Disarankan untuk baca season pertamanya dulu ya!
****
Tiga tahun setelah bangkit dari kematian dengan kekuatan Batu Es yang terkutuk, Han Seol menjelma menjadi penyihir terkuat yang ditakuti sekaligus kesepian. Di tengah bayang-bayang arwah jahat dan luka masa lalu atas hilangnya Seol Ah, ia dipertemukan kembali dengan Jin So Hwa—putri sulung rahasia dari Jinyowon yang jiwanya menyimpan misteri besar.
Demi lolos dari kurungan ibunya, So Hwa nekat mengajukan pernikahan gila kepada Han Seol. Dan demi membungkam seisi kerajaan, sebuah kebohongan konyol terucap: "Saksi pernikahan kami adalah anak di dalam perutku!"
Saat takdir lama mulai terajut kembali dengan identitas baru, akankah es di hati Han Seol mencair, ataukah rahasia tiga tahun lalu justru akan menghancurkan mereka sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Gelar Jenderal Utara dan Kekecewaan di Balik Tirai Asrama
"Yang Mulia Pangeran," ucap Han Seol datar, menyandarkan tubuhnya pada pilar kayu ruangan. "Kau datang berkunjung secara mendadak. Aku mengira kau datang untuk membawakanku imbalan emas seperti biasanya."
Sebagai informasi, selama tiga tahun terakhir, setiap kali Han Seol berhasil memburu dan membunuh pemindah jiwa, istana akan memberikan hadiah berupa seribu nyang emas yang selalu diantarkan secara langsung oleh Pangeran Go Si Woo sebagai formalitas hubungan militer mereka.
Pangeran Go Si Woo mengalihkan pandangannya dari buku kuno itu, lalu menatap Han Seol dengan raut wajah yang teramat serius.
"Hadiah yang kubawa kali ini berbeda total dari emas-emas sebelumnya, Han Seol. Raja telah mengeluarkan titah resmi. Kau diangkat menjadi Jenderal Agung dan akan segera dikirimkan ke Kota Pertahanan Utara untuk memimpin pasukan perbatasan."
Meski begitu, di balik penyampaian titah tersebut, batin Pangeran Go Si Woo sebenarnya sedang berteriak penuh harap. Pangeran yang kini tahu bahwa Han Seol sudah sadar akan bahaya laten Hwajo, sangat berharap jauh di dalam lubuk hatinya agar Han Seol menolak tugas itu, tetap tinggal di kota, dan segera bergerak menggunakan kekuatan Batu Es-nya untuk mengatasi konspirasi Jin Wu sebelum terlambat.
Namun, harapan Pangeran membentur dinding es yang kokoh. Han Seol yang sejak lama tidak menyukai tabiat Pangeran akibat kedekatan hubungan politiknya yang terlampau intim dengan Jin Wu, menatapnya dengan senyum sinis. Bagi Han Seol, Pangeran mungkin saja sedang ikut bersandiwara dalam jebakan ini.
"Titah Raja adalah perintah mutlak," sahut Han Seol dingin, suaranya terdengar datar tanpa minat untuk berdebat. "Aku memilih untuk mematuhi keputusan Yang Mulia dan akan segera bersiap berangkat ke utara."
Sontak saja, jawaban pasrah dari Han Seol membuat Pangeran Go Si Woo dicekam rasa kecewa yang teramat luar biasa mendalam.
Seluruh harapan besarnya agar sang Penyihir Agung bertindak sebagai pelindung Niskala runtuh berkeping-keping. Amarah dan rasa frustrasi akibat ancaman Jin Wu yang menindih pundaknya kini meluap menjadi kekesalan kepada Han Seol yang dianggapnya egois dan menyerah pada keadaan.
Pangeran Go Si Woo mengepalkan tangannya kuat-kuat, menatap Han Seol dengan mata yang berkilat penuh kemarahan dan kekecewaan yang mendalam.
"Baiklah! Jangan lakukan apa pun! Pergilah ke utara dan biarkan tempat ini hancur! Karena bagiku... kau memang sudah mati sejak tiga tahun yang lalu, Han Seol!" ucap Pangeran dengan suara bergetar menahan luapan emosi yang sesak di dadanya.
Tanpa menunggu balasan lagi, Pangeran Go Si Woo langsung membalikkan tubuhnya dengan kasar. Ia melengos pergi meninggalkan ruangan asrama dengan langkah lebar penuh amarah, diikuti oleh derap langkah terburu-buru dari para kasim dan pengawalnya yang kebingungan, meninggalkan Han Seol yang kembali terdiam menatap sisa uap angin kepergian mereka di dalam kesunyian aula Cheon Gi Won.
****
Di tepian Danau Cheon Gi yang berselimut kabut fajar, riuh rendah suara penduduk memecah keheningan pagi. Atas perintah Do Kwang yang terus melacak pergerakan barang terkutuk, puluhan warga dikerahkan untuk menyisir sepanjang pinggiran danau yang dangkal.
Dengan menggunakan keranjang-keranjang besar yang terbuat dari bambu pilin, mereka mengeruk dasar danau dengan penuh kehati-hatian.
Di antara kerumunan warga, tampak Jin So Hwa berdiri tegak di samping Do Kwang. Mata spiritualnya yang berkilat keperakan memandu pergerakan warga, menunjuk ke arah titik-titik air yang memancarkan pendaran hawa hitam pekat.
"Tuan Do Kwang! Sebelah sana!" seru Yoo Ha Jin yang ikut terjun membantu.
Pria itu mengangkat sebuah benda dari dalam keranjang bambunya dengan napas terengah-engah.
Begitu lumpur danau dibersihkan, wujud asli benda tersebut seketika terpampang nyata. Benda itu adalah sebuah tembikar aneh berukir mantra kuno—persis dengan tembikar temuan Master Lee dan Do Kwang sebelumnya. Tembikar inilah yang semalam dibuang secara nekat oleh anak buah Baek Yun O demi menghilangkan jejak dari kejaran para penyihir.
Do Kwang menerima tembikar basah itu dengan tangan bergetar, lalu menatap Jin So Hwa dengan pandangan yang sarat akan rasa takjub sekaligus khidmat. Berkat bantuan penglihatan spiritual So Hwa yang begitu presisi mendeteksi letak benda mistis tersebut, Do Kwang kini didera sebuah keyakinan mutlak di dalam dadanya.
“Kemampuan spiritual agung ini... cara dia melihat energi pelindung bumi...” batin Do Kwang dengan dada yang bergemuruh.
Berdasarkan catatan kuno penyihir terdahulu, Do Kwang menjadi sangat yakin bahwa Jin So Hwa sebenarnya merupakan reinkarnasi sejati dari Jin Eun Ran—seorang wanita penyihir agung legendaris yang merupakan pendiri pertama benteng sakral Jinyowon, sekaligus kekasih hati dari Master Seo Gyeong dua ratus tahun silam.
****
Sementara itu, di dalam salah satu kamar sunyi di asrama Cheon Gi Won, suasana terasa begitu dingin dan mencekam. Baek Seo Jun duduk membeku di tepi ranjangnya, hanya diam menatap lantai batu tanpa pergerakan.
Batinnya dilanda gelombang kebimbangan yang teramat dahsyat setelah semalam Ha Jin membeberkan fakta sakral bahwa Jin So Hwa yang ia kenal ternyata menyimpan jiwa Nara—teman wanita masa kecil sekaligus cinta pertamanya saat mereka masih tumbuh bersama di masa remaja dahulu.
Namun, setelah merenung dan berpikir matang-matang sepanjang malam hingga fajar menyingsing, rahang Seo Jun seketika mengeras. Kilatan dingin memotong keraguannya. Ia akhirnya mengambil sebuah keputusan ekstrem yang teramat nekat: ia memutuskan untuk memburu dan membunuh Jin So Hwa alias Nara dengan tangannya sendiri.
Rencana pembunuhan gila itu ia rancang semata-mata karena ia tidak mau mengulangi kesalahan fatalnya di masa lalu. Di ketahui secara kelam tiga tahun yang lalu, Seo Jun sebenarnya adalah orang pertama yang telah mengetahui fakta rahasia bahwa Seol Ah adalah Nara sang pembunuh bayangan.
Namun, kala itu ia memilih untuk diam seribu bahasa, menutup mata, dan membiarkan pergerakan Nara merajalela di kota.
Akibat dari kebodohannya yang membiarkan Nara lolos demi ego perasaan cintanya yang teramat mendalam pada sang cinta pertama, puncaknya terjadi tragedi altar berdarah yang menewaskan Han Gyeol, Jin Sang Wook, dan yang paling menghancurkan batinnya: kematian sahabat karibnya sendiri, Park Ji Hoon.
Seo Jun bersumpah di dalam hati tidak akan membiarkan emosi lamanya membutakan matanya lagi. Jiwa pembunuh di dalam raga So Hwa harus dilenyapkan sebelum mengacaukan dunia untuk kedua kalinya.
****
Di belahan tempat berbeda, tepatnya di dalam aula utama Cheonbugwan, badai kemarahan sedang meledak. Jin Wu berdiri dengan wajah merah padam, matanya berkilat penuh amarah menatap Baek Yun O yang tertunduk gemetar di hadapannya. Informasi dari Jung Min mengenai dibuangnya seluruh tembikar kargo pesanan mereka ke dalam danau benar-benar merusak suasana hatinya.
"Bodoh! Kau menghancurkan barang berhargaku hanya karena panik oleh beberapa murid Cheon Gi Won?!"