Alvierra Zea Khanza atau biasa dipanggil Zea rela menjadi gubernur demi mewujudkan impian sang nenek. Tapi sejak menjabat, berbagai teror dan ancaman mulai mengincarnya.
Demi keselamatan Zea, sang kakek mengirim seorang pengawal pribadi bernama Sagara Arya, kapten dingin yang ternyata menyimpan misi rahasia yaitu membunuh Zea.
Sayangnya, menghadapi gubernur yang bar-bar, keras kepala, tetapi begitu tulus mencintai rakyatnya membuat Kapten Sagara perlahan melupakan misinya.
Di antara ancaman, rahasia, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh, sang kapten justru jatuh cinta kepada perempuan yang seharusnya menjadi targetnya.
Ketika tugas dan cinta berada di dua sisi yang berlawanan, akankah Sagara memilih perintah atau melindungi perempuan yang telah mencuri hatinya?
Yuk stay tune ya. Yang gak suka silakan skip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diam-diam Kagum
Beberapa warga menunduk, sementara Jamilah terlihat semakin gelisah.
Zea memandang mereka satu per satu dengan tatapan tajam, seolah sedang menyusun potongan-potongan teka-teki yang sejak tadi berusaha mereka sembunyikan.
“Jadi sekarang saya mulai mengerti,” ujar Zea pelan.
“Bu, jangan salah paham,” kata lurah buru-buru. “Mereka memang keluarga kami, tetapi bukan berarti kami memasukkan nama mereka sembarangan.”
Zea mengangkat alis. “Kalau begitu jelaskan kepada saya, kenapa keluarga kalian yang kondisi ekonominya terlihat jauh lebih baik justru mendapatkan bantuan, sedangkan warga yang rumahnya hampir roboh tidak mendapat apa-apa?”
Lurah langsung terdiam. Kepala desa yang sejak tadi berdiri di sampingnya juga tampak mencari-cari alasan, tetapi tidak menemukan satu pun jawaban yang terdengar masuk akal.
“Kami tidak bermaksud merugikan masyarakat, Bu,” ujar kepala desa akhirnya.
“Masalahnya bukan soal maksud,” balas Zea tegas. “Masalahnya adalah akibat dari keputusan kalian.”
Zea kemudian menunjuk rumah sederhana yang atapnya tadi diperbaiki Sagara. “Saya tadi masuk ke rumah itu, atapnya bocor, lantainya rusak, dan pemiliknya bahkan tidak tahu kapan terakhir kali menerima bantuan.”
Tatapan Zea beralih kepada beberapa orang yang namanya tercantum dalam daftar. “Sementara kalian yang rumahnya bagus, punya kendaraan, bahkan memakai perhiasan, justru tercatat sebagai penerima bantuan.”
Jamilah langsung menyembunyikan sebagian tangannya di balik tubuh. “Bu, jangan begitu...”
“Kenapa?” tanya Zea. “Saya hanya menyebutkan apa yang saya lihat.”
Tidak ada yang menjawab.
Zea kemudian membuka kembali berkas di tangannya. “Tadi saya bertanya beberapa nama dan ternyata orang-orangnya memang ada di sini.”
Ia menunjuk beberapa nama di daftar. “Intan, coba panggil mereka semua.”
“Baik, Bu.”
Intan kemudian menyebutkan nama-nama yang tercantum sebagai penerima bantuan. Satu per satu warga tersebut maju dengan wajah cemas, bahkan beberapa di antaranya berjalan sambil menundukkan kepala.
Zea memperhatikan mereka dari ujung kepala sampai kaki. Ia melihat pakaian yang mereka kenakan, perhiasan di tangan, sepatu yang terlihat mahal, serta beberapa aksesori yang mencolok.
“Baik,” ujar Zea. “Saya mau bertanya sekali lagi dan kali ini jawab dengan jujur.”
Semua orang diam.
“Kalian semua yang berdiri di sini memang menerima bantuan dari pemerintah?”
“Benar, Bu,” jawab beberapa orang hampir bersamaan.
Zea mengangguk. “Bantuan berupa bahan makanan dan bantuan untuk warga yang membutuhkan?”
“Benar, Bu.”
Zea kemudian memandang pakaian mereka satu per satu. “Kalau begitu, saya ingin tahu sesuatu.”
Mereka saling pandang.
“Kalian ini penerima bantuan karena memang termasuk keluarga kurang mampu?”
Seketika suasana menjadi sunyi.
Jamilah menundukkan kepala semakin dalam. Seorang wanita di sampingnya mulai memainkan gelang emas di pergelangan tangan, sementara pria yang berdiri di belakang mereka terlihat sibuk menghindari tatapan Zea.
“Kenapa diam?” tanya Zea. “Tadi ketika ditanya apakah menerima bantuan, jawabannya cepat sekali.”
Tidak ada yang berani menjawab.
Zea menunjuk salah satu wanita. “Ibu.”
Wanita itu mengangkat wajah perlahan. “Iya, Bu?”
“Apakah Ibu termasuk warga kurang mampu?”
Wanita itu menggigit bibir. “Kalau dibilang kurang mampu ... sebenarnya tidak juga, Bu.”
Intan langsung menoleh kepada Zea dengan ekspresi tidak percaya. “Lho?”
Zea menghela napas panjang. “Nah, akhirnya ada yang jujur.”
Wanita tersebut langsung menunduk lagi.
Zea kemudian menunjuk orang lainnya. “Kalau Bapak?”
“Ya ... kondisi kami cukup, Bu.”
“Cukup?”
“Iya.”
“Cukup sampai rumah dua lantai?”
Pria itu langsung terdiam. Beberapa warga mulai berbisik-bisik.
Zea kemudian menatap Jamilah. “Kalau Ibu?”
Jamilah terlihat semakin gugup. “Kami ... sebenarnya masih bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, Bu.”
Zea melirik gelang dan cincin yang memenuhi tangan Jamilah. “Saya bisa lihat.”
Intan langsung menunduk untuk menyembunyikan senyumnya.
“Jadi, saya simpulkan kalian semua bukan keluarga miskin?” tanya Zea tegas.
“Bukan, Bu,” jawab beberapa orang dengan suara pelan.
Zea mengangguk. “Bagus.”
Mereka mulai terlihat lega.
Zea justru melanjutkan, “Kalau begitu kenapa kalian mengambil bantuan yang diperuntukkan bagi keluarga yang benar-benar membutuhkan?”
Senyum lega mereka langsung menghilang.
“Bu, kami juga ditawari,” jawab seorang wanita terbata-bata.
“Siapa yang menawarkan?”
Wanita itu langsung diam.
Zea memandang lurah dan kepala desa. “Siapa?”
Lurah buru-buru menjawab, “Kami hanya mendata, Bu.”
“Dan siapa yang menentukan bahwa nama mereka layak masuk daftar?”
Lurah kembali diam.
Zea menghela napas. “Saya tanya baik-baik, tetapi kenapa semuanya mendadak kehilangan suara?”
Sagara yang sejak tadi berdiri di belakang hanya memperhatikan situasi dengan wajah datar. Dalam hati, entah kenapa semakin kagum dengan gadis cantik berhijab itu.
Zea kemudian menatap kembali para penerima bantuan. “Kalau kalian memang bukan orang miskin, berarti kalian mengambil hak orang lain.”
“Bu, jangan bilang begitu,” protes salah seorang warga. “Kami tidak merasa mencuri.”
“Saya tidak mengatakan kalian pencuri,” jawab Zea tenang. “Saya sedang bertanya kenapa kalian mengambil sesuatu yang bukan untuk kalian.”
Mereka kembali terdiam.
Zea lalu berbalik kepada Intan. “Intan.”
“Iya, Bu?”
“Tolong suruh staf menyiapkan spanduk besar.”
Intan mengerutkan kening. “Spanduk?”
“Iya.”
“Isinya apa, Bu?”
Zea menunjuk kelompok warga tersebut dengan wajah serius. “Tulis besar-besar, KELUARGA MISKIN PENERIMA BANTUAN PEMERINTAH.”
Semua warga yang namanya tercantum dalam daftar langsung terkejut.
“Bu!”
“Kami tidak mau!”
“Kami bukan orang miskin!”
Beberapa orang langsung protes bersamaan.
Jamilah bahkan sampai memegang gelangnya dengan gugup sambil berkata, “Bu, jangan mempermalukan kami seperti itu.”
Zea mengangkat tangan, membuat mereka berhenti berteriak. “Lho, kenapa tidak mau?”
“Kami bukan keluarga miskin, Bu!”
“Bukankah kalian penerima bantuan untuk keluarga kurang mampu?”
“Itu ... berbeda, Bu.”
Zea mengerutkan kening. “Berbeda bagaimana?”
Mereka kembali bungkam.
Zea menyilangkan kedua tangannya. “Kalau kalian tidak mau disebut keluarga miskin, saya juga tidak akan memaksa.”
Wajah mereka mulai lega.
“Tapi, kalian juga harus menjelaskan kenapa mengambil bantuan yang memang diperuntukkan bagi keluarga miskin,” lanjut Zea.
Tidak ada jawaban.
Zea kemudian menoleh kepada lurah dan kepala desa. “Atau jangan-jangan semua ini karena jalur ordal?”
Kedua pejabat itu langsung pucat. Beberapa warga saling pandang.
“Bu ....” ujar lurah pelan.
“Jangan panggil saya ‘Bu’ dengan wajah seperti itu,” potong Zea. “Saya belum selesai bertanya.”
Lurah langsung menutup mulut.
Zea melangkah mendekati mereka. “Apakah nama-nama keluarga kalian masuk karena hubungan keluarga?”
“Tidak, Bu.”
“Apakah mereka mendapatkan bantuan karena kalian mengenal mereka?”
“Tidak juga.”
“Kalau begitu kenapa beberapa penerima bantuan ternyata keluarga kalian?”
Lurah tidak mampu menjawab.
Zea lalu menunjuk Jamilah. “Dan Ibu Jamilah, apakah Ibu mendapatkan bantuan karena memang memenuhi syarat?”
Jamilah menggeleng pelan.
“Lalu karena apa?”
Jamilah menatap lurah dengan gugup.
Zea mengikuti arah pandangannya dan langsung memahami sesuatu. “Oh.”
Intan ikut menoleh. “Bu ... sepertinya jawabannya ada di sana.”
Zea kembali menatap Jamilah. “Saya tidak butuh jawaban yang dibuat-buat. Saya butuh kejujuran.”
Jamilah akhirnya berkata pelan, “Kami hanya mengikuti arahan, Bu.”
“Dari siapa?”
Jamilah langsung menunduk.
Zea menarik napas panjang. “Baik. Kalau kalian belum mau bicara sekarang, tidak masalah.”
Ia mengambil kembali berkas tersebut dari tangan Intan. “Saya akan mencari jawabannya lewat data.”
Wajah lurah dan kepala desa semakin pucat.
Zea kemudian berkata, “Mulai hari ini, seluruh data penerima bantuan di desa ini akan diperiksa ulang. Tidak ada nama yang boleh ditambahkan, dihapus, atau dipindahkan sebelum pemeriksaan selesai.”
“Baik, Bu,” jawab Intan.
Zea kemudian menatap warga yang benar-benar membutuhkan bantuan. “Dan untuk kalian, jangan takut melapor. Bantuan pemerintah bukan hadiah untuk keluarga pejabat, bukan milik keluarga perangkat desa, dan bukan sesuatu yang boleh dibagikan berdasarkan kedekatan.”
Warga yang sejak tadi diam mulai mengangguk.
“Kalian punya hak yang sama,” lanjut Zea. “Kalau memang membutuhkan, kalian berhak mendapatkan bantuan sesuai aturan.”
Sagara memperhatikan Zea dalam diam. Wanita yang biasanya membuatnya pusing dengan tingkah bar-bar itu kini berdiri dengan tatapan tegas, membela warga yang bahkan tidak mengenalnya secara pribadi.
Zea kemudian menoleh kepada Intan. “Kita belum pulang.”
Intan mengangguk. “Saya juga sudah menduga Ibu belum selesai.”
Zea tersenyum tipis. “Betul.”
Ia kembali menatap lurah dan kepala desa. “Sekarang kita periksa siapa yang memasukkan nama-nama ini.”
Wajah kedua pria itu langsung berubah.
Zea memasukkan kedua tangannya ke saku celana kainnya sambil berkata santai, “Saya penasaran, sebenarnya berapa banyak ‘keluarga miskin’ dadakan yang ada di desa ini.”
Intan menahan tawa. Sagara hanya menghela napas pelan.
pimter sekali mereka bikin si kanebo kereing mati kutu
mau bilang apa lagi coba hadeh
hadeh mulai deh ngeles nya