Dia adalah Black Rose, pembunuh bayaran yang ditakuti dunia bawah tanah.
Dia adalah Adrian Virell, CEO dingin yang diam-diam merupakan pewaris dinasti mafia.
Lima tahun lalu, satu malam mempertemukan mereka tanpa nama dan tanpa janji.
Kini Black Rose kembali bersama seorang anak laki-laki bernama Noah.
Anak yang ternyata memiliki hubungan darah dengan sang CEO.
Namun Noah bukan anak biasa.
Di balik wajah polosnya, tersembunyi identitas lain yang bahkan tidak diketahui kedua orang tuanya.
Ketika masa lalu kembali memburu mereka, mampukah sang CEO melindungi pewaris yang selama lima tahun tidak pernah diketahuinya?
Dan sebenarnya...
siapa Noah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aren Vely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NOAH DAN BLACK VAULT
Kehidupan Noah berubah drastis sejak keluarga Virell resmi menerimanya. Dia kini menghabiskan sebagian besar waktunya berpindah antara apartemen kecil bersama Althea dan rumah besar keluarga Virell, dimanja oleh Elena dengan berbagai mainan baru, namun satu hal yang tidak pernah berubah adalah rasa ingin tahunya yang besar terhadap dunia digital.
Adrian, yang kini semakin dekat dengan putranya, memperhatikan bahwa Noah memiliki ketertarikan luar biasa terhadap komputer canggih yang ada di ruang kerjanya, sesuatu yang awalnya dia anggap sekadar rasa penasaran anak kecil biasa terhadap perangkat yang berkedip-kedip menarik.
"Boleh aku pinjam komputer Ayah?" tanya Noah suatu sore, matanya berbinar penuh harap, menggunakan sebutan "Ayah" yang masih terasa baru namun selalu membuat dada Adrian menghangat setiap kali mendengarnya.
Adrian, tidak menyadari sepenuhnya kemampuan yang dimiliki putranya, mengizinkannya dengan senyum, mengira Noah hanya akan bermain permainan sederhana seperti anak-anak lain seusianya.
Yang tidak diketahui Adrian adalah bahwa komputer kerjanya, meski dilindungi dengan sistem keamanan tingkat perusahaan, tetap terhubung secara tidak langsung dengan jaringan internal Virell Corporation yang jauh lebih luas dari yang terlihat di permukaan.
Noah, yang sudah lama tidak menyentuh dunia peretasannya sejak insiden menegangkan dengan Black Vault beberapa bulan lalu, mendapati rasa penasaran lamanya kembali bangkit begitu jarinya menyentuh papan ketik yang jauh lebih canggih dari komputer bekas yang biasa dia gunakan di apartemen.
Dia mulai menjelajah perlahan, awalnya hanya mengamati struktur jaringan yang jauh lebih rumit daripada apa pun yang pernah dia lihat sebelumnya, mengagumi lapisan keamanan yang jauh lebih canggih meski dia juga bisa melihat beberapa celah kecil yang mungkin luput dari perhatian para ahli keamanan dewasa yang merancangnya.
Kemudian dia menemukan sesuatu yang membuat jantungnya berdegup kencang.
Simbol yang sama, mawar hitam kecil, muncul sebagai penanda salah satu folder tersembunyi dalam sistem yang lebih luas ini, folder yang sama seperti yang pernah dia temukan di Black Vault berbulan-bulan sebelumnya, namun kali ini terhubung langsung dengan jaringan keluarga Virell sendiri.
Noah menatap layar itu lama, mengingat kembali peringatan yang selama ini dia berikan pada dirinya sendiri, aturan yang pernah dia tulis di buku catatan kecilnya. Namun rasa penasaran, dipadukan dengan pemahaman baru bahwa simbol ini entah bagaimana terhubung dengan keluarga barunya, membuatnya tidak bisa menahan diri.
Kali ini, tanpa tekanan yang sama seperti malam menegangkan sebelumnya, dengan waktu yang lebih longgar karena Adrian sedang menerima panggilan telepon penting di ruangan sebelah, Noah bergerak lebih hati-hati, lebih sabar, menggunakan teknik-teknik baru yang sudah dia pelajari selama beberapa bulan terakhir dari diskusi anonim dengan sesama peretas di forum-forum tersembunyi.
Perlahan, satu per satu lapisan pertahanan mulai terbuka, berbeda dari sebelumnya di mana sistem seolah melawan dengan agresif. Kali ini terasa seperti pintu yang memang sudah lama menunggu seseorang dengan kunci yang tepat untuk membukanya.
Dia berhasil membuka sebuah bagian kecil dari sistem yang dulu tidak bisa dia sentuh sama sekali.
Di dalamnya terdapat file-file lama, beberapa dengan format yang sudah usang, tersimpan dengan rapi seolah sengaja diarsipkan untuk suatu tujuan tertentu. Noah membuka satu per satu dengan hati-hati, matanya yang biasanya penuh keceriaan kini fokus penuh, wajahnya berubah serius seperti yang biasa terjadi setiap kali dia dihadapkan sesuatu yang benar-benar menantang pikirannya.
Dua nama muncul berulang kali di antara dokumen-dokumen itu.
ALTHEA RAVENNA.
ADRIAN VIRELL.
Dan satu kode yang tercantum di bagian atas hampir setiap dokumen, dicetak dengan huruf besar seolah menjadi judul dari keseluruhan proyek yang terdokumentasi di dalamnya.
PROJECT ROSE.
Noah membaca cuplikan-cuplikan kecil informasi yang bisa dia pahami, meski banyak istilah teknis dan singkatan yang belum sepenuhnya dia mengerti pada usianya. Namun satu hal menjadi jelas baginya, sesuatu yang membuat dadanya terasa berat dengan cara yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Kelahirannya bukan sekadar kecelakaan seperti yang mungkin dia bayangkan dari cerita-cerita sederhana yang diberikan orang dewasa di sekitarnya.
Seseorang telah memperhatikan kedua orang tuanya sejak sebelum mereka bertemu, mencatat setiap detail, merencanakan sesuatu yang jauh melampaui pemahaman seorang anak berusia lima tahun.
Dan seseorang tersebut, berdasarkan tanggal terakhir pembaruan file-file itu yang tercatat hanya beberapa minggu lalu, masih hidup, masih aktif memantau perkembangan yang terjadi dalam keluarga Virell hingga saat ini.
Suara langkah kaki Adrian yang kembali dari panggilan teleponnya membuat Noah dengan cepat menutup semua jendela yang terbuka, jarinya bergerak cepat namun tenang, mematikan jejak aktivitasnya dengan keahlian yang jauh melampaui usianya, sebelum akhirnya duduk kembali dengan tampang polos seolah hanya sedang bermain permainan sederhana.
"Sudah selesai bermain?" tanya Adrian, tidak menyadari sama sekali apa yang baru saja ditemukan putranya.
Noah mendongak, senyum kecilnya kembali muncul menutupi keseriusan yang baru saja menguasai wajahnya beberapa saat lalu. "Sudah, Ayah," jawabnya riang, meski di dalam benaknya, pertanyaan-pertanyaan baru mulai berputar, pertanyaan yang tidak berani dia ungkapkan kepada siapa pun, bahkan kepada ibunya sendiri, setidaknya untuk saat ini.