NovelToon NovelToon
Bisu, Tapi Membisu

Bisu, Tapi Membisu

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Hamil di luar nikah / CEO
Popularitas:83.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Zinnia Arunika terlahir tanpa suara. Tapi malam itu, di tepi pantai saat perpisahan kampus, bahkan jika ia bisa berteriak sekalipun, mungkin tak akan ada yang mendengar.

Niatnya menolong seorang pria yang diduganya hendak mengakhiri hidup justru berakhir menjadi malam paling kelam dalam hidupnya.

Pria itu, Arvid Danendra, berada di bawah pengaruh obat dan kehilangan kendali. Ia merenggut kesucian Zinnia.

Sebelum pergi karena keadaan darurat, ia meninggalkan sebuah cincin dan janji tanggung jawab.

Siapa sangka, Zinnia malah mengandung anak dari malam yang ingin ia lupakan. Ia memilih diam, tak menuntut haknya karena dunia pria itu berbeda darinya. Arvid pewaris keluarga konglomerat dan keluarganya tak pernah dirancang untuk menerima gadis sepertinya.

Zinnia yang bisu memilih membisu. Namun bagaimana saat takdir memaksa mereka kembali bertemu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Ketakutan Seorang Ibu

Pak Damar menoleh. "Ya, Pak?"

Namun, tatapan Arvid tertuju pada Zinnia. Perempuan itu, yang baru menyadari arah pandangnya, mengangkat kepala, jantungnya berdegup keras.

Arvid tetap menatap Zinnia. Ia ingin memintanya tinggal sebentar. Ia perlu memastikan identitas perempuan itu, menanyakan kapan ia mulai bekerja, dan mencari tahu apakah cincin yang diberikannya malam itu masih ada padanya.

Arvid baru membuka mulut ketika ponselnya berdering. Nama salah satu petinggi perusahaan muncul di layar. Ia segera menjawab panggilan tersebut.

“Ada apa?”

Wajahnya berubah serius saat mendengarkan laporan di seberang.

“Dokumen itu sudah diperiksa ulang? Kalo begitu, jangan kirim apa pun sebelum tim legal mastiin semuanya sesuai. Akan kuhubungi kalian setelah pembicaraan ini selesai.”

Ia mengakhiri panggilan dengan rahang mengeras. Masalah pekerjaan kembali menuntut perhatiannya.

Ketika Arvid mengangkat wajah, Zinnia sudah berdiri bersama Laras dan Bima. Ia tampak bersiap meninggalkan ruangan.

Arvid sempat hendak memanggilnya lagi, tetapi Juki mendekat untuk menyampaikan informasi tambahan mengenai masalah yang baru saja dilaporkan.

“Bos, tim legal nunggu keputusan Bos.”

Arvid mengembuskan napas tertahan. “Oke. Siapin berkasnya.”

Ia kembali menatap pintu. Zinnia sudah tidak terlihat.

Untuk beberapa saat, Arvid tetap duduk di tempatnya, pikirannya tertinggal pada perempuan yang baru saja meninggalkan ruangan itu.

Ia belum tahu bagaimana Zinnia bisa berada di perusahaannya. Ia juga belum tahu apakah perempuan itu benar-benar orang yang selama ini dicarinya.

Namun, satu hal kini tidak bisa lagi ia abaikan. Jika Zinnia memang perempuan dari malam itu, ia tidak bisa terus berpura-pura bahwa kejadian tersebut hanyalah sesuatu yang sudah berlalu.

Dan kali ini, perempuan itu berada cukup dekat untuk memberinya kesempatan mencari jawaban.

***

Sejak rapat pagi tadi, Zinnia belum menemukan kesempatan untuk mendekati Arvid.

Pekerjaan datang silih berganti. Ia harus menyerahkan hasil revisi desain kepada Pak Damar, berdiskusi dengan Bima mengenai material yang akan diuji, kemudian memperbaiki beberapa detail sketsa sebelum diserahkan kepada tim pengembangan produk.

Setiap kali berniat mencari informasi tentang Arvid, selalu ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan lebih dahulu.

Hingga waktu istirahat tiba, ia bahkan belum mengetahui apakah pria yang dilihatnya tadi benar-benar orang yang selama ini dicarinya.

Zinnia mengembuskan napas, lalu menyimpan ponselnya di dalam tas. Nanti saja. Ia tidak mungkin mencari jawaban dengan pikiran yang kacau dan perut kosong.

Ia pun pergi ke kantin, memesan makanan, lalu mencari tempat duduk. Karena beberapa meja sudah terisi, ia duduk bersama dua karyawan perempuan dari divisi lain yang pernah beberapa kali menyapanya.

Zinnia baru menyuapkan makanan ketika percakapan dari meja di belakangnya menarik perhatian.

“Eh, kalian denger cerita tentang manajer perusahaan sebelah, gak?” tanya seorang perempuan.

“Yang mana? Manajer yang ketauan punya hubungan sama stafnya itu?”

“Iya. Katanya, staf perempuan itu sampai hamil.”

“Serius? Terus mereka nikah?”

“Justru itu masalahnya. Si manajer gak mau nikahin dia. Keluarganya gak setuju karena status sosial mereka jauh beda.”

Zinnia memperlambat gerakan tangannya.

“Kasihan banget, ya,” sahut perempuan lain. “Kalo udah hamil, terus gimana?”

“Katanya, keluarga manager itu ngambil alih pengasuhan anak itu. Perempuannya dikasih uang kompensasi, tapi diminta tanda tangan kesepakatan agar gak ganggu keluarga mereka dan gak nemuin anaknya.”

“Astaga. Dia mau aja?”

“Entahlah. Mungkin kepaksa. Apalagi setelah itu si manajer nikah sama perempuan pilihan keluarganya. Katanya, mereka memang berasal dari lingkungan sosial yang sepadan.”

Beberapa detik berlalu sebelum perempuan lain menanggapi.

“Kalo aku jadi dia, uang sebanyak apa pun gak bakal bisa gantiin anakku.”

“Ya, siapa yang rela sih? Tapi kalo keluarga laki-lakinya punya uang dan kuasa, sementara kita cuma staf biasa, emangnya kita bisa apa?”

Percakapan itu berlanjut dengan komentar lain. Salah seorang karyawan bahkan menganggap perempuan tersebut seharusnya memikirkan akibatnya sebelum menjalin hubungan dengan pria berstatus tinggi.

Zinnia tidak lagi menyentuh makanannya. Jari-jarinya perlahan mengencang di sekitar sendok.

Anak itu diambil. Ibunya diberi uang, lalu dilarang menemuinya. Sementara sang ayah menikah dengan perempuan lain yang dianggap lebih pantas mendampinginya.

Pemandangan itu tiba-tiba muncul begitu jelas dalam benak Zinnia, seolah ia sedang menyaksikan sendiri peristiwa tersebut. Tangannya bergerak refleks menuju perutnya.

Tidak. Ia tidak sanggup membayangkan hal seperti itu terjadi pada dirinya.

Anak ini mungkin tidak direncanakan. Kehadirannya pun bermula dari kejadian yang ingin Zinnia lupakan seumur hidup. Namun, anak itu tidak bersalah. Ia tidak pernah meminta dilahirkan dalam keadaan seperti ini.

Dan Zinnia tidak ingin anaknya kelak menjadi seseorang yang hanya bisa ia rindukan dari kejauhan.

Ingatan tentang percakapan Merry kemarin kembali muncul. Perempuan itu menginginkan menantu yang mampu memahami tanggung jawab keluarga Danendra, menghadiri acara formal, serta mendampingi seorang pewaris dalam lingkungan sosial mereka.

Merry memang tidak pernah menyebut nama calon menantu yang diinginkannya. Namun, Zinnia tahu ada perempuan yang sejak kecil sudah mengenal Arvid dan berada di lingkaran kehidupannya.

Nita. Perempuan itu cantik, percaya diri, berpendidikan, dan memiliki posisi yang jelas di perusahaan. Ia bisa berbicara dengan mudah, menjelaskan gagasannya tanpa bantuan ponsel, serta berdiri di tengah orang-orang penting tanpa terlihat canggung.

Sementara Zinnia?

Ia hanyalah karyawan baru yang bahkan belum mengetahui apakah pria yang dicarinya bersedia mengakui kejadian di antara mereka.

Zinnia menunduk. Ia tidak ingin mengasihani dirinya sendiri. Selama ini, ia berusaha membangun hidupnya dengan kemampuan yang dimiliki. Ia belajar, membuat desain, mengirimkan lamaran, dan akhirnya memperoleh pekerjaan tanpa meminta belas kasihan siapa pun.

Namun, ia juga tidak bisa berpura-pura bahwa kedudukan mereka sama.

Jika Arvid benar-benar pria dari pantai itu, ia adalah pewaris keluarga besar dengan kekayaan dan kekuasaan yang tidak bisa dibayangkan Zinnia. Sementara dirinya tidak memiliki apa pun untuk menghadapi keluarga seperti itu selain keberanian dan keinginan mempertahankan anaknya.

Bagaimana jika Arvid tidak mengakuinya?

Bagaimana jika keluarganya menganggap Zinnia hanya perempuan yang ingin memanfaatkan kejadian itu untuk mendapatkan uang?

Dan bagaimana jika mereka menerima anak itu, tetapi tidak menginginkan dirinya sebagai ibunya?

Zinnia menelan ludah. Dadanya terasa sesak. Ia tidak ingin menikah dengan Arvid hanya karena terpaksa. Ia juga tidak ingin memohon agar pria itu memilihnya di antara perempuan-perempuan yang dianggap lebih pantas.

Tetapi, jika ia datang menuntut pertanggungjawaban, apakah ia siap menghadapi kemungkinan terburuk?

Apakah ia sanggup mempertahankan anaknya jika keluarga Arvid memutuskan bahwa mereka bisa memberikan kehidupan yang lebih baik?

Pikiran itu membuat matanya terasa panas. Zinnia mengusap sudut matanya sebelum air mata sempat jatuh. Ia tidak boleh mengambil keputusan berdasarkan cerita orang lain. Apa yang terjadi pada perempuan itu belum tentu akan terjadi padanya.

Namun, cerita tersebut membuatnya menyadari sesuatu yang selama ini berusaha ia hindari. Menemukan Arvid bukan berarti semua masalahnya akan selesai.

Justru setelah menemukan pria itu, ia mungkin harus menghadapi masalah yang jauh lebih besar.

 

...🔸🔸🔸...

...“Kekayaan mungkin membuat seseorang lebih mudah mendapatkan apa yang diinginkan, tetapi tidak pernah memberinya hak untuk menentukan nilai hidup orang lain atau membeli kebebasan mereka.”...

...“Jangan mengukur kelayakan diri dari seberapa tinggi kedudukan seseorang di hadapanmu. Perbedaan harta, pendidikan, dan kemampuan berbicara tidak pernah membuat satu manusia lebih berharga daripada manusia lainnya.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Sri Kadek
lanjut
Cicih Sophiana
kamu lg sakit knp harus pulang Arvid...
Cicih Sophiana
qta lihat aja sama sama apa Zinnia tdk bahagia atau bahagia setelah bersama Arvid...
Cicih Sophiana
yg jelas jodoh... mungkin emang Zinnia bukan jodoh mu Dandy tp Jodoh nya💃Arvid...jodoh Zinnia udah di tentukan kak Nana tau Dandy..🫢🙏😄💃
Cicih Sophiana
cinta kadang bikin orang egois... mungkin seperti Dandy.. padahal Zinnia sdh bilang klo dia gak mungkin nikah dgn Dandy... krn Zinnia hamil anak orang lain dan orang tua Dandy jg pasti tdk setuju...
Hanima
Gasss Vid..
Cicih Sophiana
siapa itu yah yg manggil Zinnia... apa itu Dandy kok dia tau tempat kontrakan baru Zinnia...
Echa Mauli
lanjut Thor...jarang up ya Thor padahal ditunggu2...
Cicih Sophiana
Zinnia harus bersukur jg dapat Arvid... dia menghormati kamu minta pendapat kamu... di menepati janji nya dia tdk egois walau dia kaya..
Fitra Sari
lanjut donk KK ..up nya sekarang dikit trus mlam sekalee 🤭😍😍😍
Fitra Sari
lanjut kk🙏🙏🙏 ♥️♥️♥️
Hanima
Lanjut Zinnn
Siti Jumiati
sabaaaar arvid
Fitra Sari
lanjut donk KK 🙏🙏🙏 doubel bnyak pkoknya ♥️♥️
Cicih Sophiana
mulai lah belajar saling memahami dan menghargai pendapat pasangan...
Cicih Sophiana
cinta akan datang jika mereka saling menghormati dan saling pengertian..
Anitha
Sabar ya Ar butuh waktu bagi Zinnia untuk kamu sentuh🤭tapi Zin ga apa² kalo Arvid mau cium kamu Arvid akan tambah cinta dan sayang sama kamu..

duh itu Merry nyewa detektif semoga saja tercium oleh Arvid gimana reaksi Arvid jika tau mamanya nyelidiki Zinnia?
Cicih Sophiana
ngidam nya Arvid seharus nya klo dekat Zinnia sembuh kak Nana... biar Arvid mau nya deket terus dgn Zinnia 🫢😄
Cicih Sophiana
aq yakin percaya klo Arvid orang baik yg bertanggung jawab...bukan cuma omdo
Cicih Sophiana
kebanyakan atau hampir semua ibu pasti seperti ibu Riri...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!