Dirga mengira Vara adalah istri polos yang mudah dibohongi. Namun, Vara sudah mengetahui perselingkuhan dan rencana busuk suaminya.
Kini, hanya perlu berpura-pura menjadi wanita yang sama... sebelum semuanya kebalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesempatan licik
Ting Tong!
Dirga menekan bel sebuah rumah yang menjadi tempat tinggal orang yang diharapkan bisa membantunya. Sambil menunggu, ia mengedarkan pandangan ke sekitar. Suasana kompleks perumahan itu terlihat nyaman dan tenang.
Tak lama kemudian, pagar terbuka. Seorang wanita paruh baya muncul dari baliknya.
“Mencari siapa, Pak?” tanyanya ramah.
“Saya ingin bertemu dengan Adit. Kami sudah membuat janji sebelumnya.”
“Baik, Pak. Silakan masuk.”
Wanita itu membukakan pagar dan mempersilakan Dirga masuk ke dalam rumah.
“Silakan duduk dulu, Pak. Saya panggilkan Pak Adit.”
Dirga mengangguk, lalu duduk di salah satu sofa ruang tamu.
Tak lama kemudian, seorang pria turun dari tangga. Usianya tampak lebih muda daripada Dirga.
“Pak Dirga?” tanyanya memastikan.
Dirga mengangguk. “Benar.”
Pria bernama Adit itu menghampiri sofa lain, lalu duduk berhadapan dengan Dirga. Tak lama kemudian, seorang asisten rumah tangga datang membawa teh hangat dan beberapa camilan.
“Silakan diminum, Pak.”
“Terima kasih,” jawab Dirga singkat sebelum menyesap teh yang disuguhkan.
Setelah asisten rumah tangga itu pergi, Adit mulai berbicara.
“Saya sudah berbicara dengan Reno mengenai tujuan kedatangan Bapak kemari.”
Dirga meletakkan cangkirnya di atas meja.
“Bagus. Kalau begitu, saya tidak perlu menjelaskan dari awal lagi. Saya membutuhkan bantuan Anda untuk mengambil alih aset milik istri saya, Anderson Persada Group.”
Adit mengangguk pelan.
“Saya mengerti, Pak. Namun, jika Bapak ingin mengambil alih aset tersebut dalam waktu singkat tanpa sepengetahuan pemilik aslinya, ada beberapa hal yang harus dipersiapkan terlebih dahulu.”
“Apa saja yang dibutuhkan?”
Adit menyebutkan sejumlah dokumen dan berkas penting yang harus dikumpulkan. Ia menjelaskan bahwa setelah seluruh persyaratan tersebut terpenuhi, timnya akan menyiapkan dokumen resmi perusahaan untuk proses pengalihan kepemilikan.
Namun, ada satu tahap terakhir yang tidak bisa dihindari.
Tanda tangan pemilik asli.
Dirga terdiam.
Untuk mendapatkan dokumen dan berkas yang diperlukan, ia mungkin masih bisa mencari jalan. Meskipun tidak mudah, ia memiliki akses ke sejumlah informasi perusahaan berkat posisinya sebagai suami Vara.
Namun, tanda tangan asli Vara adalah persoalan berbeda. Ia tahu istrinya tidak akan begitu saja menyetujui pengalihan aset, apalagi menandatangani dokumen yang bisa membuatnya kehilangan perusahaan sendiri.
“Kalau soal tanda tangan, sepertinya akan sangat sulit,” ujar Dirga akhirnya.
Adit mengangguk, seolah sudah memperkirakan tanggapan tersebut.
“Saya tahu, Pak. Tapi, bagaimana kalau saya membantu mempermudah bagian itu?”
Dirga langsung menatapnya.
“Bagaimana caranya?”
Adit terdiam sejenak, kemudian menyandarkan punggungnya ke sofa.
“Sebenarnya, itu bukan pekerjaan yang mudah. Kami membutuhkan persiapan khusus, dan tentu saja, biayanya tidak sedikit.”
Dirga mengibaskan tangannya dengan percaya diri.
“Soal biaya, Anda tidak perlu khawatir. Saya sanggup membayarnya.”
Adit tersenyum tipis.
“Sepuluh miliar rupiah. Apa Bapak sanggup?”
Deg!
Dirga membelalakkan mata.
“Sepuluh miliar?”
“Iya, Pak Dirga.”
Adit mengambil cangkirnya, lalu menyesap teh dengan santai sebelum melanjutkan penjelasannya.
“Anderson Persada Group bukan perusahaan biasa. Anak perusahaannya tersebar hampir di seluruh negeri ini, dan keuntungannya bisa mencapai triliunan rupiah. Kalau Bapak ingin mengambil alih perusahaan sebesar itu dari pemilik aslinya, tentu diperlukan biaya yang besar.”
Adit meletakkan cangkirnya kembali.
“Lagi pula, saya tidak bekerja sendirian. Saya memiliki tim yang akan menangani urusan ini. Biaya tersebut mencakup pekerjaan mereka juga. Pada akhirnya, Bapaklah yang akan mendapatkan keuntungan terbesar jika semuanya berjalan sesuai rencana.”
Dirga terdiam.
Apa yang dikatakan Adit memang masuk akal. Anderson Persada Group merupakan perusahaan besar dengan aset dan keuntungan yang luar biasa. Jika berhasil mengambil alihnya, sepuluh miliar rupiah bukanlah jumlah yang seberapa dibandingkan dengan kekayaan yang akan ia kuasai.
Namun, tetap saja, mengeluarkan uang sebanyak itu bukan keputusan kecil.
Adit memperhatikan perubahan ekspresi Dirga. Ia kemudian tersenyum tipis.
“Saya tidak memaksa, Pak. Kalau Bapak merasa biayanya terlalu besar, tidak masalah. Saya masih memiliki banyak klien lain yang membutuhkan jasa kami.”
Adit meletakkan cangkirnya, lalu mulai beranjak dari sofa.
“Kalau begitu, silakan tinggalkan—”
“Tunggu!”
Adit menghentikan langkahnya dan menoleh.
Dirga berdiri dari sofa. Ia sudah memikirkan keuntungan yang akan didapatkannya jika berhasil merebut perusahaan Vara. Bayangan menjadi pemilik Anderson Persada Group membuatnya enggan mundur hanya karena biaya sepuluh miliar rupiah.
“Saya bersedia,” tegas Dirga. “Berapa pun biayanya, saya akan membayarnya.”
Senyum Adit kembali mengembang.
“Pilihan yang tepat, Pak Dirga.”
Dirga mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengannya.
“Saya harap Anda tidak mengecewakan saya.”
Adit menyambut uluran tangan itu.
“Tentu saja. Kami akan melakukan yang terbaik.”
Setelah kesepakatan tercapai, Dirga berpamitan kepada Adit dengan senyum penuh kemenangan.
Tak lama kemudian, mobil Dirga meninggalkan kediaman Adit. Sepanjang perjalanan, ia tak bisa menyembunyikan senyum puasnya. Ia merasa selangkah lebih dekat untuk menguasai seluruh aset Vara.
Sementara itu, Adit berdiri di balkon, memperhatikan mobil Dirga yang semakin menjauh. Ia menggelengkan kepala sambil menyunggingkan senyum tipis.
“Dasar serakah,” gumamnya pelan.
Adit kemudian merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. Ia segera menghubungi seseorang.
Panggilan itu langsung tersambung.
“Bagaimana?” tanya seseorang di seberang sana.
“Dia langsung percaya begitu saja,” jawab Adit.
“Kerja yang bagus.”
Adit tersenyum puas.
“Tentu!”
••
“Akhirnya, restoran ini kembali seperti dulu.”
Vara tersenyum haru saat menatap para pelanggan yang memenuhi setiap meja.
“Daddy, Mommy, lihatlah. Aku berhasil mengembalikannya.”
Bagaimana tidak senang? Baru saja dibuka kembali, restorannya sudah kembali ramai seperti sediakala. Para pelanggan yang sebelumnya mengeluhkan kualitas makanan kini bisa menikmati hidangan dengan tenang. Bahkan, beberapa di antara mereka terdengar memuji cita rasa makanan yang kembali seperti dulu.
Para karyawan pun bekerja dengan lebih santai, tetapi tetap cekatan dalam melayani pelanggan. Tak ada lagi wajah tegang seperti sebelumnya. Suasana restoran terasa hangat dan menyenangkan.
Vara berjalan menghampiri salah satu pelanggan yang sudah dikenalnya sejak lama.
“Bu Renata,” sapanya ramah.
Wanita itu langsung menoleh begitu mendengar namanya dipanggil.
“Eh, Vara! Bagaimana kabarmu, Nak?” tanya Renata dengan senyum hangat.
“Kabar saya baik, Bu. Ibu dan keluarga juga sehat, kan?” Vara melirik anggota keluarga Renata yang duduk bersamanya.
“Sehat, Nak.”
Vara tersenyum lega sebelum bertanya, “Syukurlah. Kalau boleh tahu, bagaimana makanannya, Bu? Apa rasanya sudah sesuai dengan yang Ibu harapkan?”
“Enak, Vara. Rasanya sudah kembali seperti dulu.” Renata mengangguk puas. Namun, tak lama kemudian, ekspresinya berubah sedikit heran. “Tapi, kenapa beberapa waktu lalu rasanya berbeda, ya? Saya sampai hampir malas datang ke sini lagi.”
Senyum Vara sedikit melunak. Ia memahami kekecewaan pelanggan yang sempat merasakan penurunan kualitas makanan di restorannya.
“Maafkan saya, Bu Renata. Memang sempat ada masalah yang membuat kualitas makanan di restoran ini menurun. Itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya sebagai pemilik.”
Vara menatap Renata dengan sungguh-sungguh.
“Tapi, saya berjanji kejadian itu tidak akan terulang lagi. Mulai sekarang, saya akan memastikan kualitas bahan makanan dan setiap hidangan yang disajikan tetap terjaga.”
Renata mengangguk, tampak puas mendengar penjelasan tersebut.
“Baguslah kalau begitu. Saya senang kamu kembali mengurus restoran ini sendiri. Sayang sekali kalau tempat sebagus ini sampai kehilangan pelanggan hanya karena kualitas makanannya menurun.”
“Terima kasih atas pengertiannya, Bu. Masukan dari pelanggan sangat berarti bagi saya.”
“Kalau begitu, saya akan sering-sering datang lagi. Apalagi, suami dan anak-anak saya juga suka makan di sini.”
Vara tertawa kecil mendengarnya.
“Dengan senang hati, Bu. Saya tunggu kedatangan Ibu dan keluarga lagi.”
Renata tersenyum sebelum kembali menikmati hidangannya. Vara pun melangkah pergi untuk menyapa pelanggan lain.
Melihat restoran yang kembali dipenuhi pengunjung, hatinya terasa hangat. Namun, di balik kebahagiaan itu, ada tekad yang semakin kuat dalam dirinya.
Ia tidak akan membiarkan siapa pun merusak warisan kedua orang tuanya lagi.
“Bu Vara,” panggil Kania sambil menghampiri Vara yang baru saja selesai menyapa pelanggan.
“Ada apa?”
“Ada seseorang yang ingin melamar kerja, Bu.”
Vara menoleh. “Memangnya ada posisi yang kosong?”
“Ada, Bu. Pelayan dan tukang cuci piring.”
Vara mengangguk pelan. “Suruh dia masuk ke ruangan saya.”
“Baik, Bu.”
Kania segera berpamitan, lalu menghampiri seorang wanita yang sedang menunggu di dekat pintu masuk.
“Ayo, ikut saya ke ruangan bos,” katanya.
“Baik, Kak,” jawab wanita itu sambil mengikuti langkah Kania.
Tak lama kemudian, mereka tiba di ruangan Vara. Kania mengetuk pintu sebelum masuk, lalu mempersilakan wanita tersebut mendekat.
“Bu, ini orang yang ingin melamar kerja,” lapor Kania.
Vara mengangguk. “Silakan duduk.”
“Terima kasih, Bu,” ucap wanita itu sopan sebelum duduk di hadapan Vara.
Vara memperhatikan wajahnya sekilas.
“Siapa nama kamu?”
“Helena, Bu.”
“Helena.” Vara mengangguk kecil. “Kamu kelihatannya baru lulus sekolah?”
“Iya, Bu,” jawab Helena.
Vara tersenyum tipis. “Lalu, kenapa kamu ingin bekerja di restoran ini?”
Helena merapikan posisi duduknya sebelum menjawab, “Saya ingin membantu keluarga, Bu. Setelah lulus sekolah, saya ingin mencari pekerjaan supaya bisa meringankan beban orang tua saya.”
Vara mengangguk pelan. “Begitu, ya. Baiklah, saya mengerti. Kalau begitu, boleh saya lihat berkas lamaran yang kamu bawa?”
“Tentu, Bu.”
Helena segera menyerahkan map berisi berkas lamarannya.
Vara menerimanya, lalu mulai membaca setiap lembar dengan saksama. Sesekali, ia membalik halaman dan memeriksa beberapa informasi yang tercantum di sana.
Setelah selesai, Vara meletakkan berkas tersebut di atas meja. Ia kemudian membuka laptop dan mengetik sesuatu.
Helena duduk menunggu dengan kedua tangan bertaut di pangkuan. Ia berharap bisa diterima bekerja di restoran itu.
Namun, saat membaca sesuatu di layar laptopnya, Vara sempat mengerutkan kening.
Hanya sesaat.
Setelah itu, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring.
Berani sekali mengirim orang ke tempatku.
Vara menutup laptopnya, lalu kembali menatap Helena dengan ekspresi tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
“Baiklah, Helena. Saya menerima kamu bekerja di sini.”
Wajah Helena langsung berseri-seri.
“Benarkah, Bu? Terima kasih banyak! Saya berjanji akan bekerja dengan sungguh-sungguh.”
Vara mengangguk.
“Bagus. Untuk saat ini, kamu akan ditempatkan sebagai tukang cuci piring.”
Senyum Helena perlahan memudar.
“Tukang cuci piring, Bu?” tanyanya, berusaha memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
“Iya. Memangnya kenapa?” Vara mengangkat sebelah alis. “Kamu tidak mau?”
Helena buru-buru menggeleng.
“Tidak, Bu. Saya mau, kok.”
“Bagus.” Vara menyandarkan punggungnya pada kursi. “Kamu bisa mulai bekerja hari ini.”
Kemudian, ia menoleh kepada Kania yang sejak tadi berdiri di samping pintu.
“Kania, bawa dia dan ajari apa saja yang harus dilakukan.”
“Baik, Bu.”
Kania mempersilakan Helena berdiri, lalu mengajaknya keluar dari ruangan.
Namun, tepat sebelum pintu tertutup, suara Vara kembali terdengar.
“Kania.”
Kania segera menoleh. “Iya, Bu?”
“Buatkan saya makanan level nol.”
Kania terdiam sesaat.
Kalimat itu bukan sekadar permintaan makanan. Itu adalah kode rahasia yang hanya dipahami oleh orang-orang tertentu di pihak Vara.
Tatapannya sempat beralih kepada Helena yang berdiri di sampingnya. Namun, ia segera kembali menatap Vara dan mengangguk.
“Baik, Bu.”
Setelah Kania dan Helena keluar, pintu ruangan pun tertutup rapat.
Vara menyandarkan tubuhnya di kursi, kemudian memutar kursinya menghadap jendela. Dari sana, ia bisa melihat sebagian area restoran yang kembali dipenuhi pelanggan.
Senyum tipis muncul di bibirnya.
“Jadi, kamu mau memasukkan tikus ke restoranku, ya?”
Vara melirik berkas lamaran Helena yang masih tergeletak di atas meja.
“Sayangnya, kamu salah memilih tempat.”
Ia mengambil berkas itu kembali, membuka halaman yang tadi sempat diperiksanya, lalu mengetuk-ngetukkan jarinya pada meja.
“Kalau memang ingin mengirim orang untuk mengawasiku, setidaknya pilih seseorang yang lebih pintar menyembunyikan identitasnya.”
Vara tersenyum dingin.
Ia sudah menyadari ada sesuatu yang tidak beres sejak membaca berkas Helena. Ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan informasi yang tercantum di dalamnya.
Namun, Vara tidak berniat langsung mengusir wanita itu.
Sebaliknya, ia justru ingin melihat sejauh mana Helena akan menjalankan tugasnya.
“Silakan bermain, Helena,” gumamnya pelan. “Aku ingin tahu siapa yang mengirimmu dan apa sebenarnya tujuan kalian.”
Vara kembali membuka laptopnya.
Kali ini, senyumnya semakin kentara.
“Mulai sekarang, akulah yang akan mengawasi setiap langkahmu.”