Zinnia Arunika terlahir tanpa suara. Tapi malam itu, di tepi pantai saat perpisahan kampus, bahkan jika ia bisa berteriak sekalipun, mungkin tak akan ada yang mendengar.
Niatnya menolong seorang pria yang diduganya hendak mengakhiri hidup justru berakhir menjadi malam paling kelam dalam hidupnya.
Pria itu, Arvid Danendra, berada di bawah pengaruh obat dan kehilangan kendali. Ia merenggut kesucian Zinnia.
Sebelum pergi karena keadaan darurat, ia meninggalkan sebuah cincin dan janji tanggung jawab.
Siapa sangka, Zinnia malah mengandung anak dari malam yang ingin ia lupakan. Ia memilih diam, tak menuntut haknya karena dunia pria itu berbeda darinya. Arvid pewaris keluarga konglomerat dan keluarganya tak pernah dirancang untuk menerima gadis sepertinya.
Zinnia yang bisu memilih membisu. Namun bagaimana saat takdir memaksa mereka kembali bertemu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Ketakutan Seorang Ibu
Pak Damar menoleh. "Ya, Pak?"
Namun, tatapan Arvid tertuju pada Zinnia. Perempuan itu, yang baru menyadari arah pandangnya, mengangkat kepala, jantungnya berdegup keras.
Arvid tetap menatap Zinnia. Ia ingin memintanya tinggal sebentar. Ia perlu memastikan identitas perempuan itu, menanyakan kapan ia mulai bekerja, dan mencari tahu apakah cincin yang diberikannya malam itu masih ada padanya.
Arvid baru membuka mulut ketika ponselnya berdering. Nama salah satu petinggi perusahaan muncul di layar. Ia segera menjawab panggilan tersebut.
“Ada apa?”
Wajahnya berubah serius saat mendengarkan laporan di seberang.
“Dokumen itu sudah diperiksa ulang? Kalo begitu, jangan kirim apa pun sebelum tim legal mastiin semuanya sesuai. Akan kuhubungi kalian setelah pembicaraan ini selesai.”
Ia mengakhiri panggilan dengan rahang mengeras. Masalah pekerjaan kembali menuntut perhatiannya.
Ketika Arvid mengangkat wajah, Zinnia sudah berdiri bersama Laras dan Bima. Ia tampak bersiap meninggalkan ruangan.
Arvid sempat hendak memanggilnya lagi, tetapi Juki mendekat untuk menyampaikan informasi tambahan mengenai masalah yang baru saja dilaporkan.
“Bos, tim legal nunggu keputusan Bos.”
Arvid mengembuskan napas tertahan. “Oke. Siapin berkasnya.”
Ia kembali menatap pintu. Zinnia sudah tidak terlihat.
Untuk beberapa saat, Arvid tetap duduk di tempatnya, pikirannya tertinggal pada perempuan yang baru saja meninggalkan ruangan itu.
Ia belum tahu bagaimana Zinnia bisa berada di perusahaannya. Ia juga belum tahu apakah perempuan itu benar-benar orang yang selama ini dicarinya.
Namun, satu hal kini tidak bisa lagi ia abaikan. Jika Zinnia memang perempuan dari malam itu, ia tidak bisa terus berpura-pura bahwa kejadian tersebut hanyalah sesuatu yang sudah berlalu.
Dan kali ini, perempuan itu berada cukup dekat untuk memberinya kesempatan mencari jawaban.
***
Sejak rapat pagi tadi, Zinnia belum menemukan kesempatan untuk mendekati Arvid.
Pekerjaan datang silih berganti. Ia harus menyerahkan hasil revisi desain kepada Pak Damar, berdiskusi dengan Bima mengenai material yang akan diuji, kemudian memperbaiki beberapa detail sketsa sebelum diserahkan kepada tim pengembangan produk.
Setiap kali berniat mencari informasi tentang Arvid, selalu ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan lebih dahulu.
Hingga waktu istirahat tiba, ia bahkan belum mengetahui apakah pria yang dilihatnya tadi benar-benar orang yang selama ini dicarinya.
Zinnia mengembuskan napas, lalu menyimpan ponselnya di dalam tas. Nanti saja. Ia tidak mungkin mencari jawaban dengan pikiran yang kacau dan perut kosong.
Ia pun pergi ke kantin, memesan makanan, lalu mencari tempat duduk. Karena beberapa meja sudah terisi, ia duduk bersama dua karyawan perempuan dari divisi lain yang pernah beberapa kali menyapanya.
Zinnia baru menyuapkan makanan ketika percakapan dari meja di belakangnya menarik perhatian.
“Eh, kalian denger cerita tentang manajer perusahaan sebelah, gak?” tanya seorang perempuan.
“Yang mana? Manajer yang ketauan punya hubungan sama stafnya itu?”
“Iya. Katanya, staf perempuan itu sampai hamil.”
“Serius? Terus mereka nikah?”
“Justru itu masalahnya. Si manajer gak mau nikahin dia. Keluarganya gak setuju karena status sosial mereka jauh beda.”
Zinnia memperlambat gerakan tangannya.
“Kasihan banget, ya,” sahut perempuan lain. “Kalo udah hamil, terus gimana?”
“Katanya, keluarga manager itu ngambil alih pengasuhan anak itu. Perempuannya dikasih uang kompensasi, tapi diminta tanda tangan kesepakatan agar gak ganggu keluarga mereka dan gak nemuin anaknya.”
“Astaga. Dia mau aja?”
“Entahlah. Mungkin kepaksa. Apalagi setelah itu si manajer nikah sama perempuan pilihan keluarganya. Katanya, mereka memang berasal dari lingkungan sosial yang sepadan.”
Beberapa detik berlalu sebelum perempuan lain menanggapi.
“Kalo aku jadi dia, uang sebanyak apa pun gak bakal bisa gantiin anakku.”
“Ya, siapa yang rela sih? Tapi kalo keluarga laki-lakinya punya uang dan kuasa, sementara kita cuma staf biasa, emangnya kita bisa apa?”
Percakapan itu berlanjut dengan komentar lain. Salah seorang karyawan bahkan menganggap perempuan tersebut seharusnya memikirkan akibatnya sebelum menjalin hubungan dengan pria berstatus tinggi.
Zinnia tidak lagi menyentuh makanannya. Jari-jarinya perlahan mengencang di sekitar sendok.
Anak itu diambil. Ibunya diberi uang, lalu dilarang menemuinya. Sementara sang ayah menikah dengan perempuan lain yang dianggap lebih pantas mendampinginya.
Pemandangan itu tiba-tiba muncul begitu jelas dalam benak Zinnia, seolah ia sedang menyaksikan sendiri peristiwa tersebut. Tangannya bergerak refleks menuju perutnya.
Tidak. Ia tidak sanggup membayangkan hal seperti itu terjadi pada dirinya.
Anak ini mungkin tidak direncanakan. Kehadirannya pun bermula dari kejadian yang ingin Zinnia lupakan seumur hidup. Namun, anak itu tidak bersalah. Ia tidak pernah meminta dilahirkan dalam keadaan seperti ini.
Dan Zinnia tidak ingin anaknya kelak menjadi seseorang yang hanya bisa ia rindukan dari kejauhan.
Ingatan tentang percakapan Merry kemarin kembali muncul. Perempuan itu menginginkan menantu yang mampu memahami tanggung jawab keluarga Danendra, menghadiri acara formal, serta mendampingi seorang pewaris dalam lingkungan sosial mereka.
Merry memang tidak pernah menyebut nama calon menantu yang diinginkannya. Namun, Zinnia tahu ada perempuan yang sejak kecil sudah mengenal Arvid dan berada di lingkaran kehidupannya.
Nita. Perempuan itu cantik, percaya diri, berpendidikan, dan memiliki posisi yang jelas di perusahaan. Ia bisa berbicara dengan mudah, menjelaskan gagasannya tanpa bantuan ponsel, serta berdiri di tengah orang-orang penting tanpa terlihat canggung.
Sementara Zinnia?
Ia hanyalah karyawan baru yang bahkan belum mengetahui apakah pria yang dicarinya bersedia mengakui kejadian di antara mereka.
Zinnia menunduk. Ia tidak ingin mengasihani dirinya sendiri. Selama ini, ia berusaha membangun hidupnya dengan kemampuan yang dimiliki. Ia belajar, membuat desain, mengirimkan lamaran, dan akhirnya memperoleh pekerjaan tanpa meminta belas kasihan siapa pun.
Namun, ia juga tidak bisa berpura-pura bahwa kedudukan mereka sama.
Jika Arvid benar-benar pria dari pantai itu, ia adalah pewaris keluarga besar dengan kekayaan dan kekuasaan yang tidak bisa dibayangkan Zinnia. Sementara dirinya tidak memiliki apa pun untuk menghadapi keluarga seperti itu selain keberanian dan keinginan mempertahankan anaknya.
Bagaimana jika Arvid tidak mengakuinya?
Bagaimana jika keluarganya menganggap Zinnia hanya perempuan yang ingin memanfaatkan kejadian itu untuk mendapatkan uang?
Dan bagaimana jika mereka menerima anak itu, tetapi tidak menginginkan dirinya sebagai ibunya?
Zinnia menelan ludah. Dadanya terasa sesak. Ia tidak ingin menikah dengan Arvid hanya karena terpaksa. Ia juga tidak ingin memohon agar pria itu memilihnya di antara perempuan-perempuan yang dianggap lebih pantas.
Tetapi, jika ia datang menuntut pertanggungjawaban, apakah ia siap menghadapi kemungkinan terburuk?
Apakah ia sanggup mempertahankan anaknya jika keluarga Arvid memutuskan bahwa mereka bisa memberikan kehidupan yang lebih baik?
Pikiran itu membuat matanya terasa panas. Zinnia mengusap sudut matanya sebelum air mata sempat jatuh. Ia tidak boleh mengambil keputusan berdasarkan cerita orang lain. Apa yang terjadi pada perempuan itu belum tentu akan terjadi padanya.
Namun, cerita tersebut membuatnya menyadari sesuatu yang selama ini berusaha ia hindari. Menemukan Arvid bukan berarti semua masalahnya akan selesai.
Justru setelah menemukan pria itu, ia mungkin harus menghadapi masalah yang jauh lebih besar.
...🔸🔸🔸...
...“Kekayaan mungkin membuat seseorang lebih mudah mendapatkan apa yang diinginkan, tetapi tidak pernah memberinya hak untuk menentukan nilai hidup orang lain atau membeli kebebasan mereka.”...
...“Jangan mengukur kelayakan diri dari seberapa tinggi kedudukan seseorang di hadapanmu. Perbedaan harta, pendidikan, dan kemampuan berbicara tidak pernah membuat satu manusia lebih berharga daripada manusia lainnya.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
kasihan Zinnia....semoga dapat Perlakuan istimewa dari Arvid setelah kebebarannya terungkap....
Dan berharap Keluarga Danendra sangat baik tidak memandang sosial media
jangan di urungkan lagi niatnya ya Zinn....
semoga Arvid bida menyelidiki dan mengetahui kebenarannya dan mengakuinya di depan ibunya...