Di tinggal meninggal dunia oleh suami bukan keinginanku. namun terkadang ketika sebuah pilihan datang manusia tidak dapat menolaknya.
Saat pak Burhan dan Bu Salma menemui ku, agar aku menikahi anaknya Prasetio yang sudah beristri aku tidak punya jalan lain kecuali menerimanya.
karena keterbatasanku dalam mencari nafkah, dan demi menolong Prasetio yang kata ibunya butuh pendamping lantaran istrinya sakit parah.
Disinilah letak kesalahanku, tetapi ternyata justru kesalahanku ini adalah petunjuk terang tentang kematian ibuku.
Suatu hari tak sengaja aku menemukan selembaran dokumen, yang tercantum nama ayahku di lemari Pak Burhan, akhirnya sejarah kelam masa lalu terbongkar, aku tahu siapa sebenarnya suamiku Prasetio, Pak Burhan, Prilia istri pertama suamiku, ibunya Prilia, dan Bu Salma ibu mertuaku.
Ada apa sebenarnya di balik kematian ibuku?
Bagai mana selanjutnya hubunganku dengan Prasetio setelah semua terkuak?
Simak kisah panjangku dalam WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aina susiyanti77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 : Runtuhnya Sebuah Dinding Kebohongan
"Mas, kamu percaya sama fitnah perempuan gila ini?!" Suara Prilia mulai histeris. Tangannya yang gemetar mengusap kepalanya yang masih terasa sakit. "Dia itu cuma iri sama aku! Dia sengaja bikin keributan di sini buat jatuhin martabat kita, Mas! Kamu harusnya bela aku, bukan malah diam kayak orang bodoh!"
Prasetio tidak langsung menjawab. Pria itu berdiri kaku, menatap istrinya dengan pancaran mata yang sama sekali belum pernah kulihat sebelumnya. Keraguan, amarah, dan rasa dikhianati mulai berkecamuk hebat di dalam dadanya.
"Aku nggak bertanya soal harga diri kita, Prilia!" bentak Prasetio dengan suara menahan ledakan emosi. Matanya menatap tajam ke dalam manik mata Prilia. "Aku tanya soal penggelapan dana perkebunan! Kenapa muka kamu langsung pucat ketika Maya mengucapkan kalimat itu?! Kamu sangat ketakutan! "
"Aku... aku nggak ketakutan, Mas! Aku cuma syok karena ditampar di depan umum!" Prilia berusaha mengelak, namun nada suaranya yang terbata-bata justru makin menegaskan kebohongannya.
Aku tersenyum dingin menikmati tontonan gratis di depanku. Mereka, dua orang yang selama ini merasa paling berkuasa di atas penderitaanku, kini saling bertengkar bagai cacing kepanasan hanya karena satu gertakan rahasia.
Takk... takk... takk...
Suara langkah kaki yang mantap dan berwibawa memecah ketegangan di antara kami. Seorang pria paruh baya bertubuh tegap, mengenakan setelan jas hitam rapi dengan membawa tas dokumen kulit tebal, melangkah menghampiriku.
"Selamat pagi, Maya," sapa pria itu dengan nada suara mantap dan penuh rasa hormat.
Aku menoleh dan mengangguk pelan. "Selamat pagi, Pak Baskoro. Terima kasih sudah datang tepat waktu." Ucapku gembira dan menjabat tangannya.
Pak Baskoro, pengacara hukum senior yang reputasinya sangat disegani di kota ini, membetulkan posisi bingkai kacamatanya. Kehadirannya seketika mengubah suasana di hall bank tersebut menjadi jauh lebih formal dan menekan.
"Semua berkas legalitas kepemilikan aset, sertifikat asli perkebunan, serta bukti transfer alur penggelapan dana selama lima tahun terakhir sudah saya susun rapi di dalam dokumen ini, Maya," ujar Pak Baskoro cukup lantang.
Sengaja membiarkan gema suaranya terdengar oleh Prasetio dan Prilia. "Pihak manajemen bank dan Manajer Utama sudah menunggu kehadiran mu di ruangan privat."
Mendengar nama Pak Baskoro dan melihat tumpukan berkas tebal di tangannya, wajah Prilia yang sudah pucat kian berubah menjadi pias. Ia pasti tahu betul siapa Pak Baskoro—pengacara papan atas yang tidak akan pernah mau menangani kasus sembarangan kecuali didukung bukti hukum yang sangat kuat.
Prasetio terdiam di tempatnya. Matanya berpindah-pindah antara aku, Pak Baskoro, dan berkas hukum di tangan sang pengacara. Pria itu tampak terpukul hebat, seolah seluruh fondasi hidupnya runtuh dalam hitungan detik. Wanita yang selama ini dihina sebagai 'janda miskin yang perlu ditolong' ternyata melangkah berdampingan dengan pengacara paling berpengaruh di kota ini.
Pintu kaca tebal ruangan privat layanan VIP mendadak terbuka. Seorang pria paruh baya berpenampilan klimis—Manajer Utama Bank Central—keluar dari ruangannya dan melangkah cepat ke arah kami.
"Selamat pagi, Ibu Maya, Pak Baskoro," sapa Manajer Utama itu sambil menundukkan kepala penuh hormat, mengabaikan kehadiran Prasetio dan Prilia yang berdiri kaku di sebelahnya. "Mari silakan masuk ke ruangan saya. Segala persiapan audit dan penangguhan akses yang Ibu minta sudah kami siapkan."
"Terima kasih, Pak," jawabku tenang.
Sebelum membalikkan badan, aku menoleh sejenak menatap Prasetio dan Prilia. Tatapanku dingin, tanpa sedikit pun ada rasa iba.
"Permainan baru saja dimulai, Prilia. Selamat menikmati hasilnya," bisikku pelan sebelum melangkah masuk menyusuri koridor karpet merah menuju ruangan privat bersama Pak Baskoro dan Manajer Bank.
Di balik dinding kaca transparan peredam suara, aku bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di luar. Pintu ruangan privat tertutup rapat, menyisakan pertengkaran hebat yang meletus di antara Prasetio dan Prilia.
Di dalam ruangan, Pak Baskoro dengan sigap mengeluarkan seluruh berkas audit. "Bu Maya, seluruh aliran dana perkebunan yang selama ini dialirkan secara ilegal ke rekening pribadi Prilia, sudah berhasil terdeteksi. Dengan bukti ini, kita bisa membekukan seluruh aset dan membawa kasus ini ke jalur pidana kapan pun Ibu menginginkannya."
"Lakukan pembekuan rekening operasional mereka hari ini juga, Pak Baskoro," jawabku tegas sambil menghirup secangkir teh hangat yang disajikan petugas bank. "Aku ingin mereka merasakan bagaimana rasanya tidak memiliki apa apa."
"Baik, Maya. Segera kami proses," jawab Pak Baskoro sigap.
Mataku kembali terlempar ke balik kaca transparan. Di luar sana, keharmonisan palsu rumah tangga Prasetio dan Prilia mulai hancur.
Prasetio tampak memegang kedua bahu Prilia dengan kasar, mencerca wanita itu dengan rentetan pertanyaan yang membuat Prilia terdesak mundur. Wajah Prilia mengencang, ia menangis histeris, mencoba meraih tangan Prasetio demi memohon kepercayaan. Namun, Prasetio menepis tangan Prilia.
Pertengkaran yang kian memanas dan suara teriakan Prilia yang melengking mulai mengganggu ketertiban ruang tunggu itu. Dua orang petugas security bertubuh tegap segera melangkah cepat menghampiri mereka berdua.
"Maaf, Bapak dan Ibu," tegur salah satu satpam dengan nada tegas sambil membentangkan tangan melerai mereka. "Tolong jaga ketertiban. Suara dan tindakan Bapak Ibu sudah mengganggu kenyamanan nasabah lain di bank ini."
Beberapa nasabah di sekitar mereka terang-terangan menunjukkan rasa risih dan menggelengkan kepala. Teguran tegas dari petugas satpam itu bagaikan tamparan telak bagi harga diri Prasetio. Wajah pria itu merah padam karena menanggung malu yang luar biasa—ditegur dan diusir secara halus oleh pihak keamanan di tempat umum.
Prasetio tidak lagi melihat Prilia sebagai wanita sempurna, anggun, dan berpendidikan yang dibanggakannya selama bertahun-tahun. Di matanya kini, Prilia tak ubahnya seorang penjahat finansial yang telah membodohi dan memanfaatkannya sejak awal pernikahan mereka.
Tanpa mempedulikan situasi sekeliling Prilia menangis, Prasetio menarik kasar lengan Prilia, menyeret wanita itu keluar dari hall bank dengan langkah terburu-buru di bawah kawalan pandangan mata petugas satpam. Prilia berjalan terserak-serak sambil memegangi pipinya, menyembunyikan wajahnya yang kini hancur tanpa sisa.
Aku tersenyum tipis menyaksikan punggung mereka yang menghilang di balik pintu kaca luar.
Ini baru permulaan, Pras, Prilia, batinku dingin. Kalian belum merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya sampai tak tersisa.
Bersambung
kyknya pribahasanya ; "karena setitik TINTA, rusak susu sebelahnya"
atau sudah ganti di era digital?
sekarang prasetyo yg berlutut, lantainya keramik.😇😇😇😇😇