Setelah menjadi istri Ardiaz Kavian, Tya semakin tahu karakter orang-orang di keluarga besar Kavian. Sebagai seorang insan yang biasa hidup tenang meski ekonomi pas-pasan, kini dirinya harus terbiasa dengan pasang surut permasalahan di keluarga suami yang tidak kekurangan harta tapi miskin ilmu agama.
"Yang penting suami dan mertua baik, yang sirik biarkan saja berisik."
MENANTU IBU 2
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Suasana Hati
Tya menyusul Diaz yang sudah turun ke bawah. Masih dengan hati menduga-duga benarkah suaminya itu tidak tahu tanggal ulang tahunnya. Kalau mengingat dulu masa akting, ia ingat betul jika Diaz pernah berkata di depan Ayah Hilman bahwa akan honeymoon bulan Desember sekalian merayakan ulang tahunnya.
Namanya juga lagi akting. Pasti udah lupa sama yang sudah diomongin.
Mau berekspektasi akan ada kejutan di meja makan misal ada nasi tumpeng atau kue tart dengan lilin angka 23 pun menguap. Karena Tya tadi sudah turun ke dapur untuk mengecek kesiapan sarapan. Sama sekali tidak ada yang mencurigakan. Semuanya terlihat normal seperti biasanya.
Terbukti begitu masuk ke ruang makan, yang tersaji di meja adalah menu sarapan tanpa ada tambahan menu. Diaz tampak bermain ponsel dengan piring yang masih kosong karena menunggu kedatangan Tya.
"Tya, hari ini jadwal ke kantor di cancel. Jadinya meeting dari rumah aja. Nanti Gea akan ke sini bawa berkas yang Ibu minta."
"Siap, Bu." Tya mengangguk. Ia sudah berkenalan dengan Gea, perempuan gesit dan seorang single mom yang merupakan general manager yang selalu berada di kantor Permaisuri Gold—kantor pusat yang mengawasi seluruh galeri toko emas. Berbeda dengan mertuanya itu yang bebas ke kantor kapan pun atau sidak toko kapan saja.
Sarapan berlangsung sambil melanjutkan percakapan tentang wacana perpindahan kantor Permaisuri Gold menjadi satu gedung dengan perusahaan Diaz yang sedang dalam proses perubahan nama. Tak ingin lagi terikat dengan Kavian Grup yang masih dikendalikan oleh Hilman dan direcoki oleh Boby. Terlebih Diaz mengetahui usaha jasa kontruksi penyewaan truk dan alat berat di Kalimantan sering melanggar regulasi seperti illegal logging. Namun setiap kali sang ayah diingatkan, sarannya tidak digubris.
Ibu Suri lah yang menyuruh dengan tegas pada Diaz untuk segera memisahkan diri dari bendera Kavian Grup. Karena dirinya lebih tahu sepak terjang mantan suaminya dalam konteks praktik menghalalkan segala cara. Bisa jadi suatu saat nanti akan berurusan dengan hukum jika para backing penerima upeti terkena apes. Lebih dari itu, ia ingin sang anak mengelola bisnis secara halal dari hulu sampai hilir.
"Abey, udah hampir setengah delapan." Tya mengingatkan Diaz yang masih duduk tenang dan lebih intens membuka ponsel. Biasanya di waktu yang sama sudah melajukan mobil menuju ke kantor.
"Mundur satu jam, Yang. Lagi nunggu Jordan."
"Oh. Aku ke atas dulu ya. Mau ambil HP."
Perubahan waktu yang tidak diceritakan Diaz sebelumnya. Mungkin kalau tidak ditanya berarti tidak akan diberitahu. Tya undur diri dengan alasan yang masuk akal saat Diaz kembali melanjutkan pembahasan tentang progres pembaruan data perubahan nama perusahaan kepada Ibu Suri yang sedang diurus notaris. Suasana hatinya sedang kurang bagus untuk menjadi pendengar.
Harusnya aku nggak boleh bete gara-gara Mas Diaz tak tahu hari ultahku.
Tya...Tya. Kau kan tahu, berharap pada manusia tuh harus siap kecewa.
Tya menghela napas. Sepanjang meniti tangga, otak dan hatinya berisik oleh dialog monolog yang mencoba realistis.
Ternyata ponsel yang ditinggalkannya di kamar sudah ramai oleh notifikasi pesan. Ucapan selamat ulang dari teman-temannya cukup menghibur hatinya yang bad mood.
"Halo, Yun. Kerja hari ini?" Tya memutuskan menelepon Yuni, salah seorang yang mengucapkan selamat ulang tahun secara pribadi dan juga di grup.
"Iya lah, Tya. Orang butuh kerja dilarang bolos. Ini baru masuk gerbang."
"Duh jadi kangen jadi anak garmen." Tya cekikikan.
"Kangen doang kan, Tya. Bukan pengen balik sini lagi secara kamu udah punya suami tajir."
"Kata siapa tajir? Kalau pas-pasan sih iya." Tya mengelak untuk memancing sejauh mana Yuni tahu tentang profil suaminya.
"Dari foto profilmu udah keliatan wajah suamimu aura tajir, Tya. Aura CEO di dracin. Semoga tebakanku bukan halu." Yuni tertawa.
"Aku aminkan, Yun. Yang pasti suamiku dan mertuaku sayang sama aku. Dah gitu aja."
"Keren, Tya. Rejeki nomplok bisa disayang mertua."
"Bener, Yun. By the way, kangen mie ayam Pak Didi aku."
"Gas sini, say. Pak Didi juga nanyain kemana Tya, apa udah nggak kerja di garmen. ku bilang udah nikah dibawa pindah ke Jakarta."
"Nanti deh aku kabarin kalau pas pulang ke Bekasi. Kalau bisa, kau aja duluan ke Jakarta ajak Rahma, Nisa, Lusi. Kita kopdar, tapi atur waktunya dulu. Tenang aja aku yang traktir."
"Siap. Nggak akan nolak dong. Tapi harus weekend, Tya. Kita-kita kan kuli."
"Iya. Pokoknya next kita bahas di grup aja."
"Okay-okay. Tya...aku mau absensi dulu."
"Okay, Yun. Semangat kerjanya. Bye."
Tya menggembungkan pipi. Berbincang dengan Yuni cukup membangkitkan suasana hati yang baik. Ia melihat jam dalam layar ponsel. Memilih santai dulu di kamar karena Diaz bilang akan berangkat satu jam lagi. Masih ada sisa waktu 45 menit lagi. Ibu jarinya menyentuh galeri, membuka folder 'My Love' berisikan beberapa foto dirinya di masa kecil dengan orang tua. Dipindahkan dari ponsel lama.
Tya lama terpaku di depan foto dirinya saat berusia 9 tahun. Menggunakan seragam SD sambil memegang tumpeng mini dan kue tart mini di depan pintu kamar. Kedua pipinya dicium oleh Ayah dan Ibu setelah memberikan kejutan ulang tahun. Dan yang memotretnya adalah Kak Bisma. Ingatan masa kecilnya tidak pernah pupus. Apalagi seluruh memori masa kecil isinya tangki kasih sayang yang penuh.
"Ayah...Ibu, Tya kangen." Air mata luruh di kedua pipi tanpa bisa dibendung. Tya menunduk sambil memejamkan mata untuk menghambat deraian yang ingin terus mengalir.
Setelah mendongak sambil mengatur napas, Tya mulai bisa menguasai emosi yang mengharu biru dan sendu. Surah Al fatihah dilisankan dengan suara lirih. Jasad orang tua larung di samudera tetapi ruhnya pasti berada dalam genggaman Sang Pencipta. Berharap berada di taman surga karena meninggal dalam safar dengan niat ziarah ke makan orang tua ibunya serta silaturahmi ke keluarga di kampung halaman.
"Yang, ambil HP kok lama. Aku mau...." Diaz urung melanjutkan ucapannya begitu melihat Tya duduk kemudian buru-buru memalingkan wajah. Pintu kamar yang terbuka setengahnya lah yang membuatnya langsung saja melayangkan protes.
"Yang, are you okay?" Diaz berdiri di hadapan Tya. Sebelum benar-benar berpaling, ia melihat jelas wajah Tya murung dan sembab.
Tya tersenyum lebar. "Hehe, maaf. Aku...aku malah keasyikan baca novel online. Malah ceritanya sad."
"Kau pro dalam akting tapi tak pandai berbohong. Abis nangis kenapa, hm?" Diaz menyentuh dagu Tya. Menatap dengan intens ke dalam kedua bola mata hitam sang istri.
"Tiba-tiba kangen orang tua. Tapi udah kirim doa kok. Jadi sekarang udah tenang." Tya tersenyum kecut. Lebih baik jujur karena tatapan Diaz serasa menembus sampai ke jantung.
Dia memeluk Tya dengan erat. Tatapannya berhenti pada ponsel yang tersimpan di atas bantal sofa. Layar yang masih menyala menampilkan sebuah foto.
Sehat selalu 🤲🏻
Pak Husein kan..yg sebenarnya punya pekerbunan sawit itu?
Koi rela menunggu ibu suri sampai segitunya pak?
cerita dong pak..🤭😄
Ada something sama pak Husein ini pasti, semoga segera bersatu ya..ibu suri dan pak Husein😁