertama kalinya memberanikan diri menatap mata sang CEO dengan nada protes yang agak meninggi.

Alana terpaksa menikah kontrak dengan seorang Cleaning Service di perusahaanya agar bisa terlepas dari perjodohan orang tuanya. namun ketika hubungan kontrak itu berubah menjadi perasaan cinta, mampukan mereka mengganti komitmen dan bersatu atas nama cinta? atau berakhir sebagai ikatan kontrak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dijodohkan

***

"Gue mau makan siang makanan tradisional hari ini, bukan junk food atau restoran modern," cetus Alana begitu melangkah keluar dari ruang rapat.

Shiren dan Meri, asisten muda Alana langsung menyanggupi. Tak berapa lama, bertiga mereka sudah duduk nyaman di sebuah restoran bernuansa tradisional dengan interior kayu yang hangat. Meri dengan cekatan mencatat semua pesanan menu tradisional kesukaan bosnya.

Awalnya, suasana terasa santai. Mereka bertiga terlibat obrolan ringan membahas hasil rapat kerja sama yang baru saja selesai. Namun, suasana mendadak berubah tegang ketika mata Shiren tidak sengaja menangkap dua sosok familiar yang baru saja memasuki pintu restoran.

"Al ... itu bukannya Mirza sama Nilam, ya?" bisik Shiren sambil menyikut pelan lengan Alana.

Alana menoleh, dan matanya seketika memicing tajam. Benar saja, Mirza dan Nilam tampak berjalan berdampingan menuju salah satu meja kosong tak jauh dari tempat mereka.

Dada Alana langsung mendidih panas.

"Gue heran deh, kenapa sih Mirza terus-terusan nempel sama Nilam? Udah kayak orang pacaran aja!" cetus Alana ketus, suaranya ditahan agar tak menjadi pusat perhatian.

"Meskipun sesama rekan kerja, enggak perlu jalan bareng terus kan? Kan banyak rekan kerja OB yang lain di kantor, kenapa nempelnya harus sama Mirza terus? Si Nilam ini aneh banget deh!"

Shiren yang mendengar kekesalan sahabatnya itu hanya tersenyum tipis sambil meminum tehnya.

"Ya ... mungkin karena mereka merasa cocok dan nyaman berdua, Al. Kayak kita berdua gini. Kan jarang-jarang bisa ketemu teman yang benar-benar klop."

"Tapi enggak gitu juga kali—"

"Lagian ya, Al, banyak staf di kantor yang bilang kalau mereka berdua itu cocok banget, serasi. Malah belakangan ini pada heboh mau menjodohkan mereka."

"Dijodohkan?!" tembak Alana cepat, matanya membelalak penuh amarah yang tak tertahankan lagi.

"Enak aja! Mirza itu suami gue!"

"Hah?! S-suami Bu Alana?!"

Meri yang duduk di sebelah mereka seketika menghentikan gigitannya. Sendok yang dipegangnya hampir saja terlepas, matanya melotot sempurna menatap Alana dan Shiren bergantian dengan raut wajah sangat terkejut.

Alana seketika membeku. Matanya membelalak menyadari kebodohannya sendiri karena kebablasan berteriak di depan Meri.

Shiren langsung menepuk jidatnya, sementara Meri masih menatap Alana dengan mulut menganga lebar.

"B-Bu Alana ... barusan bilang apa?" bisik Meri terbata-bata, matanya bolak-balik menatap Alana dan Mirza yang masih asyik mengobrol di ujung sana.

"Mirza si OB kantor itu ... suaminya Bu Alana?!"

Alana menelan ludah berat, otaknya berputar cepat mencari alasan. Namun sebelum Alana sempat mengelak, Shiren buru-buru memajukan tubuhnya dan memegang tangan Meri dengan raut wajah sangat serius.

"Meri, dengar baik-baik ya," bisik Shiren dengan nada mengancam tapi memohon.

"Apa yang baru saja lo dengar itu rahasia paling besar di perusahaan ini. Bu Alana sama Mirza memang sudah menikah, tapi ini pernikahan rahasia. Kalau sampai ada satu kata pun yang bocor keluar dari mulut lo ke staf lain ... lo tahu kan konsekuensinya?"

Meri menelan ludah kasar, nyalinya menciut seketika. Dia langsung mengangguk-angguk cepat sampai rambut kuncirnya bergoyang.

"I-iya, Bu Shiren! Saya janji bakal tutup mulut rapat-rapat! Saya tidak akan bilang ke siapa-siapa, sumpah!"

Alana menghembuskan napas lega, meski sisa amarahnya masih membakar dada. Dia membuang muka kembali menatap ke arah meja Mirza dan Nilam.

Di sana, Mirza tampak tersenyum lebar sambil menyerahkan segelas es teh manis pada Nilam, dan Nilam menyambutnya dengan tawa kecil. Tawa yang terasa sangat merusak pemandangan bagi Alana.

"Awas aja lo ya, Mirza ...." desis Alana berbisik tajam sambil memeras serbet di pangkuannya.

"Lihat apa yang bakal gue lakukan nanti malam di rumah."

***

Sementara itu, di kediaman mewah keluarga Alana, suasana ruang tamu terasa begitu tegang. Dwi, mendadak menutup majalah fashion di pangkuannya dengan hempasan kasar.

"Papa! Mama benar-benar tidak habis pikir!" cetus Dwi dengan napas memburu, menatap suaminya, Liam, yang duduk tenang di seberang meja.

"Anak kita ... Alana ... nekat ikut tinggal di rumah kontrakan si Mirza itu? Rumah sempit begitu?!"

Kabar mengejutkan itu mereka dapatkan dari asisten pribadi Liam. Sudah beberapa hari ini, Liam memang diam-diam menyuruh orang kepercayaannya untuk membuntut ke mana saja Alana dan Mirza pergi.

Liam menghembuskan napas panjang, memperbaiki letak kacamata yang bertengger di hidungnya.

"Papa juga sempat tidak yakin, Ma. Tapi kalau melihat sifat Alana selama ini, dia itu anak yang keras kepala. Dia tidak mungkin melakukan hal se-ekstrem ini kalau hatinya tidak yakin."

Dwi mendelik tak percaya.

"Maksud Papa apa? Papa mau merestui pernikahan tidak jelas ini?!"

"Mama ... Alana itu satu-satunya anak yang kita punya," sahut Liam dengan suara berat dan tenang.

"Mau kita restui atau tidak, mereka berdua sudah sah menikah secara hukum dan agama. Mau bagaimana lagi?"

"Tidak bisa begitu!" potong Dwi cepat, matanya menyipit penuh rencana.

"Mama butuh informasi yang lebih akurat dan jelas soal Mirza dan asal-usul keluarganya. Mama tidak percaya begitu saja!"

Dwi lantas berdiri, menatap suaminya dengan raut wajah penuh penekanan.

"Ayo Papa ikut Mama sekarang. Kita mendatangi kontrakan Mirza dan bicara langsung lagi sama Alana!"

Liam menaikkan satu alisnya.

"Mau apa lagi ke sana?"

"Siapa tahu di sana kita bisa menemukan bukti atau celah untuk membawa Alana pulang dan memisahkan mereka berdua!" desak Dwi berbisik tajam.

"Mama tidak mau anak Mama hidup sengsara di tempat kumuh begitu!"

Liam diam sejenak, mempertimbangkan ucapan istrinya. Akhirnya, dia mengangguk pelan.

"Ya sudah. Ayo kita ke sana sekarang."

Sore harinya, sebuah mobil mewah terparkir di depan gang sempit kontrakan Mirza. Liam dan Dwi melangkah anggun menyusuri lorong hingga berhenti di depan pintu kayu rumah tersebut.

Tok, tok, tok.

Liam mengetuk pintu pelan. Tak berapa lama, pintu terbuka dan menampilkan sosok Maya yang tampak terkejut melihat sepasang suami istri berpenampilan sangat elegan berdiri di depannya.

"E-eh ... cari siapa ya?" tanya Maya ramah.

"Kami orang tuanya Alana," sahut Liam sopan.

Maya tersentak kaget, lalu buru-buru menyunggingkan senyum hangatnya.

"Astaga, orang tua Nak Alana ... Mari, Pak, Bu, silakan masuk dulu."

Maya mempersilakan mereka masuk ke ruang tamu yang serba terbatas. Namun, saat Maya menyuruh mereka duduk, Dwi menolak tegas. Wanita itu melipat tangan di dada sambil memandang jijik ke sekeliling ruangan yang beralaskan lantai semen.

"Tidak usah! Saya tidak mau duduk, rumahnya kotor!" cetus Dwi tanpa menyaring omongannya.

"Harusnya Ibu rajin membersihkan rumah ini biar Alana nyaman! Alana itu anak manja, dia bisa sakit-sakitan kalau tinggal di tempat sempit dan kotor begini!"

Maya langsung tertunduk merasa bersalah dan serba salah.

Liam yang berusaha menahan rasa enaknya memotong.

"Maaf, Bu ... Alana dan Mirza ada di mana ya?"

"Mereka belum pulang kerja, Pak ...." jawab Maya pelan.

Dwi mendengus makin keras.

"Mirza itu benar-benar suami tidak berguna ya! Masa tidak bisa memberikan tempat tinggal yang layak buat Alana? Tempat tinggalnya saja sudah kumuh begini, bagaimana dengan makanan sehari-harinya? Alana itu kan sedang hamil! Dia harus makan makanan yang sehat dan bergizi! Kalau sampai cucu saya lahir cacat gara-gara makan makanan tidak sehat di sini, bagaimana?!"

"Ma!"

Sebuah suara lantang memotong omelan Dwi. Di ambang pintu, Alana dan Mirza baru saja tiba. Wajah Alana memerah padam menahan amarah mendengar ibunya menghina rumah dan ibu mertuanya.

Alana melangkah maju, berdiri pasang badan di depan Maya.

"Mama sama Papa ngapain ke sini?! Langsung pulang sekarang! Alana minta tolong, jangan pernah campuri urusan rumah tangga Alana lagi!"

Dwi mendekati Alana, mencoba meraih tangan anaknya dengan raut memelas.

"Al, ikut Mama pulang yuk, Nak ... Tinggalkan Mirza! Kamu tidak pantas hidup melarat begini!"

"Tidak akan!" tegas Alana menepis pelan tangan ibunya.

"Alana tidak akan pulang! Alana tinggal di sini karena Alana mencintai Mirza!"

Liam membelalakkan mata, memandang putrinya tak percaya.

"Alana ... kamu jangan bohong sama Papa. Kamu beneran cinta sama OB ini?"

"Iya, Pa! Alana sangat mencintai Mirza!" seru Alana meyakinkan dengan tatapan lurus, meski dalam hati dadanya berdebar kencang karena terpaksa berbohong lagi.

"Tapi Mama tidak mau cucu Mama kenapa-napa kalau kamu nekat tinggal di tempat kumuh ini, Alana!" histeris Dwi tak mau kalah.

"Alana cuma pura-pura hamil, Ma!" pengakuan Alana memotong histeria ibunya.

Keheningan mendadak mencekam di ruang tamu yang sempit itu. Maya membelalak kaget, sementara Mirza hanya bisa menunduk pasrah di samping Alana.

"Alana terpaksa bohong waktu itu cuma supaya Mama sama Papa mau merestui pernikahan Alana dan Mirza," lanjut Alana dengan napas memburu, berusaha menyusun benteng pertahanannya rapat-rapat.

Dwi terpaku di tempatnya, menggeleng-geleng tak percaya. Namun sejurus kemudian, mimik wajahnya berubah tegas.

"Kalau kamu belum hamil, artinya makin gampang! Pisah saja sekarang, Alana! Ikut pulang sama Mama dan Papa!"

"Tidak!" seru Alana tanpa keraguan sedikit pun.

"Alana tidak akan pernah berpisah sama Mirza sampai kapan pun!"

"Alana!" pekik Dwi terperanjat, memegangi dadanya yang sesak mendengar penolakan mentah-mentah dari putri tunggalnya.

Melihat situasi yang makin tak terkendali dan menyadari keteguhan sikap Alana, Liam akhirnya menarik napas panjang. Pria itu merangkul bahu istrinya.

"Sudah, Ma ... Ayo kita pulang."

"Tidak mau, Pa! Mama tidak mau pulang kalau tidak membawa Alana!" rengek Dwi histeris, mencoba menghempaskan rangkulan suaminya.

"Pa, Ma ... tolong dengarkan Alana," potong Alana dengan suara yang melunak namun sarat akan penekanan.

"Alana cuma ingin hidup bahagia sama Mirza. Sekarang Alana sudah bahagia, jadi Mama sama Papa tidak perlu khawatir lagi. Alana tidak butuh materi berlimpah hanya untuk bisa bahagia sama suami Alana."

Alana menatap kedua orang tuanya bergantian dengan pandangan memohon.

"Tolong mengerti dan terima pilihan hidup Alana kali ini."

Napas lega berembus dari dada Alana begitu bayangan mobil mewah orang tuanya benar-benar menghilang di ujung gang. Namun, keheningan di dalam rumah mendadak terasa jauh lebih mencekam.

Maya berdiri kaku, menatap putra tunggalnya dan Alana secara bergantian dengan raut wajah campur aduk, antara terkejut, sedih, dan tidak percaya.

"Mirza ... Nak Alana ..." suara Maya bergetar pelan.

"Apa benar yang dibilang tadi? Kalian menikah tanpa restu orang tua Alana? Dan ... soal kehamilan itu, kalian cuma membohongi Ibu dan orang tua Nak Alana?"

Alana mendadak mengatupkan bibirnya rapat-rapt. Semua keberanian dan keangkuhannya sebagai CEO menguap seketika di hadapan tatapan kecewa wanita tua itu. Dia hanya bisa menunduk, tak berani menatap mata Maya.

Mirza memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang dan berat. Dia tahu, sudah tidak ada lagi alasan untuk menutupi kebohongan ini dari ibunya.

"Bu ... maafkan Mirza," bisik Mirza pelan. Dia melangkah mendekati ibunya dan meraih kedua tangan Maya yang terasa dingin.

"Semua yang Ibu dengar tadi itu benar. Tapi ada satu hal lagi yang belum Ibu tahu ...."

Maya menatap anaknya dengan mata berkaca-kaca.

"Apa lagi, Mirza?"

Mirza menelan ludah kasar, memberanikan diri menatap mata ibunya.

"Pernikahan kami ini ... sebenarnya cuma pernikahan kontrak, Bu."

Maya membelalakkan mata, memegang dadanya yang mendadak sesak.

"P-pernikahan kontrak?"

"Iya, Bu," lanjut Mirza dengan suara parau namun jujur.

"Bu Alana butuh status pernikahan cepat untuk menghindari jodoh pilihan orang tuanya. Dan sebagai imbalannya ... Bu Alana yang membiayai seluruh operasi dan perawatan rumah sakit Ibu kemarin. Mirza terpaksa terima tawaran ini karena Mirza tidak punya uang sama sekali buat nyelamatin nyawa Ibu."

Seketika, air mata menyelimuti sudut mata Maya saat mendengar pengakuan tulus dari putranya.

1
dibyanto byl
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!