NovelToon NovelToon
Aura Clarissa

Aura Clarissa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:683
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Aura Clarissa adalah seorang penulis yang hidup dalam ketenangan. Namun, tanpa sadar dia juga menyukai kemewahan dan dunia malam yang gelap. Bahkan lebih parahnya menjadi wanita simpanan Daffa Gorge yang sudah beristri.

Konflik makin memanas ketika Darrel Gorge, adik kandung Daffa, hadir menuntut pertanggungjawaban atas malam yang tak pernah Aura ingat.

Di tengah intrik perselingkuhan, ancaman sang istri sah, dan daya tarik Darrel yang kian sulit ditolak, sanggupkah Aura bertahan saat kebenaran tentang dirinya membakar seluruh kehidupannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Dibawah Bayang-Bayang Lyora

Clara mengulas senyum lebar di hadapan cermin. Dress ketat berwarna maroon memeluk erat lekuk tubuh proporsionalnya, membiarkan kedua bahu mulusnya terbuka elegan, dipadukan dengan high heels berwarna senada. Clara menyambar tas genggam mewahnya, lalu melangkah keluar.

Klek.

Pintu apartemen terdorong terbuka. Di koridor, Darrel berdiri seraya menyipitkan mata menatap layar ponselnya.

"Darrel..." gumam Clara penuh semangat.

Pria itu mendongak. Tatapannya seketika mengunci sosok Clara—sebuah tatapan tajam yang memancarkan perpaduan antara rasa kagum, syok, dan heran. Wanita di hadapannya saat ini jelas bukan Aura yang selalu tampil sopan, lugu, dan menjaga martabat.

Di depannya kini adalah sosok wanita liar yang tak terduga. Darrel buru-buru mengalihkan pandangannya, melepas jaket jeans yang ia kenakan, lalu menyampirkannya ke bahu terbuka Clara.

"Ayo jalan," ujarnya singkat.

Clara terdiam sejenak. Ia melirik jaket Darrel di bahunya, melepasnya perlahan, lalu menggenggam jaket itu erat-erat seraya mengekori langkah Darrel menuju lift.

.

.

Mansion Keluarga Gorge.

Kilatan lampu gantung kristal yang megah benderang sudah terlihat sejak dari gerbang utama. Tak ada yang tak tahu betapa superiornya kediaman keluarga Gorge, dan malam ini, Clara merasa menjadi wanita paling beruntung yang melangkahkan kakinya di atas lantai marmer tersebut.

Clara terus mengulas senyum percaya diri. Ia bahkan sejenak melupakan fakta rumit mengenai hubungannya dengan Daffa—kakak kandung Darrel.

Detak heels Clara mengetuk halus lantai marmer mansion. Tanpa canggung dan tanpa diminta, ia menggelayutkan jemarinya di lengan Darrel. Berjalan berdampingan layaknya sepasang kekasih sungguhan.

"Megah sekali mansion Kakek," bisik Clara di tengah langkah mereka.

Darrel tak menyahut. Mereka memasuki lift privat dalam keheningan. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir pria itu. Darrel membisu, menyembunyikan benaknya yang dipenuhi tumpukan prasangka.

"Kenapa diam saja? Bukannya Kakek ingin berkenalan denganku sebagai calon istrimu?" celetuk Clara penuh percaya diri.

Sebelum Darrel sempat membalas, denting lift yang terbuka memotong percakapan mereka. Mereka tiba di lantai tujuan—sebuah aula megah berornamen keemasan yang memanjakan mata. Clara baru saja hendak mengagumi interior mewah di sekelilingnya ketika langkah Darrel mendadak terhenti kaku.

"Lama tidak bertemu, Darrel..."

Suara lembut dan elegan itu mengalihkan perhatian Clara. Seorang wanita bergaun malam hitam berdiri di sana. Senyumannya begitu manis dan memikat, jenis senyuman yang sanggup meluluhkan siapa pun yang memandangnya.

Wanita itu berdiri di samping Sofie—wanita yang pernah melabrak Clara beberapa waktu lalu. Jantung Clara mendadak berdegup kencang secara tidak wajar. Ia mencengkeram lengan Darrel makin kuat.

Namun secara perlahan, Darrel melepaskan cengkeraman tangan Clara dari lengannya. Clara tersentak, menatap pria itu dengan kening berkerut bingung.

"Lyora..." gumam Darrel lirih. Tatapannya pada wanita itu seolah terkunci oleh terpaan memori masa lalu.

Clara buru-buru meraih kembali jemari Darrel. "Darrel...?" protes Clara.

Wanita bernama Lyora itu melangkah maju, berhenti tepat di hadapan Darrel. "Siapa dia?"

Detik itu juga, Daffa muncul membawa segelas wine, berdiri menyela di antara mereka. "Dia Aura Clarissa. Calon istri Darrel."

Darrel menunduk pasrah tanpa membantah, sementara Clara terpaku kebingungan melihat reaksi pria di sampingnya. Bagaimana bisa ia dipermalukan seperti ini? Darrel bahkan tidak pasang badan untuk membela keberadaannya.

Clara menguatkan diri, melangkah maju seraya mengulurkan tangannya. "Saya Aura Clarissa, calon—"

"Cucu Kakek sudah datang," potong suara berat Robert Gorge yang berjalan mendekat dengan tongkat berlapis emasnya.

Clara menarik kembali tangannya yang menggantung di udara.

"Kamu... penulis yang di pesta waktu itu?" tanya Robert dengan raut menilai, mengamati penampilan seksi Clara yang bertolak belakang dari sosok polos yang dilihatnya tempo hari.

"Iya, Kek. Saya Aura Clarissa," sahut Clara seraya kembali mencoba mengulurkan tangan.

Alih-alih menyambut uluran tangan Clara, Robert melewati wanita itu begitu saja menuju ruang makan.

"Duduklah semuanya. Chef Ronald sudah menyiapkan hidangan spesial," ujar Robert dingin.

"Ayo..." gumam Darrel datar, melangkah lebih dulu tanpa menunggu Clara.

"Terima kasih Kakek sudah mengundang Lyora makan malam di sini. Lyora sangat merasa terhormat bisa bertemu Kakek Robert kembali," ujar Lyora dengan nada bicara yang amat sopan dan terdidik.

Robert mengulas senyum hangat—sesuatu yang jarang ia tunjukkan. "Kamu memang sangat cerdas, Lyora. Tidak heran jika kamu berhasil menjadi pemenang putri kecantikan internasional," puji Robert, lalu melirik tajam ke arah Darrel yang tekun menunduk sembari membolak-balik hidangan di piringnya.

"Darrel, lihatlah Lyora. Dia sudah banyak berubah sekarang," lanjut Robert penuh penekanan.

Clara yang duduk di meja makan yang sama mendadak merasa seperti lalat—hanya penonton tak dianggap dalam pertunjukan yang memuakkan ini.

"Saya juga merasa terhormat bisa diundang Kakek untuk—"

Ucapan Clara terputus seketika saat jemari Darrel di bawah meja mendadak menggenggam erat pergelangan tangannya, menahannya untuk tidak bicara.

"Makan malam ini khusus diadakan untuk menyambut kepulangan Lyora dari luar negeri," potong Robert acuh.

"Selamat atas pencapaianmu, Lyora," bisik Darrel akhirnya membuka suara.

Lyora terkekeh pelan. "Kamu masih sama seperti dulu, Darrel. Tidak perlu secanggung itu padaku, kita kan sudah sama-sama dewasa sekarang."

Tawa riang menyelimuti meja makan itu. Semua orang tersenyum dan menikmati kehangatan suasana—kecuali Clara, yang jemarinya masih tertahan di dalam cengkeraman dingin tangan Darrel.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!