NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dewa

Reinkarnasi Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:152
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Farel Kurniawan, yang dijuluki Dewa Kesenangan — eksistensi di puncak Tujuh Dunia Tanpa Batas — dikhianati muridnya sendiri dan dibunuh dengan cara menghancurkan sebuah Dunia Kecil menggunakan Pagoda Giok yang meledak. Saat kematiannya, ia bertemu Nyai Sekar Lestari, entitas yang jauh melampaui Dewa Sejati, yang memberinya "hadiah": kesempatan kedua. Ia terbangun di tubuhnya sendiri yang berusia 16 tahun, sebagai murid sampah di sekte kultivasi ganda paling rendah, dengan ingatan utuh dan sebuah segel misterius di jiwanya.

Tujuan Farel bukan hanya menjadi kuat lagi. Ia harus memahami siapa yang membawanya ke sekte ini, siapa Roro Ayu Kinasih sebenarnya, dan siapa Nyai Sekar Lestari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 — CERITA DI BALIK HUJAN LERENG GUNUNG

Perjalanan berlanjut selama seminggu penuh sebelum rombongan terpaksa berhenti di sebuah kota kecil bernama Pujon, yang terhampar di celah lembang antara Gunung Kelud dan Gunung Kawi. Langit telah berubah kelabu selama tiga hari berturut-turut, dan hujan deras turun tanpa henti, membuat jalan setapak berbatu itu licin dan berbahaya — tanah longsor kerap mengancam setiap musim penghujan tiba, dan tidak bijaksana untuk memaksakan diri melintas saat cuaca sedang murka begini.

Pada hari kedua hujan turun seperti ditumpahkan dari langit, Farel Kurniawan duduk di balkon lantai dua Penginapan Sederhana, menatap jalanan di bawah yang kini berubah menjadi sungai keruh yang deras. Payung-payung anyaman bambu bergerak pelan di sana-sini, orang-orang berjalan terburu-buru, air memercik saat langkah kaki mereka menyentuh tanah yang becek.

Namun matanya tiba-tiba terhenti pada sepasang sosok yang berjalan di bawah naungan satu payung tua yang sudah agak rusak. Mereka mengenakan jubah perjalanan yang tipis dan basah kuyup, topi bambu menutupi sebagian wajah mereka — seorang pemuda dan seorang gadis, berjalan bergandengan tangan erat seolah takut akan kehilangan satu sama lain di tengah guyuran hujan itu.

Dengan pandangannya yang tajam — sisa dari kejelian yang pernah ia miliki di puncak Tujuh Dunia — Farel melihat lebih dalam. Bahu mereka tampak kurus, mata mereka cekung dan lelah, namun yang paling membuat hatinya berdenyut pelan adalah sorot mata mereka — ketakutan yang akrab namun berusaha disembunyikan, keputusasaan yang dibungkus dengan keberanian untuk tetap berdiri berdampingan.

Mereka berjalan menuju sebuah penginapan kecil yang jauh lebih sederhana dan murah tidak jauh dari sana.

Tak lama setelah mereka masuk, sekelompok pria berjalan beriringan menyusuri jalan, menanyakan sesuatu kepada penduduk setempat. Langkah mereka tegas, tidak sabar, dan ada kilatan keangkuhan yang samar di cara mereka berjalan.

Farel merasakan sesuatu di dalam dirinya bergerak. Kenangan lama yang ia coba lupakan sejak terbangun kembali perlahan-lahan bangkit dari kegelapan. Ia merasa terganggu — bukan karena takut, tapi karena ia tahu persis apa yang akan terjadi selanjutnya. Cerita ini... cerita ini pernah ia saksikan sebelumnya, ribuan tahun yang lalu, dengan wajah yang berbeda namun alur yang persis sama menyakitkan.

Ia bangkit, mengenakan jubah luarnya dan topi bambu, lalu melangkah keluar dari kamar. Tanpa menunggu tangga, ia melompat turun dari balkon dua lantai itu, mendarat pelan di jalan becek di bawah, langsung diselimuti oleh rintik hujan yang dingin.

Di balkon seberang, Putri Kinanthi yang tadi sedang merenungi petunjuk yang Farel berikan kepadanya, terbelalak melihat sosoknya yang tiba-tiba lenyap dari tempat duduknya dan muncul di bawah dalam sekejap mata.

Farel berjalan menembus hujan menuju penginapan tua tempat pasangan itu menginap. Ia tiba tepat saat kelompok pengejar itu melangkah masuk ke dalam lobi yang sempit. Pemilik penginapan itu tampak gelisah namun tidak berani menolak — ia hanya seorang orang biasa, tidak bisa berbuat apa-apa di hadapan mereka yang memegang kekuasaan dan pedang. Ia menunjuk ke arah tangga dengan gemetar, dan kelompok itu berjalan naik, tidak menyadari ada sosok lain yang berjalan diam-diam di belakang mereka.

"BRAK!"

Pintu kayu itu didobrak keras. Jeritan tertahan terdengar dari dalam kamar.

"KELUAR! Kalian tidak bisa bersembunyi lagi!"

Pemuda itu berdiri di depan ranjang, menghunus pedangnya yang sederhana namun tangannya tidak gemetar. "Kami tidak melakukan kesalahan apa pun! Mengapa kalian tidak membiarkan kami hidup dengan tenang!"

"Hebat juga nyalimu," cengir salah satu dari mereka sambil melangkah masuk. "Sayangnya, Tuan Muda Surya memerintahkan agar gadis itu dibawa pulang. Kau? Kau hanyalah debu di jalanan."

"Buang dia, kita tidak punya waktu untuk basa-basi," ucap yang lain dingin. Mereka melangkah masuk dengan senjata terhunus.

Pemuda itu mundur perlahan, menutupi gadis yang berdiri gemetar di belakangnya. Mata gadis itu berkaca-kaca, namun ia tetap memegang ujung jubah kekasihnya dengan erat, seolah siap tidak melepaskannya walau nyawa yang harus dibayar.

Dan tepat saat salah satu pengejar itu hendak melangkah lebih maju, sebuah suara terdengar — tenang, namun berat, seolah menanggung beban ribuan tahun kesedihan.

"Cerita ini sungguh tak pernah berubah. Selalu sama, selalu menyedihkan."

Semua kepala berbalik ke pintu. Farel berdiri di sana, di ambang pintu, basah oleh hujan, namun matanya jernih dan dingin seperti permukaan danau di musim dingin.

"Siapa kau—"

Sebelum kalimat itu selesai diucapkan, bayangan Farel bergerak. Tidak ada ledakan kekuatan, tidak ada suara teriakan. Hanya kilatan samar. Empat sosok jatuh serentak, dan pedang telah kembali ke sarungnya sebelum tubuh mereka menyentuh lantai.

Farel tidak menatap mereka yang tergeletak di lantai. Ia menatap pasangan muda itu yang terpaku dengan mata terbelalak.

"Ikut aku. Tempat ini tidak aman lagi," ucapnya singkat, lalu berbalik dan berjalan ke koridor.

Di lobi, pemilik penginapan itu bersembunyi di balik meja dengan wajah pucat pasi. Farel meletakkan segenggam koin emas di atas meja kayu itu. "Untuk kerusakan dan keheninganmu. Tidak ada yang perlu kau ketahui."

Langkah kaki terdengar di tangga — ragu-ragu, namun akhirnya mendekat. Mereka keluar dengan wajah pucat namun penuh kebingungan dan rasa takut yang bercampur harapan.

"Kita akan bicara di tempat lain," potong Farel lembut, melihat kelelahan yang nyata di wajah mereka.

Ia membawa mereka kembali ke penginapannya sendiri, memesan dua kamar untuk mereka di lantai yang sama, tepat di sebelah kamarnya, lalu meminta agar makanan hangat dan teh hangat diantarkan ke sana.

Putri Kinanthi menatap mereka bertiga saat Farel membukakan pintu kamarnya. Ia melihat pasangan muda itu yang duduk di tepi ranjang dengan tangan saling bertaut erat, menatap Farel dengan mata yang belum berani percaya bahwa mereka benar-benar selamat.

"Makanlah dulu, istirahatlah. Kita akan berbincang-bincang setelah kalian merasa lebih tenang," kata Farel lembut, lalu duduk di kursi dekat jendela, membiarkan mereka memiliki ruang sendiri.

Mereka makan dengan lahap namun sopan, terlihat betapa lama mereka belum menikmati makanan yang layak. Gadis itu sesekali menatap Farel dengan pandangan penuh kebingungan namun rasa syukur yang tulus.

Setelah mereka selesai dan napas mereka lebih teratur, pemuda itu menarik napas panjang dan mulai bercerita dengan suara pelan namun tegas.

"Nama saya Joko Taruna, dan ini kekasihku, Dewi Ratih." Gadis itu tersipu malu namun mengangguk tegas. "Kami berasal dari desa di lereng Gunung Kawi. Kami tumbuh bersama, sejak kami masih kecil. Namun... putra bangsawan daerah itu, Surya Dipangkara, menginginkan Ratih sebagai istrinya. Keluarga kami tidak berani menolak, tetapi kami... kami tidak bisa hidup terpisah."

Suara Joko Taruna pecah sejenak, namun Ratih meremas tangannya pelan, dan ia melanjutkan.

"Jadi kami kabur. Berbulan-bulan kami berjalan, tidur di hutan, makan apa saja yang bisa kami temukan. Kami pikir jika kami menyeberang ke sisi lain gunung ini, mereka tidak akan menemukannya. Tapi pengejaran mereka selalu lebih cepat dari kami."

Farel mendengarkan dalam diam, menatap mereka dengan tatapan yang jauh namun penuh pengertian. Ketika Joko selesai bercerita, keheningan memenuhi ruangan itu sejenak.

"Lari selamanya bukanlah jalan keluar," ucap Farel akhirnya dengan suara lembut namun jujur. "Dan jika pengalaman mengajarkan saya satu hal, orang seperti Surya Dipangkara tidak akan berhenti hanya karena kalian menghilang sebentar. Kalian mungkin bisa bersembunyi hari ini, besok, bulan depan — tapi selamanya? Itu akan memakan hidup kalian perlahan-lahan."

Wajah mereka berdua layu. Mereka tahu itu, jauh di lubuk hati terdalam mereka. Harapan tipis yang mereka peluk ternyata hanyalah ilusi.

"Tapi jangan putus asa," Farel tersenyum tipis, dan senyum itu terasa seperti sinar matahari yang menembus celah awan kelabu. "Saya tidak bermaksud mematahkan semangat kalian. Justru sebaliknya — saya ingin menawarkan sesuatu yang lebih baik daripada sekadar bersembunyi."

Mata mereka terbelalak. "Apa maksudmu... Tuan?"

"Kita akan menuju Kota Kediri dalam beberapa hari lagi. Kalian ikut bersama rombongan saya. Di sana, masalah kalian akan diselesaikan — tuntas. Kalian tidak perlu lari lagi."

"T-tapi... Surya Dipangkara memiliki pengaruh yang luas di daerah ini. Bagaimana mungkin kita—" Ratih belum berani percaya.

"Kalian tidak perlu khawatir tentang itu. Percayalah, ada hal-hal yang jauh lebih besar daripada kekuasaan seorang bangsawan daerah," jawab Farel tenang. "Istirahatlah malam ini. Kalian aman di sini. Minumlah pil ini — masing-masing satu sekarang dan satu lagi saat bangun pagi. Itu akan membantu memulihkan tenaga kalian. Besok kita bicarakan semuanya lagi."

Ia menyerahkan tiga botol kecil kepada mereka, lalu berdiri dan membukakan pintu. Setelah ucapan terima kasih yang terbata-bata, mereka masuk ke kamar sebelah, menutup pintu dengan perasaan yang jauh lebih tenang daripada sebelumnya.

Saat Farel kembali ke kamarnya, Putri Kinanthi masih duduk di sana, menatapnya dengan rasa ingin tahu yang mendalam.

"Kau boleh bertanya," kata Farel sebelum gadis itu membuka mulut, lalu tersenyum tipis melihat ekspresinya.

"Apakah kau benar-benar akan membantu mereka? Tanpa alasan apa pun?" tanyanya jujur.

"Ya."

"Dan kau sama sekali tidak mengenal mereka atau keluarga yang mengejar mereka?"

Farel menatap ke luar jendela, ke arah hujan yang masih turun di luar sana. Ada kerinduan yang dalam di matanya.

"Saya tidak mengenal mereka. Tapi saya pernah melihat cerita yang persis seperti ini sebelumnya. Ribuan tahun yang lalu. Cerita itu berakhir tragis. Dan saya... saya selalu membenci akhir cerita itu."

Ia terdiam sejenak, lalu menoleh perlahan ke arah Putri Kinanthi.

"Mau mendengarkan ceritanya? Mungkin bukan cerita yang menyenangkan, tapi malam hujan begini sepertinya waktu yang tepat untuk berbagi kisah lama."

Putri Kinanthi tersenyum lembut, menarik kursi mendekat ke arah jendela.

"Tentu saja. Hujan sepertinya tidak akan berhenti sebentar lagi."

Farel menghela napas panjang, menatap butiran air yang menuruni kaca jendela, dan mulai bercerita dengan suara yang pelan namun jernih, diiringi suara rintik hujan yang membasahi bumi di luar sana.

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!