NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak Sang CEO Posesif

Pernikahan Kontrak Sang CEO Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: S RIANA

Tanda tangani ini. Ingat, kita menikah hanya di atas kertas. Jangan pernah bermimpi aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu!"

Demi melunasi biaya pengobatan ibunya yang kritis, Naura Ayu terpaksa menjual kebebasannya. Dia setuju menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Mahendra, seorang CEO tampan yang terkenal dingin, kejam, dan tidak tersentuh wanita.

Bagi Adrian, Naura hanyalah 'istri pajangan' demi memuaskan tuntutan sang kakek agar posisinya sebagai pewaris tahta perusahaan aman.Awalnya, semua berjalan sesuai kesepakatan. Mereka hidup dalam dinding pembatas yang dingin. Namun, pesona Naura yang mandiri, tegar, dan tidak silau akan hartanya perlahan mulai mengusik pertahanan hati Adrian.

Saat kontrak hampir berakhir dan Naura bersiap untuk pergi, Adrian justru mengunci pintu rapat-rapat. Tatapan dingin pria itu berubah menjadi kilat obsesi yang membara."Siapa yang mengizinkanmu pergi? Kontrak bisa berakhir, tapi kamu... selamanya milikku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hangatnya Meja Makan

Malam pertama setelah kepulangan mereka dari pulau privat ditandai dengan suasana yang sangat berbeda di dalam mansion. Jika biasanya ruang makan besar itu hanya dihuni oleh kesunyian dan sosok Adrian yang menikmati makan malamnya dengan kaku ditemani berkas-berkas bisnis, malam ini ruangan tersebut dipenuhi oleh kehangatan yang sejati. Aroma masakan sup ayam dan semur daging sapi buatan Bik Sumi menguar harum, menciptakan atmosfer rumah yang hangat.

Naura berdiri di samping kursi roda ibunya, menuntun wanita paruh baya itu dengan hati-hati untuk menempati posisi di sisi meja makan. Wajah Ibu Alisa tampak berbinar, meskipun ada sedikit rasa canggung yang tidak bisa disembunyikannya saat menatap deretan peralatan makan perak yang berkilau di atas meja jati mewah tersebut.

"Naura... rumah ini benar-benar terlalu besar untuk Ibu. Rasanya Ibu takut salah memegang sendok," bisik ibunya pelan sambil tersenyum canggung, memegang tangan Naura.

Naura terkekeh lembut, merapikan selimut hangat yang menutupi pangkuan ibunya. "Ibu tidak perlu cemas. Anggap saja seperti di rumah kita dulu. Di sini tidak ada aturan yang rumit, Bu."

"Istriku benar, Ibu. Di rumah ini, kenyamanan Ibulah yang paling utama."

Sebuah suara bariton yang berat namun sarat akan kehangatan menyela obrolan mereka. Adrian melangkah masuk ke dalam ruang makan. Pria itu telah menanggalkan kemeja kerjanya, kini hanya mengenakan kaus rajut lengan panjang berwarna abu-abu santai yang membuat kesan CEO dinginnya melebur sepenuhnya menjadi sosok pria yang menawan.

Adrian tidak langsung duduk di kursi kebesarannya di ujung meja. Alih-alih bertingkah angkuh, dia justru melangkah mendekati Ibu Alisa, membungkuk sedikit dengan gestur yang sangat jentelmen untuk memastikan posisi kursi roda ibu mertuanya sudah nyaman dan dekat dengan hidangan.

"Apakah menunya sudah sesuai dengan selera Ibu? Jika Ibu menginginkan makanan lain, katakan saja pada Bik Sumi. Dia bisa memasakkan apa pun untuk Ibu," ucap Adrian dengan nada suara yang sangat lembut, sebuah nada yang hanya dia simpan khusus untuk Naura dan ibunya.

Ibu Alisa tersenyum sangat lebar, air mata haru hampir saja menggenang kembali di sudut matanya yang keriput. "Ini sudah lebih dari cukup, Nak Adrian. Malah Ibu merasa ini terlalu mewah. Terima kasih banyak ya."

Adrian mengangguk tulus, lalu berjalan memutari meja untuk duduk di kursinya, yang berada tepat di samping Naura. Begitu dia duduk, tangan kekarnya di bawah meja langsung meraih jemari Naura, menggenggamnya erat dengan ibu jari yang mengusap punggung tangan istrinya perlahan, sebuah kebiasaan posesif baru yang selalu berhasil membuat jantung Naura berdebar manis.

Proses makan malam mengalir dengan sangat lambat dan penuh kedekatan. Adrian menunjukkan sisi menantu idaman yang luar biasa. Dia tidak sungkan untuk mengambilkan potongan daging semur yang paling empuk dan meletakkannya di piring Ibu Alisa, serta memastikan sayuran herbalnya tercukupi untuk proses pemulihan ginjalnya.

"Bagaimana dengan perkembangan terapimu hari ini, Bu? Apakah perawat pribadi yang kutugaskan bekerja dengan baik?" tanya Adrian di sela-sela makan malam mereka, menatap ibu mertuanya dengan pandangan menghormati.

"Sangat baik, Nak Adrian. Suster Maya sangat sabar. Tadi sore Ibu sudah bisa berdiri dan melangkah tiga kali tanpa merasa terlalu lemas. Dokter bilang, ini mukjizat karena pemulihannya bisa secepat ini setelah operasi," cerita Ibu Alisa dengan binar kebahagiaan yang terpancar jelas dari wajahnya.

"Itu karena Ibu memiliki semangat yang kuat untuk sembuh," sahut Adrian tulus. Pria itu kemudian melirik ke samping, menatap Naura yang sejak tadi hanya diam sambil menatapnya dengan mata bulatnya yang berkaca-kaca penuh rasa syukur. Adrian menaikkan satu alisnya, tersenyum tipis yang sangat menawan. "Kenapa menatapku seperti itu, Nyonya Mahendra? Apakah ada sesuatu di wajahku?"

Naura tersentak kecil, pipinya seketika merona merah muda karena tertangkap basah sedang mengagumi suaminya sendiri di depan ibunya. Dia buru-buru menyuap setumpuk nasi ke dalam mulutnya untuk menyembunyikan kegugupannya. "T-tidak ada apa-apa. Aku hanya senang melihatmu bisa makan dengan lahap."

Ibu Alisa yang melihat interaksi manis kedua sejoli itu hanya bisa tersenyum penuh arti. Sebagai seorang ibu, dia tahu betul putrinya telah jatuh cinta seutuhnya, dan dia merasa sangat tenang karena pria yang mendampingi Naura adalah seseorang yang begitu bertanggung jawab dan protektif.

"Nak Adrian..." panggil Ibu Alisa setelah mereka menyelesaikan hidangan penutup berupa puding buah segar. "Ibu tahu, besok kamu sudah harus kembali bekerja di kantor pusat Mahendra Group setelah satu minggu libur. Ibu hanya ingin berpesan... tolong jaga kesehatanmu juga. Jangan terlalu memaksakan diri bekerja hingga larut malam. Sekarang, ada Naura yang selalu menunggumu pulang di rumah ini."

Adrian tertegun sejenak mendengar perhatian yang tulus dari seorang ibu—sesuatu yang hampir tidak pernah dia dapatkan di dalam lingkaran keluarga Mahendra yang kaku dan penuh persaingan bisnis sejak dia kecil. Perlahan, genggaman tangan Adrian pada Naura di bawah meja semakin mengencang, dan seulas senyuman tulus terukir di wajah tampannya.

"Saya berjanji, Ibu. Saya akan selalu ingat untuk pulang tepat waktu demi istri saya," jawab Adrian tegas, matanya berkilat penuh komitmen saat menatap Naura.

Setelah makan malam selesai, Adrian membantu perawat untuk mengantar Ibu Alisa kembali ke kamarnya di lantai bawah untuk beristirahat dan meminum obat malamnya. Naura mengikuti dari belakang, merasakan seluruh rongga dadanya dipenuhi oleh rasa hangat yang luar biasa.

Sekitar pukul sepuluh malam, Naura dan Adrian akhirnya kembali ke kamar utama mereka di lantai dua. Kamar itu terasa sangat sunyi namun nyaman dengan temaram lampu tidur yang keemasan. Naura berjalan menuju lemari pakaian untuk menyiapkan kemeja dan setelan jas kerja yang akan dikenakan Adrian besok pagi ke kantor.

Saat dia sedang merapikan dasi hitam mewah milik Adrian di atas gantungan, sepasang lengan kekar yang kokoh tiba-tiba melingkar di pinggangnya dari arah belakang. Adrian menarik punggung ramping Naura agar menempel erat di dada bidangnya yang hangat. Pria posesif itu menyandarkan dagunya di bahu Naura, menghirup dalam-dalam aroma harum tubuh istrinya yang selalu menjadi candu baginya.

"Terima kasih untuk malam ini, Sayang," bisik Adrian, suaranya terdengar lebih berat, serak, dan sarat akan gairah cinta yang mendalam di dekat telinga Naura.

Naura memegang kedua tangan Adrian yang bertumpu di perutnya, menyandarkan kepalanya ke belakang dengan rileks. "Seharusnya aku yang berterima kasih padamu, Adrian. Kamu memperlakukan ibuku dengan sangat baik. Kamu benar-benar menjadi Suami idaman yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya."

Adrian memutar tubuh Naura secara perlahan dalam kungkungannya, memaksa mata jernih Naura untuk menatap langsung ke dalam manik mata elangnya yang kelam dan penuh obsesi. Dia merundukkan wajahnya sedikit, mengikis jarak di antara mereka.

"Aku melakukannya karena aku mencintaimu, Naura. Kebahagiaan ibumu adalah kebahagiaanmu, dan kebahagiaanmu adalah duniaku sekarang," ucap Adrian dengan nada suara yang sangat dalam dan penuh penekanan. Tangan hangatnya merambat naik, menangkup pipi merona Naura. "Besok aku akan kembali ke medan perang di kantor pusat. Dimas melaporkan bahwa beberapa direktur dari kubu Gavin mulai mencoba menggalang kekuatan untuk mempertanyakan posisiku pasca-skandal kemarin. Tapi kau tidak perlu cemas seujung kuku pun. Di luar sana, aku mungkin harus menjadi singa yang kejam untuk menghancurkan mereka, tapi di dalam rumah ini... aku hanyalah pria yang sepenuhnya milikmu."

Naura tersenyum sangat manis dengan air mata kebahagiaan yang menggenang di sudut matanya. Dia melingkarkan kedua tangannya di leher kokoh Adrian, menegaskan posisinya. "Aku tahu kamu kuat, Adrian. Pergilah bekerja besok dengan tenang. Aku dan Ibu akan selalu mendoakanmu dan menunggumu pulang di sini."

Adrian tersenyum penuh kepuasan, lalu menutup percakapan malam itu dengan sebuah ciuman yang lambat, lembut, dan penuh dengan tarikan emosi yang mendalam, mengunci hati mereka dalam komitmen cinta yang nyata sebelum sang CEO kembali ke dunia bisnisnya besok pagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!