Setelah kehilangan ayah dan melihat ibunya terbaring koma, Karissa justru dikhianati oleh Louis, kekasihnya sendiri, yang berselingkuh dengan sahabatnya.
Dalam amarah dan rasa kecewa, Karissa mengambil keputusan nekat—menikahi ayah Louis.
Kini Karissa bukan lagi kekasih Louis, melainkan ibu tirinya.
Namun tinggal serumah dengan pria yang pernah dicintainya ternyata jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan. Louis membencinya, tetapi di saat yang sama, ia juga tidak rela kehilangan Karissa.
Karissa ingin membalas dendam. Tapi tanpa sadar, ia justru terjebak dalam permainan cinta yang ia mulai sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tusya Ryma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Suami Memintaku Datang
Di dalam mobil, Karissa menatap pria yang duduk di sampingnya.
“Davi, terima kasih! Kalau tidak ada kau, aku tidak mungkin bisa membeli rumah dengan posisi sebagus itu!”
“Hei, bukankah kita teman baik? Kenapa harus berterima kasih segala? Aku juga senang bisa membantumu,” jawab Davi serius.
“Ini sudah seharusnya aku lakukan sebagai temanmu!”
“Tapi ... kalau kau tetap ingin aku berterima kasih, traktir aku makan saja! Perutku sungguh lapar!” candanya sambil mengelus perutnya yang rata.
Karissa pun tersenyum.
“Hanya makan? Baiklah, itu hal kecil,” balas Karissa. “Kau ingin makan di mana? Restoran Jepang? Restoran Italia? Atau di mana? Terserah kau saja!”
“Hmmmm, di mana, ya?”
Davi pura-pura berpikir.
“Aku ingin makan di restoran termahal di kota ini!”
“Baiklah! Tidak masalah! Ayo kita pergi ke Wabae Food yang ada di pusat kota! Pesanlah makanan apapun sesukamu!”
“Dengan senang hati, Nona!” Davi terkekeh.
Mobil segera melaju menuju restoran Wabae Food di pusat kota.
Restoran tersebut dikenal sebagai salah satu tempat makan dengan harga yang cukup mahal, juga memiliki hidangan dengan cita rasa yang lezat.
Hari sudah sore. Karissa dan Davi duduk di salah satu meja di lantai dua. Dinding kaca di samping membentang hingga ke langit-langit. Mereka bisa menikmati pemandangan kota yang indah dari sana.
Beberapa saat kemudian, pelayan datang membawakan pesanan mereka.
“Wow ... wanginyaaa... emmm!”
Davi menghirup aroma makanan dalam-dalam.
“Ini pasti sangat lezat!”
Ia tidak sabar ingin segera mencicipinya.
Davi mengangkat garpu dan sendoknya, bersiap menyantap semua makanan yang tersaji di atas meja.
“Makanlah,” ucap Karissa.
“Mari makan!”
Begitu satu suapan masuk ke mulut, cita rasa makanan langsung memenuhi lidah. Bukan hanya enak, tetapi juga sangat lezat. Tidak salah kalau tempat itu dijuluki sebagai tempat makan termewah di Kota A.
Karissa dan Davi menikmati setiap suapan makanan dengan lahap.
Namun, dari meja yang cukup jauh, ada sosok yang tidak asing sedang duduk bersama beberapa orang. Karissa menelan makanan yang baru saja masuk ke mulutnya. Ia meletakkan sendok perlahan.
Tatapannya tidak beralih dari meja itu.
“Ada apa?” tanya Davi ketika menyadari tingkah aneh sahabatnya.
Ia mengikuti arah pandangan Karissa.
“Bukankah itu Louis dan Marine?”
Davi langsung mengenali keduanya.
“Sedang apa wanita itu di sana?” ucapnya kesal.
Davi tahu, dulu mereka berempat pernah berteman baik. Namun, pertemanan mereka berakhir ketika Marine memilih merebut kekasih sahabatnya sendiri.
Davi dan Mona tidak menyukai perbuatan Marine.
“Tunggu di sini!”
Tiba-tiba Karissa bangkit berdiri.
“Hei, kau mau ke mana?”
Davi menahan tangan Karissa.
“Jangan membuat keributan di sini!”
“Siapa yang mau membuat keributan? Aku masih waras!”
Karissa mengangkat sudut bibirnya.
“Nih! Nanti kau bayar semua tagihan di meja kita!”
Karissa mengeluarkan kartu kredit dari dalam tasnya, lalu meletakkannya di atas meja.
“Pesan lagi makanan yang kau mau! Password-nya tanggal lahirku!”
Setelah mengatakan itu, Karissa berjalan menghampiri meja tersebut.
Davi tidak mengerti apa yang akan dilakukan Karissa terhadap Louis dan Marine. Ia hanya bisa mengawasi dari tempat duduknya. Ia juga sudah siap membantu Karissa kalau sampai terjadi perkelahian.
Sesampainya di meja tersebut, bukannya membuat keributan dengan Louis dan Marine, Karissa justru menyapa seorang pria yang duduk bersama mereka.
Pria itu adalah Tuan Lee, ayah Louis sendiri. Mereka sedang makan bersama beberapa orang lainnya.
“Halo, Sayang! Maaf sedikit terlambat. Di jalan sangat macet!”
Ucapan Karissa membuat Tuan Lee menatapnya dengan bingung.
“Halo semuanya!”
Karissa kemudian menyapa dua rekan bisnis Tuan Lee yang juga duduk di meja itu.
“Eh, istrimu juga datang?” ucap salah satu rekan Tuan Lee, yang sebelumnya pernah bertemu Karissa dalam acara jamuan makan malam.
“Apa kalian memang janjian?” tanyanya tiba-tiba
“Tid—”
“Ya! Suami memintaku datang ke restoran ini,” potong Karissa dengan cepat.
Tuan Lee semakin bingung.
“Tidak apa-apa kalau aku ikut bergabung?”
“Ahaha, tentu saja tidak! Ayo, silakan duduk!”
Pria itu segera berpindah tempat dan memberikan kursinya pada Karissa karena kursi tersebut tepat berada di samping Tuan Lee.
“Terima kasih!”
Tanpa merasa malu sedikit pun, Karissa duduk di samping Tuan Lee.
“Eh, ada Louis juga!”
Ia pura-pura baru menyadari keberadaan anak tirinya itu.
“Sungguh senang bisa makan bersama suami, teman, dan juga anak! Hehe....”
Karissa sengaja mengucapkannya dengan penekanan tertentu.
Di bawah meja, Louis langsung mengepalkan tangannya.
“Aku iri pada kalian! Sungguh keluarga yang harmonis!”
Salah satu rekan bisnis Tuan Lee tersenyum penuh kekaguman.
Suasana di meja itu menjadi semakin ramai dengan bertambahnya satu orang.
Karissa terpaksa memesan satu menu agar mereka tidak curiga, padahal perutnya sudah sangat kenyang.
Ketika Tuan Lee dan yang lainnya mulai membahas masalah pekerjaan, Karissa cukup tahu diri. Ia meminta izin pergi ke toilet agar mereka memiliki ruang untuk membicarakan urusan pekerjaan dengan lebih leluasa.
Di dalam toilet wanita, Karissa mencuci tangannya di wastafel setelah memuntahkan semua makanan yang sudah masuk ke dalam perutnya.
Makanan yang sangat lezat dan mahal itu harus rela dimuntahkan karena perutnya sudah terlalu kenyang. Perutnya terasa mual dan begah.
Setelah selesai mengeringkan tangan, tiba-tiba terdengar suara langkah sepatu hak tinggi memasuki toilet.
Tak! Tak! Tak!
Suasana toilet yang sepi membuat suara itu terdengar semakin jelas.
“Kariss!”
Tiba-tiba seseorang memanggil namanya.
Karissa segera menoleh.
“Marine?”
“Sejak kapan kau menjadi wanita yang tidak tahu malu?” ucap Marine tajam.
Ia berjalan mendekat.
“Apa kau tidak pernah diajari sopan santun oleh orang tuamu?”
“Hah? Apa maksudmu?” Karissa mengerutkan kening. “Kenapa harus bawa-bawa orang tuaku segala?”
“Kau tiba-tiba muncul di meja kami! Apa itu cukup sopan, hah?”
Marine berdiri tepat di hadapan Karissa. Ia menatapnya dengan penuh intimidasi.
“Kami sedang membicarakan masalah pekerjaan. Walaupun kau ini istri Tuan Lee, bukan berarti bisa ikut bergabung dengan kami seenaknya!”
“Lalu kau sendiri?” Karissa membalas dengan tatapan tajam. “Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kau juga ikut gabung karena Louis?”
“Hahaha, itu berbeda!”
Marine tertawa kecil dengan nada penuh kebanggaan.