Kania Maharani, harus menerima kenyataan pahit saat sang suami lebih memilih untuk kembali pada sang mantan kekasih setelah satu tahun usia pernikahan mereka.
Dulu mereka di jodoh kan saat Erlan Hadi Wijaya di tinggal kan oleh kekasih nya, demi pria lain.
Setelah sang kekasih berpisah dari laki - laki pilihan nya, dia ingin kembali pada Erlan. Erlan yang masih mencintai Wina, menerima wanita itu kembali tanpa perduli perasaan Kania.
Apakah Kania tetap bertahan dan menerima diri nya di madu, atau memilih mundur karena dia bukan lah istri pilihan suami nya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Kania memperhatikan gerak - gerak tante Sarah, mereka memiliki beberapa kesamaan.
"Tante, tante suka gigit liontin nya?" Tanya Kania sambil memperhatikan tante Sarah.
"Eh, iya nak. Saat kesal entah kenapa tante refleks saja menggigit liontin ini!" Jawab tante Sarah sambil tersenyum.
"Kok bisa sama ya, aku juga seperti itu saat sedang kesal!" Jawab Kania.
"Oh ya Kania, pesantren tempat kamu tinggal itu sekaligus panti asuhan ya? Boleh tante dan om ikut kamu ke sana?" Tante Sarah bertanya pada Kania.
"Boleh kok tante, kapan pun tante mau berkunjung ke sana kami pasti menerima nya!" Jawab Kania.
"Gimana Pa? Besok Papa sibuk gak? Mama pengen silaturahmi sama anak - anak di panti!" Tante Sarah bertanya pada suami nya.
"Boleh kok Ma, kita udah lama tidak ke panti!" Jawab Om Rama di sertai dengan anggukan kepala nya.
Tante Sarah dan Om Rama selama bertahun - tahun ini menjadi donatur tetap beberapa panti asuhan di ibu kota, mereka melakukan itu sejak bayi mereka di culik 25 tahun yang lalu.
Mereka berharap di putri mereka tidak akan merasakan kekurangan di dalam hidup nya, di mana pun dia berada. Mereka sudah melakukan berbagai cara untuk bisa menemukan putri mereka, tapi tetap saja tidak berhasil. Setiap waktu, Tante Sarah berharap bisa bertemu lagi dengan putri nya.
******
Di tempat yang berbeda, Mama Indri memaksa untuk datang ke rumah nya Erlan. Sejak tadi dia terus menangis saat mendapat kabar dari mbok Nah, bahwa Kania sudah pergi dari rumah.
Berulang kali Mama Indri menelepon ke nomor nya Kania, tapi tetap tidak bisa tersambung.
"Pa, di mana Kania? Dia tidak punya siapa - siapa di kota ini!" Mama Indri menangis memikir kan nasib menantu nya.
"Papa juga sudah minta orang -orang papa untuk mencari Kania, tapi belum ada hasil nya!" Papa Beni berkata sambil meremas ponsel nya.
"Mama tidak bisa menunggu lagi, Pa. Sekarang juga Mama akan pergi ke rumah nya Erlan!" Ujar Mama Indri.
"Baik lah Ma, kita akan ke sana sekarang juga!" Papa Beni setuju dengan usul istri nya.
Mereka berdua segera berangkat ke rumah nya Erlan, dengan di antar kan oleh sopir mereka. Satpam membuka pintu gerbang saat mobil nya papa Beni tiba di depan, sopir membawa mobil itu masuk ke halaman rumah.
Mama Indri langsung turun dan berlari masuk ke dalam rumah.
"Erlan, kamu di mana Erlan?" Teriak Mama Indri di ruang tamu.
Semua pelayan di rumah itu langsung berkumpul menyambut kedatangan Mama Indri dan Papa Beni, tidak terkecuali Mbok Nah.
"Maaf Nyonya, pak Erlan nya sedang tidak ada di rumah!" Jawab mbok Nah sambil menunduk kan badan nya.
"Kemana anak kurang ajar itu pergi, mbok?" Tanya Mama Indri dengan geram.
"Saya tidak tahu nyonya!" Jawab mbok Nah lagi.
"Pa, bagai mana ini Pa? Erlan tidak ada di rumah, Kania juga belum di temukan saat ini. Lalu apa yang akan kita katakan pada Abah Muis dan Umi Latifah?" Tanya Mama Indri dengan panik.
"Mama tenang dulu, jika sampai besok siang kita tidak berhasil menemukan Kania. Maka mau tidak mau kita akan memberi tahu Abah Muis dan Umi Latifah!" Papa Beni menenangkan istri nya.
"Pa, mereka menitipkan Kania pada kita, tapi putra kita sendiri yang menyakiti nya. Mama tidak bisa menghadapi mereka pa!" Mama Indri berkata sambil menangis.
Papa Beni terus menghubungi Erlan, panggilan pertama, kedua tidak di jawab sama sekali oleh Erlan. Pada panggilan ke tiga justru Erlan sengaja mematikan ponsel nya.
"Kurang ajar sekali anak ini, dia sengaja mematikan ponsel nya dan dia menghindar dari kita!" Papa Beni geram dengan apa yang sudah di lakukan oleh putra nya.
"Erlan, ma tidak menyangka kamu bisa melakukan hal seperti ini nak. Kamu menyakiti wanita yang sudah menyelamatkan nyawa mu, kamu keterlaluan Erlan!" Mama Indri meratapi kebodohan putra nya sendiri.
Sementara itu, di sebuah kamar hotel.
Erlan sedang terbaring di atas tempat tidur, saat ini dia sedang dalam pengaruh obat tidur. Dia tidak sadarkan diri, Wina sengaja membawa nya ke tempat ini untuk menjalan kan rencana nya.
Dreettt, dreeeett, dreett.
Ponsel yang berada di saku celana Erlan berdering, Wina segera mengambil nya dan dia melihat nama si penelepon.
"Papa Beni,,,, !" Guman Wina sambil melemparkan ponsel itu ke atas kasur.
Wina mulai membuka satu persatu kencing kemeja Erlan, tapi dia kembali di ganggu oleh dering ponsel nya Erlan.
"Rese banget sih, gangguin aja!" Wina akhir nya mematikan ponsel milik Erlan.
"Silahkan telepon saja sampai pagi, aku pastikan kalian tidak akan bisa menemukan Erlan saat ini!" Guman Wina sambil tersenyum licik.
Wina melemparkan ponsel yang sudah mati di samping tubuh nya Erlan, dia kembali melanjutkan aktifitas nya yang sempat tertunda tadi.
"Mas, setelah malam ini, kau akan menjadi milik ku sentuh nya. Tidak ada yang bisa memisahkan kita lagi, termasuk ke dua orang tua mu!" Wina berkata sambil tersenyum licik.
Setelah selesai melepas kemeja nya Erlan, Wina pun melepas semua pakaian di yang melekat di tubuh nya, hingga tidak ada yang tersisa. Setelah itu dia membaringkan tubuh nya di samping Erlan, dan dia sengaja menarik selimut hingga sebatas dada.
"Aku akan kirim gambar ini sama orang tua nya, dengan begitu mereka tidak akan bisa menolak ku lagi!" Wina berkata dengan di sertai senyum licik nya.
Wina lalu mengambil beberapa gambar dengan posisi posisi yang berbeda, dia membuat seolah - oleh Erlan sedang memeluk nya dengan mesra. Setelah itu dia mengirimkan foto - foto itu pada Papa Beni.
"Bagus, sudah terkirim!" Guman Wina sambil tersenyum.
Wina langsung mencabut kartu sim dari ponsel nya, lalu dia mematahkan benda itu dan melemparkan nya ke dalam tempat sampah.
"Beres, biarlah mereka melihat semua nya!" Wina bermonolog sambil membaringkan tubuh nya di atas tempat tidur.
Di rumah nya, Papa Beni langsung mengambil ponsel nya saat dia mendengar ada notifikasi yang masuk. Mata nya membulat sempurna saat melihat gambar - gambar tak senonoh itu, lalu Papa Beni langsung menelepon sang pengirim gambar.
Tapi nomor nya malah tidak bisa di hubungi lagi, Papa Beni geram sendiri.
"Ada apa Pa?" Tanya Mama Indri heran.
"Ini Ma!" Papa Beni lalu menyerahkan ponsel nya pada sang istri.
Mama Indri menerima ponsel suami nya, dia melihat gambar - gambar yang di kirim kan oleh orang yang tidak di kenal itu. Mama Indri sangat syok melihat semua itu, dada nya terasa sesak melihat nya. Air mata mengalir begitu saja, tanpa bisa dia tahan lagi.
mudah2han rujuk lagi sama erlan
tapi erlan hrs berjuang dulu
Jangan lama-lama Up lagiii 😘😍
bikin ancur aja tuh mereka berdua pak Beni 👍😡