"Halo! Makasih udah mampir ke [Hasrat Cinta Sang Pendosa]. Update tiap Hari. Jangan lupa save dan ramaikan kolom komentar ya. Happy reading!"
_________________
Berstatus sebagai istri kontrak dari Oscar—sang penguasa malam yang bengis—seharusnya membuat Anisa aman dari masa lalu.
Namun, An Liu Li datang membawa obsesi buta yang menjungkirbalikkan segalanya.Niat hati ingin menjauh dari konflik, Anisa justru terseret dalam permainan ego dua pria berkuasa yang menolak melepas kepemilikan mereka atas dirinya.
Terjebak dalam pusaran kegilaan ini, siapakah yang akan memenangkan hati Anisa?An Liu Li yang mengejarnya dengan cinta pertama yang destruktif, atau Oscar yang mulai luluh oleh kehadiran sang istri sewaan?
꧁ঔৣ☬HCSP☬ঔৣ꧂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A_ntalus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
꧁ঔৣ [Chapter 17 ] ঔৣ꧂
...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...
...****************...
"Ahhhhk, gemesin banget!"
Jeritan Morgan pecah. Tubuhnya meliuk-liuk, berguling ke kanan dan ke kiri di atas kasur hingga seprai yang rapi menjadi acak-acakan. Tangannya meremas kuat-kuat ujung selimut, menyalurkan gelombang gemas yang sudah menumpuk sampai ke ubun-ubun. Di atas meja kecil, layar laptop yang menyala terang memantulkan pendar biru, menampilkan adegan drama Korea True Beauty saat Ju-gyeong dan Seo-jun mendadak harus melakukan sesi foto bersama.
"Lihat tuh! Seluruh tubuhnya kaku kayak patung!" selutuk Morgan sambil menunjuk-nunjuk layar dengan dada yang naik-turun menahan tawa gembira.
Kamera menyelimuti layar dengan sorotan jarak dekat (close-up), menyorot tepat ke arah telinga Seo-jun yang berubah warna menjadi merah padat.
"Telinganya merah~!" Dereta ikut menjerit tertahan. Ia menangkup kedua pipinya yang mendadak panas memerah, menyenderkan bahunya ke lengan Morgan dengan mata berbinar-binar. "Aduh, tajam banget tatapannya! Rasanya aku yang mau pingsan kalau diatur posisinya sejarak itu!"
"Iya, dia malu banget. Tapi kelihatan jelas kalau dia sebenarnya senang," sahut Azy pelan.
Manik mata Azy memang memantulkan pendar adegan di layar, namun tatapannya perlahan kosong, menerobos menembus dinding kamar. Pikiran liarnya mulai bekerja, merangkai imajinasi di mana dirinyalah yang berdiri di bawah sorot lampu itu, dan Hans—suaminya yang seorang dokter bertubuh tegap—berada di posisi pria kaku tersebut.
"Hayo! Muka kamu sudah merah matang begitu, Zy! Bayangin apa kamu?" goda Dereta sembari menyenggol pinggang Azy.
"Ahhhh, aku malah jadi kepikiran kamu, Mas~!" Azy tidak tahan lagi. Jeritan pelannya tertahan di balik bantal yang ia tekan kuat-kuat ke wajahnya yang terasa membara.
Namun, atmosfer hangat yang dipenuhi jeritan gemas itu seketika terputus oleh tebalnya pintu kayu yang terkunci rapat.
Di kamar sebelah, takdir bergulir dalam keheningan yang kontras. Suara tawa samar-samar dan dentum musik bas dari pesta di halaman luar tidak mampu menembus beningnya tempat ini. Di atas sajadah yang terhampar menghadap kiblat, Anisa sedang melipat kedua tangannya di dada. Anggota tubuhnya diam menunduk, larut dalam rakaat terakhir shalat Isya.
Bisikan Barbara tempo hari masih terngiang jelas di benaknya—tentang pesta ulang tahun Zaidan yang mengundang seluruh anak sekolah. Denting gelas dan riuh obrolan ratusan remaja membanjiri halaman bawah. Namun di sini, kain cadar yang menutup parasnya hanya bergerak perlahan mengiringi nafasnya yang teratur.
Setelah mengusap wajahnya seiring salam terakhir, Anisa meraih Al-Qur'an kecil bertepi emas dari atas meja. Jarinya yang halus meraba sampulnya. Dengan lantunan suara lembut yang tertahan di balik kain cadar, ia mulai mengaji. Surat-surat pendek mengalun mulus, menjadi benteng tak kasat mata dari riuhnya dunia di luar sana.
tok
tok
tok
Ketukan pelan di pintu membuat lantunan mengaji Anisa terhenti. Ia mengatupkan kitab sucinya dengan penuh takzim, berdiri, lalu melangkah pelan membuka pintu.
Di ambang pintu, berdiri Oscar dengan setelan jas mewahnya yang berpotongan tegas. Postur tubuhnya yang tinggi atletis menjulang di bawah pendar lampu lorong. Pria itu menatap hamparan sajadah yang belum terlipat, lalu matanya bertaut dengan netra Anisa yang tenang di balik kain penutup wajah. Seketika, ketegangan dan jejak lelah di garis wajah Oscar menyusut melunak.
"An, sudah selesai?" tanya Oscar, suaranya mengalun sangat pelan dan dalam. "Bisa temani aku turun sekarang?"
Oscar melangkah mendekat. Sudut bibirnya terangkat membentuk ukiran senyum tipis yang tulus.
"Selama di sini aku belum melihatmu menatap hidangan apa pun," bisik Oscar halus sambil mengamati raut halus di sekitar mata istrinya. "Jadinya aku sudah siapkan beberapa makanan halal khusus untukmu di bawah."
Dada Anisa berdesir halus. Ia mengangguk pelan, menyembunyikan getar terharunya. Bagaimana mungkin pria yang ditakuti banyak orang ini bisa begitu protektif dan mengingat detail sekecil ini nya?
Ketika mereka mulai menuruni tangga menuju ballroom, lengan kekar Oscar merangkul bahu Anisa dengan erat, seolah membentengi tubuh mungil itu dari ratusan pasang mata tamu remaja dan pengawal klan yang berlalu-lalang.
Tepat di dasar tangga, langkah mereka terhenti.
Di sana, berdiri Edward. Tatapan matanya dingin bagai es, menyapu area sekitar dengan aura dominasi yang pekat. Hanya dengan satu kibasan pelan jarinya, beberapa pengawal di belakangnya bergerak cepat memotong jalan, masing-masing menggenggam gelas minuman beralkohol.
Edward tersenyum ramah, namun ada racun terselubung di balik binar matanya.
"Oscar, untung kau di sini," panggil Edward dengan nada santai namun menuntut. "Petinggi mitra ekspor dari Eropa baru saja datang di area VIP luar. Mereka menanyakan kepastian revisi dokumen kargo yang kemarin. Kau harus menemui mereka sekarang."
Langkah Oscar tertahan. Jemarinya yang melingkari bahu Anisa makin mengetat. Matanya berganti menatap sang kakak dengan saksama, menolak tegas untuk meninggalkan Anisa sendirian di tengah kerumunan asing ini.
"Aku tidak bisa meninggalkan Anisa sendiri di sini, Kak," potong Oscar tegas.
Edward terkekeh pelan, menyatukan kedua tangannya di depan tubuh dengan cerdik.
"Tenang saja," pangkas Edward lihai. "Aku minta pelayan wanita mengantar Anisa ke ruang inti kedua di lantai dua kalau dia butuh istirahat dari kebisingan pesta ini. Di luar terlalu bising untuknya, bukan?"
Anisa meremas jemarinya sendiri. Suara dentum musik yang makin keras mulai membikin kepalanya sedikit pening. Ia mendongak menatap Oscar, lalu mengangguk pelan. "Pergilah, Mas. Aku baik-baik saja jika harus beristirahat di atas."
Mempercayai saudaranya, Oscar akhirnya menepuk lembut bahu Anisa sebelum mengalah dan melangkah berat menuju area VIP luar.
Satu jam berlalu.
Di ruang inti kedua yang sepi dan berkarpet tebal di lantai dua, Anisa duduk sendirian. Namun baru beberapa saat pelayan wanita mengundurkan diri, engsel pintu kembali berbunyi.
Pintu terdorong terbuka. Sosok tinggi Edward melangkah masuk.
Klek
Pintu terkunci dari dalam.
Anisa tersentak. Refleks, ia berdiri tegak, berusaha mempertahankan gestur sopannya meski dadanya mendadak berdebar kencang. Suasana ruangan yang semula nyaman mendadak berubah menjadi dingin, pekat, dan intimidatif.
"Kakak Edward?" panggil Anisa ragu.
Tanpa dipersilakan, Edward berjalan santai ke arah sofa. Ia duduk dengan menyilangkan kaki, menyesap cangkir kopi hitamnya perlahan. Matanya bergerak tajam dari ujung kepala hingga ujung kaki Anisa, menatap wanita bercadar itu dengan pandangan menilai yang menelanjangi.
"Kakak ingin menanyakan sesuatu, Anisa," ujar Edward datar.
"Menanyakan apa, Kak?"
"Perihal kelangsungan hubunganmu dengan adikku."
Edward meletakkan cangkir kopinya ke atas meja kaca hingga menimbulkan denting tajam.
"Kulihat belakangan ini rumah ini menjadi lebih... suci," ucap Edward dengan nada sinis yang mengiris air. "Aroma dupa berganti dengan wewangian halus, dan adikku yang biasanya pulang larut kini benar-benar menepati waktu. Tiba-tiba dia membersihkan dirinya hanya untuk duduk di sebelahmu. Katakan padaku, gadis baik-baik..."
Edward menegakkan punggungnya, menatap lurus ke dalam iris mata Anisa.
"...apakah memikat seorang dingin masuk dalam daftar amalan baik di kitab sucimu? Ataukah ini taktik barumu? Menjual kesucian demi menjinakkan monster agar keluargamu bisa tidur nyenyak tanpa teror utang?"
Deg.
Di balik gamisnya yang longgar, jemari Anisa mengepal amat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menelan ludah, berusaha menyapu rasa terkejutnya dan mengendalikan gejolak di dadanya.
"Apa maksud Kakak Edward?" suara Anisa bergetar tipis, namun dipertahankan sejernih mungkin. "Saya tidak pernah menjual apa pun, Kak. Saya hanya menjalankan kewajiban saya di rumah ini. Dan adik Anda... dia memiliki hati yang jauh lebih lembut daripada yang Anda kira."
"Hati yang lembut?"
Edward terkekeh rendah. Suara beratnya bergema beracun di sudut ruangan yang sepi. "Menarik sekali bagaimana sebuah delusi bisa membuat wanita cerdas sepertimu menjadi begitu buta."
Seketika Edward berdiri dari duduknya. Posturnya yang tegap bergerak perlahan melingkari posisi berdiri Anisa—seperti seekor predator yang sedang menghitung detik untuk menerkam mangsanya. Sepatunya menimbulkan ketukan berirama menakutkan di atas lantai.
Langkahnya terhenti persis di belakang punggung Anisa. Edward membungkuk sedikit, membisikkan kata-kata dingin tepat di dekat telinga wanita itu.
"Mari kita hentikan kepura-puraan ini. Aku tahu apa yang terjadi di antara kalian," bisik Edward tajam. "Kontrak tertulis yang kubuat untuk menghancurkan keluargamu... perlahan kau bakar dengan air mata dan tatapan polosmu itu, bukan? Kau membuat adikku jatuh cinta. Kau membuat tangan kanan terbaikku menjadi lemah."
Napas Anisa tercekat. Keheningan ruangan berubah menjadi siksaan psikologis.
"Tapi sadarkah kau apa yang sedang kau lakukan, wahai wanita muslimah yang taat?" lanjut Edward, suaranya makin menekan. "Kau sedang menuntunnya menuju liang lahat."
"Bukan begitu..." Anisa mencoba menyela, namun Edward menarik napas panjang dan tidak memberinya celah.
"Kau pikir dunia kami ini fiksi romantis?" potong Edward kejam. "Aku membesarkan adikku dengan darah, besi, dan kekejaman agar dia tidak bisa dibunuh oleh musuh-musuh kami di luar sana. Dia hidup karena dia tidak punya kelemahan! Dan sekarang, kau datang membawa 'cinta' dan 'kedamaian' yang egois itu."
Edward menghela napas panjang dan berat. Bayangan kehancuran terpancar jelas di matanya.
"Jika besok adikku pulang dalam keadaan tak bernyawa di dalam peti mati... ketahuilah, peluru yang menembus jantungnya bukan ditembakkan oleh musuhku. Tapi dipicu oleh keegoisanmu yang merasa bisa mengubah seorang seperti dia... menjadi pria rumahan?"
Kata-kata itu menghantam mental Anisa bagai gada besi.
"Taruhannya ada di tanganmu," tegas Edward, berpindah berdiri melipat tangan di depan Anisa. "Sekarang katakan padaku, dengan segala manipulasi dan ketakutan yang sengaja kuimpitkan di pundakmu ini... apakah kau masih berani menatap mataku?"
Tubuh Anisa gemetar hebat. Keringat dingin menetes perlahan di balik pelipisnya. Rasa bersalah mencengkeram dadanya hingga bernapas pun terasa sesak. Namun, alih-alih hancur dan menunduk pasrah, Anisa menegakkan kepalanya kembali.
Sorot matanya yang basah justru menyala oleh kobaran keberanian yang utuh.
"Sudah banyak mata kusimpan di kediaman ini," desis Edward lagi, menatap keteguhan itu dengan sinis. "Banyak momen kutunggu tentang bagaimana Oscar akan memperlakukanmu demikian hanya untuk membayar sisa perjanjian tertulis. Namun... setiap kata yang terlontar darinya justru memperlihatkan bahwa kepribadian adikku berubah. Dia yang semula acuh tak acuh menjadi seorang yang begitu peduli, begitu lembut... seakan jika dia kehilangan kau, maka dia hancur. Dan setelah semua ini, apakah kamu tidak takut dicap sebagai seseorang yang berpotensi mencelakai orang lain?"
"Cukup, Kak!" potong Anisa keras.
Dada Anisa naik-turun. Jemari tangannya mengerat kencang di balik lipatan kain.
"Kakak boleh mengancam nyawa saya, Kakak boleh menyebut saya egois, dan Kakak boleh menggunakan rasa bersalah ini untuk menghancurkan mental saya!" tegas Anisa dengan nada bergetar namun sarat akan martabat.
"Kakak memang benar... Kakak tahu persis bahwa ketakutan terbesar saya adalah menjadi penyebab celakanya orang lain," sambungnya.
Kemarahan membakar hatinya atas tuduhan kejam sang kakak ipar. Namun di detik yang sama, benteng pertahanannya runtuh oleh sebuah kenyataan pahit yang baru saja membedah hatinya sendiri. Ingatan akan senyum tipis Oscar, perhatian pria itu pada makanan halalnya, dan dekapan hangatnya di tangga tadi... seketika meremukkan ketakutannya.
Untuk pertama kalinya, Anisa menyadari satu hal yang paling murni sekaligus membahayakan: ia telah jatuh cinta setengah mati pada suaminya sendiri.
Srek.
Edward mengambil sebuah kertas cek dari dalam saku jasnya dan meletakkannya dengan kasar di atas meja.
"Aku tidak suka berbelit-belit, Anisa," potong Edward dingin. "Cek senilai $300.000. Kau dari keluarga Lezman dan dunia yang penuh intrik. Ambil uang ini, tinggalkan adikku, dan tandatangani surat perceraian kalian. Kau bisa hidup tenang di luar sana tanpa perlu terseret kehidupan adikku lagi."
Anisa menatap lembaran cek bernilai fantastis itu. Tidak ada raut panik atau silau di matanya. Ia menghela napas panjang, menatap lurus tepat di manik mata Edward.
"Tuan Edward," sahut Anisa, memanggil nama pria itu dengan ketegasan penuh. "Saya menghormati Anda sebagai kakak dari suami saya. Tapi pernikahan saya dengan Mas Oscar bukan untuk diperjualbelikan. Saya ada di sini karena komitmen saya pada Allah dan suami saya, bukan demi uang Anda."
"Bagi saya, keputusan ada di tangan suami saya. Jika suami saya meminta saya pergi untuk bercerai, maka akan saya turuti. Namun jika tidak... maka Kakak Edward sama sekali tidak berhak mengusik kehidupan kami."
Dengan keanggunan seorang wanita yang menjaga kehormatannya, Anisa membalikkan badan dan memegang gagang pintu.
Edward mematung. Sepasang matanya menatap tajam punggung Anisa yang melangkah mantap, merasa tercengang oleh kekuatan mental wanita di depannya.
(Serius?... Bagaimana cara si bodoh itu mempengaruhi gadis muda yang suci ini, agar bisa meluluhkan hatinya?) batin Edward tak percaya.
Tepat saat tangan Anisa menarik engsel pintu, suara berat Edward memotong udara, cekat dan mematikan.
"Bagaimana jika ternyata adikku adalah seorang pendosa?... Pembunuh?... Atau seseorang dengan sesuatu yang tidak termaafkan?"
Langkah Anisa terhenti kaku di ambang pintu. Cengkeramannya pada gagang pintu mengetat.
Edward tersenyum miring, melangkah satu tapak mendekat ke arah punggung Anisa.
"Bagaimana jika ternyata dia... atau aku... atau keluargaku... memiliki hubungan dengan sesuatu yang jauh lebih sadis?"
...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...
...****************...