Ulfa Apriyani (Ketua OSIS, perfeksionis, anti-kriminal) harus menelan pil pahit saat dijodohkan paksa dengan musuh bebuyutannya, Langit Pradipta (Kapten Basket, bad boy, biang onar).
Masalahnya, Langit sudah punya pacar yang sama populernya: Zara Aprilia (Kapten Cheerleader).
Di sekolah mereka perang dingin, di rumah mereka terpaksa tinggal satu atap.
Awalnya Langit cuek dan kasar karena menjaga hati Zara, tapi perlahan, pesona ketegasan Ulfa mulai meruntuhkan tembok ego Langit.
Saat Langit mulai jatuh cinta, rahasia pernikahan mereka bocor. Badai besar pun dimulai, memaksa Langit harus memilih antara ego masa mudanya atau kehilangan Ulfa selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terpaksa Tidur Satu Ranjang 17.
Suara bel rumah yang berbunyi tiga kali berturut-turut di hari Sabtu sore sukses membuat jantung Ulfa hampir melompat keluar dari tenggorokan. Demi apa pun, mereka tidak sedang mengecek paket belanjaan online. Begitu daun pintu dibuka, berdirilah dua pasang manusia paruh baya dengan senyum paling semringah sedunia.
"Surprise!" Bu Tiara, mama Ulfa, langsung merangsek masuk dan memeluk putrinya erat- ironisnya, pelukan itu justru membuat Ulfa merasa seperti sedang dicekik realitas.
Di belakang mamanya, Pak Indra Pradipta—papa Langit yang berwibawa namun selalu punya sorot mata mengintimidasi—melangkah masuk bersama sang istri dan papa Ulfa.
Langit yang baru saja turun dari tangga dengan kaus oblong hitam dan celana pendek langsung mematung. Matanya bertemu dengan mata Ulfa. Lewat tatapan itu, ada pesan telegrafis darurat yang tersampaikan: Kita. Harus. Akting.
"Ya ampun, anak-anak Papa makin kompak aja," ujar Pak Indra, menepuk bahu Langit. "Gimana sekolah sama urusan rumah? Aman?"
"Aman, Pa," jawab Langit. Suaranya halus, sebuah keajaiban yang jarang terjadi mengingat biasanya cowok itu selalu menggunakan nada ketus kalau bicara dengan Ulfa. Langit kemudian berjalan mendekat, secara alami melingkarkan lengannya di pinggang Ulfa.
Ulfa tersentak kecil. Kulitnya meremang. Sentuhan itu terasa asing, agak hangat, dan sialnya… terasa sangat nyata.
"Ulfa tadi agak pusing, Ma, Pa. Makanya Langit suruh istirahat, biar Langit yang beresin rumah," bohong Langit lancar tanpa berkedip. Tangannya di pinggang Ulfa meremas pelan, memberi kode agar Ulfa ikut bersandiwara.
"Ah… iya, Ma. Langit perhatian banget kok sehari-hari," timpal Ulfa dengan senyum yang dipaksakan sampai pipinya pegal. Di dalam hati, Ulfa ingin sekali menendang tulang kering cowok di sebelahnya ini. Perhatian dari mana? Dua jam lalu mereka bahkan hampir melempar bantal sofa hanya karena berebut remot TV.
Sore itu berjalan seperti permainan menginjak ranjau. Makan malam bersama dipenuhi obrolan interogatif seputar kehidupan pernikahan muda mereka yang dipaksakan demi perjanjian keluarga.
Setiap kali Bu Tiara atau Pak Indra melirik, Langit akan menyendokkan lauk ke piring Ulfa dengan senyum manis yang membuat Ulfa merinding. Ulfa pun membalasnya dengan mengelap sudut bibir Langit memakai tisu secara lembut. Interaksi mereka terlihat sangat manis di mata orang tua, padahal di bawah meja makan, kaki Ulfa sengaja menginjak ujung kaki Langit sampai cowok itu menahan napas menahan sakit.
Pukul sebelas malam, badai sesungguhnya baru dimulai.
"Kamar tamu sprei-nya belum diganti, Fa. Biar Mama sama Papa kamu di kamar atas, Papa sama Tante di kamar bawah. Kalian tidur di kamar utama kayak biasa, kan?" kata Bu Tiara santai sebelum masuk ke kamar.
Masalahnya adalah: mereka tidak pernah tidur di kamar yang sama. Selama ini Langit mengalah tidur di kamar kerja atau sofa depan. Namun malam ini, di bawah pengawasan ketat dua pasang orang tua, mereka terpaksa masuk ke kamar utama yang sama. Lock pintu berbunyi klik, dan atmosfer di dalam kamar mendadak berubah menjadi sangat canggung dan pekat.
Langit mengacak rambutnya frustrasi. "Gak ada pilihan. Kasurnya gede ini."
Ulfa berdiri kaku di dekat lemari. "Gue tidur di lantai aja."
"Gak usah drama. Nanti kalau nyokap lo tiba-tiba masuk mau anter selimut terus liat lo di lantai, gue yang dicoret dari kartu keluarga," potong Langit ketus, kembali ke mode aslinya. Dia menarik sebuah guling besar, lalu mengempaskannya tepat di tengah-tengah kasur king size tersebut. "Ini batas suci. Lo di kanan, gue di kiri. Lewat dari guling ini, lo bayar denda sejuta."
"Gue juga gak sudi ya lewat-lewat!" ketus Ulfa.
Mereka naik ke atas ranjang dengan gerakan sekaku robot.
Ulfa menghadap ke kanan, memunggungi guling, sementara Langit menghadap ke kiri. Desah napas satu sama lain terdengar sangat jelas di keheningan malam. Ada debaran aneh yang merayap di dada Ulfa.
Ini pertama kalinya dia berbagi ruang privat sedekat ini dengan seorang cowok, dan fakta bahwa cowok itu adalah Langit—si kapten basket sekolah yang ketus tapi diam-diam selalu menjaganya—membuat perutnya terasa seperti dikelitik ratusan kupu-kupu.
Di sisi lain guling, Langit sebenarnya sama gelisah. Dia menatap dinding, mencoba meredam detak jantungnya yang berpacu terlalu cepat hanya karena mencium aroma sampo stroberi milik Ulfa yang menguar di bantal.
Waktu merambat naik ke pukul dua pagi.
Kantuk akhirnya berhasil mengalahkan kegelisahan mereka. Udara malam itu mendadak turun drastis, membuat suhu kamar menjadi sangat dingin karena AC yang menyala.
Di dalam tidurnya, kesadaran Ulfa mulai melayang masuk ke dunia mimpi. Di dalam dimensi bawah sadarnya, latar kamar yang dingin berubah menjadi sebuah panggung megah dengan lampu sorot keemasan. Dan di sana, berdiri seorang cowok dengan jaket kulit hitam, senyum kelinci yang sangat familier, dan tatapan mata yang dalam.
Jeon Jungkook.
"Jungkook-ah..." gumam Ulfa dalam tidurnya. Wajahnya merona kemerahan. Di dalam mimpi itu, Jungkook berjalan ke arahnya, mengulurkan tangan, dan menawarkan kehangatan yang luar biasa di tengah cuaca dingin.
Ulfa yang sangat menggilai idol tersebut tentu saja tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Dia bergerak maju, hendak memeluk sang idola seerat mungkin.
Namun di dunia nyata, gerakan Ulfa dalam mimpi berwujud sebuah pergulatan fisik. Tubuh Ulfa berputar. Kaki dan tangannya dengan mudah menendang 'guling batas suci' milik Langit yang hampir terjatuh ke lantai.
Langit, yang dasarnya memiliki tidur yang sensitif, langsung terbangun begitu merasakan kasur bergerak heboh. Dia membuka mata dan bersiap untuk mengomel. Namun, kalimatnya tertahan di tenggorokan.
Ulfa sudah bergeser sepenuhnya ke areanya. Tidak hanya itu, tangan gadis itu mulai bergerak acak, meraba dada Langit, naik ke lehernya, lalu memeluk pundak Langit dengan posesif. Kepala Ulfa merangsek maju, menyuruk dengan nyaman di perpotongan leher Langit.
"Jungkook… anget banget… jangan pergi…" racau Ulfa pelan, napas hangatnya menerpa kulit leher Langit.
Langit mematung, tubuhnya mendadak sekaku batu bata. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai dia takut suaranya bisa membangunkan Ulfa.
Ditatapnya wajah Ulfa yang berada hanya beberapa sentimeter dari wajahnya. Dalam tidurnya, Ulfa terlihat begitu polos, sangat berbeda dengan versinya yang galak saat siang hari.
"Jungkook matamu," bisik Langit kesal, merasa harga dirinya agak terluka karena digantikan oleh idol K-Pop dalam mimpi gadis ini.
Langit mencoba melepaskan tangan Ulfa dari tubuhnya secara perlahan. Namun, begitu cengkeramannya dilonggarkan, Ulfa malah merengek kecil dan mempererat pelukannya, seolah takut kehilangan sumber kehangatan di malam yang dingin itu. Tubuh Ulfa sedikit menggigil.
Melihat itu, kekesalan Langit perlahan menguap, digantikan oleh rasa maklum yang tak biasa. Dia menghela napas panjang—sebuah kekalahan telak yang dia terima dengan sukarela.
Langit menarik selimut tebal mereka sebatas dada, memastikan tubuh Ulfa tertutup rapat. Dengan gerakan yang sangat pelan dan sabar, Langit akhirnya membiarkan tangan kirinya menjadi bantalan kepala Ulfa, sementara tangan kanannya melingkar longgar di punggung gadis itu, membalas pelukannya.
"Gue emang bukan Jungkook," gumam Langit lirih ke arah rambut Ulfa, senyum tipis yang tulus terukir di bibirnya tanpa dia sadari. "Tapi malam ini, lo aman di sini."
Di kamar yang dingin itu, di tengah sandiwara yang mereka buat untuk orang tua mereka, sebuah rasa yang nyata justru mulai tumbuh perlahan, tanpa batas suci, dan tanpa kepura-puraan.
......................
...****************...
Tbc,
sekarang gimna rasanya jatuh sejatuh"nya🥳🥳