NovelToon NovelToon
SELIR DI DALAM TUBUH NAYA

SELIR DI DALAM TUBUH NAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dide_Lara

Dulu dia mati karena diam. Sekarang dia hidup untuk bersuara.*

lie yun vei, seorang selir cerdas di era dinasti, mati tragis karena dijebak dan difitnah.
Di kehidupan barunya, dia bereinkarnasi jadi selebriti bawahan yang juga ditindas manajernya, Hans.

Tapi kali ini Naya tidak akan diam.
Dengan otak selir dan mental baja, dia akan membalikkan keadaan.
Di tengah drama, skandal, dan paparazzi... muncullah CEO dingin yang tiba-tiba tertarik padanya.

*Dendam harus dibayar. Ketenaran harus direbut.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dide_Lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

NYAWA KALIAN SEBAGAI GANTINYA

Setelah selesai pemeriksaan, dokter mengatakan Tuan Ajimo masih harus dalam perawatan intensif sampai kondisinya benar-benar pulih. Dokter yang merupakan kenalan Dany itu berpamitan untuk pergi, namun ia berpesan bahwa Tuan Ajimo masih harus dalam pengawasannya selama beberapa hari ke depan dan tidak boleh banyak bergerak.

Puri dan Alex berpamitan untuk pulang, tapi tidak denganku. Aku harus tetap di sini.

Aku yakin Hans akan terus mencari keberadaanku sampai ke lubang semut sekalipun. Semoga saja para algojo Hans tidak sadar dengan penyamaran yang dilakukan Puri tadi. Jika mereka sadar, habislah kami semua.

Puri dan Alex kembali ke rumah diantar oleh Dany. Aku menunggu di kedai sashimi yang sudah tutup, menjaga Tuan Ajimo, ayah kandung Naya.

Puri dan Alex berpamitan seraya melangkah keluar dari pintu kedai yang berderit, diikuti olehku dari belakang. Angin malam langsung menyergap kulitku.

"Naya, kami pulang dulu ya. Jaga dirimu dan ayahmu baik-baik. Jangan keluar malam-malam," ujar Puri sambil menatapku cemas, lalu ia melangkah pergi. Alex yang di sebelahnya hanya mengangguk dan mengelus pundakku seolah menyemangatiku, tatapannya mengatakan agar aku kuat. Puri dan Alex masuk ke dalam mobil, diikuti oleh Dany yang duduk di kursi kemudi. Tanpa mereka, mungkin aku tidak berguna di kehidupanku yang kedua sekarang. Mereka adalah satu-satunya keluarga yang aku punya di dunia asing ini.

Aku berlari kecil ke arah mobil menghampiri mereka. Puri dan Alex yang duduk di kursi tengah menurunkan jendela kaca mobil.

"Ada apa, Naya?" tanya Puri, mengernyitkan dahi, mengkhawatirkan diriku.

"Terima kasih, Puri, Alex. Terima kasih banyak. Kalian hati-hati di jalan, jika terjadi apa-apa segera hubungi aku," ujarku dengan suara bergetar, aku benar-benar mengkhawatirkan mereka. Hans bukan orang yang bisa dianggap remeh.

Dany mengangguk dari balik kemudi, mulai mengontrol kemudinya, dan mobil itu mulai pergi perlahan meninggalkan kedai. Lampu belakangnya menghilang ditelan kabut. Aku kembali ke dalam, suasana malam yang sangat dingin menusuk tulang. Suara angin yang bersahutan di antara bangunan kosong membuat bulu kudukku berdiri. Aku melangkah masuk kembali ke dalam kedai menuju kamar tempat Tuan Ajimo dirawat.

Aku duduk diam di kursi kayu di samping ranjang, memperhatikan orang yang telah membuang Naya. Wajahnya yang keriput dan pucat di bawah cahaya lampu yang temaram. Satu sisi, dia juga seorang ayah. Pasti ada alasannya. Tidak mungkin seorang ayah tega membuang darah dagingnya sendiri tanpa alasan yang sangat kuat.

Kenapa dia membuang Naya ke panti asuhan? Apakah karena kemiskinan? Atau karena ancaman? Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku. Aku beranjak bangun, melangkah menghampiri Tuan Ajimo yang terbaring lemah dengan selang infus yang masih menancap di tangannya. Dengan ragu, aku memberanikan diri memegang tangan yang mulai keriput dan dingin itu. Hangatku mungkin bisa sampai padanya.

Terdengar suara deru mobil terparkir dengan kasar di depan kedai. Jantungku berdegup kencang. Mungkin itu mobil Dany yang kembali? Atau jangan-jangan...

Aku melangkah keluar kamar dengan langkah waspada, mengintip dari dalam kedai yang gelap. Dari celah pintu, aku melihat Dany sedang jongkok di depan mobil dengan senter kecil di mulutnya. Aku menghampirinya dengan napas lega.

"Kau sedang apa, Dany? Membuatku kaget saja," kataku pelan.

"Aku sedang mengganti pelat mobil, Naya. Aku yakin mereka akan mencari kita dengan pelat mobil ini. Hans pasti sudah menyebar foto mobilku ke semua anak buahnya," ujar Dany seraya memberikan pelat lama yang masih berdebu itu kepadaku. Wajahnya terlihat serius dan fokus.

Setelah pemasangan pelat mobil depan dan belakang yang baru selesai, Dany mengajakku masuk. Tangannya masih kotor oleh oli.

"Mari, Naya, masuk. Di luar sangat dingin, nanti kau masuk angin," Dany menarik tanganku dengan lembut.

Kami duduk diam di dalam kamar yang sunyi, hanya ditemani suara detak alat monitor jantung Tuan Ajimo. Memperhatikan Tuan Ajimo yang masih terlelap. Tiba-tiba Dany semakin bergeser mendekatiku, hingga tidak ada jarak sama sekali antara kami. Aku bisa mencium aroma parfumnya yang samar bercampur oli.

"Naya, aku harap kau tak perlu canggung kepadaku. Aku di sini untukmu," ujar Dany dengan suara yang hampir berbisik.

Aku hanya mengangguk kaku dan menarik perlahan napasku yang mulai tidak beraturan. Jantungku berdebar bukan karena cinta, tapi karena waspada.

"Naya, aku minta maaf, yang kau lihat dulu di apartemen itu hanya salah paham. Aku bisa jelaskan semuanya," ujar Dany menjelaskan tentang kejadian sewaktu ia bersama wanita lain yang dilihat oleh Naya.

"Semua hanya alasan dasar lelaki buaya," gumamku dalam hati, sinis. Aku sudah terlalu sering melihat drama seperti ini di kehidupan Selir Lin Yue di istana.

Dany memegang tanganku dengan erat. Dengan suasana hening dan temaram seperti ini, aku mulai bisa membaca situasi. Tatapannya berubah. Yah, benar dugaanku, wajahnya dari perlahan mulai mendekat ke wajahku. Semakin dekat. Wajah kami hanya berjarak setengah inci saja, aku bisa merasakan hembusan napasnya. Aku langsung berdiri dengan cepat, menolak secara halus namun tegas.

"Dany, aku sangat lelah. Aku butuh istirahat. Tolong beri aku waktu," ujarku kepada Dany dengan nada yang kubuat sedingin mungkin.

Dany terdiam, wajahnya terlihat kecewa namun ia mencoba mengerti. "Maaf, Naya, aku tidak bermaksud memaksamu. Baiklah, aku keluar. Selamat istirahat, Naya. Jika butuh sesuatu, panggil aku," ujar Dany, lalu ia melangkah keluar dengan langkah berat.

Aku bukan Naya, aku tidak akan mudah jatuh cinta hanya karena sedikit kebaikan. Maafkan aku, Dany, dirimu hanya masa lalu Naya yang menyakitkan. Tapi di tubuh Naya ini, aku adalah Selir Lin Yue, wanita yang tidak akan tunduk pada lelaki mana pun dengan mudah.

Aku membaringkan tubuhku di atas sofa lusuh yang ada di sudut ruangan. Tak lama terdengar suara mobil Dany meninggalkan kedai, derunya menjauh. Mataku mulai terasa sangat berat, seolah tubuh Naya yang lemah ini telah mengambil alih kesadaranku, mataku mulai terlelap dalam lelah.

Sedangkan di luar sana, di sebuah gedung pencakar langit yang menjadi tempat pertemuan gelapnya, Hans yang sedang ada pertemuan dengan rekan bisnis ilegalnya sangat marah besar. Ia mendapatkan kabar melalui telepon bahwa Naya telah berhasil membawa Tuan Ajimo kabur dari rumah bordil.

Hans langsung berdiri dan pergi meninggalkan lokasi pertemuan penting itu tanpa peduli dengan rekan-rekannya, setelah mendapatkan kabar buruk dari Mely.

Amarah Hans yang berapi-api membuat pembuluh darah di lehernya menonjol. Dadanya naik turun seperti roller coaster yang lepas kendali.

"Cepat ke rumah bordil, cepat!! Injak gasnya!" perintah Hans kepada pengawalnya dengan suara menggelegar.

Setelah satu jam perjalanan yang menegangkan menembus hujan, Hans sampai di rumah bordil. Para algojo Hans yang bertubuh besar sudah menunggu berdiri berbaris di depan rumah bordil dengan kepala tertunduk. Mely duduk di kursi dengan ketakutan yang luar biasa karena keteledorannya, Naya berhasil membawa Tuan Ajimo.

Hans keluar dari dalam mobil dengan kasar, menutup pintu mobil secara dibanting hingga berbunyi, "Braakkk!" Ia melangkah dengan langkah besar dan berat menghampiri para peliharaannya dan tanpa basa-basi melayangkan tangannya ke wajah para algojo satu per satu, "Plak... Plak... Plaakk!" Mereka hanya menunduk, tidak berani melawan.

"Bodooohhh!!! Kalian semua, jaga orang sakit saja tidak becus!! Apa gunanya aku membayar kalian mahal-mahal!" ujar Hans dengan amarah yang membeludak seraya mengendurkan tali dasinya yang terasa mencekiknya.

Lalu ia menghampiri Mely yang sedang duduk memegang ponselnya dengan tangan gemetar.

Hans merebut ponsel genggam Mely dengan kasar dan membantingnya ke lantai, ponsel milik Mely hancur berkeping-keping menjadi serpihan.

"Hans, apa yang kau lakukan! Kau gila!" ujar Mely seraya mendorong dada Hans dengan berani.

"Ini semua karena keteledoranmu, Mely! Cari di mana Ajimo dan Naya berada! Jika kalian tidak bisa membawa Ajimo dan Naya kembali ke hadapanku, nyawa kalian sebagai gantinya!" ujar Hans bicara dengan nada meninggi dan mata merah menyala.

*Bersambung...

1
Rosdianah 🌷
revisi kak, pelayan ku.
Nurull Sef Az: oke ka makasih
ya ka
total 1 replies
Nurull Sef Az
plotwis banget
muhammad fikriaz
suka sama alur ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!