Olivia seorang penyanyi, karirnya semakin bersinar setelah mendapat warisan bros dari sang nenek yang dulunya juga seorang sinden terkenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindia Andin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
baju milik dimas
Olivia memandang mata kanan dan kiri dimas, dia merasakan ada kenyamanan disana, perasaan dimas suka padanya
"iya bilang... mau keluar? hmmm... jawab!!!! " hardik dimas pelan
Olivia menggeleng
"jangan padang aku seperti ini"
"kamu salah... sudah salah sekarang mau mundur... mau kamu apa? apa kamu mau kerja di tempat lain?"
"ndak mas... ndak... "
"lalu?"
"maaf... " rajuk Olivia
dimas menatap tajam mata Olivia dan bangkit dari duduknya. Olivia hendak bangkit dan pergi
"siapa yang nyuruh kamu pulang" ucap dimas sarkas membelakangi Olivia
"sudah malam mas.. aku mau pulang"
"pulang dengan baju seperti ini? kamu serius mau pulang?"
"terus bagaimana? masak aku tidur di sini mas? ndak lucu kan"
"tunggu sampai cafe tutup, baru boleh pulang"
dimas membatin di dalam hatinya, dia tidak rela mata orang lain memandang tubuh Olivia seperti ini
"kamu duduk di sini, tunggu sampai selesai"
Olivia mengangguk merebahkan punggungnya disandaran kursi
"kamu disini, aku keluar" dimas keluar dari ruang kerjanya, meninggalkan Olivia seorang diri
30 menit lagi cafe tutup, dimas memastikan semua di cafe itu beres
*******
Setelah membereskan semua pekerjaannya, dimas kembali ke dalam ruang kerjanya. membuka pintu, menoleh kearah Olivia.
"lha tidur... vi... vi.." dimas geleng-geleng melihat Olivia tertidur pulas di kursi ruang kerjanya
"mau di bangunin kasian, ndak di bangunin ndak mungkin juga" gumam dimas
dimas duduk di atas meja di depan Olivia, melihat wajah cantik di depannya yang tengah terlelap dalam mimpinya
"vi... " panggil dimas pelan
"bangun vi... " dimas membangunkan Olivia
mata Olivia mengerjap
"ngantuk" Olivia bukan bangun tapi malah kembali pulas
"ndak pulang?"
Olivia langsung terjaga
"ayo pulang mas" Olivia langsung berdiri dan badannya terhuyung hampir roboh di tahan dimas
"heyy... pelan... nyawa kamu belum penuh ini" dimas memegang tubuh Olivia yang berdiri tegak di depannya
"ayo pulang mas. aku capek"
dimas menepuk pipi Olivia, membuatnya sadar "bangun dulu baru jalan" dimas bangkit dari duduknya, berdiri didepan Olivia, sangat dekat. hampir saja dimas mencium Olivia, karena sedekat itu
"ambil baju kotormu trus pulang"
"iya mas" Olivia mengambil baju yang dia geletakan di depan pintu kamar mandi
"yuk mas"
dimas dan Olivia keluar dari cafe senja, masuk kedalam mobil dimas.
"masih ngantuk?"
"sudah ndak sih mas. tapi gantian lapar"
"kenapa ndak bilang dari tadi. kan bisa makan di cafe Oliviaaaa.... " ucap dimas gemas
"malu mas... aku nyusahin hari ini"
"ya emang... nyusahin, bandel"
Olivia manyun
"mau makan apa?"
"ndak mas... nanti bikin mie rebus aja"
"mie terus... Lama-lama kena tipus kamu vi"
Dimas mencari makanan di sepanjang jalan
"kupang mau?"
"ndak mau.. amis"
"itu ada nasi goreng"
"oke mas"
dimas memarkirkan mobilnya di pinggir jalan
"eh... mau kemana?" dimas melihat Olivia hendak membuka pintu
"lha katanya beli nasi goreng"
"kamu di sini. aku yang keluar" dimas keluar kearah tukang nasi goreng pinggir jalan dan memesan 2 piring nasi goreng
"makan di sini mas" ucap Olivia, ketika dimas masuk kedalam mobilnya lagi
"iya... kamu mau makan dimana? di situ? dengan baju seperti ini?"
Olivia melihat pahanya yang terbuka seperti tidak memakai celana
"hehe... iya mas"
"maaf aku belum tanya tentang kedua orang tuamu vi"
Olivia diam
"kedua orang tuamu meninggal kapan?"
"3 bulan yang lalu mas"
"siapa dulu yang meninggal?"
"dua-duanya mas. bareng"
"bareng? kecelakaan?"
Olivia menggelengkan kepala
"kalau ndak kecelakaan kok bisa bareng? kayak janjian mau liburan aja"
"aku masih belum bisa cerita mas, suatu saat aku pasti akan cerita. tapi ndak sekarang"
dimas mengangguk, menghargai keputusan Olivia
Tak lama kemudian penjual nasi goreng menghampiri dimas dan Olivia di dalam mobil. menyodorkan 2 porsi nasi goreng lengkap dengan teh hangat dan krupuk
Olivia menyendok pelan-pelan nasi itu
"enak ya mas" ujar Olivia
"ya emang enak... sudah habis setengah baru bilang enak"
Olivia nyengir
"kalau makan jangan sambil ngelamun"
Olivia menelan makanan yang sempat tersangkut di tenggorokan
setelah menghabiskan makanannya, mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan untuk pulang
"terimakasih mas" ucap Olivia turun dari mobil dimas
dimas melihat Olivia menyebrang jalan. "tunggu vi"
panggilan dimas menghentikan langkah Olivia
"kenapa mas?"
"aku antar sampai di tempatmu" ujar dimas menggandeng tangan Olivia menyebrang jalan
"ndak perlu mas, sampai sini aja"
"disini banyak orang nongkrong seperti ini, bajumu seperti itu"
dimas mengantar Olivia sampai di depan tempat kosnya
"sudah mas sampai sini aja. terimakasih banyak"
"masuk dulu. baru aku pulang"
dimas mengantar Olivia sampai dia masuk kedalam kamarnya lalu pergi meninggalkan tempat itu.
jarak dari jalan raya ke tempat kos Olivia memang tidak terlalu jauh, tapi di sepanjang jalan itu banyak pemuda nongkrong. dimas khawatir dengan keselamatan Olivia.
*****
siang harinya
Ponsel Olivia berdering
"selamat pagi... iya mas"
"siang vi... sudah jam berapa ini?" ucap ujang
"sudah siang ya. iya mas ujang ada apa?"
"kamu hari ini full ya vi?"
"ya ampun. iya mas. hampir aja lupa aku"
"kamu sekarang lagi apa vi?"
"baru bangun mas. capekkkkk" ucap Olivia sambil menggeliatkan badannya
"nanti aku jemput ya"
"ndak usah mas, aku biasa naik ojek online"
"kali ini aku jemput. sekali ini aja. oke! "
"oke mas, kalau kamu maksa. tunggu di depan aja ya"
"oke vi... sampai ketemu nanti ya" ujang senang Olivia bersedia dia jemput
percakapan mereka berakhir
"badan ini kok capek bgt ya? ndak bisa kerja kalau aku seperti ini" Olivia menyandarkan tubuhnya di dinding kamar itu
"oh ya... nenek kan pernah bilang kalau aku capek bros ini harus aku berikan kepada orang lain" ucap Olivia sambil mengingat pesan nek Marni. dan mencoba mencari cara memberikan brosnya kepada orang lain.
Olivia melihat jam di dinding, masih menunjukkan pukul 11 siang. banyak kesempatan untuk mencari orang yang mau dia kasih bros.
Olivia segera mengganti baju milik dimas yang dia kenakan dengan baju miliknya sendiri.
Menganti baju dengan setelan kaos oblong dan celana jins warna biru muda, rambut di jepit menggunakan jedai. dandan simple tapi masih tetap terlihat modis.
Olivia memesan taksi online pergi menuju pusat perbelanjaan yang berada tak jauh dari tempat tinggalnya. Olivia berniat mencari beberapa baju untuk dia perfome. Olivia merasa harus memperbaiki penampilannya, kini outfitnya tengah menjadi konsumsi banyak orang, tidak mungkin memakai baju yang sama terus.
Olivia menyusuri pusat perbelanjaan terbesar di kota surabaya itu, masuk ke toko baju dan memilih beberapa stel menggunakan uang pemberian nek Marni.
Setelah mendapatkan cukup banyak baju, Olivia mencari tenan makanan. membeli berberapa makanan ringan dan tak lupa juga membeli minuman.
sambil menunggu pesannya datang, Olivia berfikir bagaimana cara memberikan bros miliknya kepada orang lain
"selamat siang, pesanan meja 06?" seorang pramusaji mendatangi Olivia sambil membawa nampan berisi makanan pesanannya
"iya mbk"
Pramusaji itu meletakkan satu persatu pesanan Olivia
"sudah lengkap ya mbk, pesanannya"
"iya. terimakasih mbk.. maaf mbk tanya. untuk refil air mineral disebelah mana ya?" ucap Olivia melihat gelas air putih miliknya sudah kosong
"bisa saya bantu ambilkan mbk" ucap pelayan itu sambil mengambil gelas kosong di depan Olivia
Tak berapa lama kemudian pramusaji itu datang membawa segelas air putih
"ini airnya mbk"
"terimakasih"
Pramusaji itu tidak meninggalkan meja Olivia
"terimakasih mbk, sudah lengkap pesanan saya"
"iya mbk. mbak Beli bros itu dimana?" tanpa Olivia sadari pramusaji itu sedari tadi memandang bros yang dia kenakan
"oh ini... mbk mau?" ucap Olivia sambil melepas bros dari kaosnya
"lho jangan mbk, aku cuma tanya beli dimana. bagus"
"sudah ambil aja mbk. kayaknya bagus kalau kamu yang pakai mbk, pas banget... pakai hijab di percantik dengan bros ini" ujar Olivia memberikan bros bermata merah pemberian nek Marni
"ini buat aku mbk? bagus... " ucap pramusaji itu mengambil pemberian Olivia dan memasangkan di baju kerjanya berwarna hitam
"wah tambah cantik mbk" puji Olivia
setelah mengucapkan terimakasih, pramusaji itu pergi meninggalkan Olivia. Olivia menyantap makanannya sambil melihat pramusaji itu pergi masuk kedalam tenan makanan tempat dia bekerja