Jika ada kehidupan kedua, aku bersumpah akan menyeret kalian ke neraka yang paling dalam!"
Di kehidupan pertamanya, Elena adalah Nona Muda yang naif. Ia menyerahkan seluruh harta dan pengaruh keluarganya demi membantu Gavin, sang suami, naik takhta menjadi Kaisar. Namun setelah tujuan tercapai, Gavin justru mengkhianatinya. Pria itu berselingkuh dengan adik tiri Elena, merebut takhtanya, membantai putranya yang masih kecil, dan membakar Elena hidup-hidup di sel penjara bawah tanah.
Namun, takdir berkata lain. Alih-alih pergi ke akhirat, Elena terbangun dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat tiga tahun sebelum pernikahan terkutuk itu terjadi.
Berbekal ingatan dari masa depan, Elena bersumpah tidak akan lagi menjadi domba yang penurut. Ia akan menghancurkan satu per satu orang yang telah menginjak-injak harga dirinya.
Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Elena mendekati Duke Killian—sang tirani berdarah dingin yang paling ditakuti di kekaisaran—dan menawarkan sebuah aliansi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vvhiiiiivhy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Perjanjian di Atas Darah dan Anggur
Aroma anyir besi bercampur dengan wewangian musk yang tajam menusuk indra penciuman Elena begitu ia melangkah melewati pintu ganda berbahan kayu ek hitam. Ruangan kerja Duke Killian tidak seperti ruangan kerja bangsawan pada umumnya yang dipenuhi ornamen emas silau atau lukisan mewah yang memancarkan kehangatan. Tempat ini adalah cerminan dari pemiliknya: dingin, fungsional, dan mengintimidasi. Dinding-dindingnya dilapisi batu granit kelabu, sementara sebuah meja besar dari marmer hitam terletak di tengah ruangan, dikelilingi oleh rak-rak buku yang menjulang tinggi hingga menyentuh langit-langit.
Di balik meja itu, sang tirani berdarah dingin sedang duduk dengan keanggunan seorang predator.
Duke Killian Von Radcliff. Pria yang di masa depannya nanti akan memimpin pasukan pemberontak dan memenggal kepala Gavin di depan gerbang istana. Saat ini, di kehidupan ini, Killian mengenakan kemeja sutra hitam dengan kancing atas yang sengaja dibuka, memperlihatkan garis lehernya yang kokoh. Rambut hitam kelamnya sedikit berantakan, membingkai wajah dengan rahang tegas dan sepasang mata merah darah yang menatap Elena seolah-olah ia hanyalah seekor serangga yang salah masuk ke dalam sarang laba-laba.
"Seorang Nona Muda dari Kediaman Marquis Lawrence, datang tengah malam tanpa pengawal ke wilayah terlarang Radcliff," suara Killian terdengar rendah, bergaung di setiap sudut ruangan yang sunyi. Ia meletakkan pena bulu ayamnya perlahan, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Jika motifmu adalah untuk mati dengan cara yang tidak biasa, kau telah memilih tempat yang sangat tepat, Lady Elena."
Elena mengepalkan tangannya di balik lipatan gaun beludru hijaunya. Telapak tangannya basah oleh keringat dingin. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut Killian bisa mendengarnya. Di kehidupan pertamanya, ia hanya pernah melihat Killian dari kejauhan—pria itu selalu dikelilingi oleh aura kematian yang membuat siapa pun enggan mendekat. Namun sekarang, demi menghancurkan Gavin dan adik tirinya yang licik, ia harus menyerahkan dirinya langsung ke hadapan sang iblis.
Elena menarik napas dalam-dalam, memantapkan tatapannya langsung ke mata merah pria itu. Tidak ada ketakutan yang ia tunjukkan; hanya ada kobaran api kebencian yang mendalam.
"Saya datang bukan untuk menyerahkan nyawa, Yang Mulia Duke," jawab Elena dengan suara yang menakjubkan bagi dirinya sendiri karena terdengar begitu tenang dan tegas. "Saya datang untuk menawarkan sesuatu yang tidak akan bisa Anda tolak. Sebuah kunci untuk menguasai Kekaisaran tanpa harus menumpahkan darah pasukan Anda."
Killian menaikkan sebelah alisnya. Kilatan jenaka sekaligus berbahaya melintas di matanya. Pria itu menuangkan anggur merah ke dalam cawan perak di atas mejanya, lalu menyesapnya perlahan tanpa mengalihkan pandangan dari Elena.
"Kunci Kekaisaran? Dari seorang gadis naif yang selama ini dikenal hanya tahu cara merangkai bunga dan menghadiri pesta teh?" Killian terkekeh, sebuah suara parau yang mengirimkan getaran ngeri ke tulang belakang Elena. "Kekaisaran ini sudah berada di bawah kendali Kaisar yang sah, dan aku tidak memiliki ketertarikan pada takhta yang rapuh itu. Kembalilah ke kamarmu sebelum aku kehilangan kesabaran dan memerintahkan pelayan untuk membuangmu ke kandang serigala."
"Bagaimana jika saya katakan bahwa dalam waktu tiga tahun, Gavin—Pangeran Kedua yang saat ini terlihat tidak berbahaya dan tersisih itu—akan meracuni Kaisar saat ini dan membantai seluruh garis keturunan bangsawan yang mendukung Anda?" serang Elena cepat, tidak membiarkan Killian memotongnya.
Suasana di dalam ruangan seketika membeku. Suhu udara seolah merosot tajam. Killian menghentikan gerakan cawannya. Matanya menyipit, memancarkan aura membunuh yang begitu pekat hingga Elena merasa atmosfer di sekitarnya menjadi berat untuk dihirup.
"Kau tahu apa yang baru saja kau katakan, Lady Elena? Menuduh Pangeran Kedua melakukan pengkhianatan di hadapanku adalah tindakan makar yang bisa membuat seluruh keluargamu dieksekusi besok pagi," desis Killian, suaranya kini sedingin es utara.
"Saya tidak sedang menuduh, saya menyatakan fakta masa depan," Elena melangkah maju, memangkas jarak antara dirinya dan meja marmer tersebut. "Gavin mengincar tambang emas hitam di wilayah barat yang saat ini dikuasai oleh keluarga Anda. Ia telah menjalin kesepakatan rahasia dengan Kerajaan tetangga, Oberon. Tiga bulan dari sekarang, pada festival perburuan musim gugur, sebuah insiden buatan akan terjadi di hutan suci. Pasukan Anda akan dijebak atas tuduhan penyelundupan senjata terlarang. Dan siapa yang akan menjadi pahlawan yang mengungkapnya? Gavin."
Killian terdiam. Tatapannya menembus ke dalam manik mata Elena, mencari setitik kebohongan atau keraguan di sana. Namun, ia tidak menemukan apa pun selain tekad baja dan keputusasaan seorang wanita yang telah kehilangan segalanya. Informasi tentang tambang emas hitam dan rencana rahasia perbatasan adalah rahasia militer tingkat tinggi yang bahkan hanya diketahui oleh Killian dan tiga jenderal setianya. Bagaimana mungkin seorang Nona Muda yang terkurung di ibu kota bisa mengetahuinya?
Pria itu bangkit dari kursinya. Postur tubuhnya yang tinggi besar bayang-bayang panjang di dinding batu. Ia berjalan memutari meja dan berhenti tepat di depan Elena. Jarak mereka begitu dekat hingga Elena bisa mencium aroma kayu cendana yang menenangkan namun pekat dari tubuh sang Duke. Killian mengulurkan tangan kirinya, jemarinya yang panjang dan kasar mencengkeram dagu Elena, memaksanya untuk mendongak.
"Siapa kau sebenarnya? Siapa yang mengirimmu ke sini untuk memata-matai wilayahku?" Killian menuntut penjelasan. Ibu jarinya menekan kulit lembut dagu Elena hingga memerah. "Informasi itu bukan sesuatu yang bisa didapatkan dengan menebak. Katakan yang sejajar, atau aku akan memastikan kau tidak akan pernah melihat matahari terbit."
Elena meringis pelan menahan sakit, namun matanya tidak berkedip. "Saya adalah Elena Lawrence. Seorang wanita yang telah mati sekali di tangan pria itu, dan kembali dari neraka hanya untuk menyeretnya bersamaku."
Mendengar jawaban yang tidak masuk akal itu, Killian tidak langsung marah. Alih-alih, ia melepaskan cengkeramannya dengan sentakan pelan. Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah kastil yang gelap, merenungkan kata-kata Elena. Kebangkitan kembali dari kematian terdengar seperti dongeng penyihir purba, namun tatapan mata Elena—tatapan penuh luka emosional yang teramat dalam—tidak bisa dipalsukan oleh aktor terbaik sekalipun.
"Katakanlah aku memercayai cerita omong kosongmu tentang masa depan ini," kata Killian tanpa berbalik. "Apa yang kau inginkan dariku sebagai imbalan dari informasi ini? Dan apa keuntungan konkret yang bisa kauberikan selain cerita ramalan?"
Elena tersenyum sinis. Ini adalah momen yang ia tunggu-tunggu. "Saya menginginkan sebuah aliansi pernikahan. Jadikan saya Duchess Radcliff. Dengan status itu, saya memiliki otoritas untuk bergerak di kalangan kelas atas tanpa dicurigai oleh Gavin dan sekutunya. Sebagai gantinya, saya akan memberikan peta pasokan logistik rahasia yang akan digunakan Gavin untuk menjebak pasukan Anda, lengkap dengan daftar nama-nama bangsawan pengkhianat di dalam istana Anda sendiri yang telah menerima suap dari Gavin."
Elena mengeluarkan selembar perkamen kecil yang sengaja ia sembunyikan di dalam lengan bajunya. Ia meletakkannya di atas meja marmer. "Itu adalah nama tiga perwira menengah di bawah komando Anda yang saat ini sudah mulai bertukar surat dengan kediaman Gavin. Anda bisa memeriksa kebenarannya malam ini juga. Jika saya salah, Anda bebas memenggal kepala saya besok pagi."
Killian berbalik, melirik perkamen tersebut, lalu menatap Elena dengan tatapan baru—tatapan penuh ketertarikan pada sebuah mainan baru yang berbahaya. Ia berjalan kembali ke mejanya, mengambil sebilah belati kecil berhias permata yang biasa ia gunakan untuk membuka surat.
Pria itu menyayat sedikit telapak tangan kirinya sendiri. Darah segar berwarna merah pekat menetes, membasahi permukaan marmer hitam. Killian kemudian menyodorkan belati itu kepada Elena, gagangnya menghadap ke arah sang wanita.
"Aliansi dengan Radcliff ditutupi dengan darah, bukan dengan kata-kata manis di atas kertas, Lady Elena," ujar Killian, matanya berkilat menantang. "Jika kau siap menempuh jalan neraka bersamaku, sayat tanganmu dan biarkan darah kita bercampur. Mulai detik ini, musuhmu adalah musuhku, dan pengkhianatanmu akan dibayar dengan nyawa seluruh garis keturunanmu."
Tanpa ragu sedikit pun, Elena menerima belati tersebut. Rasa sakit fisik tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa sakit saat tubuhnya terbakar di sel bawah tanah di kehidupan lalunya. Ia menggores telapak tangan kanannya dengan mantap. Darah mereka menetes di tempat yang sama, menyatu di atas batu marmer hitam yang dingin.
"Maka terjadilah, Duke Killian," bisik Elena, matanya menyala oleh kepuasan awal dari balas dendamnya. "Mari kita bakar dunia yang mereka impikan."
Killian menatap cairan merah yang menyatu itu, lalu kembali menatap Elena dengan senyuman tipis yang mengerikan. Aliansi terkutuk telah terbentuk, dan sejarah Kekaisaran baru saja berbelok ke arah yang sama sekali baru.