Berawal dari niat Baik yang berujung pada jatuhnya ia dari lantai dua puluh Gedung Dingfeng.
Jiang Chen, seorang pemuda yang putus asa mencari pekerjaan, secara tidak sengaja mewarisi jutaan pengetahuan rahasia medis dan kekuatan kuno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Matahari siang bersinar cukup terik menyinari pelataran depan Apartemen Mutiara Jinghai.
Chu Mengqi berjalan keluar dari lift lobi dengan langkah yang sangat tergesa-gesa.
Dia mengenakan kemeja kotak-kotak sederhana, celana jeans biru pudar, dan tas punggung kanvas yang sudah usang.
Gadis itu memiliki jadwal kelas siang yang sangat penting, jadi dia memilih untuk mengabaikan Jiang Chen yang sedang bersantai di dalam apartemen.
Namun, langkah Mengqi terhenti secara paksa saat dia baru saja melangkah keluar dari pintu kaca lobi utama.
Sebuah mobil sport merah yang sangat mencolok terparkir melintang secara arogan, menghalangi jalur pejalan kaki.
Seorang pemuda tampan dengan setelan jas bermerek mahal berdiri bersandar di kap mobil tersebut sambil memegang sebuket mawar merah.
Dia adalah Zhao Tianyu, tuan muda sombong dari Keluarga Zhao yang sudah mengejarnya tanpa lelah sejak awal semester.
Melihat kemunculan Mengqi, senyuman pongah langsung terukir lebar di wajah Zhao Tianyu.
"Mengqi sayang, akhirnya kau turun juga," sapa Zhao Tianyu sambil melangkah mendekati gadis itu.
"Aku sengaja membolos dari rapat perusahaanku hari ini khusus untuk menjemputmu makan siang."
Mengqi menghela napas panjang, wajahnya langsung memancarkan raut kebencian yang sangat nyata dan tidak ditutup-tutupi.
"Berapa kali harus kubilang, Tuan Muda Zhao? Jangan pernah mencariku lagi," tolak Mengqi dengan nada yang sangat dingin.
"Aku punya jadwal kuliah, minggir dan biarkan aku lewat."
Zhao Tianyu sama sekali tidak bergeser, dia justru merentangkan tangannya menghalangi jalan gadis itu.
"Ayolah Mengqi, jangan terus jual mahal padaku seperti ini," bujuk Zhao Tianyu dengan nada yang sangat merendahkan.
"Kau ini cuma mahasiswi miskin yang harus berhemat setiap hari, untuk apa belajar susah payah?"
"Jadilah pacarku sekarang juga, dan aku akan memberikan semua kemewahan yang tidak pernah bisa kau beli seumur hidupmu."
Beberapa mahasiswa dan penghuni apartemen yang sedang berlalu lalang mulai berkerumun untuk menyaksikan tontonan gratis tersebut.
Wajah Mengqi langsung memerah karena menahan rasa malu dan amarah yang meledak-ledak di dadanya.
"Simpan saja kemewahanmu itu untuk gadis-gadis matre di klub malammu, Zhao Tianyu!" bentak Mengqi tanpa rasa takut sedikit pun.
"Aku lebih memilih makan mi instan seumur hidup daripada menjadi mainan murahan pria hidung belang sepertimu!"
Kata-kata penolakan yang sangat kasar dan diucapkan secara lantang di depan umum itu langsung menghancurkan harga diri Zhao Tianyu.
Wajah tampannya seketika berubah menjadi sangat gelap, memancarkan niat jahat yang mematikan.
Dia membuang buket mawar merah itu ke tanah dan menginjaknya dengan ujung sepatu kulitnya yang mahal.
"Kau benar-benar tidak tahu diuntung, wanita jalang!" umpat Zhao Tianyu dengan suara keras yang menggema di area lobi.
"Kau pikir kau itu suci dan berharga mahal? Kau itu sama saja seperti wanita murahan lainnya!"
Pria arogan itu merogoh saku bagian dalam jasnya dan menarik dua gepok uang kertas berwarna merah.
Itu adalah uang tunai sebesar dua puluh ribu Yuan yang baru saja dia cairkan dari bank pagi ini.
Srak!
Zhao Tianyu melemparkan tumpukan uang kertas itu dengan sangat kasar tepat ke arah wajah Chu Mengqi.
Lembaran uang merah berhamburan beterbangan di udara seperti hujan daun gugur yang bertujuan menghina martabat kemanusiaan.
"Ambil uang dua puluh ribu Yuan itu dan belilah cermin untuk melihat betapa menyedihkannya dirimu!" raung Zhao Tianyu dengan urat leher menonjol.
"Uang itu sudah lebih dari cukup untuk membeli harga dirimu yang tidak seberapa itu!"
Mengqi mematung dengan mata membelalak lebar, seluruh tubuhnya bergetar hebat menerima penghinaan brutal di depan umum tersebut.
Air mata yang terasa sangat panas langsung menggenang di pelupuk matanya, membuat pandangannya menjadi kabur seketika.
Dia tidak bisa berkata-kata, rasa sesak di dadanya benar-benar mencekik lehernya hingga dia kesulitan bernapas.
Namun, tepat sebelum lembaran-lembaran uang itu mengenai wajah Mengqi, sebuah embusan angin kencang tiba-tiba menyapu lobi.
Wusss!
Sebuah telapak tangan yang sangat kokoh melesat dari arah belakang Mengqi dan menepis uang-uang itu ke udara.
Jiang Chen berdiri di sana dengan wajah yang sangat dingin dan tanpa ekspresi, tatapan matanya setajam pedang algojo.
Pemuda itu sebenarnya baru saja turun ke lobi untuk membeli kopi kalengan dingin di mesin penjual otomatis.
Namun yang dia temukan justru pemandangan sangat menjijikkan dari seorang pria kaya yang sedang merendahkan seorang wanita.
"Siapa kau?! Berani-beraninya ikut campur urusanku, dasar gembel!" bentak Zhao Tianyu saat melihat penampilan lusuh Jiang Chen.
Jiang Chen sama sekali tidak mempedulikan teriakan melengking dari pria arogan di depannya itu.
Dia menunduk dan mengambil salah satu lembar uang seratus Yuan yang jatuh tepat di dekat ujung sepatunya.
Jiang Chen memegang uang itu di depan wajahnya, lalu perlahan meremasnya menjadi gumpalan kertas sampah.
"Jadi ini harga dirimu sebagai seorang pria berkuasa, Tuan Muda Zhao?" tanya Jiang Chen dengan suara berat yang mengancam.
"Menggunakan uang saku bulanan dari orang tuamu untuk menindas seorang gadis yang sendirian?"
Zhao Tianyu tertawa mengejek dengan sangat keras, sama sekali tidak merasa terancam oleh pemuda kurus tersebut.
"Apa urusanmu, pahlawan kesiangan?! Wanita miskin ini memang pantas dihina karena berani menolakku di depan umum!"
Jiang Chen mendesah pelan, lalu memutar lehernya ke kiri dan ke kanan hingga terdengar suara persendian yang berderak.
Krak krak.
"Urusanku adalah, wanita yang baru saja kau hina ini adalah penghuni sah di apartemenku," ucap Jiang Chen dengan nada dingin sedingin es.
"Dan aku sangat benci melihat sampah sepertimu mengotori halaman depan rumahku."
Sebelum Zhao Tianyu sempat memproses kata-kata ancaman itu, tubuh Jiang Chen sudah menghilang dari pandangannya.
Srak!
Jiang Chen melesat ke depan dengan kecepatan yang sama sekali tidak bisa diikuti oleh mata telanjang manusia biasa.