yuna adalah perempuan cantik mandiri, dan cantik dipaksa nikah dengan Marco hanya karena kesepakatan bisnis keluarga nya
Marco adalah laki-laki yang dinggin,cuek,dan dikenal sebagai raja mafia yang namanya disegani bahkan ditakuti diseluruh dunia baginya hidup hanyalah tentang kekuatan, kekuasaan,dan kekayaan semua orang memanggil nya "Qing"
Yuna memiliki 2 sahabat terbaik nya bernama Yona dan jisoo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bubu1234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
benci jadi cinta ( bab 19) nyawa di ujung keadilan
Api di dalam rumah tua itu semakin ganas. Asap tebal memenuhi ruangan, membuat napas terasa perih dan mata perih. Marco menahan rasa sakit di bahunya yang berdarah, berdiri tegak bagai benteng di depan Yuna. Tapi Julian tidak menyerah. Dia tertawa liar di tengah kobaran api, matanya merah penuh kegilaan.
"Kau pikir kau bisa pergi begitu saja? Tidak ada yang pergi dari sini hidup-hidup!" teriak Julian, lalu dengan gerakan cepat dia meraih sepotong balok kayu yang terbakar di dekatnya dan mengayunkannya ke arah mereka.
Marco mendorong Yuna ke samping dengan kuat, tapi ujung kayu yang tajam itu menggores luka dalam di lengannya. Darah segar langsung membasahi lengan kemejanya. Yuna berteriak namanya, ingin berlari mendekat, tapi Marco menahannya.
"Tetap di belakangku, Yuna! Jangan mendekat!" suaranya tegas, meski napasnya mulai tersengal. Dia tahu lukanya tidak berhenti berdarah. Dia merasa kepalanya semakin pening, pandangannya sedikit kabur. Tapi dia tidak boleh jatuh. Tidak sekarang. Tidak di sini.
Julian maju perlahan, senyum kemenangan di wajahnya. Dia tahu Marco melemah.
"Kau kelelahan, Marco. Darahmu banyak keluar. Sebentar lagi kau akan jatuh. Dan saat itu terjadi... aku akan memastikan kalian berdua menemui ibumu di neraka," ancamnya dingin.
Marco menatap Yuna sekilas di sampingnya. Wanita itu menangis, matanya penuh ketakutan namun tetap berdiri di sana, tidak meninggalkannya. Dia menarik napas dalam-dalam, menahan rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia tidak boleh menyerah. Dia baru saja menemukan kebahagiaannya. Dia baru saja benar-benar hidup.
"Tidak peduli apa yang terjadi... kau harus lari saat aku memberi isyarat," bisiknya cepat ke telinga Yuna.
"Aku tidak akan meninggalkanmu! Kita pergi bersama atau tidak sama sekali!" jawab Yuna tegas, menggenggam tangannya erat.
Julian melompat ke arah mereka dengan benda tajam di tangannya. Marco menghadang, mereka bergulat di tengah ruangan yang semakin panas dan berasap. Julian lebih ganas, dia memukul Marco berulang kali ke luka di bahu dan lengannya. Marco meringis kesakitan, kakinya terhuyung mundur, dan akhirnya dia jatuh berlutut di lantai yang panas. Darah menetes dari lengannya, menciptakan noda merah di lantai yang berdebu.
"Marco!" jerit Yuna ingin membantunya, tapi Julian menodongkan ujung tajam ke arahnya.
"Mundur! Satu langkah lagi dan dia mati sekarang!" ancam Julian liar. Dia berdiri di atas tubuh Marco yang terbaring lemah, menekan ujung senjatanya ke dada Marco. "Selamat tinggal, sahabat lama. Dunia ini akan jauh lebih baik tanpamu."
Marco menatap Yuna untuk terakhir kalinya. Dia tersenyum lemah, air mata jatuh di pipinya yang kotor debu dan keringat. Maafkan aku... aku berjanji akan selalu melindungi mu... tapi sepertinya aku tidak bisa menepatinya kali ini... pikirnya dalam hati. Dia menutup matanya, siap menerima apa pun yang terjadi.
Tapi Yuna tidak diam. Di saat Julian sibuk menatap Marco, dia mengambil sepotong batu yang cukup berat di dekat kakinya. Dengan sekuat tenaga, dia menghantamkannya ke lengan Julian yang memegang senjata. Julian berteriak kesakitan, senjatanya jatuh ke lantai.
"Lari, Marco! SEKARANG!" teriak Yuna sekuat tenaga.
Kata-katanya membangunkan sisa kekuatan di tubuh Marco. Dia mendorong tubuh Julian dengan sekuat tenaga, membuat pria itu jatuh ke belakang tepat saat bagian atap di atas tempat Julian berdiri runtuh dengan suara gemuruh yang dahsyat.
Marco tidak menoleh. Dia tahu tidak ada waktu. Dia meraih tangan Yuna dan berlari secepat mungkin menuju pintu keluar yang sudah mulai tertutup asap tebal. Di belakang mereka terdengar suara runtuhan yang hebat dan teriakan Julian yang perlahan lenyap ditelan kobaran api yang menderu.
Mereka berlari keluar sampai ke halaman depan, jatuh berlutut di tanah yang lembap dan aman. Marco tersenyum lega, lalu tiba-tiba tubuhnya terkulai lemah ke samping.
"Marco!!" Yuna menangis histeris menahan tubuhnya agar tidak jatuh sepenuhnya. Dia melihat darah terus mengalir dari luka di lengannya dan bahunya. Wajah Marco pucat pasi, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Matanya terpejam perlahan.
"Tetaplah sadar, Marco! Tolong jangan menutup matamu! Bantuan akan datang! Tetaplah bersamaku!" Yuna memeluknya erat, air mata jatuh deras di wajahnya.
Marco membuka matanya dengan susah payah, menatap wajah wanita yang dicintainya itu dengan pandangan yang semakin kabur. Tangannya yang gemetar perlahan menyentuh pipi Yuna.
"Maaf... aku membuatmu khawatir lagi..." suaranya sangat lemah dan parau. "Tapi... kita bebas... Julian tidak akan menyakitimu lagi..."
"Jangan bicara begitu! Kau akan sembuh! Kita akan pulang bersama!" Yuna mencium keningnya berkali-kali.
"Kalau saja... aku bisa pulang ke rumah... ke rumah yang bersamamu..." senyum tipis terukir di bibirnya, lalu matanya perlahan terpejam rapat. Tangannya yang memegang tangan Yuna perlahan terkulai dan jatuh ke tanah.
"MARCO!! TIDAK!! BANGUNLAH!! AKU MENCINTAIMU!!" jerit Yuna di tengah malam yang sunyi, memeluk tubuh suaminya yang terasa semakin dingin di pelukannya. Di kejauhan, sirine mobil ambulan mulai terdengar mendekat — terlalu jauh, atau mungkin semuanya sudah terlambat?
BERSAMBUNG....