NovelToon NovelToon
LENTERA

LENTERA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:19.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sinho

Satu lagi cerita tentang salah satu Garis Keturunan Keluarga Nugraha hadir kembali, Sean, laki-laki yang mengalami kecacatan pada kekuatan Supranatural nya bisa di sempurna kan kembali tanpa terduga, dengan sosok Wanita biasa yang mempunyai tekad kuat di tengah kepungan keterpurukan perekonomian keluarga, bagaimana kelanjutan ceritanya?, yuk kita ikuti_

Salam Autor Sinho, semangat, sehat dan jangan lupa Bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19.Paksaan Teman Dokter

Hari Sabtu adalah hari libur nasional, dan kompleks pelayanan Rumah Sakit Internasional Nugraha Perkasa memberlakukan sistem piket bergilir.

Kebetulan sekali, Lentera mendapatkan jadwal libur akhir pekan penuh.

Sejak pagi hari, dia sudah diajak secara paksa oleh dua rekan sesama dokter mudanya di divisi pelayanan umum, Dokter Rian dan Dokter Amel, untuk pergi jalan-jalan santai melepas penat ke Grand Nugraha Mall—satu-satunya pusat perbelanjaan super-mewah berukuran raksasa di pusat kota yang seluruh kepemilikan saham, aset, dan pengelolaannya tentu saja berada di bawah bendera raksasa Nugraha Group.

Tera awalnya sudah berulang kali menolak ajakan tersebut dengan berbagai alasan medis, karena dia merasa penampilan pakaian sederhananya dan isi saldo dompetnya sama sekali tidak cocok untuk menginjakkan kaki di mall semewah itu, namun Amel terus memaksa dengan alasan mereka bertiga hanya akan melakukan aktivitas window shopping melihat-lihat etalase dan makan es krim cup murah di kedai lantai paling bawah.

"Wah, gila! Megah dan luas sekali ya mall ini, Tera. Lihat itu, gerai-gerai butik tas mewah merek Prancis dan Italia berjejer rapi di sepanjang koridor utama lantai satu," ucap Amel dengan mata yang berbinar-binar penuh kekaguman saat mereka bertiga berjalan menyusuri atrium mall yang sangat luas berlantaikan porselen marmer putih mengilat dengan atap kubah kaca raksasa yang menampilkan pemandangan langit siang.

"Iya, Amel. Melihat angka harga yang tertera di papan etalase kaca butik itu saja sudah bisa membuat sistem tekanan darahku naik mendadak mengalami krisis hipertensi kronis dalam waktu satu detik," seloroh Tera dengan gaya jenakanya yang khas, memancing suara tawa renyah yang lepas dari mulut Rian yang berjalan di samping kanan mereka.

Saat mereka bertiga sedang asyik berjalan melewati koridor lantai dua yang agak ramai oleh para pengunjung dari kalangan kelas atas kota besar, tiba-tiba atmosfer di sekitar area koridor tersebut berubah drastis menjadi sangat tegang dan kaku.

Sekelompok pria berbadan tegap, berambut cepak, dengan setelan jas hitam formal hitam dan alat komunikasi nirkabel yang menempel di telinga mereka tampak berjalan beriringan membuka jalur kosong di tengah koridor, meminta dengan isyarat tangan yang tegas agar para pengunjung mall sedikit menepi ke sisi dinding pembatas.

Di tengah-tengah pengawalan ketat pagar betis pria-pria berjas hitam tersebut, melangkah sesosok pria dengan aura keagungan dan kekuasaan yang sangat masif.

Sean Eagle Nugraha sedang melakukan jadwal inspeksi bisnis bulanan berkala bersama belasan staf direksi manajemen mall, manajer operasional, dan kepala divisi keuangan yang berjalan mengekor di belakang tubuh jangkungnya dengan memegang tablet digital masing-masing sambil terus mencatat dengan wajah yang tampak sangat tegang dan penuh ketakutan.

"Astaga, Tera! Amel! Lihat ke arah depan itu! Itu Tuan Sean Eagle Nugraha!" bisik Rian dengan nada suara panik yang tertahan, secara refleks menarik lengan jas rajut Tera agar ikut melangkah mundur menepi di dekat sebuah pilar bangunan marmer yang besar.

"Gila, aura ketegasannya dari jarak jauh saja sudah benar-benar mengerikan dan mengintimidasi ya. Wajahnya sangat datar, dingin, dan kaku seperti seorang algojo bisnis yang siap memecat siapa saja siang ini."

Tera menatap ke arah sosok Sean yang berjalan semakin mendekat dari arah koridor depan. Pria itu tampak sangat berwibawa, tampan, dan penuh karisma kekuasaan mutlak dalam balutan kemeja premium berwarna biru tua tanpa dasi dengan celana kain hitam yang disetrika rapi.

Namun, bukannya ikut merasa minder atau ketakutan seperti kedua temannya, Tera justru mendengus pelan di dalam hati kecilnya. Tentu saja ekspresi wajahnya sangat datar dan dingin seperti algojo, dia kan memang patung es berjalan yang paling kaku dan menyebalkan di seluruh penjuru kota ini.

Meskipun Tera sudah mencoba bersembunyi di balik tubuh jangkung Rian agar posisinya tidak terlihat oleh rombongan tersebut, sepasang manik mata elang milik Sean tampaknya memiliki sistem radar khusus yang sangat sensitif untuk mendeteksi keberadaan sosok gadis itu di mana pun dia berada.

Langkah kaki Sean yang tegap dan lebar mendadak melambat secara drastis, lalu berhenti tepat di depan pilar bangunan tempat Tera, Rian, dan Amel sedang berdiri menepi.

Seluruh rombongan belasan staf direksi manajemen mall yang berjalan di belakang tubuh Sean ikut berhenti mendadak secara serentak dengan wajah yang memucat pasi oleh kepanikan, saling berpandangan bingung satu sama lain dengan jantung berdebar-debar, memikirkan kesalahan operasional fatal apa yang baru saja mereka perbuat hingga sang pimpinan tertinggi menghentikan langkah inspeksinya secara mendadak di tengah koridor lantai dua.

"Dokter Tera," ucap Sean dengan suara bariton rendahnya yang berat dan menggema, menatap langsung ke arah wajah Tera yang saat itu sedang berpura-pura sangat sibuk membaca selembar brosur kertas promo diskon pakaian yang dia ambil dari meja informasi.

Rian dan Amel seketika membelalakkan kedua mata mereka dengan sempurna seperti mau keluar dari kelopaknya, seluruh tubuh mereka mendadak membeku kaku seperti patung lilin pajangan. Tuan Sean,.mengenal Tera secara pribadi?! Dan memanggilnya dengan sebutan dokter dengan nada selembut itu?!

Tera yang tahu persis bahwa aksi penyamaran konyolnya di balik punggung Rian sudah gagal total, akhirnya menurunkan lembaran brosur kertas di depan wajahnya dengan sebuah helaan napas panjang yang pasrah.

Dia mendongak, menatap langsung ke arah sepasang mata gelap milik Sean dengan pandangan mata penuh kejengkelan yang kentara.

"Selamat siang, Tuan Sean, sungguh sebuah 'kebetulan' yang sangat luar biasa, dan tidak masuk akal sekali lagi hari ini, ya? Apakah dokter spesialis saraf pribadi Anda sekarang menyarankan terapi baru berupa jalan-jalan siang di dalam pusat perbelanjaan ber-AC untuk menstabilkan tekanan darah pasca-kecelakaan?"

Mendengar kalimat sindiran tajam dan berani yang dilontarkan oleh Tera secara langsung di depan umum, beberapa staf direksi senior di belakang tubuh Sean tampak menahan napas mereka dengan wajah yang memucat ketakutan, mengira gadis muda berpenampilan sederhana ini akan langsung diseret oleh petugas keamanan keluar dari gedung mall hari itu juga karena dianggap lancang.

Namun, respons emosi dari Sean justru berada jauh di luar batas ekspektasi semua orang yang ada di koridor lantai dua tersebut.

Sean melangkah maju satu tapak lebih dekat ke arah posisi berdiri Tera, sama sekali mengabaikan tatapan syok dan bisik-bisik dari puluhan mata pengunjung mall di sekitar mereka.

"Saya sedang memastikan sistem sirkulasi pendingin udara di seluruh lantai mall ini berfungsi dengan tingkat terbaik, Dokter Tera. Agar para staf medis terbaik saya yang sedang menikmati hari libur nasional mereka tidak mengalami dehidrasi atau kelelahan fisik akibat suhu udara yang terlalu panas di luar gedung."

"Oh, terima kasih banyak atas segala bentuk perhatian korporat Anda yang sangat luar biasa mewah dan penuh kepedulian ini, Tuan Sean yang terhormat!" balas

Tera tanpa filter sedikit pun, dengan berani memelototi sepasang mata Sean dari jarak dekat.

"Suhu udara di dalam mall ini sudah sangat dingin kok, bahkan saking terlalu dinginnya sampai bisa membuat seluruh kadar keangkuhan di dalam hati seseorang ikut membeku di tempat menjadi es batu!"

"Tera! Jaga bicaramu, tolong!" bisik Amel dengan wajah pucat pasi yang gemetar, menarik-narik ujung jas rajut ungu Tera dari arah belakang dengan panik setengah mati.

Sean menatap ke arah dua teman dokter muda Tera sejenak dengan pandangan mata datarnya, lalu kembali memfokuskan pandangan matanya menatap wajah Tera dengan kilatan geli yang sangat samar di sudut matanya yang gelap.

"Jika Anda berdua adalah rekan sejawat dan teman dekat dari Dokter Tera, saya memberikan izin khusus bagi kalian untuk memilih restoran mewah mana saja yang ada di lantai atas mall ini untuk makan siang hari ini. Seluruh biayanya akan langsung dimasukkan ke dalam akun tagihan pribadi saya sebagai bentuk apresiasi manajemen rumah sakit atas kinerja kalian."

Rian dan Amel hampir saja kehilangan keseimbangan tubuh mereka karena merasa ingin pingsan mendengar tawaran bagai sultan dari penguasa bisnis internasional tersebut.

Namun, Tera dengan gerakan cepat langsung maju satu langkah ke depan, menghalangi pandangan mata Sean dari kedua temannya dengan wajah penuh gengsi yang konyol namun tegas.

"Tidak perlu repot-repot, Tuan Sean! Kami bertiga ini adalah dokter umum baru yang memiliki penghasilan mandiri dari hasil keringat kami sendiri, kami masih sangat sanggup untuk membeli es krim cup murah dan makan semangkuk mie ayam di kedai lantai paling bawah dengan uang kami sendiri! Kami sama sekali tidak membutuhkan sumbangan atau belas kasihan makan siang dari akun tagihan pribadimu yang mewah itu!" tegas Tera dengan bibir yang mengerucut kesal menahan gengsi.

"Ayo Rian, Amel, kita segera pergi dari lantai ini sekarang juga sebelum tempat ini membuat selera makan siang kita hilang total tanpa bekas!"

Tanpa menunggu respons jawaban lebih lanjut dari mulut Sean, Tera langsung menggandeng kuat tangan kanan Rian dan tangan kiri Amel, lalu menarik kedua temannya yang masih berada dalam kondisi setengah linglung dan syok itu untuk berjalan dengan langkah kaki yang sangat cepat menjauh menyusuri koridor mall, meninggalkan rombongan besar direksi Nugraha Group yang masih berdiri mematung kebingungan di tengah jalan.

Sean tetap berdiri tegak di posisi tempatnya selama beberapa saat, menatap lurus ke arah punggung mungil Tera yang terus berjalan menjauh dengan langkah kaki yang menghentak-hentak aspal lantai marmer tanda kesal.

Seorang kepala divisi manajemen operasional mall memberanikan diri maju satu langkah mendekati posisi Sean dengan tubuh yang gemetar ketakutan. "Tuan,Tuan Sean yang terhormat, apakah apakah perlu kami segera memanggil tim petugas keamanan internal untuk mengamankan dan memeriksa gadis lancang yang sudah bertindak tidak sopan itu?"

Sean menolehkan kepalanya secara perlahan, menatap wajah sang kepala divisi operasional dengan sepasang mata gelapnya yang memancarkan kilatan dingin yang sangat tajam, membuat pria paruh baya itu langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam karena ketakutan yang luar biasa.

"Jika ada satu saja di antara kalian semua di tempat ini yang berani menyentuh, mengganggu, atau membuat gadis itu merasa tidak nyaman selama dia berada di dalam kompleks mall ini,"

ucap Sean dengan suara rendahnya yang sangat dingin dan sarat akan ancaman mutlak, "saya pastikan surat pemecatan tidak hormat dan tuntutan hukum pidana kalian semua akan selesai diproses oleh tim pengacara Nugraha sebelum matahari terbenam."

Sean kemudian berbalik badan secara perlahan dan melanjutkan langkah inspeksi bisnisnya menyusuri lantai mall dengan ekspresi wajah yang kembali datar dan berwibawa.

Namun di dalam benak pikirannya yang terdalam, getaran hangat dari pesona unik, kejujuran, dan keberanian Lentera kini telah sepenuhnya menguasai seluruh ruang pikirannya.

Jangan lupa komen ya.

1
Novita Sari
tera malu malu meong..
Novita Sari
tera lucu juga
Novita Sari
gercep Sean nanti tera berubah pikiran
Dwi Setyaningrum
ada aja jawaban tera 😁 semangat tera mendampingi tuan Sean 🤭😁
Sukarti Wijaya
makasih rentetan up nya thor, semangat👍💪🤭🙏
Kaa
lentera meski pun dalam suasana genting bayaran aja yang di ingat
Nurul Ambar
seru n bikin deg deg an
Nurul Ambar
semangat
Nurul Ambar
otw jatuh cinta nih sean
Nurul Ambar
akhirx perthanan tera runtuh juga
Kaa
lentera bena benar menjadi lentera hidup nya Sean lanjut ya Thor
Kaylaa
kapan tera kasih penjelasan...biar gak ngomel2 🤣🤭
Siti Aisah
tera terenyuh oleh ketulusan sean, jadi tera kamu bukan alat untuk menyempurnakan kekuatan sean...tpi sudah takdir ya thor🤗
Siti Aisah
ci muka retak jgan menyakiti tera.. sean akan murka 🤭
Siti Aisah
tera tenang sean sedang memantau keadaan..
Siti Aisah
tenang sera sean ikut dalam rombongan jdi pasti di lindungi ..
Kaa
semoga sampai ke jenjang pernikahan tera sean lanjut thor👍
Kaa
kekuatan Sean mungkin campuran kekutan mominya ya driyana
Kaa
apa ada kekuatan lain dari tera selain aliran penenang tuan Sean lawan Sera gunakan kekuatan mu lanjut thor
Nurul Ambar
semoga hidup bahagia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!