Bagi Aisyah, pernikahan dengan Ayden seharusnya menjadi pelabuhan terakhir setelah badai panjang dalam hidupnya. Pria itu tampak seperti sosok pelindung yang sempurna—mapan, penuh perhatian, dan mencintainya tanpa syarat. Namun, di balik tatapan hangat dan sentuhan lembut Ayden, tersimpan sebuah rahasia gelap yang perlahan-lahan meremukkan kewarasan Aisyah.
Semua runtuh pada malam ketika Aisyah menemukan kebenaran yang mengerikan: pernikahannya bukan dibangun atas dasar cinta, melainkan sebuah rencana balas dendam yang dingin. Ayden sengaja mendekatinya untuk menghancurkan keluarganya, menggunakan Aisyah sebagai bidak catur dalam permainan kebencian masa lalu.
Terperangkap dalam cinta yang penuh kepalsuan dan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, jiwa Aisyah perlahan mati rasa. Ia tidak lagi mengenal air mata ataupun amarah; yang tersisa hanya kehampaan yang mencekam. Di sisi lain, Ayden yang tadinya berniat menuntaskan dendam justru mendapati dirinya tersiksa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saga B.T., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Tidak akan pernah bisa mencintaimu lagi
Mentari pagi perlahan merayap naik, menyinari sudut-sudut kamar tidur utama penthouse mewah yang masih menyimpan sisa-sisa ketegangan malam sebelumnya. Lembaran selimut tebal tampak kusut di atas ranjang king-size, sementara pecahan vas dan karpet yang basah oleh sisa badai telah dibersihkan oleh staf kebersihan sejak subuh.
Ayden membuka kelopak matanya perlahan, mengerjap beberapa kali untuk mengusir rasa penat yang menggelayut di kepalanya. Sontak, tangan kanannya meraba sisi ranjang sebelah kiri. Kosong. Dingin. Tidak ada kehangatan tubuh ataupun deru napas Aisyah di sisinya.
"Aisyah..." panggil Ayden parau dengan suara serak khas bangun tidur.
Tidak ada jawaban. Ruangan itu sunyi senyap, hanya menyisakan deru AC central yang berembus halus.
Ayden langsung bangkit dari tempat tidurnya, mengenakan celana bahan hitam tanpa kemeja, lalu melangkah keluar kamar dengan tergesa-gesa. Kakinya menyusuri lorong panjang berbalut marmer dingin menuju area beranda belakang yang menghadap langsung ke lanskap kota ibu kota.
Di sana, di balik pintu kaca geser yang sedikit terbuka, sosok Aisyah duduk mematung di atas kursi rotan minimalis. Wanita itu mengenakan gaun tidur tipis berwarna putih tulang dengan rambut tergerai bebas ditiup angin pagi. Pandangannya lurus menerawang ke arah deretan mawar putih di taman bawah yang kelopaknya mulai gugur berguguran disapu angin subuh.
Ayden menghentikan langkahnya di ambang pintu beranda. Tenggorokannya mendadak tercekat. Ia melihat secangkir teh chamomile hangat yang ia bawa dari dapur—yang sengaja ia seduh sendiri sejak pukul lima pagi—diletakkan begitu saja di atas meja kecil tepat di samping tangan Aisyah.
"Kau sudah bangun sepagi ini, Aisyah?" tanya Ayden hati-hati, suaranya bergetar pelan menembus keheningan pagi.
Aisyah sama sekali tidak menoleh. Ia tidak bergeming sedikit pun, seolah kehadiran suaminya di belakangnya hanyalah bayangan angin lalu. Bibirnya terkatup rapat, dan manik matanya memantulkan kekosongan yang teramat luas.
"Udara di luar cukup dingin untuk ukuran pagi ini," lanjut Ayden dengan nada memohon, melangkah mendekat perlahan selangkah demi selangkah. "Kenapa kau tidak memakai jaketmu? Kau bisa jatuh sakit."
Aisyah perlahan mengedipkan matanya, lalu berujar dengan suara datar tanpa intonasi, "Sakit fisik tidak akan pernah bisa menandingi rasa sakit di dalam sini, Ayden. Jadi, dinginnya udara pagi ini sama sekali tidak ada artinya."
Kalimat itu meluncur begitu ringan, namun menghujam ulu hati Ayden bagaikan tusukan belati tak kasat mata. Pria itu menghentikan langkahnya tepat dua meter di belakang kursi Aisyah. Tangannya yang tadinya terulur hendak menyentuh pundak istrinya, mendadak terkulai lemas di sisi tubuhnya.
"Aku membawakan teh hangat untukmu," ucap Ayden lirih, menunjuk cangkir keramik di atas meja. "Setidaknya... minum sedikit agar tenggorokanmu tidak kering."
Aisyah menundukkan kepalanya, menatap cangkir teh yang mengepulkan uap tipis itu sekilas, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke luar pagar beranda. "Aku tidak haus, Ayden. Dan aku tidak butuh apa pun dari tanganmu."
"Aisyah, kumohon..." rintih Ayden, frustrasi mulai merayap naik ke dalam dadanya. "Jangan perlakukan aku seperti ini. Katakan sesuatu. Marahlah padaku! Maki aku karena aku bajingan yang sudah menghancurkan pagimu, tapi jangan mengabaikanku seperti ini!"
Aisyah menoleh perlahan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang hampa, tanpa secercah pun cahaya kehidupan di maniknya. "Untuk apa aku memaki pria yang bahkan tidak punya sisa jiwa untuk diajak bicara? Bukankah ini yang kau inginkan sejak hari pertama kita menikah? Sebuah kepatuhan tanpa perlawanan."
"Bukan! Bukan itu yang kuinginkan!" sanggah Ayden dengan suara meninggi, napasnya mulai memburu. "Aku menginginkanmu, Aisyah! Aku menginginkanmu yang dulu, bukan seperti boneka yang bernapas tanpa nyawa!"
"Maka kau harus menerima kenyataan ini, Ayden," sahut Aisyah dingin, kembali memalingkan wajahnya menatap ke depan. "Boneka tidak akan pernah bisa menangis, tidak akan bisa membencimu, dan tentu saja... tidak akan pernah bisa mencintaimu lagi."
Ayden terhuyung mundur selangkah. Kakinya terasa lemas, seolah lantai beranda itu kehilangan daya penyangganya. Ia menatap cangkir teh hangat yang dibiarkan mendingin begitu saja di samping Aisyah, menyadari bahwa penolakan itu jauh lebih menyakitkan daripada pukulan fisik paling keras sekalipun.
"Apakah teh itu... benar-benar tidak akan kau sentuh?" tanya Ayden dengan suara nyaris tak terdengar, matanya memerah menahan desakan air mata.
Aisyah tidak menjawab. Wanita itu tetap duduk kaku, mengabaikan eksistensi suaminya secara mutlak. Waktu seakan berhenti di beranda itu, menyisakan deru angin pagi yang membawa sisa-sisa kelopak mawar putih berjatuhan di atas lantai marmer yang dingin.
Ayden menelan ludah kelat, mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Tanpa sepatah kata penutup pun, pria itu berbalik dan melangkah pergi meninggalkan beranda, menyadari bahwa cangkir teh yang mendingin itu adalah simbol telak atas kematian hubungan mereka.
Di dalam kamar utama yang megah, Ayden menjatuhkan diri di tepi ranjang, meraba seprai yang masih menyisakan sedikit aroma tubuh istrinya, lalu membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya dalam keputusasaan yang tiada bertepi.
***
Kilau lampu kristal dari langit-langit ballroom hotel bintang lima itu memantulkan pendar kemewahan yang menyesakkan dada. Di tengah kerumunan para elit korporasi dan sosialita kota, Ayden berdiri tegap mengenakan setelan jas hitam tuksedo rancangan desainer ternama, sementara tangan kanannya melingkar erat di pinggang Aisyah. Wanita itu tampil memukau dalam balutan gaun malam panjang berwarna hitam satin yang memeluk tubuh proporsionalnya dengan sempurna, kontras dengan wajahnya yang sepucat porselen.
"Tersenyumlah sedikit, Aisyah," bisik Ayden tepat di dekat telinga istrinya, suaranya terdengar lembut di balik senyuman ramah yang ia lemparkan kepada tamu-tamu di sekitar mereka. "Semua orang sedang memperhatikan kita. Jangan biarkan mereka melihat ada retakan di antara kita."
Aisyah perlahan mengangkat sudut bibirnya, membentuk senyuman sosial yang begitu rapi namun hampa tanpa nyawa. "Bukankah ini yang selalu kau inginkan, Ayden? Menampilkan boneka terbaikmu di hadapan publik agar reputasimu tetap terjaga di atas panggung sandiwara ini?"
Ayden merespons kalimat itu dengan cengkeraman jemari di pinggang Aisyah yang semakin menguat, menyiratkan peringatan keras tanpa perlu membentak. "Aku tidak sedang ingin berdebat, Aisyah. Cukup ikuti permainannya malam ini, dan kita bisa segera pulang."
"Permainan apa lagi yang harus kuikuti, Tuan Ayden Khana?" balas Aisyah datar, matanya menatap lurus ke depan tanpa sedikit pun menoleh ke arah suaminya. "Bukankah panggung kehancuranku sudah selesai kau pentaskan?"
"Ah, Tuan Ayden! Luar biasa sekali bisa melihat Anda hadir di jamuan eksklusif malam ini," sapa pria itu ramah. Pandangannya kemudian beralih menatap sosok wanita di samping Ayden. "Dan ini... istri tercinta Anda? Sungguh, kecantikan Nyonya Ayden benar-benar melampaui segala rumor yang beredar di kalangan bisnis."