【Perjuang keras meraih cinta+Cerita di waktu SMA+Romantis nonfiksi】Seseorang yang jatuh cinta kepda perempuan terpintar di sekolah... Meskipun dia bukan pria yang pandai dalam akademi tapi dia ingin membuktikan jika dia layak mendapatkan perempuan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Putra Satria Hsb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23- Bayang-Bayang Yang Mengusik
Memasuki bulan berikutnya, progress hafalanku di atas sejadah sudah tembus lebih dari separuh. Sembilan puluh sembilan Asmaul Husna hampir khatam di luar kepala, sementara bait-bait Surat Yasin terus meluncur lancar tiap kali diulang usai salat Isya.
Di atas kertas lipat kecil yang biasa diselipkan di catatan Fisika, laporan hafalanku makin membuat Nara takjub. Senyum manis dan tatapan kagum dari cewek itu makin sering tertuju ke bangku belakang tempatku duduk bersama Diko.
Tapi di balik kemajuan itu, sebuah riak kecil mulai muncul di dalam kelas X IPA 2. Riak yang pelan-pelan berubah jadi gelombang gelisah di dalam dadaku.
Namanya Riski. Cowok satu kelas kami yang duduk di barisan tengah. Riski ini tipikal murid yang aktif, cukup menonjol di kelas, dan punya gaya bicara yang luwes. Kalau sebelumnya Riski cuma berinteraksi seadanya dengan Nara, belakangan ini cowok itu mendadak jadi sangat rajin beranjak dari bangkunya setiap kali jam istirahat atau pelajaran kosong.
Tujuannya cuma satu: meja Nara.
Hari Selasa jam istirahat pertama, suasana kelas agak lengang karena sebagian anak ke kantin. Aku dan Diko masih duduk di meja belakang sambil membuka bekal makanan.
Dari bangku belakang, aku melihat Riski sedang berdiri di samping meja Nara. Cowok itu membawa buku catatan Kimia, menyandarkan tubuhnya di tepi meja dengan gaya yang sangat santai.
"Ra, ini soal nomor lima yang dijelasin Pak Suryadi tadi pengerjaannya pakai rumus yang mana sih? Aku agak kurang nangkep tadi," kata Riski dengan suara yang cukup ramah.
Nara yang sedang membaca buku mendongak. Sebagai cewek yang pada dasarnya baik dan selalu terbuka kalau ada teman bertanya pelajaran, Nara langsung mengangguk.
"Oh, itu pakai hukum Gay-Lussac, Ki. Sini tak tunjukin jalannya," jawab Nara santai sambil menggeser duduknya sedikit dan membukakan catatan Kimianya.
Riski tersenyum lebar, langsung mengambil kursi kosong di depan meja Nara dan duduk di sana. Merekapun terlibat diskusi. Tapi bukan cuma bahas rumus, Riski pinter banget menyisipkan lelucon-lelucon kecil yang membuat Nara beberapa kali terkekeh pelan.
Di meja belakang, sendok di tanganku mendadak berhenti bergerak. Ada perasaan hangat yang membakar pelan di dalam dada. Rasa cemburu yang teramat sangat, tapi terpaksa kusembunyikan rapat-rapat.
"Sat," bisik Diko menyikut lenganku pelan. "Lu merhatiin si Riski gak sih? Belakangan ini dia nempel terus sama Maknar."
"Ya kan cuma nanya pelajaran, Dik," balasku datar, mencoba bersikap tenang walau hatiku sendiri mulai gelisah.
"Nanya pelajaran sih nanya pelajaran, Sat. Tapi liat tuh gaya bicaranya, tebar pesona banget. Lu mesti hati-hati, Sat. Lu kan lagi bertapa ngapalin syarat dari Maknar, jangan sampai ditikung di tikungan terakhir," celetuk Diko polos.
Kata-kata Diko seperti jarum yang menusuk tepat di titik paling sensitif. Aku mengepalkan tanganku di bawah meja.
Nara... kalau saja saat itu aku bisa memutar waktu dan membisikkan suara hatiku dari masa depan ke telingamu, aku ingin menanyakan satu hal yang sampai sekarang masih membekas:
“Kenapa harus Riski, Ra? Kenapa di saat aku sedang berdarah-darah menahan kantuk tiap malam di atas sejadah demi memenuhi syaratmu, kamu justru membuka pintu untuk orang lain?”
“Aku tahu aku bukan cowok paling pintar di kelas. Aku cuma anak silat yang berusaha sekuat tenaga buat melampaui batas diriku demi kamu. Tapi melihat kamu tertawa sama Riski hari itu, ada rasa takut luar biasa yang belum pernah kurasakan sebelumnya—takut kalau seluruh perjuanganku ini cuma dianggap angin lalu.”
Sore harinya dari jam tiga sampai jam enam sore, porsi latihan silat di aula bawah berjalan lebih brutal dari biasanya. Seluruh rasa cemas, gelisah, dan cemburu yang kupendam di kelas tak tumpahkan sepenuhnya saat sparing di atas matras.
Mas Teguh sampai heran melihat sapuan dan serangan kakiku yang begitu agresif.
"Bagus, Satria! Power-mu bagus banget sore ini! Tapi kontrol emosimu, jangan terlalu emosional kalau tanding!" tegur Mas Teguh dari pinggir matras.
Aku menyapu keringat di wajah dengan seragam silat yang sudah basah kuyup. Otot-otot tubuhku pegal luar biasa, tapi pikiran di kepalaku masih tetap tertuju pada bayangan Riski dan Nara di kelas tadi.
Pukul enam sore lewat sedikit, usai mandi di ruang ganti, aku membuka HP jadoelku. Biasanya, selalu ada SMS dari Nara yang menanyakan latihan soreku. Tapi sore ini, layar HP-ku sepi. Tidak ada satu pun pesan masuk dari nomornya.
Rasa ganjil itu makin membesar. Aku mencoba mengetikkan SMS duluan:
"Latihan sore baru selesai, Ra. Hafalan Surat Yasin-nya malam ini masuk ayat ke-30. Gimana bimbingan provinsi hari ini?"
Aku menunggu di selasar aula yang mulai gelap. Lima menit... sepuluh menit... setengah jam... SMS-ku tidak dibalas. Baru sekitar jam delapan malam saat aku sudah sampai di rumah, HP-ku bergetar sekali.
"Maaf baru balasan, Sat. Tadi sore diantar pulang sama Riski, sekalian mampir beli buku soal di toko buku kota. Bagus deh kalau hafalannya udah makin lancar. Semangat ya."
Membaca tulisan pesan singkat itu, dadaku rasanya seperti dihantam pukulan telak. Napasku mendadak terasa sesak. Diantar pulang sama Riski?
Aku terduduk di tepi kasur, memandangi layar HP jadoel di tanganku. Surat Yasin dan Asmaul Husna yang terbentang di atas meja belajarku mendadak kelihatan begitu buram.
Nara... seandainya kamu tahu, malam itu adalah malam pertama di mana suaraku gemetar saat membaca ayat-ayat hafalan itu.
“Aku tetap duduk bersila di atas sejadah malam itu, Ra. Walau dadaku rasanya remuk membaca SMS-mu, aku menolak buat menyerah. Aku terus mengeja ayat demi ayat Surat Yasin sambil menahan sesak di dada. Karena saat itu aku percaya, ketulusan dan janjiku tak akan pernah kalah oleh siapapun yang baru datang.”
Keesokan harinya di sekolah, atmosfer di kelas X IPA 2 makin terasa berbeda. Riski makin terang-terangan menunjukkan perhatiannya pada Nara. Dia sering membelikan minuman untuk Nara, duduk di dekat mejanya saat jam kosong, bahkan candaan mereka terdengar makin akrab.
Nara sendiri kelihatan canggung tiap kali matanya berpapasan denganku. Ada gurat rasa bersalah di raut wajahnya, tapi dia tidak pernah menarik diri dari interaksinya dengan Riski.
Saat jam istirahat kedua, aku sengaja berjalan melewati meja Nara saat Riski sedang berdiri di sana sambil tertawa.
"Eh, Satria! Baru dari kantin?" sapa Riski santai tanpa dosa.
Aku menatap Riski sekilas, lalu beralih menatap mata Nara. Nara menunduk pelan, menghindari tatapan mataku yang terlalu tajam.
"Iya, Ki," jawabku singkat dan dingin, lalu melanjutkan langkah menuju bangku belakang.
Aku duduk di kursi kayu bangkuku, meremas jemariku sendiri. Syarat hafalan dari Nara sudah hampir 80 persen tuntas di kepalaku. Aku tinggal butuh sedikit waktu lagi buat menyelesaikan semuanya dan menagih janji yang disepakatinya di kantin waktu itu.
Tapi di balik keyakinanku yang membaja, sinyal-sinyal bahaya itu makin nyata. Badai patah hati terhebat dalam hidupku sedang melaju kencang menuju ke arahku, dan aku cuma bisa menatapnya sambil terus mendekap hafalan di atas sejadah.