Dikhianati istri sendiri, Kai kehilangan segalanya. Yang tersisa hanyalah putrinya, Aurelia — satu-satunya cahaya yang perlahan padam karena penyakit mematikan. Di titik terendah, darah yang tertidur ribuan tahun akhirnya bangkit.
Ia bukan lagi orang yang bisa diinjak. Garis keturunan Naga Tertinggi kini mengalir di uratnya. Ia bersumpah:
Yang mengkhianati akan berlutut. Kota yang membuang akan tunduk. Aurelia akan hidup — walau harus melawan surga sekalipun.
Namun kekuatan naga membuka gerbang dunia lain. Pengkhianatan itu bukanlah akhir, melainkan awal rencana gelap yang melintasi waktu. Kai kini harus melintasi dimensi, menguasai bela diri kuno, dan memimpin tim ke tempat yang tak pernah manusia jangkau. Dan di tengah badai pembalasan, ia paham: kekuatan terbesar bukanlah kemampuan menghancurkan, tapi alasan untuk melindungi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 24 — Cahaya yang Menelan Kegelapan
Gelombang kegelapan melanda — begitu pekat hingga bintang-bintang di langit seakan padam serentak. Angin menderu kencang, mendorong tubuh mereka mundur, namun tak satu pun melangkah ke belakang. Mereka berdiri melingkar, bahu menyentuh bahu, tangan saling menggenggam erat.
"Jangan terpisah!" teriak Kai di tengah gemuruh angin. "Kekuatan mereka memakan yang sendirian!"
Tujuh Pengatur meraung, suara mereka bergema tanpa mulut. Tujuh bayangan menjulang tinggi, masing-masing mengulurkan tangan — dan dari tanah, rantai-rantai gelap melesat ke arah mereka, mencoba memisahkan lingkaran itu.
Elara menebas rantai yang mendekat, pedangnya memancarkan cahaya perak yang tajam. Ren melontarkan gelombang tenaga, Dagan menghantam tanah hingga dinding batu naik melindungi mereka, Lyra membaca mantra perisai kuno, Lirael menyebarkan sayapnya menangkis serangan dari udara. Kaelan berdiri di sisi kanan Kai, kekuatan perak murni mengalir dari telapak tangannya — kekuatan yang dulu ia sembunyikan di balik kemarahan.
Namun serangan itu terlalu kuat. Satu per satu mereka terdorong mundur, napas memburu, keringat bercampur keringat dingin. Tujuh lawan delapan — dan musuh mereka memakan cahaya yang diserangnya.
"Mereka semakin kuat setiap kali kita menyerang!" teriak Kaelan tak percaya. "Tenaga kita diserap mereka!"
Kai menyadari itu juga — setiap kali cahayanya menyentuh tubuh musuh, mereka justru tumbuh lebih besar. "Berhenti menyerang! Itu bukan pertarungan kekuatan!"
"Lalu apa?" bentak salah satu Pengatur, suaranya menggelegar. "Kalian tidak punya apa-apa selain cahaya yang kami ciptakan!"
Di tengah kepungan, Aurelia berdiri tenang. Ia tidak memegang senjata. Ia tidak mengangkat tangan. Ia hanya menatap tujuh bayangan raksasa itu — bukan dengan takut, melainkan dengan kesedihan yang mendalam.
"Kalian kesepian," ucapnya pelan, namun suaranya terdengar di seluruh puncak menara. "Kalian takut. Itulah sebabnya kalian ingin menghapus perasaan — agar tak merasakan kesepian itu lagi."
Salah satu Pengatur menoleh padanya, meraung marah. "Diam! Apa yang kau tahu tentang kami?"
"Aku tahu kalian dulu seperti kami," jawab Aurelia lembut. "Dulu kalian juga merasakan, juga mencintai, juga berduka. Lalu kalian kehilangan seseorang… dan kalian memutuskan: tak ada yang boleh merasakan sakit itu lagi."
Keheningan seketika menyelimuti puncak menara. Tujuh bayangan itu bergetar.
"Kami melindungi mereka," suara salah satu Pengatur bergetar. "Kami menyelamatkan mereka dari penderitaan."
"Kalian menyelamatkan mereka dari hidup," jawab Aurelia. "Tanpa sedih, tak ada kebahagiaan. Tanpa perpisahan, tak ada rindu. Kalian menyelamatkan mereka dari rasa sakit… tapi kalian juga merampas keindahan."
Ia melangkah maju, melewati barisan pelindungnya.
"Aurelia, jangan!" panggil Kai cemas.
Gadis kecil itu menoleh, tersenyum tenang. "Percayalah, Ayah."
Ia berbalik kembali menghadap tujuh Pengatur. "Kalian tidak perlu menghapus perasaan. Kalian hanya perlu membiarkan diri kalian merasakannya kembali. Kesedihan itu tidak akan memakan kalian. Ia akan menjadi bagian dari kalian… dan membuat kalian lebih kuat."
Ia mengangkat kedua tangannya. Bukan untuk menyerang — untuk memeluk.
Cahaya muncul — bukan menyilaukan, bukan membakar. Cahaya itu lembut, hangat, menyelimuti segalanya. Ia tidak menelan kegelapan — ia memeluknya.
Dan di dalam cahaya itu, tujuh bayangan itu perlahan berubah. Wujud raksasa mereka memudar, menampakkan siapa mereka sebenarnya — tujuh pria dan wanita yang berwajah lelah, berambut perak, mata mereka penuh air mata yang tak bisa jatuh selama ribuan tahun.
Kai terkejut. Di antara mereka, ia mengenali wajah yang ia lihat di lukisan kuno — pendiri dunia-dunia pertama.
"Kalian… para leluhur," bisik Elowen tak percaya.
"Kami… gagal," kata salah satu dari mereka, suaranya pecah. "Saat dunia pertama hancur, kami kehilangan semua yang kami cintai. Kami takut hal itu terulang. Maka kami memutuskan — hapuskan perasaan, hapuskan penderitaan. Kami tidak menyadari… kami justru membunuh kehidupan itu sendiri."
Aurelia mengangguk lembut. "Kalian tidak gagal. Kalian hanya terluka. Dan sekarang… kalian bisa pulih."
Cahaya itu menyentuh mereka satu per satu. Rasa takut, rasa bersalah, rasa kesepian — semuanya muncul, bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk disembuhkan. Air mata akhirnya jatuh dari mata mereka — dan setiap tetesnya berubah menjadi bintang baru yang naik ke langit.
Namun cahaya itu menguras tenaga Aurelia. Tubuhnya perlahan menjadi transparan, kakinya tak lagi menyentuh lantai.
"Aurelia!" Kai berlari memeluknya, namun tangannya menembus tubuh putrinya. "Aurelia! Apa yang terjadi?"
Gadis kecil itu tersenyum, meski matanya berkaca-kaca. "Kekuatanku… bukan untuk bertarung, Ayah. Ia untuk menyatukan. Tapi untuk menyembuhkan luka sedalam ini… aku harus pergi ke tempat di mana cahaya dan kegelapan lahir."
"Ke mana?" tanya Kaelan cemas, melangkah mendekat. "Kau tidak bisa pergi sendirian!"
"Aku tidak sendirian," jawabnya lembut. "Tapi aku harus pergi lebih dulu. Kalian akan menyusulku… saat waktunya tiba."
Tubuhnya perlahan berubah menjadi butiran cahaya keemasan yang melayang ke udara.
"Jangan!" teriak Kai, meraihnya namun hanya menangkap cahaya yang lembut. "Aurelia! Jangan tinggalkan Ayah!"
"Ayah… dengarkan aku," suaranya terdengar semakin jauh, namun tetap hangat. "Aku tidak hilang. Aku ada di setiap cahaya yang menyentuhmu. Di setiap orang yang tersenyum padamu. Di setiap kebaikan yang kau lakukan."
Ia menatap mereka satu per satu — Kai yang bergetar menahan tangis, Kaelan yang mengepalkan tangan erat, Elowen yang menutup mulutnya, teman-temannya yang menunduk berduka.
"Kita akan bertemu lagi," bisiknya. "Jangan lupa… cinta adalah kekuatan terkuat di antara semuanya."
Dengan itu, cahaya itu menyebar ke seluruh penjuru — ke langit, ke bumi, ke setiap dunia yang terpisah — dan perlahan lenyap, menyatu dengan segalanya.
Puncak menara hening. Tujuh leluhur yang kini kembali menjadi diri mereka sendiri menunduk hormat kepada tempat Aurelia lenyap.
"Kalian kehilangan sesuatu yang paling berharga," kata salah satu dari mereka pelan. "Tapi ia meninggalkan sesuatu yang lebih besar — harapan."
Kai berdiri diam, tangannya masih terulur ke udara. Ia tidak menangis. Ia hanya menatap langit yang kini kembali penuh bintang — bintang yang lebih terang dari sebelumnya.
"Kita akan menemukannya," ucapnya pelan namun tegas. "Apa pun yang terjadi. Ke mana pun ia pergi. Kita akan membawanya pulang."
Kaelan meletakkan tangan di bahu kakaknya. "Aku ikut. Kali ini… aku tidak akan pergi sendirian."
Elowen memeluk kedua putranya. "Dan aku. Kali ini, aku tidak akan membiarkan kalian pergi tanpa aku."
Di kejauhan, cakrawala mulai terang. Petualangan mereka belum berakhir — justru sebaliknya, perjalanan sesungguhnya baru saja dimulai.