Dibuang oleh keluarga sendiri dan bertahan hidup sendirian di kamar kos sempit adalah kenyataan pahit Danu. Fisiknya yang tambun membuatnya menjadi sasaran bullying parah sepanjang SD hingga SMP. Bagi Danu, dia ditakdirkan untuk tidak punya teman dan selalu tak kasatmata.
Namun, hari pertama masuk SMA mendadak jungkir balik.
Satu kelas dibuat geger saat Rio—sosok murid baru yang sangat tampan, karismatik, dan mendadak populer se-sekolah—justru berjalan ke pojokan. Demi menghindari sorotan dan perhatian orang-orang, Rio sengaja memilih untuk duduk di sebelah Danu!
Danu jelas dibuat jantungan dan melongo setengah mati. Kenapa cowok se-populer Rio malah milih duduk bersanding dengan anak yang paling dihindari satu sekolah? Akankah ini jadi awal dari hadirnya "secercah cahaya" di hidup Danu, atau justru membawa masalah baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Ada Yang Protes
Pagi hari menyambut dengan cerah, seolah ikut merayakan sisa-sisa euforia kesuksesan konser kecil mereka kemarin.
Di kamarnya, Danu terbangun dengan tubuh segar dan suasana hati yang melambung tinggi. Rasa lelah yang sempat merajam otot-ototnya seakan lenyap begitu saja, menyisakan energi dan semangat membara. Ia bangkit dari kasur, lalu diam sejenak di tepi ranjang untuk "mengumpulkan nyawa" yang rupanya masih tertinggal di alam mimpi.
Begitu nyawanya komplit seratus persen, ritual pagi pun dimulai: sarapan kilat ala kadarnya, mandi air dingin yang menyegarkan, lalu berganti pakaian rapi. Namun, begitu ia membuka pintu kamar kosnya, langkah Danu langsung terhenti. Ibu kos berdiri tepat di hadapannya dengan senyum penuh arti.
"Eh, Ibu kos? Pagi-pagi ada apa nih?" tanya Danu bingung.
Wanita paruh baya itu melipat tangan di dada. "Ini, Nak Danu. Ada pemberitahuan penting. Anonim yang kemarin itu... dia udah bayar lunas uang kos kamu untuk dua tahun ke depan. Termasuk tagihan air dan listrik, semuanya sudah beres."
Mata Danu langsung membelalak lebar. "Hah? Disponsori lagi sampai dua tahun ke depan?!"
"Iya, Nak. Kamu nggak punya niat buat nyari tahu siapa sebenarnya si anonim dermawan ini?" goda Ibu kos penasaran.
Danu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Nanti-nanti deh, Bu. Fokus saya sekarang mau sekolah dulu. Oh ya, sampaikan rasa terima kasih saya juga ya, Bu. Soal pinjaman uang sekolah dulu, saya pasti akan kembalikan semuanya!" sahut Danu cepat, lalu bergegas melangkah pergi meninggalkan Ibu kos yang hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Aduh, anak ini... dibilangin nggak usah dikembalikan juga," gumam Ibu kos dalam hati, menatap punggung Danu dengan senyum geli. "Hehe, jadi ingat masa lalu..." tawanya pelan, tenggelam dalam kenangan lamanya sejenak. "Ah, sudahlah! Mending saya lanjut sarapan."
Scene berpindah ke jalanan menuju sekolah. Suasana pagi ini terasa sangat berbeda bagi Danu. Sepanjang perjalanan menyusuri trotoar, ia menyadari banyak pasang mata yang menatapnya sambil berbisik-bisik. Kalau dulu bisikan itu bernada mengejek atau mencibir, hari ini isinya penuh pujian. Mereka mengelu-elukan aksi panggung Danu si penabuh drum yang kemarin terlihat sangat keren.
Danu yang tidak terbiasa dipuji mendadak salah tingkah. Pipinya bersemu merah, ia tersipu malu sendiri sambil menendang-nendang kerikil kecil.
Hehe... emangnya penampilan kemarin sebagus itu ya? batin Danu berbunga-bunga, senyumnya merekah lebar saking senangnya.
Karena terlalu asyik melayang di awan dan berjalan tanpa melihat jalan, sebuah bencana kecil terjadi. Pletak! Kakinya tak sengaja menginjak ekor seekor anjing kampung yang sedang tidur lelap di pinggir jalan.
GUK! GUK! GUK!
Binatang berbulu itu langsung melompat kaget dan berbalik mengejar dengan taring menyeringai. Danu yang nyawanya nyaris copot seketika menjerit histeris. Panik bukan main, ia langsung mengambil langkah seribu, lari terbirit-birit menyelamatkan nyawa.
Sesampainya di persimpangan dekat sekolah, ia melihat Rio dan Zahra sedang menunggu. Tanpa aba-aba, Danu menyambar tangan mereka sambil terus berlari.
"Loh, Danu! Kenapa lu lari-lari kayak dikejar setan?!" seru Zahra kaget.
"Iya, ada apa sih, Dan?!" timpal Rio ikut panik.
"Udah, nggak usah banyak tanya! Ayo lari, ada doggy lagi ngamuk ngejar kita di belakang!" teriak Danu ngos-ngosan.
"APA?!" koor Zahra dan Rio berbarengan, wajah mereka langsung pucat pasi melihat anjing galak mengejar dari jarak sepuluh meter.
Tanpa aba-aba lagi, mereka ikut tancap gas menyusul Danu dari belakang. Begitu berhasil masuk melewati gerbang sekolah dan si anjing berhenti di batas jalan, ketiganya langsung ambruk, terduduk lemas di lantai sambil megap-megap kehabisan napas.
"Haa... haa... gila, untung aja tuh anjing nggak ikutan masuk ngelewatin gerbang," engap Rio sambil membungkuk memegangi lututnya. Keringat sebesar biji jagung menetes dari pelipisnya.
Zahra yang napasnya juga masih ngos-ngosan menatap Danu dengan alis berkerut heran. "Lu kenapa sih, Dan? Pagi-pagi bisa-bisanya sampai dikejar anjing rabies gitu?"
Danu menggaruk pipinya yang mendadak terasa panas. "Hahah... itu... efek kesenengan denger bisikan orang-orang di jalan yang pada muji penampilan gue kemarin. Gue sampai meleng nggak lihat jalan, eh tau-tau keinjek ekornya."
"OHHH! Pantesan!" seru Rio, matanya mendadak berbinar lebar seolah baru teringat sesuatu. Sensasi kelelahan akibat lari maraton dadakan itu lenyap seketika. "Eh, yuk buruan masuk ke ruang ekstra musik! Gue mau nunjukin sesuatu yang gila banget ke kalian!"
"Ouh, oke-oke aja sih," jawab Danu bingung, masih berusaha mengatur napas.
Mereka bertiga pun menyusuri koridor dan mendorong pintu ruang ekstra musik. Suasana di dalam terasa sangat damai. Terlihat Kak Rizki sedang duduk santai di sudut ruangan, memetik senar gitarnya sambil bernyanyi pelan, menikmati dunianya sendiri.
"Widih, Kak Rizki asyik bener main gitar nggak ngajak-ngajak nih," goda Rio, sengaja memecah keheningan dengan suara cemprengnya.
Kak Rizki menoleh, tangannya berhenti memetik gitar. "Emangnya kamu bisa main gitar, Yo?"
Rio nyengir kuda dengan wajah tanpa dosa. "Bisa dong... dikit, hehe."
Melihat Rio yang malah asyik basa-basi, Danu langsung menyikut rusuk sahabatnya itu. "Rio, Rio!"
"Aduh! Ehh, ada apa sih, Dan?" Rio mengusap pinggangnya kaget.
"Itu... katanya lu tadi mau nunjukin sesuatu ke kita?" bisik Danu mengingatkan.
"ASTAGA! Iya, hampir aja gue lupa!" Rio buru-buru merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. Ia membuka aplikasi TikTok dan menyodorkan layarnya tepat ke depan wajah Danu dan Zahra dengan gaya luar biasa tengil. "Lihat nih! Mendadak gue jadi seleb sekolah, woi! Followers TikTok gue nembus seribu orang semalaman!"
"Wah, gila! Kok bisa?!" Danu melongo menatap deretan angka di layar itu.
Rio membusungkan dadanya bangga. "Hahah, iyalah! Ini pasti efek panggung kita kemarin. Banyak penonton yang ngerekam terus viral, alhasil pada kepo dan follow akun gue!"
"Hmm, pantesan aja tadi pas mau berangkat gue juga ngerasa dilihatin banyak orang," gumam Danu manggut-manggut takjub.
Masih diliputi star syndrome, Rio menoleh ke arah Zahra dengan senyum meremehkan. "Oh iya, kalau lu gimana, Ra? Followers lu nambah berapa? Paling cuma sepuluh, ya?" ledeknya.
Zahra melipat tangan di depan dada. Bukannya tersinggung, gadis itu malah menatap Rio dengan tatapan kasihan. "Oh, gue? Gue sih biasa aja. Cuma 100k doang."
Keheningan total melanda ruangan itu selama dua detik.
"APA?! SERATUS RIBU?!" pekik Rio, matanya nyaris melompat keluar dari rongganya. "Cuma 100k lu bilang?! Itu banyak banget, woi!"
Zahra mengibaskan rambutnya dengan gaya elegan yang sukses memancing emosi Rio. "Hahaha, iyalah! Lu lupa gue kan sering sharing konten make-up di medsos? Jelas followers gue udah banyak dari dulu. Ditambah efek manggung kemarin, wah, kayaknya bakal makin meledak nih notif gue."
Rio menelan ludah. Harga dirinya sebagai seleb dadakan ber-followers seribu seketika hancur lebur jadi butiran debu. "Hmm... pantesan aja lu bisa beli buku tebal-tebal. Ternyata lu udah punya penghasilan sendiri dari endorse toh."
Zahra menyeringai penuh kemenangan, menepuk bahu Rio pelan. "Makanya... nggak usah sok ngadu followers sama suhu, hahaha!"
"Eleh! Dikasih panggung dikit malah sombong lu!" sungut Rio tak terima, wajahnya ditekuk jengkel.
Pertengkaran abadi ala Tom dan Jerry itu pun kembali pecah di pagi hari. Danu yang berdiri di antara mereka hanya bisa menghela napas pasrah, menatap kelakuan dua sahabatnya itu dengan senyum kecut.
Sementara itu, di sudut ruangan yang lain, Kak Rizki sama sekali tidak memedulikan keributan adik-adik kelasnya. Sang senior justru sedang berdiri tenang di depan dispenser, menatap lampu indikator dengan sabar, menunggu air panasnya siap untuk menyeduh secangkir kopi instan.
BRAK!
Suara hantaman keras tiba-tiba menggelegar, membuat pintu ruang ekstra musik terpentok kencang ke dinding.
Perdebatan Rio dan Zahra terhenti seketika. Danu nyaris melompat dari tempatnya berdiri. Bahkan Kak Rizki yang terkenal paling santai sedunia sampai tersentak kaget dan nyaris menumpahkan seduhan kopi panasnya ke lantai.
Di ambang pintu, berdirilah sesosok cowok dengan kemeja seragam yang dikeluarkan, kerah serabutan, dan tatapan mata setajam belati yang siap menguliti siapa saja.
Dia adalah Reno.
Pentolan berandalan SMA Garuda yang rekam jejaknya sudah melegenda. Konon katanya, ia adalah sosok "tak tersentuh". Jangankan guru BP, Kepala Sekolah pun konon tak berani mengeluarkan anak ini karena bekingan kekuasaan dan kekayaan keluarganya yang bukan main-main.
Reno melangkah masuk dengan rahang mengeras. Sepatunya berderap berat, membawa hawa permusuhan yang begitu pekat hingga membuat bulu kuduk Danu meremang.
"HEI, KALIAN!" bentak Reno lantang, suaranya menggema memantul di dinding ruang kedap suara itu. Telunjuknya menuding tajam tepat ke wajah Danu, Rio, dan Zahra secara bergantian. "Berani-beraninya kalian ganggu dan ngerusak pesona gue kemarin pas acara ultah sekolah, hah?!"
Tiga remaja yang baru saja asyik membahas followers TikTok itu melongo berjamaah. Otak mereka mendadak loading mencerna tuduhan konyol sekaligus menakutkan tersebut.
"HAH?!" seru Danu, Rio, dan Zahra berbarengan, dengan wajah kebingungan tingkat dewa.
Hening seketika menyelimuti ruangan itu. Hanya terdengar suara dengusan napas Reno yang memburu menahan emosi. Tatapan intimidasinya mengunci pergerakan anak-anak ekstra musik. Angin dingin seolah berembus masuk melalui pintu yang terbuka lebar, membawa pertanda bahwa hari-hari tenang mereka baru saja berakhir.
Siapa sebenarnya Reno ini? Apa maksud dari tuduhannya yang merasa tersaingi? Dan badai sebesar apa yang baru saja mendobrak masuk ke markas mereka?
[Bersambung]