“Laki-laki kok nganggur di rumah! Makan di belakang saja. Jangan duduk semeja sama tamu.” Selama tiga tahun, Arkana Pramudya—Arkan—dianggap pengangguran dan beban oleh keluarga istrinya, Laras Wijaya. Pada hari jadi pernikahan mereka, Laras menjatuhkan talak karena malu memiliki suami yang dianggap miskin. Ia tak tahu Arkan adalah pewaris tunggal Grup Pramudya sekaligus pemegang saham pengendali PT Nusa Karya, tempatnya bekerja. Setelah perceraian resmi, Arkan mengambil tanggung jawab sebagai CEO. Namun, kebangkitan Arkan bukan sekadar pamer kekayaan: pelanggaran anggaran harus dibuktikan, konflik warisan mengancam perusahaan, dan Reno—orang yang memanfaatkan ambisi Laras—kembali membawa fitnah. Saat penyesalan datang terlambat dan Laras meminta kesempatan kedua, Arkan harus memilih hidup yang dibangun atas rasa hormat, bukan rasa bersalah. Bersama Nadine Prasetya, teman lama sekaligus CEO yang setara dengannya, Arkan belajar bahwa memaafkan tak berarti harus kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BayouDarda Novelis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 — Uang Belanja yang Dilempar
Awal bulan seharusnya menjadi waktu untuk mengatur ulang kebutuhan rumah tangga. Beras harus tersedia, gas harus terisi, dan uang belanja harus cukup sampai akhir bulan.
Pagi itu, aku berdiri di ruang tengah sambil memperhatikan Laras yang bersiap berangkat kerja.
Istriku mengenakan blus putih dan rok hitam. Rambutnya tertata rapi, tas kerjanya sudah berada di bahu. Ia sempat memeriksa layar ponsel sebelum melirikku sekilas.
Aku belum sempat mengatakan apa-apa ketika Laras membuka tasnya.
Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat.
“Ini buat kamu. Cukupkan sebulan.”
Amplop itu melayang pendek sebelum jatuh ke lantai, tepat di depan kakiku.
Aku menunduk.
Amplop tersebut berhenti dekat ujung sandal rumah yang kupakai. Sudutnya terlipat ketika menyentuh lantai. Tidak ada yang istimewa dari benda itu. Hanya amplop biasa, tipis, dengan bagian atas yang sedikit kusut.
Namun, cara Laras memberikannya membuatku merasa seperti orang yang sedang menerima sesuatu karena belas kasihan.
Bukan suami yang ikut membangun rumah tangga bersamanya.
Bukan orang yang pernah duduk di sampingnya ketika kami belum punya banyak hal.
Hanya seseorang yang harus diberi uang agar tidak merepotkan.
Di dekat meja ruang tengah, Ibu Retno menyaksikan kejadian itu. Ia tidak menunjukkan keterkejutan. Bahkan, bibirnya justru membentuk senyum kecil yang sulit kuartikan sebagai sesuatu selain kepuasan.
“Syukuri saja, masih dikasih.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Tetapi aku tahu kepada siapa kalimat tersebut ditujukan.
Aku tidak menjawab. Tidak ada gunanya membela diri di hadapan orang-orang yang sudah menetapkan posisiku sebelum aku membuka mulut.
Aku membungkuk, mengambil amplop dari lantai, lalu menepuk sedikit debu yang menempel di permukaannya.
Laras memperhatikanku sambil membetulkan tali tas.
“Jangan boros, aku capek kerja.”
Aku mengangguk kecil.
Bukan karena aku menerima penghinaan itu sebagai sesuatu yang pantas kudapatkan. Aku hanya tidak ingin memperpanjang percakapan yang sejak awal tidak memberiku ruang untuk menjelaskan apa pun.
Laras berjalan menuju pintu.
Suara hak sepatunya terdengar teratur melewati ruang tengah. Sesaat kemudian, pintu depan terbuka dan tertutup kembali.
Ibu Retno masih berada di tempatnya.
Ia menatapku, lalu melirik amplop di tanganku.
“Uang segitu harusnya cukup kalau kamu tahu cara mengatur pengeluaran. Jangan semua hal dibebankan kepada Laras.”
Aku memasukkan amplop itu ke saku celana.
“Saya mengerti, Bu.”
“Bagus kalau mengerti.”
Ia kemudian meninggalkanku untuk masuk ke kamar.
Aku tetap berdiri beberapa detik di ruang tengah. Ada banyak hal yang ingin kukatakan, tetapi semuanya tertahan di tenggorokan. Bukan karena aku tidak punya jawaban, melainkan karena aku mulai memahami bahwa jawaban apa pun akan dianggap sebagai pembelaan dari seseorang yang tidak berhak mengeluh.
Aku masuk ke dapur.
Di atas meja kecil, masih ada beberapa butir beras yang tercecer dari wadah penyimpanan. Aku mengambil sapu kecil dan membersihkannya. Setelah itu, aku memeriksa isi wadah beras.
Tidak banyak.
Persediaan yang tersisa mungkin cukup untuk beberapa hari jika aku mengurangi porsi makan. Minyak goreng di dalam botol tinggal sedikit. Telur di keranjang hanya tersisa tiga butir. Tabung gas di sudut dapur juga sudah hampir habis.
Aku memandang semuanya bergantian.
Beras.
Telur.
Minyak.
Gas.
Empat kebutuhan sederhana yang harus diperhitungkan sebelum membeli apa pun yang lain.
Aku menarik kursi, duduk, lalu mengeluarkan amplop dari saku.
Baru setelah Laras dan Ibu Retno tidak lagi berada di ruang tengah, aku membuka bagian atasnya.
Uang di dalamnya tersusun dalam beberapa lembar. Aku mengeluarkannya satu per satu, merapikan setiap lembar sebelum menghitungnya.
Seratus ribu.
Dua ratus ribu.
Tiga ratus ribu.
Empat ratus ribu.
Lima ratus ribu.
Enam ratus ribu rupiah.
Aku menghitungnya sekali lagi untuk memastikan tidak ada lembar yang terlewat.
Hasilnya tetap sama.
Enam ratus ribu untuk sebulan.
Aku meletakkan uang itu di atas meja, lalu memandangnya cukup lama.
Enam ratus ribu rupiah bukan jumlah yang bisa dianggap tidak berarti. Bagi orang yang sedang kesulitan, uang itu tetap bisa membantu. Aku tidak pernah menganggap uang sebagai sesuatu yang pantas diremehkan.
Namun, ada perbedaan antara menerima uang dengan kesadaran bahwa keadaan sedang sulit dan menerima uang yang dilemparkan ke lantai seolah-olah diriku tidak lebih berharga daripada amplopnya.
Yang membuat dadaku sesak bukan hanya jumlahnya.
Cara uang itu diberikan seakan sudah menjelaskan segalanya.
Aku mengambil selembar kertas bekas dari laci dapur. Di bagian belakangnya masih ada tulisan belanja minggu sebelumnya. Aku membalik kertas tersebut dan mulai membuat daftar kebutuhan.
Beras.
Aku memperkirakan berapa kilogram yang bisa dibeli dengan harga di warung dekat rumah. Jika memilih ukuran yang lebih kecil, uangnya memang lebih ringan dikeluarkan, tetapi harganya per kilogram biasanya lebih mahal.
Telur.
Aku mencoret rencana membeli satu rak penuh. Beberapa butir saja harus cukup untuk beberapa kali makan.
Minyak goreng.
Aku menuliskan ukuran kecil. Tidak perlu membeli kemasan besar jika uangnya memang tidak mencukupi.
Gas.
Aku berhenti di bagian itu.
Tabung yang hampir kosong tidak bisa menunggu sampai akhir bulan. Jika gas habis, aku harus menyediakan uang untuk mengisinya kembali. Itu berarti ada kebutuhan lain yang perlu dikurangi.
Aku menatap daftar tersebut.
Belum ada sabun cuci. Belum ada kebutuhan mandi. Belum ada uang untuk keadaan mendadak. Bahkan, daftar itu hanya mencakup kebutuhan paling dasar, bukan sesuatu yang bisa disebut hidup nyaman.
Aku mengambil kalkulator kecil dari laci dan mulai menjumlahkan perkiraan belanja.
Laptop di kamar masih menyala, ada angka yang harus kupastikan. Pekerjaan itu belum selesai, tetapi untuk saat ini, pikiranku tertahan pada uang belanja di atas meja.
Angkanya terus bertambah.
Aku menghapus beberapa item, lalu menghitung ulang. Beras dikurangi. Telur dikurangi. Minyak dipilih yang lebih kecil. Untuk kebutuhan yang masih bisa ditunda, aku memberi tanda di sebelahnya.
Setelah beberapa kali mengubah hitungan, aku menyandarkan punggung.
Enam ratus ribu tetap enam ratus ribu.
Aku tidak bisa membuat jumlah itu bertambah hanya dengan menghapus angka di atas kertas.
Aku juga tidak bisa mengisi tabung gas dengan kesabaran, atau membeli beras dengan harga diri yang kupaksakan tetap utuh.
Aku melipat kertas itu menjadi dua.
Dahulu, ketika baru menikah, aku dan Laras pernah duduk bersama membicarakan pengeluaran rumah tangga. Kami mencatat harga kebutuhan, membandingkan belanja, dan tertawa ketika salah satu dari kami keliru menjumlahkan angka.
Waktu itu, uang yang sedikit terasa lebih ringan karena kami menghadapinya bersama.
Sekarang, aku harus menghitung semuanya sendiri.
Bukan karena Laras tidak tahu bagaimana mengatur uang. Ia tahu harga barang, tahu kebutuhan rumah, dan tahu berapa banyak uang yang diperlukan untuk menjalani sebulan.
Justru karena itu, aku sulit menerima perlakuannya pagi tadi.
Ia tahu uang enam ratus ribu harus dibagi untuk banyak kebutuhan. Ia tahu amplop itu tidak akan membuat semuanya mudah. Namun, ia tetap melemparkannya ke lantai dan menyuruhku mencukupkannya sebulan.
Aku merapikan lembaran uang, memasukkannya kembali ke amplop, lalu menuliskan daftar belanja di sisi belakang kertas.
Tidak ada gunanya menghabiskan waktu untuk meratapi jumlah yang tidak bisa kuubah. Aku tetap harus memastikan dapur bisa digunakan, makanan tersedia, dan kebutuhan dasar rumah tidak terabaikan.
Aku membuka lemari kecil untuk memeriksa persediaan yang masih ada. Beberapa bahan makanan bisa dipakai untuk dua hari ke depan. Dengan perhitungan yang ketat, mungkin aku bisa menunda sebagian belanja sampai pertengahan minggu.
Mungkin.
Kata itu menjadi satu-satunya ruang yang tersisa di dalam perhitunganku.
Aku memasukkan amplop ke laci meja dapur. Kertas daftar belanja kusimpan di atasnya agar tidak hilang. Setelah menutup laci, aku kembali memandang ruangan yang sunyi.
Tidak ada yang berubah dari rumah ini.
Meja masih berada di tempatnya. Kursi masih menghadap dinding. Piring-piring tersusun di rak. Dari luar, rumah kami mungkin terlihat seperti rumah tangga biasa yang sedang menjalani hari seperti biasanya.
Namun, aku mulai merasa bahwa ada jarak yang tidak bisa diukur dengan meteran di antara aku dan Laras.
Jarak itu hadir ketika uang belanja dilemparkan ke lantai.
Ketika aku harus mengambilnya tanpa menunjukkan apa yang kurasakan.
Ketika enam ratus ribu rupiah berubah menjadi ukuran tentang seberapa kecil tempatku di rumah sendiri.
Aku berjalan ke ruang tengah dan berhenti di depan foto pernikahan kami yang tergantung di dinding.
Dalam foto itu, Laras tersenyum lebar. Tanganku berada di tangannya, dan kami berdiri berdekatan seolah tidak ada sesuatu pun yang bisa memisahkan kami.
Aku masih ingat hari ketika foto itu diambil.
Kami belum memiliki banyak hal. Tetapi saat itu, aku percaya bahwa selama kami saling menghargai, kekurangan apa pun bisa dihadapi bersama.
Aku menatap wajah kami dalam bingkai itu.
Lalu, tanpa sadar, aku mengepalkan tangan.
Bukan karena ingin membalas perlakuan Laras. Bukan pula karena ingin membuatnya menyesali uang yang diberikannya pagi tadi.
Aku hanya tidak ingin kehilangan diriku sendiri karena terlalu lama membiarkan orang lain menentukan nilai diriku.
Aku menurunkan tangan, mengembuskan napas perlahan, lalu berbalik menuju dapur.
Enam ratus ribu untuk sebulan.
Aku akan menghitungnya dengan cermat. Aku akan membeli yang benar-benar diperlukan. Aku akan menunda yang masih bisa ditunda.
Tetapi malam nanti, ketika rumah ini kembali sunyi, aku tahu ada satu hal yang tidak akan selesai hanya dengan mengatur pengeluaran.
Aku masih tinggal bersama istriku.
Namun, untuk pertama kalinya, aku merasa seperti orang asing yang harus meminta ruang untuk hidup di rumahnya sendiri.