⭐ Novel dengan 20 BAB Terbaik 🏆🏅 ⭐
Mati konyol di dunia modern, jiwanya justru bertransmigrasi ke tubuh seorang gadis lemah yang dijadikan bidak catur. Keluarganya sendiri menjualnya ke istana demi harta dan posisi, sementara sang Putra Mahkota mendominasi pernikahan mereka sebagai transaksi dingin demi takhta.
Semua orang mengira dia akan pasrah dan hancur di dalam lingkaran intrik istana. Namun, mereka tidak tau bahwa jiwa di dalam tubuh itu bukan lagi gadis penurut yang bisa diinjak-injak.
Saat keluarga yang memanfaatkannya dan calon suami yang meremehkannya mulai menyadari perubahan drastis dalam dirinya, permainan kekuasaan di istana berubah total.
Akankah sang calon putri mahkota melarikan diri membawa kebebasannya, atau justru membalikkan keadaan dan merebut seluruh isi istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 24: Taktik dan Intrik Shen Yue
Kabar mengenai terbongkarnya kebocoran anggaran Istana Timur oleh Shen Yue menggegerkan jajaran menteri senior di ibu kota.
Sejumlah pejabat keuangan yang terbukti bermain mata dengan faksi Putra Mahkota langsung dicopot dari jabatannya dan dijebloskan ke penjara kekaisaran atas perintah langsung Kaisar.
Kemenangan ini membuat kedudukan Shen Yue semakin kokoh.
Di Paviliun Barat, suasana kerja kini terasa sangat profesional. Qingzhu dan beberapa pelayan terpercaya sibuk mencatat arsip logistik yang masuk dari berbagai cabang usaha Klan Shen.
Namun, di tengah ketenangan relatif tersebut, sebuah pesan rahasia yang dibawa oleh burung merpati berpita merah tiba di jendela kamar Shen Yue menjelang senja.
Shen Yue melepaskan gulungan kertas kecil di kaki burung tersebut dan membukanya. Tulisan di atasnya menggunakan kode khusus dari Pangeran Ketiga, Zhao Feng:
“Faksi Putra Mahkota dan Perdana Menteri Lin merasa terdesak. Mereka merencanakan tindakan nekat pada Perjamuan Berburu Musim Gugur di Pinggiran Kota esok malam. Target utama mereka bukan lagi reputasimu, melainkan nyawamu dan Jenderal Shen Longwei. Berhati-hatilah.”
Shen Yue meremas kertas tersebut hingga hancur, lalu membakarnya di atas nyala lilin. Matanya berkilat penuh ketajaman.
"Memakai jalur pembunuhan terselubung setelah kalah dalam adu otak?" bisik Shen Yue. "Zhao Xiao, kau benar-benar tidak pernah belajar dari kesalahannmu."
"Nona Muda," panggil Qingzhu dari luar pintu. "Jenderal Shen Longwei meminta Anda hadir di ruang kerja utama. Ada berita darurat dari perbatasan utara."
Shen Yue merapikan lengan baju latihannya lalu melangkah keluar. "Aku datang."
Di ruang kerja utama Kediaman Shen, aura ketegangan terasa amat pekat. Jenderal Shen Longwei berdiri di depan peta wilayah kekaisaran yang terbentang di meja kayu jati. Wajah sang Jenderal tampak lelah dan cemas.
"Ayah," panggil Shen Yue seraya masuk dan membungkuk hormat.
"Yue-er, kau sudah datang," ujar Shen Longwei dengan suara berat. Ia lalu menunjuk ke wilayah perbatasan utara pada peta. "Suku Beidi di utara mendadak melakukan pergerakan pasukan secara masif. Mereka menusuk beberapa desa perbatasan."
Shen Yue menyipitkan matanya, dan mengamati posisi geografis yang ditunjukkan pada peta. "Bukankah pasukan perbatasan utara dipimpin oleh Jenderal Lu, salah satu kerabat dekat Perdana Menteri Lin?"
Jenderal Shen Longwei tertegun sejenak. "Benar... bagaimana kau bisa tau?"
"Ini terlalu kebetulan," analisis Shen Yue cepat. "Kecurangan anggaran gandum yang kubongkar kemarin melibatkan dana logistik benteng utara. Saat penyelidikan baru dimulai, Suku Beidi mendadak menyerang? Ini bukan serangan mendadak biasa, Ayah. Ini adalah konspirasi untuk mengalihkan perhatian Istana sekaligus menciptakan alasan agar Jenderal Lu mendapatkan dana darurat perang tanpa melalui pemeriksaan!"
Jenderal Shen Longwei membelalakkan matanya. Penjelasan logis dan cepat dari putrinya membuka matanya lebar-lebar.
"Selain itu," lanjut Shen Yue, "Fraksi Putra Mahkota dan Perdana Menteri Lin merencanakan sesuatu pada Perjamuan Berburu Musim Gugur besok malam. Mereka kemungkinan akan memanfaatkan kekacauan di perbatasan untuk menjebak Ayah agar dikirim ke medan perang tanpa persiapan, atau mengesekusi pembunuhan di area perburuan."
Jenderal Shen Longwei mengepalkan tangannya kasar ke atas meja. "Jika perkataanmu benar, mereka benar-benar sudah melakukan tindakan makar!"
"Jangan khawatir, Ayah," Shen Yue tersenyum dengan penuh percaya diri khas seorang komandan strategi. "Karena kita sudah tau rencana mereka, kita hanya perlu mengubah arena permainan mereka menjadi kuburan bagi ambisi mereka sendiri."
_______
Malam sebelum Perjamuan Berburu Musim Gugur tiba, hembusan angin dingin menyapu pelataran Kediaman Shen. Di dalam ruang kerja utama yang hanya diterangi oleh temaram nyala lilin, Jenderal Shen Longwei duduk sendirian di depan meja kayu jatinya.
Di hadapannya terbentang peta strategi perbatasan utara, namun pikiran sang Jenderal veteran tidak tertuju pada garis-garis wilayah pertahanan tersebut.
Pandangannya tertuju pada selembar lukisan sutra kecil yang tersimpan di sudut meja, lukisan almarhumah istrinya, yakni ibu kandung Shen Yue.
Shen Longwei mengelus lembut tepi lukisan itu, lalu menarik napas panjang dengan penuh keharuan.
"Xian-er..." bisik Shen Longwei dengan suara serak. "Lihatlah putri kita sekarang."
Ingatan sang Jenderal melayang ke masa lalu. Dulu, Shen Yue adalah gadis yang sangat pemalu, lembut, dan penakut.
Setiap kali berhadapan dengan tuduhan palsu atau perlakuan tidak adil dari Jiang Xiuwei dan Shen Zia, Shen Yue hanya bisa menundukkan kepala, dan menyembunyikan air matanya di dalam kamar yang dingin.
Shen Longwei sering merasa bersalah karena kesibukan militernya membuat ia tidak bisa sepenuhnya melindungi putri sulungnya dari intrik tersembunyi di dalam kediaman.
Namun, beberapa waktu belakangan ini, Shen Yue telah berubah total. Bukan sekadar perubahan sikap biasa, melainkan pergeseran drastis sebesar 180 derajat.
Gadis yang dulu lemah dan penakut itu kini melangkah dengan bahu tegap, tatapan matanya sehitam malam dan setajam bilah pedang.
Cara bicaranya runtut, lugas, penuh analisis logika modern yang bahkan mampu mematahkan argumentasi para menteri senior dan Pangeran di hadapan Kaisar.
Dari cara dia membalikkan serangan racun Jiang Xiuwei, menata ulang pembukuan logistik kediaman, hingga membongkar skandal penggelembungan dana militer Istana Timur... semua tindakan Shen Yue mencerminkan seorang komandan strategi kelas wahid.
Shen Longwei menyunggingkan senyuman tipis, sebuah senyuman penuh kebanggaan yang bercampur rasa takjub.
"Mungkin penderitaan panjang dan tekanan dari orang-orang licik itu yang akhirnya menempa keturunan keluarga Shen ini menjadi pedang yang begitu tajam," batin Shen Longwei.
Sebagai seorang Jenderal besar yang telah menghabiskan separuh hidupnya di medan perang, Shen Longwei menyadari satu hal penting: hadirnya Shen Yue yang baru ini tidak hanya menyelamatkan dirinya sendiri, tetapi juga memberi kekuatan baru bagi seluruh Klan Shen.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun merasa terkepung oleh intrik faksi politik ibu kota, Shen Longwei merasa memiliki pilar penopang yang sangat kokoh di sampingnya
Tok, tok, tok!
Ketukan pelan di pintu ruang kerja membubarkan lamunan Shen Longwei.
"Masuk," seru Shen Longwei seraya merapikan lukisan di mejanya.
Pintu pun terbuka pelan, dan Shen Yue melangkah masuk membawa nampan berisi cangkir teh hangat. Gerakannya anggun namun penuh efisiensi.
"Ayah," sela Shen Yue lembut seraya meletakkan teh di atas meja. "Hari sudah larut. Ayah masih mengkhawatirkan laporan pergerakan Suku Beidi di perbatasan?"
Shen Longwei menatap putrinya lekat-lekat, dan mengamati setiap detail ekspresi wajah Shen Yue di bawah temaram cahaya lilin.
"Yue-er," panggil Shen Longwei pelan, dan mengabaikan pertanyaan tentang perbatasan. "Duduklah sejenak."
Shen Yue mengernyitkan alisnya tipis, namun tetap menuruti perintah ayahnya dan duduk di kursi mahoni di hadapan meja kerja.
"Ada apa, Ayah? Apakah ada hal penting yang ingin disampaikan?" tanya Shen Yue.
Shen Longwei menghela napas panjang, lalu menatap lurus ke dalam mata Shen Yue. "Ayah hanya sedang berpikir... betapa cepatnya waktu berlalu. Dulu, kau selalu bersembunyi di balik jubah Ayah setiap kali ada badai atau suara petir. Tapi belakangan ini... kau berdiri di paling depan, menghadang badai politik yang bahkan bisa meruntuhkan kediaman ini."
Shen Yue terdiam sejenak. Sebagai jiwa cerdas dari dunia modern yang bertransmigrasi ke tubuh ini, ia tau persis apa yang dirasakan oleh sosok ayah di hadapannya.
"Apakah... Ayah merasa asing dengan perubahanku ini?" tanya Shen Yue secara terbuka dengan nada datar namun penuh pengertian.
Shen Longwei menggelengkan kepalanya dengan tegas, lalu tertawa pelan, sebuah tawa hangat yang penuh kasih sayang seorang ayah.
"Asing? Tidak, Yue-er. Mungkin Ayah sempat terkejut melihat betapa tajamnya caramu berpikir dan betapa beraninya kau bertindak," ujar Shen Longwei dengan mata berbinar bangga. "Tapi Ayah tidak pernah merasa asing. Di dalam matamu, Ayah tetap melihat keagungan dan ketulusan ibumu. Hanya saja... kini kau menambahkan keberanian dan jiwa ketangguhan seorang prajurit Klan Shen!"
Shen Longwei menjangkau tangan Shen Yue dan menepuk punggung tangannya dengan erat.
"Jujur saja, Yue-er... sebagai seorang Jenderal, Ayah sering merasa lelah menghadapi jebakan politik dari para menteri dan faksi Istana Timur. Tapi melihat kecerdasanmu, keberanianmu menantang Putra Mahkota, dan kemampuanmu melindungi kediaman ini... Ayah merasa jauh lebih kuat dari sebelumnya. Kau adalah kebanggaan terbesar dalam hidup Ayah."
Mendengar ucapan tulus dari sang Jenderal veteran, sudut bibir Shen Yue terkembang membentuk senyuman hangat yang jarang ia perlihatkan.
"Terima kasih, Ayah," balas Shen Yue. "Selama aku berdiri di sini, aku tidak akan membiarkan siapa pun, baik itu Putra Mahkota, Perdana Menteri, maupun faksi mana pun, menjatuhkan Klan Shen."
Melihat keteguhan di mata putrinya, Shen Longwei mengangguk puas dan semakin bangga.
"Bagus! Itulah putri sulung Shen Longwei!" seru sang Jenderal dengan nada bersemangat.
Bersambung...