Demi membeli sebuah kue ulang tahun untuk sang adik, Rio yang baru berusia sepuluh tahun rela tak menebus obat hingga penyakit jantungnya kumat parah dan nyaris merenggut nyawanya. Tak ingin ibunya mati perlahan karena terjerat hutang biaya operasi sebesar lima ratus juta, Rio nekat kabur dari rumah sakit di tengah malam untuk menjemput ajalnya sendiri, meninggalkan ibunya yang hancur dalam tangisan. Namun takdir berkata lain; lima belas tahun berlalu, Rio yang diselamatkan oleh seorang konglomerat kini kembali sebagai Direktur Utama Grup Sentosa yang berkuasa, hanya untuk mendapati kenyataan yang menjijikkan. Rizky, adik kecil yang dulu sangat ia sayangi, kini tumbuh menjadi pria gila harta yang tega mengusir dan tak mengakui ibu kandung mereka yang pincang di tengah kemewahan pesta pernikahannya. Di detik itulah Rio melangkah maju ke tengah pesta, bukan lagi sebagai kakak yang rela berkorban, melainkan sebagai sang penguasa yang akan menghancurkan siapa pun yang berani meneteskan air
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Tap tap tap.
Langkah kaki Rio terasa sangat berat siang ini.
Matahari bersinar sangat terik seperti ingin membakar aspal jalanan.
Tangan kanannya menggenggam erat tangan adiknya yang terus melangkah riang.
Tangan kirinya diam-diam meremas ujung bajunya tepat di depan dada.
Ada rasa ngilu yang menusuk-nusuk dari balik tulang rusuknya.
"Kak Rio, kita mau langsung pulang?" tanya Rizky sambil mendongak.
Bocah tujuh tahun itu menatap kakaknya dengan mata bulat yang penuh harap.
Rio memaksakan sebuah senyuman di wajahnya yang mulai pucat pasi.
"Iya, kita pulang sekarang," jawab Rio dengan suara sedikit bergetar.
Tiba-tiba langkah Rizky terhenti di depan sebuah toko roti kecil di pinggir jalan.
Kaca etalase toko itu sudah kusam dan penuh debu jalanan.
Namun mata Rizky berbinar cerah melihat sebuah kue tart kecil di dalamnya.
Kue itu sangat sederhana dengan krim putih dan satu buah ceri merah di tengahnya.
"Kak, hari ini kan Rizky ulang tahun," cicit bocah itu pelan.
Rizky menunduk sambil memainkan ujung sepatunya yang sudah jebol di bagian ibu jari.
"Teman-teman Rizky kalau ulang tahun selalu tiup lilin," lanjutnya dengan suara serak.
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Rizky.
Tes.
Satu tetes air mata jatuh membasahi punggung tangan Rio yang memeganginya.
Hati Rio terasa seperti diiris sembilu melihat adiknya menangis tanpa suara.
Tangannya perlahan merogoh saku celananya yang berisi selembar uang lima puluh ribu rupiah.
Uang itu lecek dan sedikit basah oleh keringat dingin Rio.
"Rio, ini uang hasil cuci baju dari pagi sampai siang," pesan ibunya tadi pagi terngiang di telinga.
"Kamu langsung belikan obat jantungmu ya, Ibu tidak mau kamu sesak nafas lagi," kata ibunya saat itu.
Harga obat penahan sakit jantungnya pas lima puluh ribu rupiah.
Obat itu adalah satu-satunya penyambung nyawanya untuk bisa bertahan bulan ini.
Tapi Rio melihat bahu adiknya bergetar hebat menahan tangis yang tertahan.
"Obat rasanya pahit dan tidak akan membuat adikku tersenyum," batin Rio.
"Aku kuat, cuma telat minum obat sehari tidak akan membuatku mati hari ini," ucap Rio dalam hati meyakinkan dirinya.
Rio mengusap puncak kepala Rizky dengan sangat lembut.
"Jangan menangis, anak jagoan masa cengeng di jalan," hibur Rio sambil tersenyum lebar.
Rizky mendongak sambil mengusap ingusnya dengan lengan bajunya yang kotor.
"Kita beli kue itu sekarang," ucap Rio mantap tanpa keraguan.
Mata Rizky langsung melebar tidak percaya mendengar ucapan kakaknya.
"Beneran Kak?" tanya Rizky memastikan sekali lagi.
Rio mengangguk lalu menuntun adiknya masuk ke dalam toko roti tersebut.
Kring.
Lonceng kecil di atas pintu berbunyi nyaring.
Udara dingin AC toko langsung menyambut mereka berdua.
Tapi bagi Rio udara dingin itu malah membuat dadanya semakin terasa sesak dan berat.
Dia menahan nafas sejenak untuk mengurangi rasa sakit yang menjalar.
"Beli kue yang itu satu ya Mbak," tunjuk Rio ke arah etalase kaca.
Kasir itu mengambilkan kue tersebut dan memasukkannya ke dalam kotak kardus kecil.
"Harganya empat puluh lima ribu rupiah," kata kasir itu datar.
Rio menyerahkan uang leceknya dengan tangan yang sedikit gemetar menahan nyeri.
Dia menerima kembalian lima ribu rupiah beserta sebuah kotak kue kecil.
"Terima kasih Kak Rio!" seru Rizky sambil memeluk erat pinggang kakaknya.
Rasa sakit di dada Rio seketika hilang melihat tawa adiknya yang begitu lepas.
"Sama-sama, tapi jangan bilang Ibu ya kalau uangnya buat beli kue," pesan Rio.
Rizky mengangguk cepat tanda setuju dengan perjanjian rahasia mereka.
"Nanti Kakak bilang ke Ibu kalau obatnya sedang habis di apotek," tambah Rio.
Mereka berdua pun berjalan pulang dengan perasaan bahagia.
Rizky memeluk kotak kue itu seperti memeluk harta karun yang sangat berharga di dunia ini.
Sepanjang jalan Rizky terus berceloteh tentang harapannya saat meniup lilin nanti malam.
Rio hanya menanggapi dengan anggukan dan senyuman tipis.
Dia harus menghemat tenaga karena nafasnya semakin terasa berat setiap kali melangkah.
Keringat dingin terus mengucur deras dari pelipisnya.
Setiap langkah terasa seperti membawa beban puluhan kilogram di punggungnya.
Waktu berlalu hingga langit berubah menjadi gelap pekat.
Malam pun tiba di kawasan rumah petak kumuh yang padat penduduk itu.
Kriet.
Pintu kayu reyot rumah mereka terbuka dengan pelan.
Santi melangkah masuk dengan langkah gontai dan wajah yang sangat lelah.
Kaki kirinya diseret perlahan karena rasa ngilu yang luar biasa.
Bekerja menjadi buruh cuci seharian membuat cacat di kakinya semakin menyiksa tubuhnya.
Ruangan sempit berukuran tiga kali empat meter itu tampak gelap gulita tanpa penerangan.
"Rio? Rizky? Kalian sudah tidur nak?" panggil Santi dengan suara serak kelelahan.
Santi meraba-raba dinding kayu mencari sakelar lampu di dekat pintu.
Klak.
Suara pemantik korek api terdengar dari sudut ruangan.
Sebuah cahaya kecil muncul menerangi kegelapan malam.
Cahaya itu berasal dari sebatang lilin kecil yang tertancap di atas kue tart sederhana.
"Selamat ulang tahun Rizky," nyanyi Rio dengan suara pelan dan tersengal.
"Selamat ulang tahun Rizky," ulang Rio sambil berjalan tertatih mendekat.
Wajah Rizky bersinar terang di bawah cahaya lilin yang bergoyang ditiup angin malam.
Senyumnya mengembang sangat lebar menampilkan giginya yang berantakan.
Santi mematung di ambang pintu melihat pemandangan mengharukan itu.
Kantong plastik berisi sisa makanan dari majikannya nyaris terjatuh dari genggaman.
Matanya langsung memanas melihat kedua jagoan kecilnya.
Dia tahu persis dari mana uang untuk membeli kue tart itu berasal.
Pasti Rio menggunakan uang obatnya untuk membahagiakan adiknya yang sedang berulang tahun.
Ada rasa marah sekaligus sedih yang berkecamuk di dalam dada Santi.
Dia marah karena Rio mengabaikan kesehatannya sendiri demi sebuah kue.
Tapi dia juga sedih karena sebagai ibu dia tidak bisa membelikan kue untuk anak bungsunya.
Santi buru-buru mengusap air matanya yang nyaris menetes jatuh.
Dia berjalan tertatih menghampiri kedua anaknya yang duduk beralaskan tikar pandan kusam.
"Ibu! Kak Rio membelikan Rizky kue ulang tahun!" seru Rizky kegirangan menyambut ibunya.
Santi duduk bersimpuh lalu memeluk tubuh kecil Rizky dengan erat.
"Selamat ulang tahun ya anak Ibu yang paling tampan," ucap Santi sambil mencium pipi kotor Rizky.
Santi lalu beralih menatap anak sulungnya dengan tatapan penuh selidik.
"Kamu tidak beli obatmu Nak?" tanya Santi dengan nada suara yang sangat khawatir.
Rio menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar menutupi penderitaannya.
"Obatnya habis Bu di apotek, besok pagi baru ada lagi," bohong Rio lancar.
Santi tahu Rio berbohong tapi dia memilih untuk diam dan tidak merusak suasana.
"Ayo tiup lilinnya Ky, lilinnya mau habis tuh," potong Rio mengalihkan pembicaraan mereka.
Rizky segera memejamkan mata dan menautkan kedua tangannya di depan dada.
"Semoga Ibu sehat terus, dan semoga penyakit jantung Kak Rio cepat sembuh," doa Rizky dengan suara lantang dan polos.
Mendengar doa polos itu dada Santi terasa seperti dipukul palu godam raksasa.
Hatinya hancur berkeping-keping melihat anak-anaknya yang harus menderita sejak kecil.
Fuh.
Rizky meniup lilin itu hingga padam seketika.
Ruangan kembali gelap gulita sebelum Santi akhirnya menekan sakelar lampu utama.
Terang lampu bohlam kuning yang redup itu menyorot wajah Rio yang ternyata sudah pucat pasi.
"Ayo kita potong kuenya Kak!" seru Rizky antusias mengambil pisau plastik.
Rizky memotong kue itu menjadi tiga bagian yang tidak sama besar.
Potongan pertama yang ada buah cerinya dia berikan kepada ibunya tersayang.
"Ini buat Ibu karena Ibu sudah capek kerja buat kita," kata Rizky tulus.
Santi menerima piring kertas itu dengan tangan gemetar menahan tangis.
Potongan kedua Rizky berikan kepada kakaknya yang masih duduk terdiam.
"Ini buat Kak Rio yang sudah membelikan kue," ucap Rizky lagi.
Rio mengangkat tangannya untuk menerima piring itu dari adiknya.
Tapi tangan Rio tiba-tiba berhenti di udara begitu saja.
Piring kertas itu terjatuh ke lantai tanpa sempat dipegang.
Kue itu hancur berantakan mengenai tikar pandan yang kotor.
Senyum di wajah Rio tiba-tiba membeku kaku layaknya patung.
Mata anak sepuluh tahun itu terbelalak lebar menatap kosong ke depan.
Tiba-tiba kedua tangannya mencengkeram dada kirinya dengan sangat kuat dan beringas.
Kaosnya sampai kusut karena cengkeraman tangannya yang putus asa.
Nafas Rio mendadak putus seketika seolah ada yang mencekik lehernya dari dalam.
Terdengar suara tarikan nafas yang sangat kasar dan mengerikan dari tenggorokannya.
Suaranya seperti orang yang sedang tenggelam dan kehabisan pasokan oksigen.
"Kakak? Kakak kenapa?" tanya Rizky kebingungan melihat tingkah kakaknya.
Rio tidak bisa menjawab karena mulutnya terbuka lebar meraup udara dengan sia-sia.
Bruk!
Tubuh Rio tumbang ke depan dengan keras.
Wajahnya menghantam sisa kue tart di lantai hingga hancur berantakan.
Tubuh kecil itu mulai kejang-kejang hebat tidak terkendali di atas tikar.
Bibir Rio perlahan berubah menjadi biru pucat seperti mayat.
Matanya mendelik ke atas menyisakan bagian putihnya saja yang terlihat mengerikan.
Prang!
Santi melempar piringnya ke sembarang arah karena terkejut.
"Rio!" jerit Santi memecah keheningan malam yang sunyi senyap.
Jeritan itu sangat melengking dan penuh keputusasaan seorang ibu.
Santi merangkak panik menghampiri tubuh anak sulungnya yang sedang meregang nyawa.
Dia membalikkan tubuh Rio dan memangku kepalanya dengan tangan gemetar.
"Rio! Bangun Nak! Buka matamu!" teriak Santi sambil menepuk-nepuk pipi Rio.
Tubuh Rio semakin kaku dan nafasnya semakin hilang timbul secara mengerikan.
Keringat dingin membasahi seluruh tubuh anak malang itu hingga kaosnya basah kuyup.
"Ibu! Kak Rio kenapa Ibu?!" tangis Rizky meledak hebat melihat kakaknya sekarat.
Santi tidak mempedulikan tangisan histeris anak bungsunya.
Pikirannya kosong melihat Rio yang sedang berjuang melawan maut di pangkuannya.
"Tolong! Siapa saja tolong anak saya!" teriak Santi ke arah pintu yang terbuka lebar.
Air mata Santi mengalir deras membasahi wajah pucat Rio yang sudah tidak sadarkan diri.
Hanya gara-gara telat minum obat satu hari nyawa anaknya kini berada di ujung tanduk.
"Bertahanlah Nak, Ibu mohon bertahanlah," isak Santi memeluk erat tubuh kaku Rio.
Sementara itu di luar rumah hujan rintik-rintik mulai turun membasahi bumi.
Seolah langit malam itu ikut menangisi tragedi menyedihkan di keluarga kecil tersebut.
Rio kehilangan kesadarannya sepenuhnya di tengah tangisan ibu dan adiknya yang menyayat hati.