NovelToon NovelToon
Suamiku Dokter Dingin Dan Posesif

Suamiku Dokter Dingin Dan Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Intan Wiwi

Valen Adisty, seorang gadis yatim yang gigih dan penuh semangat, baru saja menyelesaikan pendidikan kedokterannya dan bersiap memulai karier sebagai dokter muda. Namun, kehidupannya berubah drastis ketika takdir membawanya masuk ke dalam pernikahan tak terduga dengan Kevin Axelle Rayyan, seorang dokter spesialis tampan, dingin, dan sangat disegani di rumah sakit tempat Valen bekerja.
Di mata orang lain, Kevin adalah sosok dokter hebat yang perfeksionis, pendiam, dan sulit didekati. Namun di balik jubah putih dan tatapan matanya yang tajam, Kevin menyimpan kehangatan—sekaligus sifat posesif yang luar biasa tajam hanya untuk Valen seorang.
Sebagai dokter baru sekaligus istri rahasia dari dokter senior papan atas, Valen harus berjuang menyeimbangkan profesionalitas kerjanya dengan dinamika rumah tangganya yang penuh intrik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejutan dari Kevin

Malam itu berlalu dengan aliran percakapan yang terasa sangat alami. Obrolan mereka tak lagi sebatas candaan garing atau keputusasaan Valen atas modul kuliahnya, melainkan bertransisi menjadi pertukaran cerita tentang cita-cita, ketakutan tersembunyi, hingga rutinitas konyol di rumah sakit. Genggaman tangan Kevin baru terlepas ketika dua cangkir cokelat hangat mereka menyisakan ampas di dasarnya.

Tepat pukul sembilan lewat empat puluh lima menit, mobil Kevin kembali membelah jalanan tenang menuju kediaman Valen. Sepanjang perjalanan pulang, Valen tidak bisa menahan matanya untuk sesekali mencuri pandang ke arah Kevin. Sorot mata pria itu yang fokus menerobos kegelapan malam terasa berbeda sekarang ada kehangatan tersendiri yang siap menyambutnya kapan saja.

Begitu mobil berhenti sempurna di depan pagar rumah, Kevin mematikan mesin. Ia menoleh, menatap Valen dengan senyum tipis yang tak lepas dari bibirnya.

"Empat belas menit sebelum batas waktu dari Tante," ujar Kevin seraya melirik jam di pergelangan tangannya. "Gue terbukti dokter yang disiplin dan bisa dipegang omongannya, kan?"

Valen terkekeh pelan sembari melepas seatbelt-nya. "Iya, iya. Nilai sepuluh buat ketepatan waktu Dr. Kevin."

Saat Valen bersiap membuka pintu mobil, Kevin menahan lengannya secara lembut. Gerakan ringkas itu membuat Valen menahan napas dan menoleh kembali padanya.

"Besok gue ada jadwal operasi maraton dari pagi sampai sore," kata Kevin pelan. Jemarinya mengusap lembut pergelangan tangan Valen sebelum perlahan melepaskannya. "Mungkin gue bakal susah pegang HP. Tapi jangan kapok kalau malam-malam gue telfon lagi, ya?"

"Siapa yang kapok?" sahut Valen dengan nada pura-pura cuek, walau binar matanya tak bisa berbohong. "Ditunggu aja, asal jangan telfon jam dua pagi cuma buat nanya udah tidur atau belum."

"Tergantung kepikiran kamu seberapa parah," goda Kevin dengan kedipan mata jenakanya yang khas.

Valen memukul pelan lengan sweater Kevin sebelum akhirnya keluar dari mobil. Ia berdiri di dekat pintu pagar, melambaikan tangan singkat saat mobil Kevin perlahan meninggalkan area perumahannya.

Saat masuk ke dalam rumah, lampu ruang tamu masih menyala terang. Ibunda Valen yang sedang duduk di sofa sembari membaca majalah, langsung menoleh begitu mendengar langkah kaki putrinya.

"Akur banget kelihatan dari jendela," goda sang Bunda dengan senyuman jahil yang membuat pipi Valen kembali panas. "Gimana kafenya? Bagus?"

"Bunda, please... Valen capek, mau langsung tidur," elak Valen melangkah cepat menuju tangga, mengabaikan tawa pelan ibunya yang bergema di lantai bawah.

Di dalam kamar, Valen langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia memeluk guling erat-erat, menatap langit-langit kamar dengan perasaan melayang. Kata-kata Kevin di kafe tadi terus berputar di benaknya seperti pita kaset yang diulang tanpa henti:

“Gue nyari seseorang yang bisa bikin gue merasa 'pulang'... dan ketenangan itu ada di loe.”

Getaran halus dari ponsel di atas meja nakas mengejutkannya. Valen langsung meraih benda tersebut. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor Kevin:

‘Gua udah sampai jalan utama. Jalan masuk kamar pelan-pelan, jangan sampai kaki kamu terkilir lagi gara-gara melamun. Good night, Valen.’

Valen tersenyum lebar, mengetik balasan dengan jemari yang bergetar pelan:

‘Ati-ati di jalan, Kev. Jangan ngebut!’

Esok harinya adalah acara wisuda Valen. Mengingat perkataan Kevin semalam tentang jadwal operasi maraton dari pagi hingga sore, Valen berusaha meyakinkan dirinya bahwa pria itu tidak mungkin bisa hadir.

"Kamu udah siap, Sayang?" tanya Bunda, membuyarkan lamunan Valen yang sedang merapikan toga di depan cermin.

"Udah Bun" jawab Valen sambil tersenyum.

"Wah... Ternyata kakak gue ini cantik juga ya kalau dandan. Bikin hatiku terpesona padamu... Hahaha..." ucap Wisnu sang adik yang meledek Valen.

"Nggak usah lebay gitu deh loe! Udah yuk Bun, kita berangkat. Kita tinggal aja tuh biang rusuh" jawab Valen sambil berpura-pura kesal pada adiknya.

"Eeeh.... Tungguin aku dong kak!!" seru Wisnu yang langsung berlari menyusul langkah dua orang yang paling dia sayangi dan hormati.

Mereka pun berangkat menuju ke kampus bersama, sampai di kampus Valen lansung berkumpul bersama teman-temannya, meninggalkan bunda dan adiknya.

"Bun, Valen gabung sama mereka ya. Bunda sama Wisnu masuk duluan aja, cari tempat duduk nyaman" pamit Valen pada bunda dan adiknya.

"Iya sayang, ayo Wis kita masuk duluan" jawab bunda sambil mengajak Wisnu untuk masuk.

Tak lama kemudian acara pun dimulai, rangkaian demi rangkaian acara dilewati dengan lancar. Hingga sampai pembacaan beberapa mahasiswa yang menjadi lulusan terbaik. Kebetulan tahun ini Valen dan juga tiga sahabatnya menjadi lima besar lulusan terbaik tahu ini. Betapa bangganya bunda Arin mendengar nama sang anak disebut.

"Yah... Apa kamu bisa melihatnya? Itu dia anak kita yah. Gadis yang dulu ayah gendong, ayah ajari naik motor, ayah ajari manjat pohon, ajari beladiri dan sekarang dia membuktikan janjinya sama ayah. Dulu Valen pernah berjanji sama ayah, kalau dia bakal jadi lulusan terbaik diangkatannya. Sekarang semua terjawab hari ini yah, Valen memberikan kebahagiaan yang luar biasa" lirih Bunda dalam hati sambil berlinang air mata

"Bun, hapus air matanya. Nanti kakak lihat pasti akan ikut sedih, dan dia pasti akan menuduh aku yang nyakitin bunda" ucap Wisnu mencoba menghibur sang bunda.

"Kamu itu nggak tau kalau bunda sedang terharu melihat kesuksesan kakakmu" jawab Bunda sambil memukul pelan pundak Wisnu.

"Bunda...!!" seru Valen memanggil bundanya.

Valen segera memeluk sang bunda sambil menangis.

"Bunda, Valen udah lulus Bun. Dan Valen sudah memenuhi janji Valen sebelum ayah meninggal. Hari ini Valen menjadi lima besar lulusan terbaik di kampus. Pasti ayah senang kan Bun?" lirih Valen di tengah tangisannya didalam pelukan hangat sang bunda.

"Iya nak, ayahmu pasti bangga melihat anak gadisnya ini sudah menepati janjinya. Bukan ayah saja yang bangga, tapi bunda juga bangga melihat kesuksesan kamu sayang" jawab bunda sambil mengurai pelukannya.

"Wisnu juga bangga sama kakak, Wisnu juga janji akan lebih giat belajar lagi kak, supaya bisa seperti kakak" ucap Wisnu sambil memeluk kakak dan bundanya bersamaan.

"Iya kakak pegang janji Kamu ya, awas saja kalau kamu sampai mengingkari" jawab Valen sambil membalas pelukan adiknya.

Beberapa jam kemudian, acara wisuda resmi berakhir. Ratusan wisudawan berhamburan keluar gedung bersama keluarga masing-masing, memanfaatkan area taman kampus untuk berswafoto dan mengabadikan momen dengan buket bunga yang memenuhi genggaman.

Seinara, Jessy, Firly, dan Valen berkumpul di dekat area air mancur taman sambil sibuk berfoto bersama. Tiba-tiba pandangan Firly teralih pada sosok pria berpakaian rapi yang berjalan tegap menghampiri mereka.

"Eh, liat deh... itu bukannya Dokter Kevin?" tunjuk Firly.

Seinara dan Jessy kompak menoleh. Benar saja, Kevin sahabat dekat Nathan yang seorang dokter terlihat hadir di sana. Ia memang diundang secara khusus oleh pihak kampus sebagai tamu kehormatan. Di tangannya, ia memegang sebuah buket mawar merah yang cukup besar dan dikemas sangat cantik.

Kevin melangkah mendekati tempat keempat wanita itu berdiri. Wajahnya yang biasa kaku kini tampak tersenyum hangat.

"Selamat ya buat kalian semua. Selamat atas kelulusannya—Seinara, Jessy, Firly, Valen," ucap Dokter Kevin ramah seraya memberikan ucapan selamat pada mereka satu per satu.

"Wah, makasih banyak ya, Dok! Datang jauh-jauh menyempatkan hadir," balas Seinara antusias.

Namun, kejutan sebenarnya baru terjadi beberapa detik kemudian. Alih-alih memegang bunga itu secara umum, Kevin tiba-tiba berbalik dan melangkah mendekati Valen secara khusus. Dengan raut wajah yang sedikit memerah namun berusaha tetap tenang, ia menyodorkan buket bunga spesial itu tepat di hadapan Valen.

"Selamat secara khusus buat kamu, Len," ujar Kevin lembut.

Valen yang sama sekali tidak menyangka langsung tertegun, matanya membelalak kaget. Kedua tangannya refleks menutup mulut sebelum akhirnya menerima buket bunga indah tersebut dengan senyuman malu-malu yang menghiasi pipinya yang merona merah.

1
Intan Wiwi
sangat cocok untuk pembaca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!