Seorang pengembara, lulusan pelatihan bela diri di distrik paling selatan, diutus gurunya berkelana untuk mencari tahu identitas sebuah ancaman misterius. Ia bukan pahlawan terpilih, hanya seorang petarung tangguh yang percaya diri pada kemampuannya. namun Keyakinan itu hancur, pada suatu hari, ketika sebuah entitas yang membenci manusia muncul dan menyerangnya. Ia melawan sekuat tenaga, namun kalah telak. Entitas itu lalu menyerap kedelapan kristal dan membawanya kabur ke langit, untuk dipersembahkan kepada tuannya, sang boss entitas, sementara si pengembara tergeletak pingsan.
Ketika ia sadar, dunia sudah berubah. Tanpa kristal penyeimbang, kawanan makhluk kroco keluar dari persembunyian, mendirikan kemah di mana-mana, dan menjarah harta serta persediaan makanan manusia. Mampukah seorang pengembara mengembalikan kedelapan kristal tersebut ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AryaAulani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 TIGA CAHAYA
Tak seorang pun bicara untuk waktu yang lama.
Aku hanya mendengar api yang berderak di kejauhan, air kanal yang menetes dari pipa patah, dan napas kami berempat yang pelan-pelan melambat. Di atas Latoona, bulan separuh menggantung di antara asap yang menipis. Malam yang tadi dipenuhi dentang besi dan jeritan itu kini terasa seperti dunia yang lupa cara bersuara.
Haris menurunkanku perlahan ke atas tumpukan kain yang entah dari kios mana. Lengan kirinya hitam sampai bahu, dan darah dari rusuknya sudah membasahi seluruh sisi kausnya. Tapi ia duduk tegak, dan satu matanya yang terbuka menatap jalan di depan kami seolah belum percaya semuanya sudah selesai.
"Apakah....sudah selesai?" bisik Iyan.
"Ah....iya..sudah," jawab Haris.
Iyan menjatuhkan diri di tanah dan tertawa kecil, tawa lemah orang yang terlalu lelah untuk menangis. Vivi turun dari bahunya dan meringkuk di lututku, sayapnya masih gemetar. Aku ingin mengatakan sesuatu padanya, tapi lidahku seperti kapas.
Lalu aku melihatnya.
Di tengah jalan, tempat Anchor lenyap menjadi serbuk, batu biru pucat yang tadi tergeletak retak mulai bergetar. Pelan, nyaris tak terlihat, seperti napas makhluk yang baru terbangun. Retakan halus di permukaannya merapat sendiri, dan cahayanya menguat. Biru pucat, seperti embun yang menolak mengering. Ia terangkat dari tanah, berputar sekali, lalu melayang rendah di atas jalan yang retak.
"Guru, itu guru lihat tidak ada yang bersinar didepan" bisikku.
"Iya..aku lihat."
Dari sisa-sisa tubuh Hanzo, cahaya kedua menyala. Ungu pekat, seperti langit sebelum badai, berdenyut pelan. Ia naik juga, bergoyang, lalu melayang mendekati cahaya biru. Dua titik itu menggantung berdampingan, saling berputar seperti dua bintang kecil.
Aku merasakan sesuatu bergetar di pinggangku. Kantung kulit di sabukku. Batu merah dari Artheria berdenyut, hangat, seakan jantung kecil yang mendadak berdetak lebih cepat.
"Jangan asal menyentuh," kata Haris. "Itu bisa jadi jebakan."
Tapi aku tak merasakan bahaya. Insting di tengkukku, yang malam ini berkali-kali menyelamatkanku, diam. Yang kurasakan justru kehangatan aneh, seperti saat Eldan membuka peti kayunya di Artheria.
"Ini bukan jebakan," kataku. Suaraku serak. "Aku yakin."
Haris menatapku sebentar. Lalu ia mengangguk dan mengulurkan satu lengan yang sehat. "Yosh....pelan-pelan."
Aku bangkit dengan bertumpu padanya. Setiap langkah membuat rusukku menjerit, dan lututku nyaris menyerah dua kali. Tapi aku berjalan, selangkah demi selangkah, melewati puing, serpihan kaca, dan genangan air kanal yang memantulkan bulan.
Semakin dekat, semakin jelas. Cahaya biru itu bukan sekadar cahaya. Di dalamnya ada bentuk, lonjong seperti tetes air, dengan titik-titik kecil berkilau seperti bintang di permukaan sungai malam. Cahaya ungu di sampingnya berpendar lebih dalam, seperti senja yang dikurung dalam kaca.
Batu akik.
Aku mengulurkan kedua telapak tanganku. Cahaya-cahaya itu turun pelan-pelan, seperti burung kecil yang menemukan sarang, dan mendarat di kulitku.
Dinginnya sejuk, bukan dingin yang menyakitkan. Cahaya biru memadat menjadi batu sebesar telur burung, permukaannya mulus, biru bening seperti embun pagi yang disentuh cahaya. Cahaya ungu menyusul, menjadi batu yang sama besar, gelap seperti anggur tua, dengan kilau keperakan di intinya.
"Ternyata mereka membawa lebih dari satu," kata Haris pelan, bersandar di belakangku. "Pantas aja kekuatan mereka berlipat lipat tadi. Mereka menelan batu ini seperti obat."
"Ah..jadi ini yang mereka curi..." Iyan menggeleng tak percaya.
Aku menatap dua batu di telapak tanganku. Lalu dengan tangan gemetar, kurogoh kantung kulit di sabukku dan mengeluarkan batu merah dari Artheria.
Tiga batu itu bertemu di tengah telapakku.
Ting.
Bunyi halus, seperti ujung gelas yang disentuh. Cahaya merah, biru, dan ungu saling merambat, menyambung seperti tiga benang yang akhirnya menemukan jarum. Seluruh udara di sekeliling kami bergetar pelan, dan kelopak bunga entah dari mana, terbawa angin dari seberang sungai, jatuh berputar di atas kepala kami.
Lalu cahaya itu mereda. Tiga batu tergeletak berdampingan di tanganku, tenang, hangat, saling bersandar seperti saudara yang akhirnya pulang.
Kini batu akik sudah terkumpul tiga.
Tiga dari lima.
"Oke, sisa dua lagi," bisikku.
"Iya, sisa dua lagi," ulang Haris, dan senyumnya muncul, lebar, lelah, dan jujur. "lebih baik jangan dipanggil kristalnya sekarang. Takutnya tubuhmu tak akan kuat menahan kekuatan sebesar itu. Simpan dulu."
Aku mengangguk dan menaruh ketiganya ke dalam kantung kulit, rapat-rapat, di balik sabuk.
Langkah terseret mendekat dari belakang. Iyan berdiri di sampingku, wajahnya kotor oleh jelaga, sebelah matanya bengkak. Ia menatap kantungku, lalu menatapku, dan matanya berkaca-kaca.
"Akhirnya..," katanya, dan suaranya pecah. "Batunya... batunya.....selamat juga
"Iya...kita juga selamat," koreksiku.
Dunia mendadak miring.
Bulan di atas kepalaku bergeser, bintang-bintang berputar, dan suara Iyan mengecil seperti datang dari ujung terowongan panjang. Lututku tak lagi mau menahan berat. Aku melihat wajah Iyan yang kaget, tangan Haris yang bergerak cepat, mulut Vivi yang terbuka menjerit tanpa suara.
"ARKA!"
Gelap menyambutku seperti selimut hangat.
\*\*\*\*\*\*\*\*
Ara tak tidur semalaman.
Ia berdiri di gerbang Reflower sampai fajar, katananya tertancap di tanah di sisi kakinya, kedua matanya terpaku pada jembatan batu yang menghubungkan distrik itu dengan Latoona. Ia mendengar guntur kemarin, melihat kilat dan kemudian cahaya api di cakrawala, dan mendengar gemuruh jauh yang membuat kaca-kaca jendela bergetar. Setiap kali ada suara, jarinya otomatis terangkat ke gagang pedang.
Tapi ia tak meninggalkan pos. Guru memberinya tugas, dan ia akan menjalankannya sampai selesai.
Menjelang subuh, ketika langit mulai berubah warna menjadi kelabu keunguan, gemuruh itu berhenti. Setelah itu hanya sunyi. Sunyi yang lebih menakutkan.
Ara menunggu satu jam lagi, memastikan tak ada bahaya yang mendekat, lalu menyerahkan jaga kepada dua murid yang baru terbangun. Ia berjalan pulang ke jinfa dengan langkah berat dan pikiran yang berputar-putar.
Guru pasti baik-baik saja. Guru tak pernah kalah.
Tapi ia tahu itu bukan jawaban, hanya doa.
Pada pagi harinya di dapur ia merebus air, menyeduh daun teh melati kesukaan Guru, dan menuangkannya ke cangkir tembikar. Ia memutuskan menunggu di ambang pintu aula sambil membawa teh itu, supaya begitu Guru pulang, ia bisa langsung menyodorkan sesuatu yang hangat. Sebuah kebiasaan kecil, tapi hanya itu yang bisa ia lakukan.
Ia berjalan di lorong sayap kiri sambil memegang cangkir dengan kedua tangan. Uapnya naik tipis, menyentuh dagunya.
Langkahnya terhenti.
Pintu ruang rawat di ujung lorong terbuka setengah. Dari celahnya, ia melihat selimut putih, mangkuk air, perban yang berserakan, dan seseorang berbaring di atas kasur tipis.
Rambut itu acak-acakan. Wajah itu pucat. Ada perban melilit dahi, bahu, dan sebagian dadanya yang tak tertutup selimut. Bibirnya pecah. Pipinya memar kebiruan.
Arka.
PRANGGG!
Cangkir tembikar itu jatuh ke lantai dan pecah, teh melati berhamburan, tapi Ara tak mendengarnya. Ia sudah berlari.
Pintu terbuka lebar. Ia jatuh berlutut di samping kasur, tangannya gemetar, tak tahu harus menyentuh yang mana. Dada Arka naik turun dengan napas pendek. Di bawah perban di rusuknya, ada bercak merah yang sudah mengering. Ujung jari-jarinya masih hangus.
"Arka?" Suaranya pecah. "Arka, kamu dengar aku?"
Tak ada jawaban.
"Kenapa dia... kapan..." Ara menoleh ke segala arah, mencari seseorang untuk ditanya, tapi ruangan itu kosong. Hanya Vivi yang tertidur meringkuk di bantal di dekat kepala Arka, sayapnya terlipat, wajah mungilnya basah bekas air mata. "Guru! Guru, di mana Guru?"
Tak ada yang menjawab. Ia menggenggam tepi selimut sampai buku-buku jarinya memutih. Jantungnya berdetak begitu keras hingga ia takut suaranya membangunkan semua orang.
"Kumohon," bisiknya. "Jangan pergi. Kita belum selesai latihan."
\*\*\*\*\*\*
Suara itu datang dari jauh.
Pelan, bergetar, seperti seseorang berbicara di balik dinding air. Aku mengerutkan dahi, menarik napas, dan merasakan aroma yang kukenal: kayu cendana, teh melati, dan sesuatu yang lain, wangi bunga samar yang menempel di rambut seseorang.
Kelopak mataku berat. Aku membukanya sedikit demi sedikit.
Langit-langit kayu. Cahaya pagi menembus kisi-kisi jendela. Di sampingku, seseorang duduk berlutut dengan wajah basah.
"Ara?"
Suaraku serak, nyaris tak terdengar. Tapi ia tersentak seperti disambar petir. Matanya melebar, bibirnya terbuka, dan sesaat ia hanya menatapku tanpa berkedip.
"Arka! Kamu... kamu akhirnya bangun!"
"Aku... di mana?"
"Kamu di jinfa! Di ruang rawatnya!" Ia mencondongkan tubuh, wajahnya sangat dekat, rambutnya jatuh menyentuh bahuku. "Kamu terluka parah! Kamu tahu betapa lamanya kamu tak sadar?! Apa ada yang sakit? Kepalamu? Dadamu? Bagian mana yang sakit? Aku akan panggil tabib! Atau Guru! Atau..."
"Ara."
"...atau ambilkan air! Kau butuh air, kan? Atau obat?"
"Ara, kumohon pelan-pelan."
Ia berhenti. Napasnya memburu. Matanya merah.
Aku mencoba tersenyum. Wajahku terasa kaku, tapi senyum kecil berhasil lolos. "Aku baik-baik saja. Cuma agak pusing."
Sunyi sesaat.
Wajah Ara yang tadi menegang oleh cemas perlahan melunak. Bibirnya bergetar, matanya berkaca-kaca, lalu sebuah senyum merekah di antara tetes air yang jatuh tanpa bisa ditahan, senyum yang lebar, bahagia, dan kacau sekaligus.
"Syukurlah," bisiknya. Ia menggenggam tanganku dengan kedua tangannya. Hangat, sedikit bergetar, sedikit basah. "Syukurlah kamu tidak apa-apa."
"Kamu menangis."
"Aku tidak menangis." Ia mengusap pipi dengan punggung tangan, tapi air matanya terus jatuh. "Aku cuma... kemasukan debu."
"memangnya ada debu di dalam ruangan?"
"Ussh...Diam!." Ia tertawa, tertahan, dan menunduk, menempelkan dahinya sebentar ke punggung tanganku. Ketika ia mengangkat wajah lagi, senyumnya tipis tapi tulus. "Syukur kamu tidak mati. Kalau kamu mati duluan, nanti siapa yang mau kuajak latihan lagi?"
Aku tertawa. Tawa itu menyakitkan, rusukku protes, tapi aku tak bisa berhenti.
"Jadi kamu cemas karena sparring partner?"
"Tentu saja." Ia mengangkat dagunya dengan gaya angkuh yang tak meyakinkan. "Mencari orang yang bisa bertahan lima ronde dengan mata tertutup itu sulit tau."
"Tapi...Aku kan kalah empat kali."
"Tapi kamu masih berdiri sesudahnya kan? Itu langka loh."
Kami berdua tertawa, pelan, di tengah ruangan yang bau obat dan teh melati yang tumpah. Di dekat bantalku, Vivi menggeliat, membuka satu mata, lalu melihat kami dan langsung terisak keras.
"Arka! Kamu hidup!"
"Iya, Aku masih hidup, Vivi."
"Aku tidak tidur semalaman! Aku menangis lima kali! Atau mungkin enam!"
"Tapi kamu tertidur di bantalku."
"Itu tadu cuma setengah tidur aja!"
Ara mengusap mata sekali lagi, lalu menatapku dengan sorot yang tak lagi hanya cemas. Ada sesuatu yang lebih dalam di sana, yang kucatat tapi belum berani kunamai
"Sekarang, kamu Istirahat dulu," katanya pelan. "Guru sedang diobati di aula. Iyan di dapur sedang memasak bubur, yang menurutku keputusan buruk. Tapi yang penting semuanya selamat."
"Lalu, batunya?"
Ia menunjuk meja kecil di sisi kasur. Di atasnya, kantung kulitku tergeletak rapi, berdenyut samar dan hangat.
Aku menarik napas panjang, lega, dan menatap langit-langit kayu yang kini tampak jauh lebih ramah dari malam tadi.
Tiga dari lima. Dan pagi ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tak merasa sendirian.