Kembali ke Meja yang Sama
Romance • Office Romance • Second Chance
Tiga tahun setelah putus tanpa penjelasan, Alya pikir dia sudah move on — sampai hari pertama kerja di kantor baru, dia sadar atasannya sendiri adalah mantan yang paling ingin dia lupakan.
Raka. Dingin. Profesional. Seolah tak pernah mengenalnya.
Tapi di balik topeng atasan yang terkontrol itu, ada rahasia yang selama ini disembunyikan — alasan sebenarnya kenapa dia pergi dulu, tanpa kata, tanpa jejak.
Setiap rapat jadi medan perang batin. Setiap proyek yang mempertemukan mereka berdua jadi ujian rasa yang belum sepenuhnya mati. Alya harus memilih: bertahan profesional, atau membiarkan luka lama terbuka lagi demi kebenaran yang mungkin akan menghancurkan segalanya — atau menyatukan mereka kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cuek Tapi Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran Besar
Alya menatap Ibu Wulandari, jantungnya berdebar menunggu kelanjutan kalimat yang menggantung itu. "Perubahan seperti apa yang Ibu maksud?"
Ibu Wulandari menyandarkan tubuhnya ke kursi, jari-jarinya saling bertaut di atas meja. "Dengan kepergian Pak Surya, posisi Direktur Marketing otomatis kosong. Dewan direksi sudah berdiskusi, dan kami sepakat untuk menawarkan posisi itu kepada Raka Pradana, mengingat rekam jejaknya yang solid selama ini."
Alya mengangguk, meski masih menunggu bagian yang berhubungan dengan dirinya sendiri.
"Itu berarti," lanjut Ibu Wulandari, "posisi Head of Marketing yang selama ini dipegang Raka akan kosong. Dan setelah melihat kinerja kamu—terutama caramu menangani krisis belakangan ini—dewan direksi ingin menawarkan posisi itu kepadamu, Alya. Bukan lagi sekadar memimpin divisi strategi digital yang baru, tapi menggantikan posisi Raka sepenuhnya."
Alya membeku di kursinya, tidak menyangka tawaran sebesar ini akan datang secepat ini, apalagi di tengah situasi yang begitu kacau. "Saya... saya sangat tersanjung, Bu. Tapi ini artinya saya akan jadi atasan langsung dari tim yang sebelumnya dipimpin Raka."
"Benar," jawab Ibu Wulandari, tersenyum tipis, seolah sudah menduga kekhawatiran yang akan muncul dari Alya. "Kami tau hubungan personal kalian berdua—ini bukan rahasia lagi di kantor, mengingat betapa terbukanya kalian belakangan ini. Tapi kami percaya, dengan profesionalisme yang sudah kalian berdua tunjukkan, ini bukan masalah besar, selama ada batasan yang jelas antara kehidupan personal dan tanggung jawab kerja."
Alya menghela napas panjang, mencoba mencerna semua informasi ini. "Boleh saya minta waktu untuk memikirkan ini, Bu? Dan mungkin berdiskusi dulu dengan Raka?"
"Tentu saja," jawab Ibu Wulandari. "Kami butuh keputusan dalam waktu satu minggu, mengingat transisi kepemimpinan ini perlu berjalan secepat mungkin untuk menjaga stabilitas tim."
---
Sepulang dari pertemuan itu, Alya langsung mencari Raka, menemukannya di ruangannya sendiri, tampak sedang membaca sebuah dokumen dengan ekspresi serius.
"Raka," panggil Alya, menutup pintu ruangan itu di belakangnya. "Kamu udah denger soal tawaran dewan direksi?"
Raka mendongak, mengangguk pelan. "Iya, aku baru aja dapat kabar soal promosi ke posisi Direktur. Dan kudengar kamu juga ditawarin posisi aku yang sekarang."
"Gimana perasaan kamu soal itu?" tanya Alya hati-hati, duduk di kursi seberang mejanya.
Raka tersenyum, meski ada sedikit kompleksitas emosi yang tersembunyi di baliknya. "Jujur, aku seneng banget buat kamu, Alya. Kamu pantas dapat posisi itu setelah semua yang kamu lewatin. Tapi aku juga nggak bisa bohong, ada bagian dari aku yang sedikit khawatir soal gimana ini bakal mempengaruhi hubungan kita—sekarang kamu bakal jadi setara level sama aku di struktur perusahaan, bukan lagi bawahan aku."
"Apa itu masalah buat kamu?" tanya Alya, mencoba membaca ekspresi Raka dengan seksama.
"Nggak," jawab Raka cepat, menggenggam tangan Alya di atas meja. "Justru sebaliknya, aku pikir ini bagus. Kita bisa berkembang bareng-bareng, sebagai partner yang setara, bukan cuma dalam hubungan personal tapi juga dalam karier. Aku cuma khawatir soal gimana orang-orang di kantor bakal ngeliat ini—apa mereka bakal curiga ada nepotisme atau semacamnya."
Alya mengangguk, memahami kekhawatiran itu. "Aku juga mikirin hal yang sama. Tapi aku pikir, kalau kita berdua tetap profesional dan transparan soal hubungan kita ke dewan direksi, harusnya nggak akan jadi masalah besar."
"Setuju," jawab Raka. "Dan aku yakin, dengan track record kamu yang udah terbukti belakangan ini—gimana kamu handle krisis Dimas dan Pak Surya dengan sangat baik—nggak akan ada yang meragukan kompetensi kamu buat posisi ini."
---
Beberapa hari berikutnya dihabiskan Alya untuk mempertimbangkan tawaran besar itu dengan matang, berdiskusi tidak hanya dengan Raka, tapi juga dengan orang tuanya dan beberapa mentor yang ia percaya. Setiap orang memberikan dukungan yang sama—bahwa ini adalah kesempatan besar yang layak ia ambil, hasil dari kerja keras dan integritas yang telah ia tunjukkan sepanjang kariernya.
Akhirnya, seminggu kemudian, Alya kembali menemui Ibu Wulandari di ruangannya untuk memberikan keputusan final.
"Saya terima tawaran ini, Bu," kata Alya mantap. "Saya siap menjadi Head of Marketing yang baru."
Ibu Wulandari tersenyum lebar, tampak puas dengan keputusan itu. "Selamat, Alya. Saya yakin kamu akan menjalankan posisi ini dengan sangat baik. Kami akan mengumumkan perubahan struktur ini secara resmi minggu depan, bersamaan dengan promosi Raka ke posisi Direktur Marketing."
Keluar dari ruangan itu, Alya merasakan campuran emosi yang luar biasa—kebanggaan atas pencapaian besar ini, tapi juga kesadaran bahwa tanggung jawab yang akan ia emban ke depannya akan jauh lebih besar dari sebelumnya.
---
Pengumuman resmi promosi mereka berdua akhirnya diumumkan dalam rapat besar seluruh divisi marketing, disambut dengan tepuk tangan meriah dari seluruh tim yang selama ini bekerja bersama mereka. Nadia, yang duduk di barisan depan, tersenyum lebar sambil memberikan tepuk tangan paling keras, matanya berkaca-kaca melihat sahabatnya mencapai pencapaian besar ini.
Setelah rapat berakhir, banyak rekan kerja yang mendatangi Alya untuk memberikan ucapan selamat, membuat sisa hari itu dipenuhi dengan senyum dan pelukan hangat dari orang-orang yang selama ini mendukungnya.
Namun, di tengah kebahagiaan itu, seorang wanita paruh baya yang belum pernah Alya lihat sebelumnya mendekatinya seusai rapat, wajahnya serius dan sedikit tegang.
"Alya Ramadhani?" tanya wanita itu, suaranya formal.
"Iya, benar," jawab Alya, sedikit bingung dengan kehadiran orang asing ini di tengah momen perayaannya.
"Nama saya Ibu Sinta, saya pengacara yang mewakili keluarga Aditya," kata wanita itu, mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya. "Saya diminta untuk menyampaikan ini kepada Anda secara langsung."
Alya menerima amplop itu dengan tangan sedikit gemetar, tidak menyangka akan menerima sesuatu seperti ini di tengah momen bahagianya. "Keluarga Aditya? Maksudnya keluarga Dimas?"
"Benar," jawab Ibu Sinta. "Klien saya berniat mengajukan gugatan pencemaran nama baik terhadap Anda dan perusahaan, terkait pemberhentian putra mereka."
Kebahagiaan yang baru saja Alya rasakan seketika lenyap, digantikan oleh perasaan cemas yang mendadak muncul, menatap amplop di tangannya dengan jantung yang berdebar kencang.