Sebuah kisah nyata tentang kehidupan seorang gadis cantik berhati lembut yang dipenuhi dengan beragam kebohongan yang ia buat hanya karena ia takut dengan apa yang akan ia hadapi,
Hingga akhirnya berujung dengan pernikahan yang membuatnya harus mengubur dalam dalam rasa penyesalannya karena harus berusaha untuk mencintai hal yang dicintai oleh suaminya, termasuk agama dan keyakinan pria yang menjadi pemuja hatinya itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Badai di Balik Dinding Kaca
Genggaman jemari Naya begitu erat melingkari flashdisk hitam di tangannya, seolah benda kecil itu adalah bongkahan es yang membekukan seluruh aliran darahnya. Di dalam mobil yang melaju kencang membelah lalu lintas Jakarta menuju gedung Ardiansyah Group, keheningan terasa begitu mencekam. Di sampingnya, Pak Danu menatap Naya lewat kaca spion tengah dengan raut kecemasan yang mendalam.
Naya merogoh laptop dari dalam tasnya. Dengan tangan bergetar hebat hingga mengetuk keyboard berulang kali, ia mencolokkan flashdisk tersebut. Sebuah folder tunggal muncul di layar, berisi satu berkas rekaman suara berformat rekaman digital.
Naya memasang earphone ke telinganya, menggeser kursor, dan menekan tombol play.
Desis suara white noise terdengar sejenak, sebelum akhirnya suara bariton yang sangat ia kenal—suara Gavin—memenuhi gendang telinganya. Suara itu terdengar begitu serak, dipenuhi oleh emosi, penyesalan, dan rasa putus asa yang mendalam.
"Aku tidak bisa meninggalkanmu seperti ini, Alana... Kamu tahu hanya kamu wanita yang ada di hatiku. Tapi pernikahan ini... perjanjian ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan nama baik keluarga dan melindungi kita dari ancaman Eleanor. Aku terpaksa menikahi wanita itu... aku terpaksa menjadikannya tameng."
Suara seorang wanita yang lemah namun lembut menyahut di tengah isak tangis, "Tapi bagaimana jika kamu akhirnya mencintainya, Gavin? Bagaimana denganku?"
"Tidak akan pernah," balas Gavin tegas, suaranya gemetar oleh kepedihan. "Pernikahan itu hanyalah panggung sandiwara. Hati dan jiwaku akan selalu milikmu, Alana. Aku berjanji, setelah semua skandal ini usai dan Eleanor hancur, aku akan kembali padamu."
Klik. Rekaman suara berakhir.
Naya mencabut earphone dari telinganya secara mendadak. Udara di dalam mobil mendadak terasa amat mencekik. Setiap kata dari rekaman suara itu bergema bagai petir yang menghantam jiwanya hingga hancur berkeping-keping.
Alana. Nama itu asing, namun kini terpatri bagai luka bakar di dalam dadanya.
Segala kebaikan Gavin, tatapan matanya yang penuh pemujaan, bisikan lembutnya di atas sajadah saat menghapus air mata penyesalan Naya—apakah itu semua hanya sandiwara yang dirancang dengan sangat rapi? Apakah kesucian dan cinta murni yang Naya perjuangkan setengah mati selama ini hanyalah sebuah kepalsuan untuk menutupi cinta terlarang Gavin pada wanita bernama Alana?
"Ibu Naya, kita sudah sampai," suara Pak Danu memecah lamunan kelam Naya.
Mobil berhenti tepat di lobi utama Ardiansyah Tower. Gedung pencakar langit yang megah itu berdiri kokoh, memantulkan sinar matahari siang yang menyengat. Naya menyapu air mata di pipinya, merapikan hijab hitamnya, dan melangkah keluar mobil dengan tegak. Keberanian yang dulu membantunya bertahan hidup kini kembali menyala—bukan lagi keberanian untuk membela diri dari Eleanor, melainkan keberanian seorang istri yang menuntut kejujuran atas hatinya yang telah dihancurkan.
Naya berjalan menembus lobi. Para staf dan karyawan menunduk hormat saat nyonya besar mereka melintas, namun Naya tidak mempedulikan satu pun dari mereka. Ia melangkah lurus menuju lift privat yang langsung mengarah ke lantai teratas—ruang kerja Presdir Ardiansyah Group.
Ting.
Pintu lift terbuka di lantai 32. Sekretaris Gavin, seorang wanita muda berpenampilan rapi, terkejut melihat kedatangan Naya tanpa pemberitahuan.
"Ibu Naya? Selamat siang, Bu... Bapak Gavin baru saja selesai rapat dan sedang—"
Naya tidak membuang waktu. Tanpa mengetuk pintu, ia mendorong pintu kayu mahoni berukuran besar yang membatasi ruang kerja Gavin.
Pintu terbuka lebar dengan suara dentuman pelan.
Di dalam ruangan berdinding kaca transparan yang memperlihatkan pemandangan lanskap kota Jakarta dari ketinggian, Gavin sedang berdiri membelakangi pintu, memegang beberapa lembar dokumen. Pria itu menoleh kaget. Saat melihat sosok Naya yang berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat dan mata yang menyala oleh luka, raut wajah Gavin mendadak berubah heran.
"Naya...?" Gavin meletakkan dokumennya di atas meja kaca, lalu melangkah mendekat dengan senyuman hangat yang biasanya selalu meluluhkan hati Naya. "Ada apa, Sayang? Kenapa tiba-tiba ke kantor tanpa memberi tahu aku dulu? Ada masalah dengan Ayah?"
Gavin mengulurkan tangannya untuk meraih jemari Naya, namun sebelum jemarinya sempat menyentuh kulit istrinya, Naya melangkah mundur satu tapak.
Naya menepis tangan Gavin dengan tegas.
Gavin tertegun. Matanya membelalak heran. "Naya... ada apa?"
Naya tidak menjawab dengan kata-kata. Dari dalam tasnya, ia mengeluarkan amplop cokelat tebal beserta foto-foto yang berserakan, lalu melemparkannya ke atas meja kerja Gavin. Foto-foto itu terhambur di atas permukaan kaca—memperlihatkan sosok Gavin yang mendekap mesra wanita berparas jelita di lorong rumah sakit luar negeri.
Pandangan Gavin jatuh pada foto-foto tersebut. Seketika itu juga, rona wajah Gavin berubah drastis. Warna merah di pipinya memudar, digantikan oleh kepucatan yang nyata.
"Naya... dari mana kamu mendapatkan foto-foto ini?" suara Gavin bergetar, sirna sudah ketenangan yang biasanya ia miliki.
Naya menatap lurus ke dalam mata suaminya, air mata penyesalan dan amarah tak lagi bisa ia bendung. Lelehan bening itu menetes deras membasahi pipinya.
"Siapa Alana, Gavin?" bisik Naya, suaranya parau namun menusuk tajam ke dalam dada Gavin. "Jawab aku... siapa Alana?!"
Gavin menelan ludah dengan susah payah. tangannya yang gemetar terulur mencoba meraih lengan Naya. "Naya, dengarkan aku dulu... ini tidak seperti yang kamu bayangkan—"
"TIDAK SEPERTI YANG AKU BAYANGKAN?!" jerit Naya melengking, tangisnya pecah menggelegar di dalam ruangan kedap suara itu. Jeritan yang menyimpan seluruh kepedihan dari rasa pengkhianatan.
Naya merogoh flashdisk hitam dari saku pakaiannya dan membantingnya ke atas meja hingga berdering nyaring.
"Aku sudah mendengar rekamannya, Gavin!" tangis Naya sesenggukan, dadanya naik turun menahan gumpalan rasa sakit yang membakar jiwanya. "Aku mendengar sendiri bagaimana kamu berjanji padanya! Kamu bilang pernikahan kita hanyalah tameng! Kamu bilang kamu terpaksa menikahi wanita pembohong seperti aku demi menyelamatkan nama baik keluargamu! Kamu bilang hatimu tidak akan pernah milikku!"
Gavin mematung. Matanya terbelalak menatap flashdisk itu dengan ketakutan yang teramat sangat. "Tidak... Naya, rekaman itu..."
"Selama ini aku menyiksa diriku sendiri!" cerca Naya dengan suara gemetar hebat, menunjuk dadanya sendiri dengan jemarinya. "Aku menangis di atas sajadah setiap malam! Aku memohon ampun kepada Allah karena merasa kotor... merasa telah membohongimu dengan identitas palsuku! Aku berusaha setengah mati untuk menjadi wanita solehah yang pantas berdiri di sampingmu! Tapi ternyata... kamu yang menjadikan aku panggung sandiwara!"
Naya melangkah mendekat, menatap Gavin dengan pandangan yang dipenuhi keancuran total.
"Kamu menyebutku wanita pembohong yang ketakutan, Gavin... Tapi ternyata kamu jauh lebih jahat. Kamu membungkus pengkhianatanmu dengan topeng kesolehan dan cinta suci! Kamu berpura-pura menjadi pemuja hatiku, padahal di balik itu semua... aku hanyalah bayang-bayang pengganti untuk wanita yang sebenarnya kamu cintai!"
"Naya, demi Allah, itu tidak benar!" bentak Gavin penuh desakan emosi, air mata kini mulai menggenang di pelupuk mata pria tangguh itu. Ia maju dan menggenggam kedua bahu Naya dengan erat, memaksa istrinya untuk menatap matanya. "Dengarkan aku, Naya! Tolong dengarkan aku sekali ini saja!"
"Lepaskan aku!" Naya memberontak histeris, berusaha melepaskan cengkeraman tangan Gavin. "Jangan sentuh aku dengan tangan yang pernah menggenggam wanita lain!"
"ALANA ADALAH ADIK KANDUNGKU YANG TELAH WAFAT!" teriakan Gavin menggelegar memotong histeria Naya, menggema keras di seluruh penjuru ruang kerja mewah itu.
Seketika itu juga, ruangan mendadak hening.
Naya membeku. Pemberontakannya terhenti seketika. Napasnya tertahan di tenggorokan saat mendengar kalimat yang baru saja keluar dari bibir suaminya.
Gavin menundukkan kepalanya, tangisnya yang selama bertahun-tahun ia sembunyikan di balik keanggunan dan kekuasaannya akhirnya pecah. Bahunya berguncang hebat di hadapan istrinya.
"Alana... Alana Ardiansyah adalah adik kandungku satu-satunya," bisik Gavin dengan suara hancur, air mata menetes deras melintasi pipinya. "Dia menderita kanker darah stadium akhir dan dirawat di klinik swasta di Swiss secara rahasia... Foto-foto itu diambil dua minggu sebelum aku menikahimu, saat kondisinya kritis."
Naya menatap Gavin dengan tatapan tak percaya, tenggorokannya terasa sangat kering. "Adik...? Tapi... tapi rekaman suara itu..."
Gavin mengusap wajahnya yang basah oleh air mata, lalu meraih flashdisk di atas meja. Matanya memancarkan rasa benci dan duka yang mendalam.
"Rekaman suara itu dipotong dan direkayasa oleh Eleanor!" tegas Gavin dengan suara bergetar. "Eleanor tahu keberadaan Alana. Dia mengancam akan menghentikan donor sumsum tulang belakang Alana dan menyebarkan skandal medis keluarga jika aku tidak menyetujui perjanjian bisnis Ardiansyah Group! Suara di rekaman itu adalah percakapanku dengan Alana saat aku menenangkannya... Aku berjanji padanya bahwa pernikahan bisnis yang direncanakan Eleanor denganku tidak akan menghancurkan hidup kita, dan aku akan melindunginya dari Eleanor!"
Gavin mencengkeram jemari Naya yang kini terasa dingin bagaikan es, membawa tangan istrinya itu ke dadanya yang berdegup kencang.
"Alana meninggal tiga hari sebelum aku pertama kali bertemu denganmu di masjid itu, Naya," bisik Gavin penuh kepedihan yang tiada tara. "Aku kehilangan adikku... aku kehilangan satu-satunya pelindungku dari kekejaman Eleanor. Dan di saat aku berada di titik paling hancur dalam hidupku, Allah mempertemukan aku denganmu."
Gavin menatap Naya dengan ketulusan yang teramat murni, air matanya tak kunjung berhenti mengalir.
"Kamu bukan pengganti siapa pun, Naya. Kamu bukan tameng. Saat aku melihatmu bersujud dengan air mata ketakutanmu, aku melihat jiwa yang sama terlatanya denganku. Aku mencintaimu bukan karena kebohonganmu, bukan pula karena pura-pura solehahmu... Aku mencintaimu karena Allah menuntun hatiku untuk menyembuhkan lukamu, sekaligus menyembuhkan lukaku sendiri."
Naya berdiri terpaku. Bagaikan disiram air es di tengah padang pasir, seluruh kemarahan dan kecemburuan yang membakar dadanya mendadak sirna, berganti dengan rasa bersalah yang amat dahsyat.
Ia memandangi foto-foto di atas meja dengan pandangan baru—melihat raut wajah Gavin di foto itu bukan lagi sebagai raut wajah seorang pria yang mendua, melainkan raut wajah seorang kakak yang sedang meratapi kepergian adiknya yang terkasih.
"Gavin..." bisik Naya, suaranya tercekat oleh air mata keharuan dan penyesalan yang amat dalam. "Maafkan aku... maafkan aku..."
Naya menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan Gavin, merengkuh leher suaminya dengan erat. Isak tangis keduanya pecah bersamaan di dalam ruangan berdinding kaca itu—menumpahkan seluruh rasa sakit, kesalahpahaman, dan duka masa lalu yang kini telah runtuh sepenuhnya.
Gavin membalas dekapan Naya dengan protektif, menyembunyikan wajahnya di leher istrinya, meresapi kehangatan yang menjadi muara dari segala pencariannya.
Namun, di tengah keheningan dan kehangatan pelukan mereka, layar ponsel Gavin yang tergeletak di atas meja mendadak menyala. Sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak dikenal masuk:
"Pemain utamanya mungkin sudah mati, Gavin. Tapi permainan Eleanor belum benar-benar berakhir. Nikmatilah air mata pernikahan kalian... sebelum rahasia terbesar tentang kematian almarhum ibu Naya terkuak."
#halo guys, jangan lupa like subscribe dan komen, ngasih gift juga dan bintang 5 yah, jadikan novel ini favoritmu, pantengin terus kelanjutan ceritanya yah, ada cerita aku yg lain yg ngga kalah seru juga loh, judulnya AKU TAK SALAH, dan TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA, ingat guys, subscribe, like, dan komen, share juga yah 🙏😭😘