Orang tua Yang rela melakukan apapun untuk mengungkap semua misteri Kematian tragis sang putri yang pernah mereka abaikan selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
"Tugas Om Ben hari ini adalah menyiapkan dokumen untuk surat-surat wasiat, aku tahu ini berbahaya dan ada kemungkinan aku tidak pernah kembali setelah misi ini. Data sudah aku buat tadi pagi." Nismara menahan nafasnya sebentar lalu jari-jarinya menyentuh layar telepon. "Nah barusan aku kirim via email, coba Om cek! Untuk rinciannya aku percayakan pada Om Ben semua."
"Baiklah, Nis. Apakah dengan memasungmu aku bisa mengurungkan niatmu?" Benjamin menyahut, matanya terlihat sedih.
Nismara tertawa. "Bahkan malaikat maut sekalipun tidak bisa menyuruhku menggagalkan rencana ini, Om."
Benjamin menarik nafas. "Apakah ada yang lain, Nis? Aku ingin segera keluar dari kantormu sekarang. Aku sama sekali tidak ingin mendengarkan semua ocehanmu ini. Aku tahu kamu kuat, kamu hebat, tapi tidak menyangka kalau kamu senekat ini."
Nismara meringis. Dia memeluk tubuh Benjamin dan laki-laki paruh baya itu membalas pelukan Nismara. Benjamin memeluk erat Nismara, sudut matanya sudah menitik air.
"Tapi kamu pasti kembali, aku tahu kamu tidak akan membiarkan laki-laki tua ini bersedihkan?" Benjamin mengoceh tidak jelas.
Nismara mengurai pelukannya. Dan Benjamin melangkah pergi tanpa menoleh Dia berkata. "Hubungi aku kalau kamu berubah pikiran."
Nismara tertawa renyah. "Okey, Om."
Sepeninggal Benjamin, Nismara mendekati Miranti. Sahabat sekaligus asistennya itu masih terlihat begitu syok. Nismara pun memeluk Miranti.
"Jangan senekat ini kenapa, Mis?" mata Miranti sudah basah. Dia mempererat pelukannya.
"Aku harus ambil resiko ini, aku nggak mau langkahku di masa depan akan terganjal oleh penyesalanku sendiri. Sherin memang tidak akan pernah kembali, tapi aku benar-benar ingin membuatnya jelas. Aku yakin Sherin ingin aku menguap semuanya, Mir."
"Tuhan...." Miranti mendesis.
"Nah sekarang aku akan memberimu banyak tugas dan tanggung jawab. Buatlah surat yang isinya bahwa aku menyerahkan semua wewenang dan tanggung jawab perusahaan seluruhnya kepada mu. Setelah kutanda tangani segera kirim ke Om Ben."
"Kamu udah kasih tahu Samudra?" Miranti bertanya.
Nismara menggeleng. "Sejak kemarin malam dia belum menghubungiku lagi, masa bodoh lah. Dia tetap menjadi salah satu tersangka ku selain Gege."
Miranti memejamkan matanya sebentar lalu mengambil nafas dalam-dalam. "Kalau nanti Sam cari kamu gimana?"
"Itu salah satu tugasmu, Mir." Nismara menyungging miring.
"Kamu ini sebenarnya cinta beneran nggak sama Samudra?"
Nismara tertawa. "Entah lah, Mir. Rasanya setiap berhubungan dengan laki-laki aku sudah tidak terlalu berharap apa-apa."
"Ternyata kamu belum move on dari Gege." tukas Miranti.
"Peristiwa nya yang bikin aku susah lupa, bukan orangnya!" Nismara cepat menimpali. "Sudah sana, kerjakan segera yang aku perintah, waktu terbatas nih!"
Miranti berdiri dan berkaca-kaca. "Nis, aku nanti akan merindukan galak mu ini, bentakanmu dan semua keras kepalamu."
Nismara tertawa. "Apa nggak bisa dikenang yang bagus-bagusnya aja, Mir?"
"Karena emang nggak ada." Miranti menyusut air matanya sambil tertawa.
"Sialan, udah sana cepat!" Teriak Nismara menggoda Miranti.
Sepeninggal Miranti, Nismara menelpon Hasan. Berpesan kepada kepala pelayan di rumahnya itu dia juga bahwa dia akan berlibur ke luar negeri sampai waktu yang lama. Nismara memberi tanggung jawab penuh pada Hasan untuk mengurus rumah dan mengelola semua pelayan di rumahnya.
"Kalau untuk uang, Pak Hasan langsung berhubungan dengan Miranti, ya Pak."
(Baik Nyonya.)
"Aku langsung pergi dari kantor sore ini. Kalau ada orang asing yang bertanya arahkan ke kantor saja untuk lapor ke Miranti.
****
Pukul empat kurang sedikit, Nismara telah sampai di bandara. Dia ditemani Miranti dan Benjamin.
Dan sesampainya di Swiss, Nismara langsung pergi ke klinik kecantikan terkenal yang sudah dia pesan. Tak banyak lagi pembicaraan, karena Nismara sudah berkonsultasi panjang lebar dengan dokter yang akan merombak wajahnya.
Sambil menunggu hasil operasi plastiknya, Nismara masih membicarakan beberapa pekerjaan dan rencana-rencananya dengan Miranti dan Benjamin. Ya , hanya kepada dua orang itu Nismara percaya sepenuhnya.
Sedang Samudra marah-marah saat berhasil menghubungi Nismara. Tanpa membuang waktu Nismara pun berakting emosi dan langsung memutuskan hubungan dengan laki-laki itu. Meskipun jauh dalam lubuk hatinya, Nismara menyukai laki-laki itu, namun dia mempertimbangkan dua hal. Yang pertama, tentu saja Nismara masih curiga akan keterlibatan Samudra atas pembunuhan Sherin. Yang kedua, jika Samudra memang tidak terlibat, lebih baik memang tidak terlibat sekalian agar laki-laki itu tidak terkena imbas dengan apa yang akan Nismara lakukan.
Tiga Minggu pun berlalu. Nismara sudah memiliki wajah dan tubuh baru. Wajah nya benar-benar berubah. Pipi nya tirus dan guratan kedewasaannya telah sirna oleh pisau bedah. Kini Dia memiliki pipi lebih chubby khas gadis remaja Indonesia, hidungnya meski masih mancung tetapi berbeda bentuk. Untuk tubuhnya, dia hanya mengubah pantatnya yang sedikit tepos agar lebih berisi. Selebihnya dia mengatur pola makan saja.
Nismara mengirimkan foto wajah barunya kepada Benjamin. Dan langsung dibalas dengan panggilan video oleh pengacara senior itu.
"Aku lebih suka Nismara yang dulu." ucap Benjamin sambil tersenyum. Miranti yang terlihat di sebelahnya ikut tersenyum.
Nismara tertawa kecil. "Tapi maaf, aku tidak sedang minta pendapat, Om. Aku sedang memberi Om perintah hehehe."
"Siap laksanakan Tuan putri!"
Pada keesokan harinya, Nismara menerima paspor dan identitas baru yang dikirim oleh teman Benjamin dari Paris.
Sofia Elena. Lahir di Denpasar 7 September 2005 dari ibu kebangsaan Jerman Ayah Indonesia.
"Sempurna." desis Nismara senang.
Genap sebulan berada di Swiss, Nismara sudah merasa fit. Operasi yang dia jalankan juga sukses, tidak menimbulkan dampak negatif. Jadi Nismara memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Namun sebelum benar-benar berada di Indonesia, dia menghubungi Miranti terlebih dahulu.
"Aku akan membuang nomor teleponku yang ini, dan menggantinya dengan yang baru. Aku masih berpikir apakah aku masih perlu berhubungan denganmu atau tidak, Mir."
"Heh, maksudmu apa?" Miranti nyaris berteriak.
" Jangan menghilang, nanti kalau kamu ada apa-apa bagaimana?"
"Nah justru itu. Kalau kamu selalu tahu tentang keberadaanku, nanti kamu pasti tidak bisa menahan diri untuk tidak menyusul aku. Sedang aku ingin totalitas dalam penyamaran ini, Mir."
"Ngomong apa kamu, Nis? Aku janji memenuhi semua persyaratanmu, tapi jangan menghilang juga dari aku. Itu sama saja membunuh aku pelan-pelan."
Nismara terbahak. " Kamu tertular omongan lebay Cynthia, Mir?"
Tapi Miranti tidak tertawa, suaranya tetap serius dan tegang. "Aku serius, Nis. Aku sama sekali tidak setuju kamu tidak memberiku kabar."
"Ya Kita lihat nanti aja......"
"Sampai kamu tidak memberiku nomor teleponmu yang baru, aku akan bongkar semua rahasiamu ini ke Samudra."
Nismara terhenti tertawa, tapi dia masih menyeringai. Nismara tahu Miranti hanya kuatir akan dirinya sendiri.
"Aku serius Nismara?"
"Iya iya. Aku akan terbang besok ke Denpasar. Aku perlu membuat kulitku sedikit lebih coklat di sana. Aku akan hubungi kamu setelah aku sampai di Denpasar.