NovelToon NovelToon
TIRAKAT 6

TIRAKAT 6

Status: tamat
Genre:Horor / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata.

(SERI KE 6 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)

Perjalanan hidup seorang lelaki bernama Zaki tak semulus dan semudah kelihatannya. Semenjak kematian kedua orang tua kandungnya, Zaki menjalani kehidupan yang cukup berat. Dirinya haru melanjutkan hidup sebagai seorang lelaki yang normal. Namun di sisi lain, dirinya juga hidup dalam TIRAKAT yang tak biasa. Sampai akhirnya takdir membawanya berjumpa dengan tambatan sejati hatinya.

Bagaimana kisah hidup Zaki?
Dan siapakah tambatan hati Zaki yang sejati itu?

SELAMAT MEMBACA...
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
.
.
.
DISCLAIMER‼️

Apabila ada kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, ritual, budaya, dan laku tirakat tertentu dengan para pembaca sekalian, harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 PAGI TANPA AURA GAIB

"Allahu Akbar... Allahu Akbar..."

Sayup-sayup, kumandang azan Subuh mengalun membelah pekatnya kabut pagi.

Suaranya mengalun merdu dari pengeras suara mushala kecil yang terletak beberapa ratus meter dari rumah Zaki, bersahutan dengan kokok ayam jantan dari segala penjuru yang mulai nyaring memecah keheningan ufuk timur.

Di dalam kamar masa kecilnya, Zaki perlahan membuka kedua matanya.

Tubuhnya terasa kaku dan pegal.

Rupanya, setelah prosesi sakral pelepasan Sekar Mayang di sepertiga malam tadi, Zaki tertidur dalam posisi bersila dengan kepala menunduk di atas sajadah lusuhnya.

Ia menggeliat pelan, meluruskan kedua kakinya yang kesemutan, lalu memutar lehernya hingga terdengar bunyi gemeretak pelan dari persendiannya.

"Aduuuhhh... Duh-duh-duh... Ssshhh..." desisnya merasakan kedua kaki yang ngilu.

Zaki terdiam sejenak di atas sajadah, membiarkan kesadarannya terkumpul seutuhnya.

Pemuda itu memejamkan mata, mencoba menajamkan indera batinnya secara refleks—sebuah kebiasaan lama yang tertanam selama belasan tahun.

Biasanya, ketika ia melakukan hal ini, ia akan langsung merasakan frekuensi energi dari dimensi lain. Ia akan merasakan titik-titik hawa dingin gaib di sudut ruangan, mendengar dengungan halus yang tak tertangkap telinga manusia biasa, atau mencium aroma bunga kantil merah yang menandakan kehadiran pelindungnya (Sekar Mayang).

Namun pagi ini... nihil.

TIDAK ADA APA-APA.

DAN TIDAK TERJADI APA-APA.

SAMA SEKALI TAK ADA.

Kamar itu terasa sangat kosong. Kosong dari segala bentuk residu energi lelembut.

Zaki membuka matanya perlahan. Ia meraba dadanya sendiri. Ada perasaan aneh yang mengusiknya.

Sebuah sensasi "kehilangan" yang sempat membuat batinnya berdesir canggung. Ia seperti seorang prajurit yang telah terbiasa memanggul zirah besi berat berton-ton selama bertahun-tahun, lalu tiba-tiba zirah itu dilepaskan begitu saja.

Seketika ada perasaan rentan, seolah ia telanjang tanpa pelindung.

Namun, hanya butuh beberapa tarikan napas bagi Zaki untuk menyadari sisi lain dari kekosongan tersebut.

Ternyata, rasa hampa itu justru membawa sebuah kebebasan yang luar biasa memabukkan.

Paru-parunya seakan bisa mengembang lebih maksimal. Pundaknya terasa sangat ringan, seringan kapas.

Zaki menyadari bahwa "hawa dingin" yang menyentuh kulit lengannya saat ini bukanlah hawa dingin mencekam dari dunia gaib, melainkan kemurnian hawa dingin dari embun pagi pedesaan yang menyusup lewat celah jendela.

Ia tersenyum simpul.

Sebuah senyuman yang merekah tulus dari dasar jiwa seorang manusia yang telah kembali pada fitrahnya.

Zaki kini benar-benar murni. 100% manusia biasa, tanpa perewangan, tanpa bayang-bayang dunia astral yang membebani setiap langkah kakinya.

Zaki bangkit berdiri. Ia kembali mengambil wudu di sumur belakang, menyegarkan wajahnya dengan air yang terasa menusuk pori-pori. Sekembalinya ke kamar, ia menunaikan salat Subuh dua rakaat.

Ada kekhusyukan yang sama sekali baru dalam salatnya kali ini. Zaki merasa komunikasinya dengan Sang Pencipta tak lagi terhalang atau dibayangi oleh kehadiran entitas gaib di belakangnya.

Sujudnya terasa begitu pasrah, mengisyaratkan ketundukan totalnya pada takdir langit.

Selesai berdoa, Zaki melipat sajadahnya. Ia melangkah menuju jendela kayu di kamarnya, membuka palang penguncinya, lalu mendorong daun jendela itu lebar-lebar.

Krieeet...

.....

.....

🌄🌄🌄🌄🌄🌄🌄

🌳🌳🌳🏡🌳🌳🌳

Udara pagi yang bersih, dingin, dan sarat akan aroma dedaunan basah langsung menerjang wajahnya.

Di luar sana, langit mulai memancarkan semburat ungu kebiruan, menandakan matahari sedang bersiap merangkak naik dari ufuk timur.

Zaki beranjak ke ruang tamu dan membuka pintu utama rumah.

Rutinitas normal seorang warga desa resmi ia mulai.

Zaki melangkah ke area teras, meraih sapu lidi yang bersandar di dinding, lalu mulai menyapu halaman depan rumahnya yang dipenuhi daun-daun yang kering berjatuhan.

Gerakannya santai, berirama dengan gesekan lidi di atas tanah keras.

Saat ia sedang sibuk mengumpulkan dedaunan ke sudut halaman, seorang pria paruh baya yang memanggul cangkul melintas di jalanan tanah depan rumahnya.

"Lho? Mas Zaki? Kapan mulihe, Mas?" (Kapan pulangnya, Mas?) sapa pria itu dengan nada terkejut namun ramah.

Pria itu adalah Mas Somad, salah satu tetangga yang rumahnya berjarak agak jauh dari rumah Zaki.

Zaki menghentikan ayunan sapunya, membalas sapaan itu dengan senyum lebar yang tak dibuat-buat.

"Weeeh... Mas Somad? Kolo wingi sonten, Mas..." (Weeeh... Mas Somad? Kemarin sore, Mas...)

"Mari mampir, ngopi dulu!" tawar Zaki ramah.

"Matur nuwun, Mas. Niki badhe langsung teng sawah, selak awan. (Terima kasih, Mas. Ini mau langsung ke sawah, keburu siang)," tolak Mas Somad dengan sopan, lalu melanjutkan langkahnya.

Zaki menatap punggung Mas Somad yang menjauh. Ada kehangatan yang mengalir di dadanya. Interaksi sesepele itu terasa sangat berharga.

Kini, ia tak perlu lagi khawatir membuat orang lain merasa tak nyaman dengan "aura berat" yang biasanya menguar dari tubuhnya.

Ia sekarang hanyalah Zaki, pemuda desa biasa yang menyapa tetangganya di pagi hari.

Setelah halaman bersih, Zaki beralih ke dapur. Ritual paginya belum lengkap tanpa secangkir kopi hitam.

Ia kembali menghidupkan tungku api peninggalan ibunya. Kali ini, tangannya sudah mulai luwes menyusun kayu bakar dan memercikkan korek api. Asap kembali mengepul, namun tak lagi membuatnya terlalu perih.

Sambil menunggu air di dalam panci mendidih, Zaki meracik kopi bubuk sisa peninggalan Pakdenya yang ia temukan di toples kaca, ditambah satu setengah sendok gula pasir ke dalam cangkir blirik hijau.

Begitu air bergolak, ia menuangkannya perlahan ke dalam cangkir. Aroma tajam kopi robusta lokal seketika menguar, memenuhi ruang dapur yang temaram.

Zaki membawa cangkir kopi panasnya ke teras depan. Ia duduk bersila di atas kursi kayu panjang. Sinar mentari pagi mulai menyorot hangat, menyeka sisa-sisa embun di dedaunan.

Zaki menyesap kopinya perlahan.

"Bismillah, Ssslllrrrppp... Woooaaahhh... Mantaaap!!"

Pahit, manis, dan hangat berpadu sempurna di lidahnya. Suara burung perkutut dari kejauhan menjadi alunan musik latar yang menyempurnakan pagi pertamanya.

Otaknya kembali memutar rencana yang telah ia susun semalam saat mengobrol panjang lebar dengan Pakde Mardi.

Hari ini, ia akan mulai menapak tilas jejak mendiang Bapaknya.

Di ujung desa ini, tepat di kaki bukit, membentang sepetak kebun kopi warisan keluarganya. Kebun itu tak seberapa luas, tapi cukuplah untuk menghidupi keluarga mereka di masa lalu.

Selama Zaki berada di Jakarta, kebun kopi tersebut diurus dengan sistem bagi hasil oleh Pak Doyo, sahabat almarhum Bapaknya sekaligus tetangga yang paling bisa dipercaya.

Zaki meletakkan cangkir kopinya yang telah kosong. Ia masuk ke dalam kamar, menukar pakaiannya.

Ia mengenakan kaus oblong putih berlapis kemeja flanel pudar kesayangannya yang sengaja tak dikancingkan. Celana jeans panjang berbahan tebal dan sepasang sepatu boot karet hitam yang ia temukan di dapur (peninggalan Bapaknya) menjadi pelengkap penampilannya pagi ini.

Tak lupa, ia merogoh laci lemari dan menemukan sebuah caping bambu usang milik almarhum Bapaknya juga.

Zaki memutar caping itu di tangannya, tersenyum mengusap debu tipis di permukaannya, lalu memakainya di kepala.

Pemuda itu melangkah mantap keluar rumah. Ia mengunci pintu depan dengan gembok, memastikan semuanya aman.

.....

.....

☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️

🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾

Udara pagi sudah mulai menghangat. Deru aktivitas warga desa semakin terasa hidup. Anak-anak kecil berlarian berangkat ke sekolah dasar, para ibu rumah tangga bercengkerama sekembalinya dari pasar desa, dan para petani mengayuh sepeda onthel menuju lahan garapan mereka.

Zaki menghirup napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan udara kebebasan. Matanya menatap lurus ke arah jalanan setapak berbatu yang menanjak, mengarah langsung ke kaki bukit yang hijau rimbun di kejauhan.

Tanpa perewangan...

Tanpa bayang-bayang masa lalu...

an tanpa beban misteri, Zaki melangkahkan kakinya. Ia sudah siap menjemput takdir barunya.

Hari ini, Zaki bukan lagi seorang karyawan kantoran dari ibu kota, melainkan seorang petani muda yang akan merawat warisan mendiang Bapaknya di kaki bukit.

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Semangat kak, otewe Tirakat selanjutnya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Alhamdulillah bisa baca on gong sampe tamat Tirakat 6 ini...

Salut sama Nisa pertama... luar biasa amanah nya patut diacungi jempol mendidik 2 anak gadis dengan kekurangan dan kelebihan masing masing sampe sesukses itu.

Salut juga sama Zaky
Kudu bertaruh nyawa dulu bwt mendapatkan kebahagiaan sejati nya.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Kek nya anak laki-laki itu next Tirakat wkwkwk
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Yuli juga bersyukur masih diberikan kesempatan hidup, jadi bisa penebusan dosa juga. klo misal matii nggak ada kesempatan tobat
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Semangat zaky semoga setelah menuhi janji ke yuli, pengakuan dosa di makam wiwi dan ortunya, trauma masa lalu kmu bisa hilang ya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Cemburu ke masa lalu apalagi orang nya udah nggak ada itu percuma ya niss, buang waktu, pasti kalah yg hidup ...
jadi ya gimana lagi? legowo saja zaky dulu punya almarhumah dek wiwi
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Akhirnya... yuli memaafkan juga kepengecutan zaky. mudah ya padahal tapi kudu sesatt dulu
falea sezi
🤣🤣 masih aja belomm move on sama wiwi gadis sok poloss🤣🤣🤣 makanya jangan ngeyel pake nikahin wiwi gadis. lemah
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Iya ya, Kak...
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Astaga... lagi lagi nanggung....

Zaky lgi dipermainkan mental nya sama yuli, diingat ingat dosa masa lalu nya. yuli udah mati kok msh nyebelin ya wkwkwk nggak kasian lgi dehh
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: 😭😭😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
kebiasaan nanggung.

tapi patut diacungi jempol ki sukmo berjuang mempertahankan eksistensi nya sebagai dukunsaktii pesisir utara sampe titik darah penghabisan wkwkwk .

tapi tetep kasian sama yuli, dia yg sangat paling merugi.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ : wkwkwk udah berasa nkri harga matii
total 2 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Kasian sama yuli
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Taha 69
falea sezi
berasa liat film horor🤭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Hehehe... Maaf ya Kak Falea, kalau adegannya agak kurang detail atau malah agak lebay... 🤭🤭🤭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
lahh nanggung ya...

mantap zaki Tirakat nya nggak sia sia, puasa apa ya ngableng? nggak pake ajian atw rapal mantap bwt ngelawan ki sukmo hanya dengan nur tauhid+kalamullah.

next
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
biar emosi juga tetep ya manggil Yuli Mbak, ini brarti msh ada rasa hormat ke kaka ipar. biasanya klo orang emosi ya manggil orang nama saja.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
nggak berasa tetiba habis. next kak

next babb keknya klo mereka ketemu ki sukmo trs yuli trs zaky bnyk kosakata umpatan
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
ishhhh vulgarrrr lahh
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Astagfirullah 50 psk? seusia ibuku? ada sih, dandanan nya menor gitu nutupi kerutan tapi yg aku tau katanya yg udah sepuh gitu cuma bwt nemenin minum wkwkwk
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Ya namanya juga dunia gelap... 😰😰😰
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Wahh iya Tirakat zaky nggak sia sia, dari darah dendam, bisa melacak keberadaan yuli dan dukun nya.

tapi awas zaky jngn terburu buru, yuli juga dukun nya nggak kaleng kaleng
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
nahh gitu itu namanya kmu punya persiapan Zakk... klo tetiba cuma pke apa itu nggak ketemu, untung ada feeling hubungi pakde mardi klo nggak bisa hbs waktu kmu keliling cirebon
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!