Chester, Kapten tim khusus Angkatan Darat yang dingin dan tak tersentuh, terpaksa melangkah ke altar memungut kekacauan yang ditinggalkan Haikal.
Ia membenci situasi ini, membenci kelakuan kakaknya, dan kini terjebak mengikat janji suci dengan wanita yang tak pernah ia inginkan.
Di antara dendam, luka yang belum sembuh, dan kebohongan besar di hadapan publik—mampukah pernikahan paksa ini bertahan saat Haikal kembali menagih apa yang seharusnya menjadi miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gemuruh dikeheningan
Meskipun seluruh tugas administrasi dan pelaporan misi Sektor Bravo selesai sebelum pukul empat sore, Chester enggan melangkahkan kaki kembali ke rumah dinas. Pikiran Kapten itu masih terbayang-bayang oleh pemandangan pagi tadi—garis leher jenjang dan tulang selangka Ayyana yang terus-menerus merusak konsentrasinya sepanjang rapat perwira.
Alih-alih pulang, Chester memutuskan menyimpang ke barak Team Eclipse, tempat empat anggotanya tinggal selama piket siaga.
Barak itu beraroma khas tempat tinggal prajurit: kombinasi mi instan, minyak senjata, dan sisa keringat latihan.
Saat Chester melangkah masuk, Rowan sedang sibuk membersihkan laras senapan, Zack bergelut dengan tiga layar monitor, dan Ocla sibuk push-up di sudut ruangan.
Flyn, yang sedang berbaring santai di atas sofa lusuh sambil melempar-lempar bola kriket ke udara, langsung menoleh saat menangkap sosok sang Kapten. Seringai jahil seketika terukir di wajahnya.
"Pukul lima sore, Kapten masih di barak bujang?" goda Flyn seraya menangkap bolanya dan duduk tegak. "Bukannya tugas laporan untuk markas besar sudah beres jam tiga tadi? Nyonya Sinclair pasti sudah menunggu di rumah."
Chester melepaskan topi pet militer dan meletakkannya di atas meja kerja Zack tanpa bersuara. Ia menarik satu kursi kaku dan duduk di sana, menyilangkan tangan di dada dengan aura dingin yang dibuat-buat.
"Gue cuma mau mengecek kesiapan logistik kalian untuk patroli besok," alibi Chester datar, sama sekali tidak menatap Flyn.
Flyn tertawa pelan, bertukar pandang penuh arti dengan Zack yang mendadak menahan senyum di balik monitornya.
"Logistik?" Flyn memiringkan kepala, menopang dagunya dengan tangan. "Atau Kapten cuma lagi melarikan diri dari rumah karena 'serangan' tak terduga dari Nyonya Sinclair? Wajah Kapten kelihatan lebih tegang daripada pas kita dikepung di Sektor Bravo kemarin."
Chester tidak langsung membalas. Chaster hanya mendengus pelan, meraih kaleng soda dingin di atas meja Zack lalu meneguknya hingga tandas.
Di luar garis komando dan tanda pangkat di pundak, kelimanya bukanlah sekadar atasan dan bawahan.
Mereka adalah sahabat yang tumbuh, berdarah, dan saling menyelamatkan nyawa di berbagai medan pertempuran sejak awal karier militer.
Ikatan itu membuat Flyn dan yang lainnya hapal luar kepala setiap perubahan ekspresi Chester—termasuk rahangnya yang makin mengeras saat sedang terdistraksi.
"Mulut lo butuh dibersihkan pakai minyak senjata, Flyn," gumam Chester rendah, melemparkan kaleng kosong itu tepat ke dada Flyn yang langsung ditangkapnya sambil tertawa lepas.
"gue cuma menyatakan fakta, Ches," balas Flyn, kini menanggalkan panggilan formalnya. Ia bersandar santai ke sandaran sofa. "Lo melintasi setengah dunia buat menangani konflik bersenjata tanpa berkedip sedikit pun. Tapi giliran berhadapan sama Ayyana di bawah satu atap, lo malah sembunyi di barak bujang sampai sore."
"Gue tidak sembunyi," bantah Chester kaku.
Zack memutar kursinya, ikut menimpalinya dengan kekehan halus. "Kaliber detak jantung lo pas keluar rumah jam tujuh pagi tadi terekam agak berantakan di smartwatch taktis, Bos. Sinyalnya masuk ke server analisis risiko."
"Zack," potong Chester dengan nada memperingatkan, walau tak ada ancaman nyata di sana.
Rowan yang sejak tadi diam meletakkan laras senapannya, lalu menatap Chester dengan wajah jujur. "Kalau lo terus-terusan menganggap rumah itu sebagai medan ranjau, lo sendiri yang bakal lelah, Ches. Ayyana itu istri lo sekarang, bukan musuh yang harus dipantau pergerakannya 24 jam."
Ocla menyapu keringat di dahi sehabis push-up, lalu duduk di tepi tempat tidur bertingkat. "Mereka benar, Kapten. Ayyana sudah membuktikan posisinya di depan Harris kemarin. Dia di pihak lo. Jangan malah lo yang membuat jarak."
Chester mengusap wajahnya yang lelah dengan kasar.
Ruangan itu mendadak hening dari godaan, menyisakan kehangatan khas persahabatan lima pria yang sudah melewati neraka bersama-sama.
"Kalian tidak mengerti," bisik Chester berat. "Dia terlalu... berbahaya."
Ayyana memang terlalu berbahaya—bukan sebagai musuh yang membawa senjata, melainkan sebagai satu-satunya wanita yang sanggup meruntuhkan tembok pertahanan seorang Chester Sinclair hanya dengan gaun tidurnya.
Keheningan kembali melingkupi barak kaku itu. Keempat anggota Team Eclipse saling bertukar pandang secara halus.
Kata "berbahaya" dari mulut seorang Kapten yang biasa menghadapi rentetan peluru kaliber besar terasa ironis sekaligus jujur.
"Berbahaya gimana, Ches?" goda Flyn lagi, kali ini menyunggingkan senyum lebih tipis, memajukan tubuhnya ke depan. "Dia nggak bawa pisau, nggak bawa granat. Dia cuma istri lo yang kebetulan berparas luar biasa dan punya otak secerdas pebisnis kelas atas. Lo takjub, atau lo takut kepincut?"
Chester menyandarkan punggungnya ke kursi kayu, menatap langit-langit barak dengan helaan napas berat. "Keduanya," aku Chester akhirnya, suara basnya terdengar lelah namun pasrah di hadapan para sahabatnya. "Saat gue di lapangan, fokus gue seratus persen untuk bertahan hidup dan memastikan kalian kembali selamat. Tapi saat di rumah... tatapan matanya, gesturnya, bahkan cara dia bernapas bikin fokus gue berantakan."
"Itu namanya jatuh cinta, Bos," celetuk Zack santai seraya mematikan layar monitor analisis risiko di mejanya. "Sistem pertahanan lo nggak dirancang buat menahan pesona istri sendiri. Jadi ya pasti error."
Rowen menepuk bahu tegap Chester pelan sebelum mengambil jaketnya. "Pulang, Ches. Rumah dinas itu dibuat buat tempat lo istirahat, bukan medan perang baru. Ayyana udah bertahan dari gertakan Harris dan serangan sosial para istri pejabat sendirian selama lo di Sektor Bravo. Sekarang gilirannya lo hadir buat dia."
Ocla menyunggingkan senyum tipis seraya mengangguk setuju. "Pukul enam sore. Kalau lo nggak pulang sekarang, bisa-bisa Ayyana mikir lo sengaja menghindari dia gara-gara kejadian tadi pagi."
Chester menyandarkan punggungnya ke kursi kayu, menatap langit-langit barak dengan helaan napas berat dan kekehan sinis yang dingin pada dirinya sendiri.
"Kalian lupa posisi gue di mata dia?" bisik Chester rendah, suara basnya terdengar amat dalam dan pekat di dalam ruangan yang mendadak hening itu.
Ia memajukan tubuhnya, menatap empat sahabatnya satu per satu dengan binar mata cokelat gelap yang kelam.
"Ayyana itu milik Haikal," lanjut Chester kaku, setiap kata yang meluncur dari tenggorokannya terasa seperti duri yang menancap di dadanya sendiri. "Pernikahan ini cuma tameng darurat. Di mata Ayyana, gue cuma prajurit kaku yang tiba-tiba mengambil alih posisinya. Gue dan dia cuma perlu tunggu... kapan Haikal datang kembali, dan Ayyana bakal lari lagi ke pelukan kakak gue."
Flyn, Zack, Rowan, dan Ocla Bungkam. Candaan yang tadinya memenuhi ruangan menguap begitu saja.
Mereka tahu persis betapa dalamnya luka dan rasa tak berhak yang dipendam Chester selama ini.
Di balik seragam tegap dan gelar Kapten yang tak bergeming di garis depan, Chester selalu merasa dirinya hanyalah bayangan Haikal—pria yang memegang hati Ayyana jauh sebelum takdir memaksa Chester memasangkan cincin di jari wanita itu.
"Ches..." gumam Rowan pelan, matanya menyiratkan keprihatinan yang mendalam.
"Gue nggak boleh biarkan diri gue terdistraksi," potong Chester cepat, memutus segala rasa kasihan dari teman-temannya. Ia menegakkan tubuh, mengembalikan ekspresi dingin tak tersentuh di wajahnya. "Tugas gue cuma memastikan dia aman selama dia membawa nama Sinclair. Cuma itu. Nggak lebih."
Chester berdiri dari kursinya, menyambar topi pet militer di atas meja dengan gerakan tegas.
"Besok jam delapan pagi, evaluasi taktis di lapangan tembak," perintah Chester datar, memutar badan dan melangkah keluar dari barak tanpa menoleh lagi.
Pukul 18.30 WIB, deru mesin mobil dinas Chester berhenti di halaman rumah dinas.
Ayyana yang sedang membaca dokumen laporan di ruang tengah perlahan menatap ke arah pintu utama.
Lampu teras sudah menyala, dan detik berikutnya, pintu kayu tebal itu terdorong terbuka.
Chester melangkah masuk. Pria itu telah membuang seluruh keraguan dan pergolakan batinnya di barak tadi.
Sosoknya kembali dipagari oleh tembok benteng yang amat kaku dan tak tersentuh—Seorang Kapten Sinclair yang bertindak semata-mata atas dasar tugas dan perlindungan.
"Kamu pulang terlambat," ujar Ayyana tenang, memperhatikan setiap gerak-gerik sang Kapten yang sedang melepaskan sepatu larsnya di dekat pintu.
"Ada koordinasi logistik di barak," alibi Chester datar, suaranya sangat minim emosi. Ia berjalan melewati Ayyana tanpa mengikis jarak sedikit pun, meletakkan kunci mobil dan topinya di atas meja bar.
Ayyana berdiri, mengamati perubahan aura pria itu yang mendadak kembali berjarak jauh, bahkan lebih dingin dari biasanya. "Sudah makan malam?"
Chester berbalik, menatap Ayyana dengan pandangan lurus yang dipenuhi disiplin militer—menutup rapat-rapat kenyataan bahwa hatinya sendiri sedang bertaruh menahan jarak.
"Belum," jawab Chester rendah. "Dan mulai esok, kalau saya belum pulang jam enam sore, tidak perlu menunggu di ruang tengah. Langsung istirahat di kamar."
Ayyana memiringkan kepalanya sedikit, menangkap benteng tak kasat mata yang baru saja didirikan Chester di antara mereka. "Bagaimana kalau aku memilih tetap menunggu?"
"Itu pembangkangan terhadap efisiensi rumah tangga ini, Nyonya Sinclair," balasan Chester dingin dan tak bergetar, tatapannya membeku. "Saya ada di sini untuk memastikan keselamatan kamu, bukan untuk disajikan formalitas."
Tanpa menunggu balasan Ayyana, Chester berbalik dan melangkah lebar menuju ruang kerjanya di lantai bawah.
Pintu kayu tebal itu ditutup rapat, menyisakan bunyi klik pengunci otomatis yang menggema tegas di lorong remang.
Ruang kerja itu bernuansa kaku khas perwira militer: meja kayu jati gelap, beberapa layar monitor pemantau keamanan pangkalan, dan jajaran berkas rahasia berpita merah di dalam lemari besi.
Tidak ada barang pribadi. Tidak ada foto kenangan. Hanya ruang dingin yang dirancang untuk satu tujuan: kalkulasi dan taktik.
Chester menghempaskan tubuhnya ke kursi kerja. Ia melonggarkan ikatan dasi dinasnya dengan kasar, lalu menyandarkan kepala pada sandaran kursi seraya memejamkan mata rapat-rapat.
Ruangan itu hening, namun pikiran Chester bergemuruh.
Setiap kali ia berada terlalu dekat dengan Ayyana, tembok pertahanan yang dibangunnya selama bertahun-tahun rasanya ingin runtuh.
Aroma samar vanilla yang melekat pada wanita itu, binar matanya yang menantang, hingga caranya menyebut nama Sinclair—semuanya bertindak seperti racun dosis rendah yang merayapi kesadarannya.
Ayyana milik Haikal.
Mantra itu kembali digaungkannya di dalam kepala.
Sebuah pengingat pahit yang harus ia tancapkan dalam-dalam.
Pernikahan ini hanyalah perlindungan taktis dari kejaran politik pangkalan dan ancaman Harris. Ia hanya seorang penjaga, penjaga sementara sampai Haikal kembali dari bayang-bayang dan menuntut haknya.