“Dia cuma budak. Dia harus ngerasain gimana susahnya hidup kalau nggak nurut sama gue.”~Reja Alfarizi Bagaskara
Celin Amara Kusuma tak pernah menyangka utang ayahnya akan menyeretnya ke dalam keluarga Bagaskara—bahkan membuat hidupnya terikat pada Reja, pemuda arogan yang menganggapnya hanya sebagai jaminan.
“Nggak akan ada cinta di sini, Celin. Cuma ada gue sebagai tuan lo.”
Bagi Reja, Celin adalah hukuman atas kebebasan yang dirampas ayahnya. Namun semakin ia berusaha menghancurkan gadis itu, semakin sulit ia mengabaikan keberanian dan keteguhan Celin.
Ketika kebencian perlahan berubah menjadi rasa yang tak bisa dijelaskan, siapa sebenarnya yang akan menjadi babu dari perasaan mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Begitu Celin masuk ke kamar setelah makan malam, ia disambut oleh Reja yang sedang berdiri di balkon, merokok dengan beringas.
Begitu mendengar suara pintu ditutup, Reja berbalik. Ia membuang rokoknya dan berjalan cepat ke arah Celin, menyudutkan gadis itu ke pintu.
Begitu pintu kamar tertutup dan terkunci rapat, atmosfer di dalam ruangan itu mendadak terasa mencekam, seolah oksigen di sana baru saja disedot habis.
Dengan mata merah padam, urat-urat di lehernya menonjol menahan amarah yang sudah mencapai puncaknya di meja makan tadi.
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Celin hingga kepala gadis itu tersentak ke samping. Bunyinya mengge ma di keheningan kamar, meninggalkan bekas merah yang seketika membiru di kulit pucat Celin.
"Ini yang lo mau, hah?!" Reja berteriak tepat di depan wajah Celin. "Lo seneng kan liat gue disiksa Papa? Lo seneng liat gue harus kerja banting tulang cuma buat biayain hidup lo yang sampah itu?!"
Celin memegangi pipinya yang terasa panas dan berdenyut hebat. Rasa sakit itu menjalar hingga ke telinganya, namun kali ini, ia tidak menunduk. Ia mendongak, menatap Reja dengan sorot mata yang tajam dan berani, meski tubuhnya gemetar hebat.
"Jaga mulut lo, Reja!" balas Celin dengan suara tegas yang bergetar. "Lo pikir gue mau tinggal berdua sama monster kayak lo? Gue lebih milih tinggal di jalanan daripada harus liat muka lo tiap detik tanpa ada Adrian! Ini bukan kemauan gue, ini kemauan Papa lo! Kalau lo punya nyali, lawan Papa lo!"
Kata-kata Celin seperti menyiramkan bensin ke dalam api. Reja kehilangan akal sehatnya. Ia melangkah maju dengan cepat, menyudutkan Celin ke dinding, dan secara membabi buta mencengkeram leher gadis itu dengan satu tangan yang kuat.
Celin terkesiap, kedua tangannya refleks memegang pergelangan tangan Reja, mencoba melepaskan diri. Napasnya mulai tersengal, wajahnya perlahan memucat karena pasokan udara yang terhambat.
"Lo... berani... jawab... gue?!" desis Reja dengan nada yang sangat rendah dan mengerikan. Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Celin.
"Lo itu cuma barang, Celin. Barang yang bikin hidup gue hancur. Harusnya gue habisi lo sekarang juga biar Papa nggak punya alasan lagi buat maksa gue!"
Cengkeraman Reja semakin mengencang. Celin mulai merasa dunianya berputar, air mata jatuh tanpa suara dari sudut matanya, namun ia tetap menolak untuk memohon.
Ia menatap Reja dengan sisa-sisa kesadarannya, seolah menantang pria itu untuk benar-benar melakukannya.
Melihat Celin yang mulai kehabisan napas dan tidak menunjukkan tanda-tanda ketakutan yang ia inginkan, Reja tiba-tiba tersentak. Ia melihat pantulan dirinya sendiri di mata Celin, sosok iblis yang benar-benar kejam.
Reja menyentakkan tangannya, melepaskan leher Celin hingga gadis itu jatuh terduduk di lantai, terbatuk-batuk hebat sambil menghirup udara sebanyak mungkin.
"Pindah ke rumah baru nanti..." Reja berdiri tegak di depan Celin yang sedang merangkak mencari napas, suaranya kini terdengar dingin tanpa emosi.
"Gue bakal pastiin lo ngerasain apa itu mati secara perlahan. Nggak akan ada Papa, nggak akan ada pelayan. Cuma ada gue... dan penderitaan lo."
Reja menendang meja kecil di dekatnya hingga hancur, lalu berjalan menuju balkon dan membanting pintu kaca, meninggalkan Celin yang masih tergugu di lantai dengan bekas merah yang mengerikan melingkar di lehernya.
Pindah rumah bukan lagi sebuah awal kemandirian, melainkan vonis hukuman mati yang baru saja diketuk palu oleh Adrian tanpa disengaja.
Malam itu, tempat tidur besar di kamar mewah tersebut terasa sangat dingin. Reja benar-benar tidak pulang. Tidak ada suara deru motor sport yang membelah keheningan mansion, tidak ada bau rokok yang masuk dari balkon, dan tidak ada caci maki yang biasanya merobek ketenangan Celin.
Namun, bagi Celin, absennya Reja justru membawa teror yang lebih nyata. Ia duduk meringkuk di sofa dekat jendela, memeluk lututnya erat-erat.
Bekas merah di lehernya masih terasa berdenyut, menjadi pengingat betapa dekatnya ia dengan maut beberapa jam yang lalu. Pikirannya buntu. Ancaman Reja terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
"Kirei... Ayah..." bisik Celin pelan ke arah kegelapan malam.
Ia tahu Reja tidak pernah main-main dengan ucapannya. Pria itu punya segala sumber daya untuk menghancurkan hidup orang-orang kecil seperti mereka.
Jika Celin terus melawan, jika ia terus menunjukkan taringnya, Reja akan mencari sasaran yang lebih lemah.
Kirei adalah satu-satunya cahaya di hidup Celin, sahabat yang selalu memberinya tempat berteduh saat dunia terasa terlalu kejam.
Dan ayahnya—meski Celin membenci kebiasaan berjudinya yang berengsek, pria itu tetaplah satu-satunya darah daging yang ia miliki. Celin tidak bisa membiarkan mereka menjadi korban dari kemarahan Reja yang membabi buta.
"Gue harus bertahan," gumamnya sambil menyeka air mata yang jatuh ke lututnya.
Jam menunjukkan pukul 03.00 pagi, ketika suara pintu kamar terbuka dengan kasar. Reja masuk dengan penampilan yang berantakan. Kemejanya tidak terkancing rapi, rambutnya acak-acakan, dan bau alkohol tercium tajam dari tubuhnya.
Ia nampak seperti baru saja menghabiskan malam di klub malam untuk melampiaskan kekesalannya.
Reja melihat Celin yang masih terjaga di sofa. Ia berjalan mendekat, langkahnya sedikit limbung namun tatapannya tetap setajam silet.
"Belum tidur?" tanya Reja dengan suara serak yang mengerikan. Ia berdiri tepat di depan Celin, membayangi dengan postur tubuh yang tinggi.
Celin tidak menjawab. Ia hanya menunduk, mencoba menyembunyikan getaran di tangannya. Reja membungkuk, menarik dagu Celin dengan kasar agar gadis itu menatapnya.
Ia melihat memar di leher Celin yang kini mulai membiru. Bukannya merasa bersalah, Reja justru menyerngai sinis.
"Takut?" bisik Reja. "Bagus. Harus, itu yang lo rasain tiap kali liat gue."
Reja melepaskan dagu Celin dan menjatuhkan tubuhnya ke ranjang besar tanpa melepas sepatu. "Siang nanti kita pindah ke rumah baru. Lo udah packing? Jangan bawa barang-barang sampah dari rumah lo. Papa udah nyiapin semuanya di sana."
"Reja..." Celin akhirnya bersuara, nadanya jauh lebih lembut dan penuh kepatuhan yang dipaksakan. "Gue akan lakuin apa pun yang lo mau di rumah baru nanti. Tapi gue minta satu hal sama lo... jangan sentuh Kirei atau Ayah."
Reja yang tadinya memejamkan mata, kini membukanya perlahan. Ia menoleh ke arah Celin, melihat sorot mata gadis itu yang kini sudah kehilangan binar perlawanan.
"Oho... jadi lo udah paham cara mainnya?" Reja tertawa hambar. "Menarik. Keselamatan mereka tergantung seberapa pinter lo acting jadi istri yang 'manis' di depan Papa, dan seberapa becus lo jadi pelayan di depan gue."
Bersambung...