NovelToon NovelToon
Di Balik Cadar Hannah

Di Balik Cadar Hannah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Romansa
Popularitas:628
Nilai: 5
Nama Author: Ri7

Hannah adalah wanita bercadar yang menyimpan masa lalu kelam. Pertemuannya kembali dengan Faz, lelaki yang pernah menolongnya, membuat cinta tumbuh hingga mereka hampir bertunangan.

Namun sebuah rahasia membuat mereka tak bisa bersama. Saat Hannah harus merelakan cintanya, Arif—lelaki yang diam-diam telah lama mencintainya—datang membawa sebuah lamaran.

Di antara cinta, luka, dan takdir, Hannah harus menentukan jalan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alya

Pulang dari studio milik Hannah, Faz langsung menuju rumah sakit. Persediaan obatnya mulai menipis. Ia membutuhkan obat pereda nyeri untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu kondisinya memburuk dan rasa sakit itu kembali menyerang.

Sepanjang perjalanan, pikirannya justru sibuk memikirkan rencana pemotretan yang sejak kemarin memenuhi benaknya.

Jika benar Hannah akan menjadi fotografer terakhir yang bekerja dengannya, Faz ingin menciptakan sesuatu yang berbeda. Bukan sekadar pemotretan untuk memenuhi permintaan klien, melainkan sebuah kenangan indah yang akan ia tinggalkan.

Ia ingin mengabadikan keindahan alam yang selama ini jarang ia perhatikan. Tempat-tempat yang mampu membuatnya berhenti sejenak, mengagumi kebesaran Allah, dan mensyukuri setiap detik kehidupan yang masih dimilikinya.

Semoga Hannah bisa menemukan tempat-tempat seperti itu.

Sebab, bagi Faz, keindahan ciptaan Allah selalu memiliki cara tersendiri untuk menenangkan hati. Bahkan ketika seseorang sedang berhadapan dengan kenyataan hidup yang paling menyakitkan sekalipun.

Sesampainya di rumah sakit, Faz langsung menuju ruang praktik dokter yang biasa menanganinya. Ia sudah cukup mengenal prosedur di sana. Datang, meminta resep obat, lalu pulang. Tidak perlu pemeriksaan panjang. Setidaknya, itulah yang selalu ia lakukan selama beberapa waktu terakhir.

Namun, kali ini dokter yang menanganinya tampak lebih serius dari biasanya.

“Faz, saya rasa kamu sebaiknya dirawat di rumah sakit,” ujar dokter itu setelah memeriksa hasil pemeriksaan terakhirnya. “Penyebaran kanker yang kamu alami berlangsung lebih cepat daripada perkiraan kami.”

Faz terdiam sejenak. Tidak ada keterkejutan yang berarti di wajahnya, seolah-olah ia sudah menduga kalimat itu akan keluar dari mulut sang dokter.

“Tidak perlu, Dok.”

“Faz, kondisi kamu tidak bisa dianggap enteng. Kita perlu mempertimbangkan perawatan yang lebih intensif.”

Faz menyandarkan punggungnya pada kursi. Pandangannya beralih ke jendela di samping meja dokter.

“Kalau boleh tahu, berapa lama lagi waktu saya?”

Dokter itu terdiam.

Faz kembali menatapnya. “Enam bulan? Atau mungkin tiga bulan?”

“Jangan berpikir seperti itu dulu. Kita masih bisa berikhtiar. Ada beberapa pilihan pengobatan yang bisa kita pertimbangkan, termasuk kemoterapi atau radioterapi, sesuai dengan kondisi kamu.”

“Saya mengerti, Dok.” Faz mengangguk pelan. “Tapi sekarang, tolong resepkan obat yang saya butuhkan saja.”

“Faz—”

“Saya tidak ingin ada orang lain yang tahu kalau saya sedang sekarat.”

Kali ini, suaranya terdengar lebih tegas.

Dokter itu mengembuskan napas panjang. Ia sudah beberapa kali menghadapi pasien yang menolak menjalani perawatan lebih lanjut. Namun, menghadapi Faz tetap saja terasa berat. Pemuda itu bukan tidak memahami kondisinya. Justru karena terlalu memahami, ia seolah-olah sudah memutuskan sendiri bagaimana akan menghabiskan sisa waktunya.

“Saya tetap menyarankan kamu mempertimbangkan kembali keputusan ini,” ujar dokter itu akhirnya.

Faz hanya mengangguk tanpa memberikan jawaban pasti.

Dokter itu kemudian menuliskan resep yang dibutuhkan Faz, disertai instruksi penggunaan obat dan peringatan agar ia segera mencari pertolongan medis jika mengalami gejala yang memburuk.

Setelah mengucapkan terima kasih, Faz meninggalkan ruangan itu.

Di luar, ia berhenti sejenak. Tangannya merogoh saku, mengambil ponsel, lalu memandangi layar yang menampilkan beberapa pesan masuk.

Tidak ada yang perlu tahu.

Setidaknya, belum sekarang.

Ia masih ingin menjalani hari-harinya seperti biasa. Menyelesaikan beberapa pekerjaan, mengunjungi tempat-tempat indah, dan menikmati masakan ibunya sesekali. Hal-hal sederhana yang belakangan terasa jauh lebih berharga daripada apa pun.

Faz memasukkan kembali ponselnya ke saku, kemudian melangkah menuju tempat parkir.

Hari ini, ia ingin pulang.

Bukan karena rindu rumah yang besar itu. Bukan pula karena ingin bertemu seseorang.

Ia hanya merindukan masakan ibunya.

Namun, harapan sederhana itu rupanya tidak semudah yang ia bayangkan.

---¤---

Dalam perjalanan pulang, Faz menerima kabar bahwa Alya datang berkunjung ke rumahnya.

Alya.

Perempuan yang sejak awal sudah dipilihkan kedua orang tuanya untuk menjadi calon istrinya.

Faz mengembuskan napas panjang.

Padahal, ia hanya ingin pulang, duduk di meja makan bersama keluarganya, lalu menikmati masakan ibu tanpa perlu memikirkan apa pun. Kenapa perempuan itu harus datang hari ini?

Dengan berat hati, Faz mengarahkan mobilnya menuju rumah.

Sejak awal, ia tidak pernah menyetujui perjodohan tersebut. Ia sudah berkali-kali menyampaikan keberatannya, tetapi ibunya selalu memiliki alasan untuk membela Alya.

Cantik, pintar, sopan, pandai memasak, dan mampu melakukan hampir semua pekerjaan rumah tangga.

Seolah-olah perempuan yang sempurna memang harus bisa melakukan semuanya.

Faz tidak membenci Alya. Ia hanya tidak memiliki perasaan apa pun terhadap perempuan itu. Dan baginya, menikah tanpa cinta, apalagi ketika hatinya sendiri masih menyimpan banyak hal yang belum selesai, bukanlah keputusan yang bisa diambil begitu saja.

Mobilnya berhenti di halaman rumah besar itu.

Faz turun perlahan, mengambil tas kecilnya, lalu melangkah menuju pintu utama. Entah mengapa, langkahnya terasa lebih berat daripada biasanya.

Bukan karena tubuhnya yang semakin mudah lelah.

Melainkan karena ia tahu, begitu memasuki rumah, ia harus kembali menghadapi pembicaraan yang selalu ingin dihindarinya.

“Pa, bukankah tidak ada manusia yang sempurna? Tapi kenapa dia bisa melakukan semuanya, sih? Pintar, cantik, bisa masak, sopan pula. Apa dia tidak pernah melakukan kesalahan?”

Suara Diva terdengar dari ruang tengah. Nada bicaranya menyiratkan kekesalan yang tidak berusaha ia sembunyikan.

Faz mengernyit.

Ada apa lagi sekarang?

“Sudahlah, Diva. Jangan membicarakan orang seperti itu,” jawab papanya.

“Lho, aku cuma heran, Pa. Mama saja sampai memujinya terus. Memangnya Alya itu manusia tanpa cela?”

Faz hampir tersenyum mendengar omelan adiknya. Setidaknya, ada satu orang di rumah ini yang tampaknya memiliki keberatan serupa dengannya.

Namun, senyum itu segera menghilang ketika ia melangkah masuk.

“Assalamu'alaikum.”

Percakapan di ruang tengah seketika terhenti.

“Wa'alaikumussalam.” Papanya menoleh. “Kamu baru pulang, Nak? Terlambat sekali. Alya sudah datang lebih dulu. Sekarang dia sedang memasak di dapur.”

Faz mengangguk singkat.

“Aku tahu.”

Tanpa menunggu pertanyaan lain, ia beranjak menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan tangan. Ia membutuhkan waktu sejenak untuk menenangkan diri sebelum kembali ke ruang tengah.

Air mengalir membasahi wajahnya. Faz menatap pantulan dirinya di cermin.

Wajahnya terlihat lebih pucat daripada biasanya. Lingkaran gelap di bawah matanya semakin jelas. Ia tahu tubuhnya tidak sedang baik-baik saja, tetapi ia tidak ingin memikirkan itu sekarang.

Ada masalah lain yang harus ia selesaikan.

Bagaimana caranya membatalkan perjodohan ini tanpa membuat ibunya semakin kecewa?

Faz sudah pernah berbicara langsung kepada Alya. Ia bahkan sudah mengatakan dengan jelas bahwa dirinya tidak mencintai perempuan itu dan tidak ingin perjodohan mereka berlanjut.

Namun, Alya justru menjawab dengan keyakinan yang sulit dipahami.

Katanya, ia akan membuat Faz jatuh cinta kepadanya.

Faz memejamkan mata sejenak.

Ia tidak mengerti mengapa Alya begitu bersikeras. Apakah perempuan itu benar-benar menginginkannya, atau justru tidak ingin kehilangan kesempatan menjadi menantu pilihan ibunya?

Apa pun alasannya, Faz tidak ingin memberikan harapan palsu.

Terlebih sekarang, ketika masa depan yang selama ini ia bayangkan perlahan-lahan terasa semakin jauh.

Ia tidak tahu berapa lama lagi waktu yang dimilikinya. Ia tidak tahu apakah masih sempat mewujudkan semua keinginannya. Bahkan, ia belum tahu bagaimana harus menjelaskan kenyataan itu kepada orang-orang yang menyayanginya.

Lantas, bagaimana mungkin ia harus menerima seorang perempuan yang berharap akan membangun masa depan bersamanya?

Faz membuka mata, lalu mematikan keran.

Ah, cinta memang terkadang mengerikan.

Bukan karena cinta selalu membawa luka, melainkan karena perasaan yang tidak berbalas pun bisa berubah menjadi harapan yang menyulitkan banyak orang.

Dan kali ini, Faz tidak ingin menjadi alasan seseorang terluka lebih dalam.

Ia hanya ingin Alya berhenti berharap.

Sebelum semuanya terlambat.

1
naar0rrrr
lanjutt yaa kakk, semangatt💪 jangan lupa mampir cs ku yakk/Smile/
naar0rrrr
Hannah kayak nya bingung mau jawab apa ya..
naar0rrrr
kenapa faz nya gak jujur ya?
naar0rrrr
lanjuttt kakk, semngatttt
naar0rrrr
di ingetinn dongg, lanjutt yaa kaaa
naar0rrrr
lanjutttt thorrrrr
Putry Chan
kmu ingin mempertemukan hannna Dengan masa lalu nya apakah mereka ini gak tau
Putry Chan
berdoa dulu insyaallah aman kok
Putry Chan
faz itu masa lalu Hannah btw mampir ya ke novel ku
Putry Chan
Hannah kamu knp
Putry Chan
Hannah kamu kenal dia
aefpe fp
mampir juga ya...sesama pemula ini😍
jinggaarundari
yahhhh gantung.... lanjut terus kaa😍😍
jinggaarundari
ya ampun Hannah...
jinggaarundari
Faz cek lagi ke RS bikin dejavuu akuu, baru awal udh deep 🫠
semangat terus kaa😍😍
Renjana
pertemuan dengan siapa tu?🤭
R: dengan masa lalu 🤭
total 1 replies
Renjana
bagus kak,
semangat nulis
mampir juga di karyaku Rotinya Manis, Rin😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!