NovelToon NovelToon
WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA

WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:871
Nilai: 5
Nama Author: aina susiyanti77

Di tinggal meninggal dunia oleh suami bukan keinginanku. namun terkadang ketika sebuah pilihan datang manusia tidak dapat menolaknya.

Saat pak Burhan dan Bu Salma menemui ku, agar aku menikahi anaknya Prasetio yang sudah beristri aku tidak punya jalan lain kecuali menerimanya.

karena keterbatasanku dalam mencari nafkah, dan demi menolong Prasetio yang kata ibunya butuh pendamping lantaran istrinya sakit parah.

Disinilah letak kesalahanku, tetapi ternyata justru kesalahanku ini adalah petunjuk terang tentang kematian ibuku.


Suatu hari tak sengaja aku menemukan selembaran dokumen, yang tercantum nama ayahku di lemari Pak Burhan, akhirnya sejarah kelam masa lalu terbongkar, aku tahu siapa sebenarnya suamiku Prasetio, Pak Burhan, Prilia istri pertama suamiku, ibunya Prilia, dan Bu Salma ibu mertuaku.

Ada apa sebenarnya di balik kematian ibuku?
Bagai mana selanjutnya hubunganku dengan Prasetio setelah semua terkuak?

Simak kisah panjangku dalam WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aina susiyanti77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 : Badai Diambang Pintu

Roda mobil sedan hitam milik Pak Baskoro memercikkan air gerimis saat melesat kencang membelah jalanan kota yang basah. Di dalam kabin yang senyap, suasana terasa begitu dingin dan mencekam.

​Jemari ku gemetar hebat saat memegang ponsel. Ingatanku masih jelas pada suara pecahan barang dan jeritan Bu Aminah yang terputus mendadak di telepon beberapa menit lalu.

Rasa cemas yang berlebihan membuatku terus menekan nomor telepon Bu Aminah kemudian beralih ke nomor putriku Siska, berharap mereka semua aman di dalam rumah.

​Tuuung... tuuung...

​"Angkat, Siska... Tolong angkat ponselmu, Nak..." bisik ku dengan suara tercekat.

​Panggilan ketiga kembali terputus dan beralih ke nada sibuk. Aku terus menekan nomor telpon satu persatu, namun hasilnya tetap sama. Hening. Perasaan tidak tenang semakin menghantui pikiranku.

​"Tenang, Maya, kita doakan semoga tidak terjadi apa apa. " Suara Pak Baskoro yang sedang menyetir mobil itu mencoba menenangkan ku. Pengacara kepercayaan Ayah ku ini, memang sengaja mengantar aku pulang karena takut terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan terhadap anak anakku dan juga Pak Burhan serta Bu Aminah.

​Pak Baskoro makin menekan pedal gas, memotong arus lalu lintas yang mulai padat di bawah guyuran gerimis.

​Sementara itu, di kediaman rumah Bu Aminah.

​BRAK!

​Suara benturan keras dari arah dapur mengagetkan Siska yang sedang menyeduh susu untuk Rian. Cangkir kaca di tangannya terlepas dan hancur berkeping-keping di atas lantai. Terdengar langkah kaki berat bersama suara bisikan kasar dua orang pria, yang tiba tiba sudah berada di dapur Bu Aminah "Kakek." Siska menjerit takut melihat ke dua laki laki dewasa yang besar tinggi itu tiba tiba masuk.

​Saat itulah Bu Aminah muncul karena kaget dengan teriakan Siska, serta melihat ada orang yang tidak di kenal masuk ke dapurnya dengan cara mencurigakan.

Dengan cepat dia berlari lagi ke depan mengambil telpon genggamnya untuk menelpon Maya, namun telpon itu segera di ambil oleh laki laki yang sekarang berada dalam ruang keluarga, di mana Pak Burhan terbaring lemah di atas ranjang.

​Siska berlari ke depan Ia teringat adiknya Rian dan kakek Burhan yang berada di sana. Di lihatnya Rian menangis Siska langsung mendekap adiknya.

​"Ssshh... Rian diam ya, Sayang," bisik Siska dengan napas memburu dan air mata yang mulai menggenang.

​"Mama... Mama..." isak Rian terputus-putus sambil memeluk leher Siska erat-erat.

​"Iya, dek... Mama sebentar lagi pulang. Rian sembunyi di sini sama Kakak, ya..." bisik Siska seraya mendudukkan Rian di sudut ranjang dan menutupi tubuh mungil adiknya dengan bantal dan selimut tebal.

​Di atas ranjang, Pak Burhan yang sangat lemah hanya mampu menggerakkan matanya yang sayu, memandang kedua cucunya yang ketakutan.

​DUB! DUB! DUB!

​Dua Lelaki besar itu mendekati Pak Burhan, mereka menanyakan tentang dokumen pada Pak Burhan, sedangkan Bu Aminah yang barusan bermaksut menelpon Maya, duduk pucat di samping Pak Burhan.

​"Serahkan dokumen milik Pak Hendra yang asli kalau kalian mau selamat!"

​Rian makin menangis namun suaranya tertahan karena saking takutnya, mendengar bentakan laki laki yang tidak pernah di lihatnya itu.

​Siska merangkul Rian makin erat, menyembunyikan kepala adiknya di dadanya agar suaranya tidak keluar, namun akhirnya tangis Rian pecah. "

Mendengar suara Rian, laki laki bercodet mendekati ke dua anak itu..., "Ibumu kemana anak manis! " Tanyanya pelan tapi semakin membuat Siska ketakutan.

Sedang kan lelaki yang satunya lagi masi mengintrogasi Pak Burhan bertanya tentang dokumen. Pak Burhan tenang karena tahu bahwa Maya sudah mendapatkan yang asli, dan saat ini pasti sedang bersama Pak Baskoro.

Dia pun menjawab dengan santai pertanyaan laki laki itu" Silahkan kau ambil di rumahku yang ada di sebelah, cari di kamar depan dalam lemari kayu jati. "Ucap Pak Burhan Beliau tidak menunjukkan rasa takut sama sekali, meski tubuhnya lemah tidak berdaya.

​" BRAK!"

​ Laki laki itu menendang dinding kayu rumah Bu Aminah, dia marah mendengar jawaban .Pak Burhan "Jangan bohong kek, semua yang ada di sana hanya salinan, tapi yang asli tidak ada! " Bentaknya makin kuat.

"Ini demi keamanan kakek sendiri, sebaiknya cepatlah serahkan dokumen itu, lalu kami akan pergi sekarang! "

"Aku tidak tahu di mana yang asli yang aku pegang ya itu yang berada di kamarku. " Jawab Pak Burhan tetap dengan nada yang tenang.

"Sebaiknya jujur saja kek. " Laki laki yang tadi bertanya pada Siska ikut bicara.

"Sebenarnya kalian ini siapa! " Bentak Bu Aminah yang tadi sempat terkejut dan cemas karena ponselnya di rampas itu.

"Ah kau perempuan tua tidak usah ikut campur, ini bukan urusanmu! "

"Pergi kalian dari rumahku! kalau tidak aku akan berteriak. " Ancam Bu Aminah.

"Oooh silahkan kalau kau berani berteriak! " Laki laki bercodet itu membentak.

​"Teriak saja kalau kau memang ingin melihat kedua cucumu ini bernapas untuk terakhir kalinya!" ancam pria bercodet itu seraya menarik pisau lipat dari balik jaket kulitnya.

​Bu Aminah tercekat. Kata-katanya tertahan di tenggorokan, sementara Siska makin erat memeluk Rian yang gemetar takut di sudut ranjang.

​"Jangan sentuh mereka!" bisik Pak Burhan dengan suara parau. "Sudah aku katakan dokumen asli itu... tidak ada padaku."

​"Keparat!" bentak pria bercodet itu semakin geram. Ia mengangkat kerah baju Pak Burhan, namun sebelum ia sempat bertindak lebih jauh, tiba-tiba terdengar suara rem mobil yang berderit keras di halaman luar.

​"Ada orang datang!" bisik kedua pria itu.

Saat itu lah aku masuk setelah turun dari mobil Pak Baskoro. Dengan nafas yang tersengal​"Siska! Ibu Aminah!" Teriak ku dari pintu depan yang terbuka lebar.

​Mendengar suara ku , pria bercodet langsung memutar tubuhnya ke arah ku. "Nah ini dia orang yang di cari datang sendiri, serahkan dokumen itu sekarang!" Si Pria bercodet menatap Maya tajam dengan pisau belati di arahkan ke dadanya.

​Pria kedua pun berlari semakin dekat, bermaksud menghampiri ku yang berdiri di depan temannya, tetapi bersamaan dengan itu , Pak Baskoro menerobos masuk dengan membawa sebatang kunci roda di tangannya.

Tanpa ragu, Pak Baskoro mengayunkan kunci besi itu menghantam lengan sang penyusup yang memegang pisau. Pisau itu jatuh tepat di kakinya.

​"Maya, bawa anak-anak dan Bu Aminah keluar! Cepat!" teriak Pak Baskoro seraya menghadang kedua pria tersebut.

​Aku langsung menerobos masuk ke ruang keluarga melihat ketakutan di wajah ke dua anak-anak ku. "Siska! Rian!" ku rangkul mereka lalu membantu Bu Aminah berdiri. "Ayo cepat kita keluar!"

Pak Burhan dengan sisa-sisa tenaganya yang tiba tiba dapat bangun dari lemas karena sakitnya itu, secara mengejutkan mencengkeram kaki pria itu kuat-kuat dari atas ranjang.

"Pergi... Maya! Bawa dokumen itu!" pekik Pak Burhan.

​"Kakek!" jerit Siska.

​"Jangan hiraukan Kakek, Siska! Lari!" perintah Pak Burhan tegas.

​Cengkeraman Pak Burhan memberi cukup waktu bagi Pak Baskoro untuk menghantamkan pukulan keras ke arah penyusup kedua hingga tersungkur, sementara aku berhasil mengajak Bu Aminah, Siska, dan Rian keluar.

​Kedua penyusup yang panik terdesak di dalam rumah, setelah menyadari bahwa mereka berdua sedang Pak Baskoro sendirian membuat orang orang itu sangat percaya diri, terjadilah baku hantam, satu melawan dua orang.

Aku yang berhasil keluar rumah dengan menggendong Rian di ikuti Siska dan Bu Aminah di belakang melihat mobil Prasetio yang berhenti tepat di depan rumah.

Prasetio yang berniat mencari penjelasan dari ayahnya melompat keluar dari mobil dengan wajah kusut dan mata merah, menyeret Prilia yang panik setengah mati.

Tapi dia sangat terkejut melihat kondisi pintu yang terbuka ​"Ada apa ini?! Kenapa pintu depan rumah Ayah terbuka lebar?!" teriak Prasetio panik.

​Prasetio melihat aku yang berlari bersama Bu Aminah dan anak anak dari dalam rumah, berteriak memanggil.

​"Maya?! Ada apa ." Suara Mas Pras bingung bercampur cemas.

​"Mas!" Jerit ku histeris tanpa peduli lagi dengan Prilia.

"Ada apa ini?! " Tanyanya semakin bingung melihat Maya istrinya ketakutan di samping Bu Aminah sambil memeluk ke dua anaknya.

​"Cepat bantu Pak Baskoro di rumah Bu Aminah, Ayah Burhan juga ada di sana, ada penyusup yang datang menanyakan masalah dokumen, tolong ayah Mas cepaaaaaaat! " Teriakan ku meng gemma di siang bolong ini, tanpa pikir dua kali ku lihat Prasetio berlari menuju rumah Bu Aminah.

Bersambung

​

1
Night Watcher
pak burhan?
Aina Senja: Terima kasih kritiknya🙏🙏
total 1 replies
Night Watcher
satu halaman diulang😇
Aina Senja: iya salah kirim kk, mau perbaikan tapi lagi di audit jadi belum berani kotak katik dulu, sebelum turun kontrak🙏🙏
total 1 replies
Night Watcher
kok nasi?
kyknya pribahasanya ; "karena setitik TINTA, rusak susu sebelahnya"
atau sudah ganti di era digital?
Aina Senja: hoho iya iya😍😍trimaksi kk
total 1 replies
Night Watcher
tadi pas prilia yg menyeret langkah kakinya mundur, lantainya kayu.
sekarang prasetyo yg berlutut, lantainya keramik.😇😇😇😇😇
Aina Senja: trimakasi kk, ini dia yg ku tunggu komen yg membangunkan tidurku 😍😍😍
total 1 replies
Night Watcher
mulai bosan,
Night Watcher
ngapain masih ngurusin karung bangkai yg nyimpen & ngelindungi para penyakit itu mayaaa..?!!
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kamu kuat maya. kamu tidak salah. mereka sendiri yang mengundang mu. kamu datang dengan niat tulus
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kasihan kamu. padahal kamu datang bukan sebagai pelakor
Aina Senja: trimakasi kk sudah mau mampir😍
total 1 replies
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
oh akhirnya aku paham. memang tak selamanya istri kedua itu di utamakan
Aina Senja: begitulah nasib istri ke dua🥲🥲
total 1 replies
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kok bisa Thor. aku masih belum paham?
Aina Senja: yg mana kk?
total 1 replies
Night Watcher
jangan kelamaan susahnya.. mulai trik² menjatuhkan lawan & nikmati sedikit² kebahagiaan.
Aina Senja: siap bosku
total 1 replies
Night Watcher
coba mampir... mudah²an cerita sengsaranya gak kesuwen..
Aina Senja: sangat tersanjung dengan hadirnya dirimu😍😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!