NovelToon NovelToon
MENANTU IBU 2

MENANTU IBU 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Aliansi Pernikahan / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:309k
Nilai: 5
Nama Author: Me Nia

Setelah menjadi istri Ardiaz Kavian, Tya semakin tahu karakter orang-orang di keluarga besar Kavian. Sebagai seorang insan yang biasa hidup tenang meski ekonomi pas-pasan, kini dirinya harus terbiasa dengan pasang surut permasalahan di keluarga suami yang tidak kekurangan harta tapi miskin ilmu agama.

"Yang penting suami dan mertua baik, yang sirik biarkan saja berisik."

MENANTU IBU 2

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Kembali Hangat

..."Jika kamu sering mengalami nyeri sendi, bisa jadi itu efek karena selama ini kamu masih SENDI-rian."...

...~ Cantya Lova, S.T.RONG ~...

Kembali bisa membuat motivasi dan quote sesat adalah hiburan tersendiri bagi Tya yang sudah pulang dari rumah sakit setelah dirawat selama dua hari satu malam. Selanjutnya masa pemulihan bisa di rumah dengan catatan jangan melewatkan resep antibiotik yang harus diminum sampai habis.

"Gue kesindir," komentar Devan.

"Relate euy. Ahaha," komentar Ikram.

Itu adalah perwakilan komentar dari orang-orang terdekat Diaz. Dan masih banyak lagi komentar follower lainnya yang membuat Tya cekikikan sendiri di sofa kamar sambil menunggu Diaz yang sedang berbincang dengan Ibu di lantai bawah.

Baru tiba di rumah pukul lima sore, Tya dilarang Suri naik turun tangga untuk sementara waktu. Alhasil, harus tetap berada di area lantai dua. Bahkan makan malam pun diantar ke kamar.

"Bey, aku bisa jalan. Lari juga bisa. Tapi Ibu perlakukan aku seperti orang yang baru melahirkan. Anu ku nggak dijahit. Ibu khawatirnya berlebihan deh."

Tapi jawaban Diaz yang dengan santainya menyahut. "Nikmati aja dimanja jadi menantu kesayangan." Ditutup dengan memagut bibir yang cemberut.

Jempolnya tak sengaja menyentuh pop up chat yang baru saja muncul di layar. Otomatis pesan dari Rizky itu langsung terbaca.

[Malam, Tya. Maaf kalo ganggu]

[Niat mau ngasih oleh-oleh jadi lupa gara-gara syok 🙂]

[Besok aku mau ke Bekasi. Udah teleponan. Alhamdulillah masih dianggap adik sama Kak Bisma. Oleh-oleh buatmu mau aku titipkan aja sama Kak Bis. Maaf udah lancang chat malam 🙏]

Tya mendesah. Menggumam lirih. "Iky, kenapa berubah jadi canggung."

[Makasih ya, Ky. Sehat selalu]

Setelah mengirim balasan yang juga terbawa canggung, Tya beranjak dari sofa. Waktu menunjukkan hampir pukul sembilan. Badannya memang belum 100% fit ditambah pengaruh obat membuat mulutnya sudah tiga kali menguap. Langkahnya bukan ke arah ranjang, tetapi menuju pintu walk in closet. Rindu berbaring di sofa bed.

Suara ayam berkokok memecah sunyi. Tya menggeliat dengan punggung terasa berat serta ada tangan yang melingkari perutnya. Jelas itu tangan Diaz. Matanya membelalak begitu sadar tidurnya bukan lagi di sofa tetapi di ranjang. Kok bisa.

"Alarm matiin, Yang. Masih ngantuk." Diaz bergumam dengan mata tetap terpejam.

"Oke-oke. Awas tangannya. HP nya jauh di sofa." Tya mengangkat tangan yang semakin mempererat pelukan dari belakang. Tetapi tangan yang berotot itu berat untuk diangkat.

"Bey, aku kan tidur di sofa bed. Kenapa jadi di sini?"

"Aku gendong. Tidurmu kayak orang pingsan susah dibangunin."

"Hm. Efek obat kayaknya. Awas tangannya, Bey." Tapi lagi-lagi tangan yang kekar itu berat dipindahkan. Ide nakal muncul di benaknya.

Diaz mendesah lalu menggeram saat burungnya mendapat usapan lembut dari luar sangkar. Menggeliat seperti cacing kepanasan. "Yang...ughhh arghh jangan mancing-mancing, Sayang."

Tya cekikikan. Berhasil melepaskan diri dan segera turun dari ranjang ketika tangan Diaz hendak menariknya lagi. Pukul 04.15, alarm si Joko kembali berkokok mengingatkan waktunya bangun sebelum azan subuh berkumandang.

Diaz menyusul Tya yang sedang berada di kamar mandi. Kedatangannya tentu mengagetkan sang istri yang sedang mengguyur tubuh di bawah kucuran shower. Tampak berusaha menutupi dada dan merapatkan kaki dengan wajah bersemu malu.

"Aku kan udah liat semuanya dari ujung rambut sampai ujung kaki, sayang. Ngapain malu." Diaz terkekeh lalu menurunkan tangan Tya. Berganti memeluk tubuh yang polos dan terasa hangat karena guyuran air. Tubuhnya ikut basah. Gairahnya turut membuncah.

"Tapi aku nggak tanggung jawab kalau Abey pusing."

"Salah sendiri tadi usap-usap burung yang lagi tidur. Jadinya tegak terus. Nggak bisa aku tidur lagi." Tangan Diaz meremas bokong Tya. Meski ia pun menyadari tindakannya salah. Niat mau membalas keisengan sang istri, malah kini kepala atas dan bawah berdenyut-denyut. Menuntut lebih.

"Ya maaf." Tya terkikik. Terlanjur sudah berhadapan dengan Diaz yang tak malu menunjukkan keseluruhan tubuh polosnya, ia membantu menyabuni punggung suaminya itu.

Ritual mandi yang harusnya selesai 10 menit bertambah durasi dua kali lipat. Tya harus berulang kali mengingatkan untuk berhenti di tengah rasa terbuai oleh permainan sentuhan tangan dan bibir Diaz.

"Masih bengkak, nggak?" Diaz berjongkok untuk memeriksa gang sempit yang sudah digempur habis-habisan berulangkali. Tak perlu menunggu persetujuan. Ia membuka kedua kaki Tya. Memeriksa dengan jeli.

"Udah ah geli. Masih bengkak itu."

"Pantes aja ya disuruh puasa dua minggu." Diaz mendongak dengan ekspresi menyedihkan.

Tya tertawa. Mentertawakan nasib Diaz yang harus merana untuk sementara waktu. "Apa kata Ibu bilang. Slow, Bey. Slow!"

***

Tya meyakinkan Diaz jika kondisinya semakin membaik. Tidak ingin terus-terusan berada di area lantai dua. Ingin menyiapkan sarapan untuk sang suami yang akan mulai ke kantor lagi. Akhirnya, keinginannya terkabul.

Tetapi begitu menuruni tangga, Ibu Suri yang baru yang baru saja lewat, menghentikan langkah dan menatap heran. "Tya sayang, kau jangan dulu naik turun tangga."

"Udah sembuh, Bu. Sungguh." Tya mengangkat dua jari di samping bahu. "Aku mau siapin sarapan buat Mas Diaz, buat kita bertiga."

"Tapi jangan dulu capek-capek ya, Nak. Biar Bi Saroh yang masak."

"Iya, Bu. Aku cuma bikin kopi sama mau bikin salad buah."

Kehangatan kembali hadir di meja makan. Bisa duduk bersama lagi bertiga setelah 15 hari lamanya sang nyonya rumah melaksanakan umrah plus Mesir. Tak ada percakapan berat selama sarapan berlangsung. Tya maupun Diaz lebih banyak menjadi pendengar cerita pengalaman Ibu Suri selama umrah.

"Waktu naik perahu di sungai Nil, Ibu lihat orang yang mirip Pak Husain lho. Adanya di perahu depan Ibu. Tapi nggak yakin juga sih soalnya agak jauh lihatnya. Bisa jadi halusinasi kali ya atau emang mirip," ujar Suri yang menikmati salad buah buatan Tya.

"Nggak Ibu pastiin pas di dermaga?" sahut Diaz. Pembahasan yang menurutnya menarik.

"Perahu yang depan Ibu itu duluan naik. Jaraknya beda 10 menit. Sepertinya halusinasi aja soalnya di perahu itu dominan orang arab campur bule. Lagian sebelumnya Ibu kan chattingan sama Husain bahas sopir baru."

Pembahasan tentang Husain menguap seolah terbawa angin berganti tema random lainnya hingga waktunya Diaz siap berangkat ke kantor.

"Diaz, Ibu masih ingin istirahat di rumah. Anwar pakai aja jadi sopir mu dulu daripada dia nganggur."

Diaz berpikir sebentar. Hari ini memang ada agenda meeting di luar kantor. Biasanya Jordan yang akan menyetir. Tidak ada salahnya jika Anwar dijadikan sopir. Karena banyak yang harus didiskusikan dengan sang asisten dengan konsentrasi penuh.

"Oke deh."

Mulai hari ini, bukan hanya Ibu yang dipeluk setiap kali pamit kerja. Bertambah satu orang wanita yaitu kehadiran Tya yang dipeluk dan dikecup bukan sekadar akting berbuah denda seperti dulu. Bagi Diaz, dua wanita itu adalah harta yang paling berharga dalam hidupnya yang harus dijaga.

Seleng beberapa menit kemudian, Suri mengajak Tya ke kamar. Mau menunjukkan oleh-oleh yang belum dibongkar di dalam koper yang terpisah dengan pakaiannya.

"Kalau oleh-oleh umrah kayak kacang, kurma, itu bisa beli online di toko oren banyak. Ibu mau bagi oleh-oleh yang langsung dibeli dari Mekkah sama dari Kairo. Ada buat Bisma dan Susan juga. Bagusnya disuruh datang ke sini atau dipaketin ke Bekasi?"

"Aku sama Mas Diaz ada rencana mau ke Bekasi kok, Bu. Katanya sih seminggu lagi. Belum pasti harinya."

"Oh ya udah. Berarti disimpan aja sama Tya oleh-olehnya. Nah, ini buat anak dan menantu kesayangan Ibu." Suri menyerahkan satu persatu barang-barang untuk Diaz dan Tya.

Tya tersenyum lebar dengan mata berbinar. "Masya Allah, cakepnya."

Kebahagiaan dan kehangatan yang tercipta di dalam kamar terganggu oleh suara ketukan di pintu. Tya yang beranjak setelah mendengar suara Tuti, membukakan pintu.

"Ada apa, Mbak Tuti?"

"Kata Ajat ada Bapak Hilman di luar pengen masuk."

Tya tidak menjawab. Justru menoleh pada sang mertua Yang sepertinya mendengar jelas ucapan Tuti. Ia sudah tahu aturan baru yang berlaku. Jika Ayah Hilman diperlakukan sama seperti Selly dan anak-anaknya. Tidak bisa bebas masuk. Harus izin dulu di pos sekuriti.

...🌹🌹🌹🌹🌹...

...1 Mei 2026...

Welcome back di Menantu Ibu musim kedua, Bestie. Jangan lupa dukung bacaan gratis ini semampunya ya. Jangan lewatkan 'like; ramaikan kolom komentar meskipun cuma dengan satu kata. Biar hidup terasa lebih hidup.

Dan harap sabar menanti update yang jadwalnya tidak tentu, disesuaikan dengan kesibukan di real life.

1
Eulis🌹🌹Mυɳҽҽყ☪️
Bau-bau nya sih beneran CEO itu pak Husein...Duch bu surii jadi janda malah tambah kinclong. Aku dukung pak Husein sm bu suri
ariyatti
kayaknya pak husain adalah seorang ceo yg menyamar jadi sopir.jadi penasaran sama kisah pak pak husain dan kelanjutan hubungannya sama ibu suri 🤭
Deshanita S
yg penting ngk ada poligami..klu dah cerita nya berbagi darah tinggi ku langsung naik 😄🤣
Rosyani Rini
pak Husein CEO kah dia
Rosyani Rini
wahhh curiga 🤣🤣🤣
Rosyani Rini
malah di pancing kata nya jangan dulu..
Ni'matul Jannah
Terimakasih up nya teh Nia..
Sehat selalu 🤲🏻
Ni'matul Jannah
Eee..ternyata..pak Husein ceo yang menyamar.
Pak Husein kan..yg sebenarnya punya pekerbunan sawit itu?
Koi rela menunggu ibu suri sampai segitunya pak?
cerita dong pak..🤭😄
Ni'matul Jannah
Waahh..ibu suri tampil paripurna.
Ada something sama pak Husein ini pasti, semoga segera bersatu ya..ibu suri dan pak Husein😁
Nur aprilia adiah
duh si ibu lagi puber kedua tuh mas..ya ampun Diaz bucin Banget deh..
Nur aprilia adiah
mungkin pak Husein CEO yg tersembunyi 😄
Mujib
/Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray//Pray//Pray//Pray//Pray//Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun//Sun//Sun//Sun//Sun//Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry//Angry//Angry//Angry//Angry//Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!