NovelToon NovelToon
Aku Perna Hidup Dari Cintamu

Aku Perna Hidup Dari Cintamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:218
Nilai: 5
Nama Author: My Chubby

Keira Maharani kehilangan rumah setelah konflik besar membuat keluarganya mengusirnya. Di tengah hidup yang serba terbatas, hanya Davin Pratama yang tetap berada di sisinya. Davin memberinya tempat tinggal, makanan, dan rasa aman yang membuat Keira percaya bahwa cintanya adalah satu-satunya hal yang masih ia miliki. Namun perlahan, perhatian Davin berubah menjadi batasan. Keira mulai kehilangan kebebasan, kesempatan bekerja, bahkan keberanian untuk menyuarakan perasaannya. Saat hubungan mereka semakin dipenuhi rahasia dan luka, Keira mulai bertanya: apakah ia masih bertahan karena cinta, atau karena takut hidup sendirian? Sebab ketika cinta yang selama ini ia perjuangkan mulai menghancurkan dirinya, Keira harus memilih—tetap bertahan, atau akhirnya menyelamatkan dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Hari-hari berikutnya di kamar kos berukuran tiga kali tiga meter itu berjalan dengan debar yang berayun di antara harap-harap cemas.

Ponsel retak milik Keira yang tergeletak di atas tumpukan diktat kuliah kini menjadi pusat dari segala perhatiannya. Setiap kali ada getaran kecil atau lampu indikator notifikasi yang menyala, napas Keira seolah tertahan sejenak, menanti balasan dari Rian mengenai sampel ilustrasi kamar kecil dan senja yang ia kirimkan kemarin lusa.

Kecemasan itu wajar. Selama berminggu-minggu, Keira hanya menggambar untuk dirinya sendiri.—mencoret-coret apa yang ia suka di halaman belakang buku sketsa, tanpa ada tuntutan estetika komersial, tanpa tenggat waktu, dan tentu saja tanpa penilaian dari orang lain.

Sekarang, karyanya sedang ditimbang oleh seseorang yang berniat menggunakannya untuk sebuah proyek publik, sekecil apapun skala penerbitan zine independen tersebut.

Pagi itu, hari Rabu, matahari bersinar terik menembus kaca jendela buram kos-kosan.

Davin sudah berangkat ke kantor sejak pukul delapan setelah sempat merapikan kerah kemejanya di dekat pintu dan meninggalkan amplop belanja di atas meja plastik.

Begitu suara deru motor kekasihnya hilang di ujung gang, Keira langsung menarik napas lega. Ia duduk bersila di atas karpet tipis, menarik buku sketsanya, dan membuka ponselnya.

Layar menunjukkan sebuah pesan baru dari Rian.

“Halo, Kak! Sampelnya sudah kulihat bareng tim kecilku. Konsep dan arsiran garisnya bener-bener dapat, suasananya dapet banget sesuai yang kita mau. Suka banget sama bagian bayangan jendela dan siluet cahayanya.”

Jantung Keira berdegup kencang membaca kalimat pertama. Ada rasa hangat yang mendadak membuncah di dadanya, membuat sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman lebar yang sudah lama tidak ia rasakan. Pujian tulus itu seolah menyiram akar-akar keraguan yang selama ini mengering di dalam dirinya.

Namun, pesan itu berlanjut.

“Cuma, ada sedikit catatan revisi nih, Kak. Kalau bagian pojok kiri bawah yang gambar tumpukan buku dan gelas itu bisa dibuat sedikit lebih detail atau diberi ruang kosong agak luas? Soalnya nanti area situ mau kita pakai buat ruang cetak teks puisi pendeknya. Biar teksnya enggak ketumpuk sama arsiran gelap.”

Keira membaca ulang bagian kalimat revisi tersebut. Alih-alih merasa kecewa atau terpuruk karena gambarnya dikritik, Keira justru mengembuskan napas lega. Revisi itu masuk akal dan sangat teknis, bukan karena karyanya jelek atau salah secara konsep.

Rian menyukai gayanya; mereka hanya butuh sedikit penyesuaian ruang agar ilustrasi tersebut bisa berfungsi dengan baik di dalam halaman buku zine.

“Oh, baik, Rian. Aku ngerti maksudnya. Nanti aku coba rapikan bagian pojok kiri bawah supaya ada ruang kosong buat teks puisinya,” balas Keira cepat dengan jemari yang terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya.

“Mantap, Kak! Ditunggu ya. Kalau bisa besok siang, biar kita bisa langsung masuk tahap layout akhir sebelum cetak minggu depan,” jawab Rian.

Besok siang. Waktu yang diberikan cukup singkat, tetapi karena Keira sudah memegang konsep dasar dan arsiran utamanya, ia tahu ia tidak perlu merombak semuanya dari awal. Ia hanya perlu menghapus bagian sudut bawah, mengatur ulang komposisi garis, dan memberikan ruang bernapas bagi teks puisi yang akan disematkan nanti.

Tanpa membuang waktu, Keira segera menyiapkan perlengkapannya. Ia membentangkan kembali selembar kertas gambar bertekstur kasar di atas meja plastik. Pensil 2B, penghapus lembut, dan penggaris kecil ia tata rapi di sisinya.

Pagi itu hingga menjelang sore, kamar kos berukuran tiga kali tiga meter tersebut berubah menjadi studio kecil yang penuh dengan fokus yang murni. Keira tidak lagi memikirkan urusan rumah tangga, tidak memikirkan cucian piring yang belum diangkat, dan tidak pula memikirkan jam kepulangan Davin yang biasanya selalu menjadi penanda utama berjalannya hari-hari di kos ini.

Pikirannya sepenuhnya terserap ke dalam tarikan garis pensil di atas kertas. Ia menghapus arsiran di pojok kiri bawah, menggantinya dengan garis-garis tipis yang lebih renggang, lalu menata ulang bayangan meja agar tercipta ruang kosong yang bersih dan estetis.

Sekitar pukul empat sore, gambar revisi itu selesai. Keira mengangkat kertas tersebut, menerawangnya di bawah cahaya jendela yang mulai meredup, lalu tersenyum puas.

Hasilnya justru terlihat lebih seimbang dan rapi dibanding draf pertamanya.

Ia memotret ulang gambar tersebut dengan ponsel retaknya, lalu mengirimkannya kepada Rian disertai pesan singkat.

“Ini revisi bagian pojok kiri bawahnya, Rian. Mudah-mudahan sekarang sudah pas buat ruang teks puisinya.”

Tidak sampai sepuluh menit kemudian, balasan dari Rian datang membawa emoji jempol dan tanda seru gembira.

“Pas banget, Kak! Ini udah keren banget. Makasih banyak ya gercep banget kerjanya. Nanti kalau layout-nya udah jadi dan zine-nya cetak, aku pasti kirim sampel fisiknya buat Kakak.”

Melihat balasan itu, Keira merosotkan tubuhnya bersandar pada dinding kamar, memeluk kedua lututnya dengan perasaan lega yang teramat sangat.

Tidak ada teriakan kemenangan. Tidak ada perayaan besar. Hanya ada keheningan sore di dalam kamar kos yang sempit, ditemani oleh aroma kertas gambar dan suara angin dari ventilasi, serta sebuah kepastian sunyi di dalam dada: ia baru saja menyelesaikan pekerjaan pertamanya secara mandiri.

Pukul lima lewat sepuluh menit, suara deru motor matic Davin terdengar memasuki halaman kos Jalan Melati. Ketukan tiga kali yang familier menyusul beberapa detik kemudian di daun pintu kayu.

Keira langsung bergerak cepat. Ia mengemas peralatan gambarnya, memasukkan kertas sampel revisi ke dalam tumpukan diktat kuliah di dasar meja, dan menaruh ponselnya di dekat gelas kosong. Semua ia lakukan dengan cekatan namun tetap tenang, tanpa meninggalkan jejak kepanikan apa pun.

Ia membuka pintu kayu itu.

Davin berdiri di sana dengan senyuman hangat, mengenakan kemeja kantor yang sedikit basah di bagian pundaknya karena gerimis kecil yang sempat turun di perjalanan. Lelaki itu membawa bungkusan martabak manis kesukaan mereka seperti biasa.

"Sore, Sayang," sapa Davin lembut, langsung melangkah masuk dan mencium kening Keira.

"Tadi di jalan sempat gerimis sebentar, makanya jalannya pelan-pelan. Kamu udah dari tadi nunggu?"

Keira menggeleng pelan sambil membawakan handuk kecil untuk mengelap pundak Davin yang basah.

"Enggak kok, Vin. Aku juga baru selesai beres-beres kamar."

Davin mendudukkan dirinya di tepi kasur, melepas sepatu pantofelnya, lalu menghela napas panjang. Garis-garis kelelahan tampak jelas di wajah lelaki itu, sisa dari tekanan pekerjaan audit cabang Bandung yang memang sedang memasuki pekan-pekan paling menentukan di kantornya.

"Hari ini benar-benar bikin kepala mau pecah, Kei," keluh Davin sambil memijat pelipisnya sendiri.

"Auditor dari pusat rewel banget minta data revisi laporan keuangan triwulan kemarin. Si Nadia juga dari pagi mondar-mandir bikin ricuh karena ada selisih angka lagi di sistem."

Mendengar nama Nadia disebut lagi di tengah kelelahan Davin, Keira tidak lagi merasakan sensasi dingin atau debar tidak nyaman seperti beberapa minggu lalu.

Nama itu kini terdengar begitu jauh sebuah bagian dari kebisingan dunia luar yang tidak lagi memiliki kuasa penuh untuk merusak ketenangan batin Keira.

Ia berjalan mendekati Davin, lalu berlutut di lantai tepat di hadapan kekasihnya.

Tangannya terulur lembut memijat bahu lelaki itu yang terasa kaku akibat duduk berjam-jam di depan komputer kantor.

"Sabar ya, Vin," ucap Keira tulus, suaranya terdengar begitu menenangkan di dalam ruangan yang mulai temaram.

"Sebentar lagi kan proyek Bandung itu kelar. Habis itu kamu bisa ambil cuti panjang buat istirahat."

Davin menatap Keira dengan tatapan penuh rasa terima kasih. Ia meraih tangan Keira yang sedang memijat bahunya, lalu mengecup telapak tangan itu perlahan.

"Iya, Kei... Cuma kamu tempat aku pulang buat ngilangin stres," gumam Davin lirih, menyandarkan kepalanya pada sandaran kasur.

"Kalau enggak ada kamu, aku enggak tahu harus cerita sama siapa."

Keira membalas perkataan itu dengan senyuman hangat di bibirnya. Senyuman yang tulus, penuh pengertian, dan dijalankan dengan sepenuh hati. Ia tetap menjadi perempuan yang merawat, menyambut, dan mendengarkan keluh kesah kekasihnya dengan sabar.

Namun, di dalam saku roknya, di balik layar ponsel retak yang tersembunyi di atas meja, tersimpan sebuah rahasia kecil yang manis—sebuah bukti bahwa di dalam ruang sempit berukuran tiga kali tiga meter ini, Keira tidak lagi hanya menunggu dunia luar datang menyelamatkannya.

Ia baru saja membuktikan bahwa tangannya sendiri mampu menciptakan garis, memperbaiki kesalahan, dan menorehkan jalan kecil menuju masa depan yang sepenuhnya menjadi miliknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!