Setelah menikah dengan Silas Crane, Nara Aeris mulai merasakan kebosanan. Hidupnya hanya dipenuhi dengan berbaring, makan, dan menghabiskan uang suaminya.
Tapi ternyata itu cuman bertahan beberapa hari.
Sejak sebuah sistem informasi harian yang bernama Lyra, tiba-tiba muncul di atas kepalanya dan memberikan satu informasi setiap hari. Hidupnya tidak jadi membosankan!
Hari-hari dipenuhi gosip menyenangkan.
【 Ketua Cabang Grup Ardent diam-diam memindahkan tiga puluh miliar sebelum menandatangani surat perceraian. 】
【 Pewaris keluarga Rothwell menikahi sekretarisnya secara diam-diam. 】
Mata Nara berbinar.
"Bukankah gosip seperti ini terlalu menyenangkan?"
Karena Nara Aeris suka berbagi, ia akan selalu melakukan siaran langsung untuk berbagi kepada para penggemarnya. Tentu saja! Gosip bagus harus dibagikan.
Internet mulai macet akibat tingkah laku Nara, dan dia dijuluki Ratu Gosip.
Let's Start The Story!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ly-Ra?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Ethan... Ternyata Kamu Iblis!
Vivian Monet tiba di hotel ketika malam mulai larut.
Sepanjang perjalanan, dia terus memikirkan percakapannya dengan Ethan. Meskipun pria itu terdengar dingin di telepon, setidaknya ia masih bersedia menemuinya.
Vivian menganggap hal itu, sebagai kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka, terlebih setelah skandal perselingkuhan membuat keduanya menjadi bahan pembicaraan publik.
Dia tidak ingin kehilangan Ethan begitu saja.
Selama ini, Ethan memang memperlakukannya dengan baik. Pria itu memberinya hadiah, membiayai kebutuhan tertentu, dan membuatnya merasakan kehidupan yang jauh lebih nyaman. Vivian tidak akan menyangkal bahwa dia menyukai semua itu. Baginya, cinta dan kehidupan yang berkecukupan bukanlah dua hal yang harus dipisahkan.
Karena itulah, ketika hubungan mereka terancam, Vivian tidak ingin menyerah begitu saja.
Terlebih, ia tahu Ethan masih memiliki uang dalam jumlah besar. Selama pria itu belum benar-benar kehilangan semuanya, masa depannya masih bisa terjamin.
Namun, dia juga tidak ingin Ethan menyadari bahwa uang menjadi salah satu pertimbangannya. Jika pria itu menganggapnya hanya mengincar kekayaan, hubungan mereka justru akan semakin sulit dipertahankan.
Begitu keluar lift, Vivian merapikan gaunnya sebelum berjalan menuju kamar Ethan. Dia sempat berhenti di depan pintu untuk menarik napas, kemudian mengetuknya dua kali.
Pintu terbuka beberapa saat kemudian.
Ethan berdiri di baliknya dengan kemeja yang kusut, dan rambut sedikit berantakan. Bau alkohol tercium dari tubuhnya, membuat Vivian spontan mengerutkan kening.
"Kamu minum?" tanya Bianca sambil memasuki kamar.
Pria itu tidak menjawab. Dia hanya menutup pintu, kemudian berjalan kembali ke arah meja tempat botol minuman tergeletak.
Vivian memperhatikan keadaan kamar yang berantakan. Gelas setengah penuh, beberapa lembar dokumen, dan laptop memenuhi meja. Pria yang biasanya menjaga penampilannya itu kini tampak jauh berbeda.
"Kamu seharusnya beristirahat. Kalau terus minum seperti ini, kesehatanmu bisa terganggu," ucap Vivian sambil meletakkan tasnya di sofa.
Ethan tertawa hambar. "Sekarang kamu juga ingin mengatur hidupku?"
Vivian terdiam sesaat. "Aku hanya mengkhawatirkanmu."
"Benarkah?" Ethan menoleh, menatapnya dari ujung kepala hingga kaki. "Atau kamu khawatir, aku tidak lagi punya uang untuk memenuhi keinginanmu?"
Wajah Ethan seketika memucat.
"Ethan, kenapa kamu mengatakan hal seperti itu? Aku datang karena ingin bertemu denganmu, bukan untuk meminta uang."
Meskipun membantah, perkataan Ethan tetap menusuk bagian yang paling ingin dia sembunyikan. Vivian memang memikirkan masa depannya, dan uang yang masih dimiliki Ethan termasuk di dalamnya. Namun, ia tidak datang ke hotel hanya untuk menanyakan harta pria itu.
Setidaknya, dia ingin percaya bahwa perasaannya tidak sesederhana itu.
"Kalau begitu, kenapa kamu menanyakan tiga puluh miliar Lyr di telepon tadi?" Ethan mengangkat satu alisnya. "Jangan bilang kamu tidak penasaran."
"Aku sudah bilang, aku hanya khawatir."
Suara Vivian meninggi tanpa sadar. Ia segera menyesali reaksinya, ketika melihat tatapan Ethan berubah dingin.
Beberapa hari terakhir, ia sudah cukup menderita karena komentar orang-orang. Pekerjaannya terganggu, teman-temannya mulai menjauh, dan beberapa tawaran kerja sama dibatalkan begitu saja. Ia datang ke sini dengan harapan Ethan setidaknya bisa menjadi tempatnya bersandar, tetapi pria itu justru memperlakukannya seperti musuh.
Vivian menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri.
"Aku tidak ingin kita bertengkar. Kita sudah melewati begitu banyak hal bersama. Aku hanya ingin tahu apakah kita masih bisa melanjutkan hubungan ini."
Ethan meletakkan gelasnya. "Melanjutkan hubungan?"
"Ya." Vivian menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Aku tahu situasinya sedang buruk. Semua orang menyalahkan kita, tetapi aku tidak pernah berniat meninggalkanmu hanya karena masalah ini."
Ia sengaja menekankan kalimat terakhirnya. Vivian ingin Ethan mengerti bahwa dirinya masih bersedia bertahan. Jika hubungan mereka bisa dipulihkan, ia tidak perlu menghadapi masa depan yang serba tidak pasti sendirian.
Untuk beberapa saat, Ethan tidak mengatakan apa-apa.
Kalimat Vivian seharusnya membuatnya merasa lebih baik. Namun, yang terlintas dalam pikirannya justru wajah Nara Aeris yang tersenyum di depan kamera, diikuti komentar-komentar yang menghina dirinya.
Bahkan sekarang, ketika ia berusaha mencari orang yang bisa dipercaya, semua masalah itu masih membayanginya.
Ethan mengambil gelasnya kembali, lalu menghabiskan minuman yang tersisa.
"Kalau memang tidak ingin meninggalkanku, buktikan."
Vivian mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
Ethan Hale berjalan mendekatinya. Tatapannya membuat Vivian merasa tidak nyaman, tetapi ia berusaha mengabaikan perasaan itu.
"Aku sudah mempertaruhkan banyak hal untuk hubungan kita," katanya. "Sekarang, aku ingin tahu seberapa besar kamu bersedia melakukan hal yang sama untukku."
Vivian menelan ludah. "Aku tidak mengerti."
Ethan mengulurkan tangan, mencengkeram pergelangan tangannya, lalu menariknya mendekat.
"Ethan, sakit!"
Vivian berusaha melepaskan diri, tetapi cengkeraman pria itu justru semakin kuat. Senyum tipis muncul di wajah Ethan sama sekali tidak membuatnya merasa tenang.
"Apa kamu benar-benar mencintaiku?" tanyanya.
"Tentu saja. Tapi, lepaskan tanganku dulu."
"Kalau begitu, jangan banyak bertanya."
Sebelum Vivian sempat memahami maksud perkataannya, Ethan menariknya ke arah ranjang. Gerakannya begitu mendadak hingga Vivian kehilangan keseimbangan dan terjatuh di atas kasur.
Dia segera bangkit, tetapi Ethan sudah berada di hadapannya.
"Ethan, apa yang kamu lakukan?"
Pria itu tidak menjawab. Ia kembali mendekat, membuat Vivian terpaksa mundur sampai punggungnya menyentuh kepala ranjang.
Ketika Ethan mencoba menyentuhnya, Vivian menepis tangannya.
"Jangan! Aku tidak mau."
Penolakan itu membuat ekspresi Ethan berubah muram.
"Jangan bersikap seolah-olah aku orang asing bagimu. Kita sudah menjalin hubungan selama ini."
"Aku tahu, tapi bukan berarti kamu boleh memperlakukanku sesukamu!" Vivian mencoba turun dari ranjang, tetapi Ethan segera menahan lengannya. "Lepaskan aku, Ethan. Aku ingin pulang."
Mendengar kata pulang, amarah yang sejak tadi ia tahan akhirnya meledak.
"Pulang?" Ethan mencengkeram kedua lengannya. "Kamu datang ke sini karena katanya tidak ingin hubungan kita berakhir. Sekarang, setelah melihat keadaanku, kamu malah ingin pergi?"
"Aku tidak pernah mengatakan akan meninggalkanmu!" Vivian meronta. "Tolong, jangan lakukan ini. Kita bisa bicara baik-baik."
Namun, Ethan tidak lagi mendengarkan.
Dalam keadaan mabuk dan dipenuhi amarah, ia melampiaskan frustasinya kepada perempuan yang berada di hadapannya. Vivian terus berusaha menolak, memohon agar Ethan berhenti, tetapi setiap upayanya untuk melepaskan diri hanya membuat perlakuan pria itu semakin kasar.
Sore itu, kamar hotel yang semula hanya dipenuhi suara percakapan berubah menjadi tempat yang membuat Vivian ketakutan.
Ketika semuanya akhirnya mereda, Vivian terbaring lemah di atas ranjang. Tubuhnya terasa sakit, sementara pikirannya seperti kehilangan kemampuan untuk memahami apa yang baru saja terjadi.
Dia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.
Air mata mengalir tanpa bisa ditahan.
Selama ini Ethan selalu memiliki sifat baik kepadanya, ternyata semua itu hanyalah akting. Dia ternyata iblis!
Vivian mencoba mengangkat tangannya, tetapi gerakan sederhana itu terasa begitu berat. Ia bahkan tidak sanggup langsung duduk.
Di sisi lain ranjang, Ethan bangkit tanpa mempedulikannya. Dia meraih celananya, mengambil ponsel, lalu memeriksa layar dengan wajah kesal.
Belum ada informasi tentang tugas pembunuhan itu.
Seolah-olah tidak terjadi apa-apa, ia berjalan menuju meja dan menuangkan minuman lagi ke dalam gelas.
Vivian menoleh perlahan. Melihat sikap Ethan yang begitu tenang setelah memperlakukannya seperti itu, membuat dadanya terasa semakin sesak.
"Ethan... Ternyata kamu iblis." Suaranya hampir tidak terdengar.
Ethan melirik Vivian sekilas, lalu meletakkan gelasnya di atas meja.
"Kalau sudah selesai menangis, pergilah. Aku tidak punya waktu untuk meladeni drama seperti ini."
Vivian menatapnya tidak percaya. Matanya masih basah, sementara bibirnya bergetar menahan tangis.
"Ethan, bagaimana kamu bisa mengatakan itu setelah memperlakukanku seperti ini?"
"Aku menyuruhmu pergi!" bentak Ethan.
Vivian tersentak. Saat itu, dia akhirnya menyadari bahwa pria yang pernah dicintainya itu tidak akan memberinya penjelasan, apalagi meminta maaf.
Dengan tubuh gemetar, dia mengambil pakaiannya dan mengenakannya sebelum meninggalkan kamar hotel.
Begitu pintu tertutup, Ethan mendengus kesal.
"Perempuan itu benar-benar merepotkan!"
Dia kembali menenggak minumannya sebelum meraih ponsel untuk memeriksa pesan masuk. Namun, belum ada kabar tentang tugas pembunuhan yang telah dia atur.
"Sial! Apa mereka tidak bisa bekerja lebih cepat?"
Ethan mengumpat pelan. Dia sudah memiliki cukup banyak masalah dan tidak ingin membuang waktu untuk hal-hal yang dianggapnya tidak penting.
Sementara itu, sepanjang perjalanan kembali ke apartemennya, Vivian hanya bisa menatap jendela mobil dengan pandangan kosong.
Begitu tiba, dia langsung berlari menuju kamar mandi.
Air keran segera mengalir membasahi tubuhnya. Vivian mengambil sabun, kemudian menggosok kulitnya kuat-kuat, seolah ingin menghapus setiap jejak sentuhan pria itu.
"Menjijikkan... Semuanya menjijikkan!"
Dia terus menggosok lengannya hingga memerah. Air matanya bercampur dengan air yang mengalir di wajahnya, tetapi rasa jijik yang memenuhi hatinya tidak kunjung menghilang.
Akhirnya, Vivian menjatuhkan diri ke lantai kamar mandi dan memeluk tubuhnya sendiri.
Dia tidak tahu berapa lama berada di sana. Pikirannya terasa kosong, sementara dadanya sesak menahan kesedihan.
Yang dia tahu, hari ini telah menghancurkan sesuatu dalam dirinya.
Dan pria yang menghancurkannya adalah orang yang selama ini dia percaya.
...----------------...
tetap sehat dan semangat Thor