Farel Kurniawan, yang dijuluki Dewa Kesenangan — eksistensi di puncak Tujuh Dunia Tanpa Batas — dikhianati muridnya sendiri dan dibunuh dengan cara menghancurkan sebuah Dunia Kecil menggunakan Pagoda Giok yang meledak. Saat kematiannya, ia bertemu Nyai Sekar Lestari, entitas yang jauh melampaui Dewa Sejati, yang memberinya "hadiah": kesempatan kedua. Ia terbangun di tubuhnya sendiri yang berusia 16 tahun, sebagai murid sampah di sekte kultivasi ganda paling rendah, dengan ingatan utuh dan sebuah segel misterius di jiwanya.
Tujuan Farel bukan hanya menjadi kuat lagi. Ia harus memahami siapa yang membawanya ke sekte ini, siapa Roro Ayu Kinasih sebenarnya, dan siapa Nyai Sekar Lestari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 — KISAH YANG TIDAK BOLEH TERULANG KEMBALI
Hujan terus mengetuk jendela, seolah ikut menyertai keheningan yang mulai terasa berat di ruangan itu. Farel menatap ke luar, ke arah kabut yang menutup lereng Gunung Kawi, dan perlahan mulai bercerita dengan suara yang rendah, tenang, namun membawa beban ribuan tahun yang tak terucap.
"Dahulu kala, jauh sebelum Kediri berdiri, jauh sebelum nama-nama yang kita kenal kini terukir di peta, ada seorang anak laki-laki yang dipungut dari reruntuhan sebuah desa yang telah hangus terbakar. Sang Patriark dari sebuah keluarga pejuang yang sederhana menemukannya di antara tumpukan jenazah, sendirian namun masih bernapas. Ia dibesarkan di sana, bukan sebagai anak kandung, melainkan sebagai salah satu pengikut — seseorang yang bersyukur atas tempat berteduh dan sepotong makanan."
Farel berhenti sejenak, menelan ludah, lalu melanjutkan perlahan.
"Namun saat Sang Patriark wafat, perlindungan itu lenyap begitu saja. Di usia dua belas tahun, anak itu dikirim ke medan perang pertama kali. Lalu yang kedua, ketiga, dan tak lama kemudian — hampir setiap pertempuran yang dihadapi keluarga itu menjadi tempat ia diutus. Mereka menyadari satu hal yang mengerikan: entah seberapa gawat pertempuran itu, ia selalu pulang hidup-hidup. Bukan karena ia kuat, tapi karena keberuntungan yang seakan tak berpihak pada siapa pun selain dirinya. Maka mereka memanfaatkannya — mengirimnya ke tempat yang terlalu berbahaya bagi putra-putra keluarga, ke tempat yang tak ada orang lain yang berani pergi."
Putri Kinanthi mendengarkan dalam diam. Awalnya ia menduga mungkin itu sekadar kisah kiasan, namun semakin Farel bercerita, semakin ia merasa ada sesuatu yang nyata dan menyakitkan di balik setiap kata yang terucap.
"Di tengah semua itu, hanya satu orang yang benar-benar melihatnya bukan sebagai alat, bukan sebagai pembawa keberuntungan — melainkan sebagai manusia biasa. Dia adalah putri tunggal keluarga itu, seorang gadis pemberani dan berbakat yang dilatih untuk menjadi pendekar pedang terhebat generasinya. Mereka tumbuh bersama, seumuran, saling menemani di antara dinginnya latihan pedang dan hiruk-pikuk persiapan perang. Saat ia pulang dari medan pertempuran dengan luka-luka di tubuhnya, dialah yang menunggunya. Ia mengajarinya apa yang ia ketahui tentang pedang, agar setidaknya ia memiliki cara untuk melindungi dirinya sendiri di tempat yang kejam itu."
Cahaya lembut namun menyakitkan berkilat di mata Farel.
"Seiring berjalannya waktu, rasa itu tumbuh di antara mereka — murni, sederhana, dan begitu berharga di tengah dunia yang penuh pertumpahan darah. Namun takdir mulai menampakkan wajah lain. Negeri itu mencapai masa kejayaannya di bawah seorang Raja muda yang ambisius, yang menaklukkan wilayah demi wilayah dengan pedang dan kemenangan gemilang. Dalam salah satu pesta kemenangan, Raja itu melihat gadis itu. Kecantikannya, keberaniannya, senyumnya yang teguh — semuanya membuatnya terpikat."
Farel menghela napas panjang, dan keheningan yang menyakitkan menyusul sejenak.
"Raja itu memintanya menjadi istrinya. Ketika ditolak, ia memakai kekuasaan — mengirim utusan resmi kepada ayahnya, dan bagi seorang kepala keluarga kecil yang baru saja merasakan manis kemenangan kerajaan, itu adalah kehormatan yang tak bisa ditolak. Perjodohan ditetapkan tanpa menanyakan kata terakhir dari gadis itu."
Mata Putri Kinanthi berkaca-kaca, ia menggenggam tangannya sendiri erat-erat.
"Malam sebelum upacara pertunangan, mereka kabur. Berlari menembus hutan belantara, menyeberangi sungai deras, mendaki pegunungan yang terjal. Dua tahun penuh mereka hidup dalam pelarian — tidur di gua, makan apa saja yang bisa ditemukan, selalu menoleh ke belakang karena takut bayangan pengejar telah berada di belakang pundak mereka. Namun Raja itu memiliki kekuasaan yang luas. Emas, prajurit, sekte-sekte bayaran — semuanya ia gunakan untuk memburu mereka. Luka-luka menumpuk. Kelelahan menjadi teman yang tak terpisahkan. Tubuh mereka yang masih muda perlahan-lahan menyerah pada penderitaan yang tiada akhir."
Suara Farel bergetar pelan, namun ia terus bercerita.
"Hingga suatu hari, di sebuah gua kecil di lereng gunung yang jauh, gadis itu jatuh sakit. Demam tinggi merenggut sisa tenaganya. Pemuda itu pergi mencarikan makanan dan obat dengan segala cara yang dimilikinya — bertarung sendirian di tengah hujan, mempertaruhkan nyawanya hanya untuk segenggam akar-akaran. Namun saat ia kembali, gadis itu terbaring lemah, menyentuh pipinya dengan tangan yang dingin, dan memintanya untuk berjanji — tetap hidup, menemukan kebahagiaan, bahkan tanpa dirinya. Lalu... ia menutup matanya untuk selamanya dalam pelukan pemuda itu."
Hening. Hanya suara hujan yang terdengar semakin deras, seakan langit ikut menangis bersama kisah itu. Putri Kinanthi menunduk, air mata menetes di pipinya tanpa ia sadari.
"Kisah itu belum berakhir di sana," Farel melanjutkan dengan senyum getir yang hampir tak terlihat. "Pemuda itu tidak mati bersamanya — setidaknya bukan tubuhnya. Dalam keputusasaannya yang paling dalam, ia berlari ke arah pengejar yang datang, menghunus pedang dengan niat hanya satu: membunuh sebanyak mungkin sebelum ia ikut pergi menyusul kekasihnya. Namun di saat yang paling gelap, seorang pendekar misterius menemukan dirinya yang nyaris mati. Ia diselamatkan, namun jiwanya telah hancur berkeping-keping. Satu-satunya kata yang membuatnya tetap berdiri adalah: balas dendam."
Farel terdiam cukup lama sebelum melanjutkan, dan suaranya kini terasa jauh, seakan menceritakan kisah orang lain yang pernah menjadi dirinya.
"Ia berlatih dengan kegilaan yang tak pernah terlihat sebelumnya. Waktu berlalu, dan akhirnya ia menjadi kuat — begitu kuat hingga tak ada lagi yang mampu menghentikannya. Ia kembali ke kerajaan itu, dan apa yang terjadi kemudian adalah kehancuran total. Raja itu jatuh, para penasihatnya binasa, mereka yang menyerahkan gadis itu pada takdirnya pun tak luput. Tak ada yang tahu persis berapa banyak nyawa yang hilang dalam badai kemarahannya. Kerajaan itu lenyap dari peta, dan tanah bekas kekuasaannya menjadi tempat sunyi yang tak berani didatangi orang selama ratusan tahun."
Putri Kinanthi menatapnya dengan napas tertahan. "Lalu... apa yang terjadi padanya? Pada pemuda itu?"
Farel menatap ke arah bayangannya sendiri di kaca jendela yang basah oleh air hujan.
"Ia hidup dalam kekosongan yang panjang. Kemenangan terasa hambar. Dunia telah kehilangan maknanya. Hingga akhirnya, guru pertamanya — pendekar yang menyelamatkannya dulu — menemukan dirinya yang nyaris hancur kembali. Selama bertahun-tahun ia dibimbing untuk kembali memahami arti hidup. Namun waktu yang terbuang tak bisa dikembalikan. Ia menghabiskan sisa umurnya untuk belajar, memahami, menebus, dan menyembuhkan luka-luka dunia yang ia temui. Ia menyadari pada akhirnya: memusuhi seluruh dunia jauh lebih mudah daripada memusuhi kesedihan di dalam hatinya sendiri."
Ia menoleh perlahan kepada Putri Kinanthi, dan matanya yang dalam memancarkan ketulusan yang menyentuh hati.
"Itulah sebabnya aku tidak akan membiarkan cerita yang sama terulang kembali di depan mataku. Bagi dunia luar, mereka hanyalah sepasang kekasih yang lari dari kenyataan. Namun bagiku... mereka adalah kesempatan kedua. Kesempatan untuk menulis akhir yang berbeda."
Putri Kinanthi tertegun, lalu perlahan tersenyum di antara sisa air matanya. "Aku mengerti sekarang... Terima kasih telah berbagi kisah itu denganku, Farel."
Farel mengangguk pelan, berdiri dan menutup jendela. "Istirahatlah, Nona Puspa. Besok pagi, hujan pasti sudah reda. Dan perjalanan kita menuju Kediri akan membawa kita satu langkah lebih dekat — bukan menuju akhir yang menyedihkan, melainkan menuju awal yang baru."
Ia berjalan keluar kamar, meninggalkan gadis itu yang masih duduk dalam diam, merenungkan cerita yang begitu berat, namun di baliknya — ada harapan yang hangat, seperti api kecil yang tak akan padam walau hujan turun deras sekalipun.
BERSAMBUNG...