Sebulan menjelang pernikahan, Dera harus menelan kenyataan pahit saat Vivian, kakak kandungnya sendiri, mengaku hamil anak Galih, calon suaminya.
Lebih menyakitkan lagi, kedua orang tua mereka justru merestui pernikahan Galih dan Vivian, sementara Dera harus merelakan semua persiapan pernikahan yang dibayar dari hasil kerja kerasnya.
Hancur dan dikhianati keluarganya sendiri, Dera memilih pergi ke Jakarta untuk memulai hidup yang baru.
Tak disangka, pertemuannya dengan seorang miliarder tampan mengubah takdirnya. Pria itu bukan hanya menawarkan cinta, tetapi juga sebuah pernikahan yang akan membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal.
Namun, mampukah Dera menemukan kebahagiaan, atau justru terjebak dalam permainan cinta sang miliarder?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Di koridor klinik yang tenang, suara langkah Dera dan Rere perlahan menjauh menuju pintu keluar. Bau antiseptik ringan masih tercium samar, bercampur dengan aroma kopi dari ruang staf di ujung lorong. Cahaya matahari sore masuk melalui jendela besar, membentuk bayangan panjang di lantai keramik yang mengilap.
Gio baru saja menutup pintu ruang konsultasinya ketika seorang pria tinggi berjas abu-abu gelap menghampirinya. Rambutnya disisir rapi, jam tangan mewah di pergelangan tangan kiri berkilau setiap kali ia menggerakkan tangan. Ia adalah Mario Pratama, teman kuliah Gio sejak dulu, sekaligus salah satu miliarder muda yang namanya sering muncul di halaman bisnis.
Mario berhenti di samping Gio, matanya masih mengikuti arah kepergian dua perempuan yang baru saja keluar.
“Cewek yang barusan keluar siapa?” tanya Mario sambil mengangkat alis, nada suaranya penuh rasa ingin tahu.
Gio menoleh, wajahnya langsung berubah serius. Ia menatap teman lamanya dengan peringatan jelas.
“Mau apa kamu? Jangan aneh-aneh. Dia pasienku,” jawab Gio tegas. “Baru saja dikhianati calon suaminya dan juga keluarganya. Luka yang dalam. Jangan coba-coba mendekatinya atau mencari tahu lebih jauh.”
Mario menghela napas pelan. Ia menggelengkan kepala, ekspresinya berubah menjadi campuran kasihan dan keheranan.
“Gadis yang malang,” ucapnya dramatis, suaranya rendah. “Dikhianati calon suami sekaligus keluarga sendiri, berat sekali hidupnya.”
Gio hanya mengangguk singkat, lalu berjalan menuju ruang staf. Mario mengikuti di belakangnya dengan langkah santai. Di ruang itu, aroma kopi baru seduh memenuhi udara. Mario melepas jasnya, meletakkannya di sandaran kursi, lalu duduk di sofa kulit yang nyaman.
Mario Pratama bukan orang sembarangan. Di usia yang masih terbilang muda, ia sudah menjadi pemilik beberapa perusahaan raksasa di bidang properti, teknologi, dan investasi. Namanya sering disebut di kalangan pengusaha Jakarta sebagai sosok yang tegas, visioner, dan sangat selektif dalam memilih orang di sekitarnya. Kehidupannya penuh dengan rapat tingkat tinggi, perjalanan bisnis ke luar negeri, dan tanggung jawab yang hampir tidak pernah berhenti. Namun di balik semua itu, Mario punya kebiasaan sesekali mampir ke klinik Gio hanya untuk mengobrol santai, semacam cara melepaskan penat dari dunia korporasi yang kaku.
“Kamu kelihatan khawatir banget sama pasienmu itu,” komentar Mario sambil menerima cangkir kopi yang disodorkan Gio.
Gio duduk di seberangnya, mengaduk kopi dengan sendok kecil. “Karena kasusnya berat. Perempuan itu sudah cukup menderita. Aku tidak mau ada orang yang menambah beban di pundaknya, termasuk kamu.” jawabnya.
Mario tersenyum tipis, mengangkat kedua tangan seolah menyerah. “Santai. Aku cuma penasaran. Wajahnya, kelihatan lelah sekali. Tapi ada sesuatu di matanya. Seperti masih mencoba bertahan.” kata Mario.
Gio menatap temannya lama. Ia tahu Mario jarang memperhatikan orang secara mendalam, apalagi pasien di kliniknya. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda di nada suaranya.
“Jangan mulai, Mar,” peringatan Gio terdengar lagi, lebih pelan tapi tetap tegas. “Dia sedang dalam proses penyembuhan. Biarkan dia tenang.”
Mario hanya tersenyum kecil, menyesap kopinya. Di benaknya, bayangan perempuan yang baru saja keluar dari ruang konsultasi masih terasa jelas, wajah kosong, mata yang merah karena menangis, dan langkah yang perlahan tapi penuh tekad. Ia tidak tahu kenapa, tapi rasa penasaran itu tidak langsung hilang.
"Kapan jadwal konsultasinya lagi?" tanya Mario ingin tahu.
"Masih minggu depan" jawab Gio.
Mario menghela nafas kecewa. Menurutnya minggu depan terlalu lama. "Lama sekali. Harusnya besok saja" keluhnya.
"Kau ini siapa? Kenapa ngatur jadwal pasienku" seru Gio.
Mario merotasi bola matanya malas. Temannya ini seorang psikolog, tapi kerjaannya marah-marah.
"Aku marah karena kau" Gio seperti seorang cenayang. Dia tahu isi hati Mario.
"Dasar dukun" ejek Mario.
Di luar klinik, Jakarta terus bergerak seperti biasa. Tapi di ruang staf yang tenang itu, sebuah pertemuan singkat baru saja menanamkan benih rasa ingin tahu di benak seorang miliarder yang jarang sekali membiarkan dirinya tertarik pada siapa pun.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Langkah Dera masih sedikit berat, tapi bahunya tidak lagi setegang tadi pagi. Mata yang semula merah karena menangis kini sudah lebih tenang, meski bekas air mata masih tersisa di sudutnya.
Rere sesekali melirik ke samping, memastikan temannya baik-baik saja. Setelah beberapa langkah, ia akhirnya berbicara.
“Minggu depan kamu harus datang lagi, biar tidak overthinking terus,” ucap Rere tegas namun lembut. “Dokter Gio bilang prosesnya butuh konsistensi. Jangan cuma sekali lalu berhenti.”
Dera mengangguk pelan. “Iya, Re.”
Suara itu terdengar lebih ringan dari yang ia kira. Di dalam dadanya, memang ada sedikit rasa lega, seperti beban yang selama ini menekan tulang rusuknya sedikit terangkat. Bukan hilang sama sekali, tapi setidaknya ada ruang untuk bernapas.
Sepanjang perjalanan kembali ke kosan, Dera banyak diam. Motor yang di ke darai Rere melaju di antara macet, klakson dan deru mesin memenuhi telinga, tapi pikirannya masih berada di ruang konsultasi tadi. Ia mengingat bagaimana Gio mendengarkan tanpa menghakimi. Bagaimana ia akhirnya bisa mengucapkan kata-kata yang selama ini hanya dipendam.
Di kosan, Rere langsung menyiapkan air hangat dan handuk kecil. “Cuci muka dulu. Habis itu kita makan. Sebentar lagi makanan yang aku pesan datang”
Dera menurut. Air hangat yang membasahi wajahnya terasa menenangkan. Di cermin, ia menatap bayangannya sendiri. Masih pucat. Masih lelah. Tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya, bukan kebahagiaan, melainkan sedikit kejelasan. Seolah untuk pertama kalinya ia mengakui bahwa luka itu nyata, dan ia berhak merasakannya.
Mereka makan di meja kecil sambil menonton acara televisi yang tidak terlalu mereka perhatikan. Rere banyak bicara tentang hari kerjanya, tentang rekan yang menyebalkan, tentang rencana liburan singkat. Dera sesekali tersenyum atau mengangguk. Ia tidak banyak bercerita tentang isi konsultasi, dan Rere tidak memaksa. Cukup tahu bahwa temannya sudah mengambil langkah itu.
*
Malam semakin larut. Dera duduk di tepi tempat tidur, memegang ponsel yang tidak ada notifikasi baru. Tidak ada pesan dari keluarga. Tidak ada telepon dari siapa pun di Bandung. Biasanya kesunyian itu membuat dadanya sesak. Tapi malam ini, anehnya, ia bisa menahannya lebih baik.
Ia berbaring, menatap langit-langit kamar yang remang. Suara Rere yang sedang mandi terdengar samar dari kamar mandi. Di luar, hujan akhirnya turun pelan-pelan, mengetuk kaca jendela.
Dera menutup mata, sejak meninggalkan rumah, Dera merasa bahwa mungkin, ia tidak harus terus berlari. Ia bisa berhenti sejenak, duduk dengan rasa sakitnya, dan perlahan belajar merawat diri.
Rasa lega itu masih tipis. Tapi malam ini dia berhasil tidak meneteskan air matanya.
sayangi dan cintai dirimu sndiri dera....
krna istrimu jg org tuanya sifatnya pda buruk & g waras smua....
dan satu"nya org yg waras dan normal di keluarga istrimu.... cuma dera....
bikin dera pintar dikit apa thor..bikin gemes aja sama pola pikir deraa