NovelToon NovelToon
EMBER

EMBER

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Dua hari menjelang pernikahan megahnya, Cinderella Huntington harus menelan kenyataan pahit: sang tunangan mengkhianatinya bersama adik kandungnya sendiri.
Dijatuhi tuduhan tak adil dan selalu dituntut mengalah oleh keluarganya, Cinderella memilih pergi melintasi dinginnya malam untuk meluapkan amarah dan rasa sakitnya hingga mengakhiri hidup.

Namun takdir berkehendak lain. Ia terbangun dalam raga Marcella Ember Vitiello—gadis 18 tahun yang tewas mengakhiri hidup akibat pengabaian orang tuanya.

Di tengah keputusasaan, takdir mempertemukannya kembali dengan Draxler Lutolf Ashford—pemuda 19 tahun berparas tampan yang ia kira hanyalah mahasiswa biasa.

Cinderella bertekad membalas setiap ketidakadilan.

Bisakah ia benar-benar menghapus jejak Draxler dari hidupnya ketika takdir pria muda itu ternyata jauh lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#8

Suasana koridor utama Universitas California perlahan mulai melenggang saat bel pergantian jam kuliah berdentang.

Sinar matahari siang menembus kaca-kaca jendela besar, membiaskan bayangan dedaunan pohon mapel yang berguguran di halaman.

Cinderella—dalam raga Marcella Ember Vitiello—melangkah keluar dari ruang kuliahnya dengan santai.

Satu tangannya memeluk buku catatan tebal, sementara tangan lainnya bertengger anggun di dalam saku celana kain berpotongan lurus yang dikenakannya.

Langkah kakinya begitu teratur, menciptakan irama ketukan yang ritmis di atas lantai marmer.

Rencana awalnya sederhana: pergi ke perpustakaan kampus, memeriksa jaringan internet berkecakapan tinggi di sana, lalu mencari tahu seluruh informasi terkini mengenai Huntington Group dan perkembangan berita kematian dirinya sendiri sebagai Cinderella.

Ia harus tahu sejauh mana dampak dari peristiwa tembakan di kamar Draxler malam itu, serta bagaimana reaksi Jonah dan Siena atas skandal yang telah pecah ke publik.

Namun, baru beberapa meter ia melangkah menyusuri koridor lantai dua, langkah Cinderella terhenti.

Tiga orang mahasiswa berdiri bersandar di pilar tengah, menghalangi jalur jalannya.

Salah satu dari mereka—seorang pria tinggi berkulit tan dengan jaket olahraga kampus—memutar kunci mobil di jarinya seraya menyunggingkan senyum remeh yang teramat gatal untuk ditampar.

Pria itu adalah Brad, anak pengusaha lokal yang dikenal memiliki reputasi buruk di kampus.

"Wah, lihat siapa yang melintas," panggil Brad dengan nada suara yang dibuat-buat, memancing tawa kecil dari dua temannya.

"Ember Vitiello... Gadis paling rajin di kampus kita."

Cinderella menatap Brad dengan pandangan datar.

Tak ada kejutan, tak ada rasa takut, apalagi kepanikan.

Mata bundar milik Ember yang kini dijiwai kekejaman dingin Cinderella hanya menatap pria di depannya seolah Brad tak lebih dari tumpukan sampah yang tak sengaja menghalangi jalan.

"Singkirkan tubuhmu dari jalanku," ucap Cinderella pelan.

Suaranya tidak kencang, namun intonasi dan penekanannya begitu tajam, memotong gelak tawa teman-teman Brad seketika.

Brad tertegun sejenak.

Ia mengedipkan matanya, sedikit bingung dengan reaksi dingin yang ia terima.

Biasanya, Ember akan menunduk malu, meracau marah, atau pura-pura jual mahal seraya melontarkan kata-kata gila soal uang.

Tapi wanita di hadapannya saat ini... sama sekali tidak menunjukkan pertahanan diri yang terdesak.

"Bicara yang sopan, Sayang," kekeh Brad seraya maju satu langkah, mencoba memotong jarak.

"Aku dengar semalam kau bolos kerja di bar? Ada apa? Apa langganan kaya-mu yang biasa tidak membayarmu dengan layak? Kau tahu kan, kalau kau butuh uang sewa rumah, kau bisa memintanya padaku? Asal kau mau melayaniku seperti kau melayani pria-pria di bar itu."

Dua temannya kembali bersiul nakal, menikmati provokasi kejam tersebut.

Di balik dinding pilar tak jauh dari sana, langkah Draxler yang baru saja kembali dari toilet mendadak terhenti.

Pria tinggi itu berdiri diam, menyaksikan interaksi di ujung koridor.

Dua sahabatnya, Brave dan Kal El, ikut berhenti di belakangnya.

"Ck, Brad mulai lagi," bisik Brave menggelengkan kepala.

"Dia selalu mengganggu Ember setiap kali ada kesempatan."

"Haruskah kita lerai?" tanya Kal El.

"Latar belakang Ember memang buruk, tapi perundungan Brad itu agak kelewat batas."

Draxler tidak menjawab.

Manik matanya terkunci pada raut wajah Ember.

Ada dorongan asing yang menahannya untuk bergerak, sebuah rasa penasaran untuk melihat bagaimana gadis yang mendadak berubah dingin itu akan merespons tuduhan hina tersebut.

Cinderella menarik napas pelan.

Di dalam benaknya, ia mengurutkan ratusan cara elegan untuk menghancurkan pria picik di depannya ini.

Sebagai mantan pimpinan eksekutif yang biasa berhadapan dengan politisi licik dan pimpinan perusahaan papan atas, intimidasi murahan kelas kampus seperti ini terasa begitu dangkal.

Cinderella mengambil satu langkah maju.

Ia sedikit memiringkan kepalanya, menatap Brad dari ujung rambut hingga ujung sepatu sneakers mahal yang dikenakannya.

"Kau Brad Miller, kan?" tanya Cinderella halus, hampir terdengar seperti bisikan beracun.

Brad menaikkan dagunya, merasa di atas angin. "Ya. Kenapa? Kau baru sadar siapa aku?"

"Putra dari pemilik Miller Logistics?" lanjut Cinderella dengan ukiran senyum tipis di bibirnya.

Senyum yang tidak sampai ke matanya.

"Perusahaan angkutan sedang yang baru saja membukukan kerugian sebesar empat belas persen di kuartal terakhir karena salah mengelola dana operasional di pelabuhan selatan?"

Raut wajah Brad mendadak berubah kaku. "Apa yang... bagaimana kau tahu soal itu?"

"Sederhana," potong Cinderella tenang.

"Informasi bisnis dasar. Ayahmu sedang kebingungan mencari pinjaman dana segar untuk menutupi utang vendor minggu depan, dan kau... di sini memamerkan kunci mobil yang dibeli dari uang pinjaman bank yang hampir jatuh tempo."

Cinderella maju satu tapak lagi, menatap lurus ke dalam manik mata Brad yang mulai goyah.

"Dengarkan aku baik-baik, Brad," bisik Cinderella dingin.

"Jika kau masih ingin menikmati sisa fasilitas uang pinjaman ayahmu sebelum perusahaannya gulung tikar, tutup mulutmu, singkirkan tubuhmu yang mengganggu ini, dan jangan pernah menampakkan wajahmu yang memuakkan itu di depanku lagi. Kau bahkan tidak punya kapasitas finansial yang cukup untuk sekadar menyapa namaku."

Atmosfer di koridor itu mendadak membeku. Dua teman Brad terperangah dengan mulut sedikit terbuka.

Mereka menatap Brad dan Ember bergantian, tak percaya dengan rentetan analisis tajam yang baru saja meluncur dari bibir seorang gadis yang mereka cap sebagai sugar baby miskin.

Brad berdiri mematung, wajahnya memerah padam antara malu dan syok hebat. Ia tidak sanggup membalas sepatah kata pun.

Ancaman dan fakta yang dilemparkan Ember barusan menghantam tepat di titik terlemah keluarganya.

Tanpa menunggu balasan lagi, Cinderella melangkah melewati Brad begitu saja, menepis bahu pria itu dengan santai seolah membuang debu.

Ia melanjutkan langkahnya menyusuri koridor dengan keanggunan yang sempurna, meninggalkan Brad yang berdiri terpaku dalam rasa malu yang membakar.

Di sudut pilar, Brave membelalakkan matanya lebar-lebar.

"Woah... holy shit! Apa yang baru saja terjadi?!"

"Apakah itu benar-benar Ember Vitiello?!" pekik Kal El heran seraya menepuk jidatnya.

"Dari mana dia tahu soal krisis keuangan keluarga Miller?! Informasi intern perusahaan seperti itu bahkan belum rilis ke publik!"

Draxler tidak mengeluarkan suara.

Namun di dalam dadanya, gelombang keheranan bertambah berlipat ganda. Manik matanya menatap punggung Ember yang kian menjauh menuju ujung koridor.

Cara bicaranya, analisis ekonominya yang teratur, ketenangannya saat diintimidasi, hingga gestur mengintimidasi balik yang begitu terlatih... itu bukanlah kemampuan seorang gadis remaja 18 tahun yang terobsesi pada uang dan pria tampan.

Itu adalah artikulasi dari seseorang yang terbiasa berada di puncak hirarki kekuasaan.

Siapa kau sebenarnya, Ember Vitiello? batin Draxler, rasa penasaran di dadanya kini menjelma menjadi obsesi misteri yang sulit diabaikan.

•••

Cinderella melangkah masuk ke dalam perpustakaan kampus yang tenang dan beraroma kertas tua yang khas. Ia memilih barisan komputer di sudut paling belakang yang sepi dari jangkauan mahasiswa lain.

Setelah menduduki kursi kayu yang nyaman, Cinderella menyalakan mesin komputer, mengetikkan kata kunci pencarian di bilah peramban dengan cepat.

Jemarinya yang lentur menari di atas papan ketik tanpa ragu.

Pencarian: Cinderella Huntington. Huntington Group. Bunuh diri.

Dalam hitungan detik, ratusan artikel berita berhamburan memenuhi layar monitor.

Headline berukuran besar menghiasi situs-situs berita nasional dan internasional:

TRAGEDI MANSION HUNTINGTON: PUTRI SULUNG EKSEKUTIF, CINDERELLA HUNTINGTON, TEWAS DI PENTHOUSE MEWAH

PATAH HATI DAN PENGKHIANATAN: PERNIKAHAN MEGAH DUA HARI LAGI RESMI BATAL SETELAH SKANDAL KEHAMILAN ADIK KANDUNG UNGKAP KE PUBLIK.

PEMBERITAAN RESMI POLISI: KEMATIAN DIDEKLARASIKAN MURNI BUNUH DIRI.

Cinderella membaca paragraf demi paragraf dengan tatapan mata yang dingin dan hampa.

Tidak ada air mata yang menetes kali ini.

Hatinya telah mati bersama jasadnya malam itu.

Ia mengklik salah satu artikel teratas yang memuat pernyataan resmi dari keluarga Huntington.

Di sana terpasang foto Samuel Huntington dan Eleanor yang mengenakan pakaian hitam dengan raut wajah yang dibuat-buat lelah dan berduka.

Di samping mereka, tampak Siena yang menangis tersedu-sedu di pelukan Jonah.

Dalam artikel itu, Eleanor menyatakan kepada media:

"Kami sangat berduka atas kehilangan putri kami, Cinderella. Dia adalah anak yang rapuh dan terlalu emosional. Kami sudah berusaha memberikan yang terbaik, namun tekanan emosionalnya mengenai pernikahan ini membuatnya mengambil jalan pintas yang sangat menyedihkan. Kami memohon privasi bagi keluarga kami dan bagi Siena yang sedang mengandung anak dari Jonah."

Cinderella tertawa pelan.

Kekehannya terdengar sangat dingin dan menyayat hati di tengah keheningan perpustakaan.

"Anak yang rapuh?" gumam Cinderella lirih.

"Kalian memutarbalikkan fakta bahkan setelah jasadku dingin? Kalian menyebutku rapuh agar dunia tidak menyalahkan perselingkuhan Siena dan pengabaian kalian?"

Ia mengundurkan gulir halaman ke bawah, membaca bagian laporan kepolisian.

Di sana tertulis bahwa lokasi kejadian—sebuah penthouse mewah di pusat kota—adalah milik keluarga Ashford.

Polisi mengonfirmasi bahwa Draxler telah diperiksa dan dinyatakan bersih dari segala keterlibatan pidana karena bukti medis dan rekam CCTV menunjukkan Cinderella bertindak atas kehendaknya sendiri.

Cinderella menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, memejamkan mata sejenak.

Jadi, kejadian semalam benar-benar riil.

Draxler yang ia temui di kelas tadi pagi adalah pria asing yang sama yang membawanya ke penthouse, menolaknya, dan pria yang lemarinya ia bobol untuk mengambil pistol.

"Takdir ini sungguh gila..." bisik Cinderella pada dirinya sendiri.

Saat ia sedang tenggelam dalam pemikirannya, sebuah bayangan tinggi mendadak menutupi cahaya lampu di atas komputernya.

Cinderella membuka mata dengan tenang. Ia tidak terkejut saat mendapati Draxler Lutolf Ashford kini berdiri tegak tepat di samping mejanya.

Pemuda itu berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana, menatap layar monitor komputer Cinderella yang masih menampilkan artikel berita kematian Cinderella Huntington.

Draxler menatap layar itu sejenak, lalu mengalihkan pandangan tajamnya langsung ke dalam manik mata Cinderella.

"Kau tertarik pada berita kematian wanita itu?" tanya Draxler dengan suara rendah dan bernada menyelidik.

Cinderella menatap Draxler tanpa kedipan sedikit pun. Ia menggerakkan matanya santai, lalu mematikan layar monitor komputer dengan satu klik cepat sebelum menjawab.

"Seluruh kampus membicarakan skandal besar itu sejak pagi," jawab Cinderella tenang, menggunakan intonasi serak khas Ember.

"Bukankah wajar jika aku ingin tahu berita apa yang sedang mengguncang kelas atas tempatmu berasal, Mr. Ashford?"

Draxler mengernyitkan alisnya.

Ia menarik kursi kosong di sebelah Cinderella lalu duduk tanpa meminta izin terlebih dahulu.

Jarak mereka kini teramat dekat, memungkinkan Draxler menghirup samar wangi tipis yang terpancar dari tubuh gadis di depannya.

"Kau biasanya tidak peduli pada berita bisnis atau skandal kelas atas," ucap Draxler dengan nada penuh kecurigaan.

"Biasanya di jam seperti ini, kau akan sibuk mencariku di kantin atau menungguku di parkiran untuk mengajakku berkencan. Tapi hari ini... kau seperti orang yang sama sekali berbeda, Ember."

Cinderella menatap wajah tampan Draxler yang berjarak hanya puluhan sentimeter darinya.

Wajah polos namun tegas dari pemuda berusia 19 tahun yang beberapa jam lalu Menolak Ajakannya di atas ranjang dalam kehidupan sebelumnya.

Cinderella menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyum dingin yang terasa amat asing di mata Draxler.

"Orang-orang berubah, Draxler," sahut Cinderella santai seraya merapikan buku catatannya.

"Gadis bodoh yang mengejar-ngejarmu tanpa harga diri itu... sudah mati kemarin malam."

Deg.

Draxler membeku seketika.

Kata 'mati kemarin malam' yang diucapkan Ember mendadak menghantam dadanya dengan ketegangan yang aneh, tumpang-tindih dengan peristiwa berdarah di penthouse-nya semalam.

Cinderella berdiri dari kursinya, merapikan pakaiannya dengan gestur yang teramat anggun, lalu menatap Draxler dari atas.

"Mulai hari ini, kau tidak perlu khawatir lagi," lanjut Cinderella dengan suara lembut yang memotong keheningan.

"Aku tidak akan mengganggumu, tidak akan memanggilmu dengan sebutan konyol, dan tidak akan membuang waktuku untuk mengejar pria yang tidak menginginkanku. Kau bebas, Mr. Ashford."

Tanpa menunggu tanggapan dari Draxler yang masih terpaku di kursinya, Cinderella menyampirkan tasnya di bahu, berbalik, dan melangkah pergi meninggalkan area perpustakaan dengan tenang.

Draxler duduk sendirian di sudut perpustakaan yang sepi, menatap punggung gadis itu hingga menghilang di balik deretan rak buku..

1
Agus Tina
Bagus sekali ceritanya thor, sukaaaaa 🤍🤍🤍🤍
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak🫶 sehat selalu 😍
total 1 replies
Agus Tina
Setepah kematian Cinderela aku berharap perusahaan ayahnya gulung tikar, kebenaran bahwa Cinderelalah itak dibalik kesuksesan perusahaan mereka terkuak ke publik ...
Yusry Ajay
semangat berkarya Thor 🤗🤗
Yusry Ajay
mkasih uda up Thor 🤗🤗
Rosdianah 🌷: terimakasih kak readers 🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
hu.... menegangkan thor...
Asriani Rini
Bagus banget ceritan aku suka sekali
Yusry Ajay
lanjut Thor kurang up nya...
Asriani Rini
Lanjut Thor
Heni Utami
sangat best
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak😍
total 1 replies
Anonim
kereen abis
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Si penny end,, ember nya crazy up please,, 🤭
Rosdianah 🌷: besok mulai double bab kak🙏🏻
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
cerita keluarga ashford emang gak pernahh gagal,di tunggu cerita nya Dominic thor🤭
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
masih nyimak Thor 🤔🤔🤔
Yusry Ajay
pkoknya semangat selalu Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: sehat selalu ya kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
lanjut Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: siap kak
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪💪
Yusry Ajay
kyknya ada yg mulai jatuh cinta nih🤗🤗
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤭
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat menata hidup kembali ember💪💪
Debu Nakal
typo kah thor
Debu Nakal
typo kah thor
Rosdianah 🌷: tidak kak.. First time Author buat novel Transmigrasi 🙏🏻
Cinderella Dan Ember itu satu🙏🏻🙏🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!