Demi membeli sebuah kue ulang tahun untuk sang adik, Rio yang baru berusia sepuluh tahun rela tak menebus obat hingga penyakit jantungnya kumat parah dan nyaris merenggut nyawanya. Tak ingin ibunya mati perlahan karena terjerat hutang biaya operasi sebesar lima ratus juta, Rio nekat kabur dari rumah sakit di tengah malam untuk menjemput ajalnya sendiri, meninggalkan ibunya yang hancur dalam tangisan. Namun takdir berkata lain; lima belas tahun berlalu, Rio yang diselamatkan oleh seorang konglomerat kini kembali sebagai Direktur Utama Grup Sentosa yang berkuasa, hanya untuk mendapati kenyataan yang menjijikkan. Rizky, adik kecil yang dulu sangat ia sayangi, kini tumbuh menjadi pria gila harta yang tega mengusir dan tak mengakui ibu kandung mereka yang pincang di tengah kemewahan pesta pernikahannya. Di detik itulah Rio melangkah maju ke tengah pesta, bukan lagi sebagai kakak yang rela berkorban, melainkan sebagai sang penguasa yang akan menghancurkan siapa pun yang berani meneteskan air
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Lima belas tahun telah berlalu sejak malam hujan badai yang tragis itu.
Waktu mengubah banyak hal termasuk nasib seorang bocah berpenyakit jantung yang nyaris mati di jalanan.
Tok tok tok.
Suara ketukan terdengar mengetuk pintu kayu jati berukir mewah.
"Masuk," ucap sebuah suara bariton yang berat dan dingin dari dalam ruangan.
Cklek.
Pintu terbuka menampilkan seorang wanita cantik berkacamata dengan setelan jas rapi.
Dia adalah Nadia, asisten pribadi nomor satu di perusahaan raksasa tersebut.
Nadia melangkah masuk ke dalam ruangan kantor seluas lapangan basket yang berada di lantai lima puluh.
Di ujung ruangan itu tampak seorang pria muda berdiri tegap menghadap dinding kaca raksasa.
Pria itu mengenakan setelan jas hitam pekat buatan desainer ternama Eropa yang sangat pas di tubuh atletisnya.
Rambutnya disisir rapi ke belakang menampilkan fitur wajah yang tegas, rahang yang kokoh, dan tatapan mata setajam elang.
Dia adalah Rio Dirgantara yang kini telah menginjak usia dua puluh lima tahun.
Bocah penyakitan itu kini telah berubah menjadi predator paling mematikan di dunia bisnis ibu kota.
"Lapor Tuan Muda Rio, acara pelantikan Anda sebagai Direktur Utama Grup Sentosa yang baru berjalan lancar," kata Nadia menunduk hormat.
"Semua dewan direksi sudah menandatangani dokumen peralihan kekuasaan dari Tuan Besar Bramantyo," lanjut asisten wanita itu.
Rio tidak berbalik dan tetap menatap pemandangan kota Jakarta yang padat dari ketinggian.
"Bagaimana keadaan Kakek hari ini?" tanya Rio dengan nada suara yang sedikit melunak.
Bramantyo Sentosa adalah pria yang memberinya jantung baru dan kehidupan kedua yang luar biasa.
Rio sudah menganggap pria paruh baya itu sebagai kakek kandungnya sendiri.
"Tuan Besar sedang beristirahat di rumah utama, tekanan darah beliau sudah kembali normal," jawab Nadia tersenyum profesional.
"Baguslah, pastikan tim dokter selalu bersiaga dua puluh empat jam untuk Kakek," perintah Rio membalikkan badannya.
Langkah sepatunya berbunyi tak tak tak saat dia berjalan menuju meja kerjanya yang terbuat dari kayu mahoni.
Rio duduk di kursi kebesarannya lalu menatap Nadia dengan sorot mata yang kembali dingin.
"Lalu bagaimana dengan tugas utamamu? Apakah kamu sudah menemukan mereka?" tanya Rio langsung pada intinya.
Nadia terdiam sejenak lalu membuka layar tablet di tangannya dengan raut wajah sedikit ragu.
"Maaf Tuan Rio, tim intelijen kita masih kesulitan melacak keberadaan Ibu Santi dan adik Anda Rizky," lapor Nadia hati-hati.
Brak.
Rio memukul meja kerjanya dengan pelan namun cukup membuat Nadia menelan ludah.
"Sudah sebulan aku menyuruhmu mencari, kenapa Grup Sentosa yang menguasai kota ini tidak bisa menemukan dua orang?!" suara Rio sedikit meninggi.
"Kawasan rumah petak tempat Tuan tinggal dulu sudah digusur sepuluh tahun yang lalu Tuan," jelas Nadia cepat.
"Tidak ada data perpindahan penduduk yang jelas, dan nama Santi terlalu banyak di catatan sipil kota ini," tambahnya lagi.
Rio menghela nafas panjang lalu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan raut wajah lelah.
Tangannya tanpa sadar meraba dada kirinya tepat di mana bekas luka operasi transplantasi itu berada.
Jantung milik orang lain berdetak kuat di dalam dadanya memberikan kehidupan yang seharusnya sudah berakhir lima belas tahun lalu.
"Terus cari Nadia, kerahkan lebih banyak orang dan bayar berapapun informan yang punya petunjuk," perintah Rio mutlak.
"Aku harus menemukan Ibuku dan memberikan dunia ini kepadanya, aku sudah terlalu lama meninggalkan mereka," gumam Rio dengan suara bergetar pelan.
"Baik Tuan, saya akan melipatgandakan tim pencarian mulai hari ini juga," janji Nadia membungkuk hormat lalu pamit keluar dari ruangan.
Sepeninggal Nadia, Rio kembali menatap foto kusam yang tersimpan rapi di dalam dompetnya.
Itu adalah foto dirinya saat berumur tujuh tahun bersama ibunya dan Rizky yang masih bayi.
"Ibu, Rizky, tunggu Kakak sebentar lagi, Kakak janji kita akan kumpul lagi," batin Rio menutup dompetnya dengan tekad yang membara.
Sementara itu di sebuah restoran mewah bergaya klasik Eropa di pusat perbelanjaan elit.
Denting.
Suara garpu dan pisau perak beradu dengan piring porselen terdengar elegan.
Seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun tampak duduk gugup menghadapi sepotong daging steak mahal di depannya.
Pemuda itu memakai kemeja bermerk palsu yang sengaja dia beli di pasar loak agar terlihat kaya.
Dia adalah Rizky Dirgantara, adik kandung Rio yang kini telah tumbuh dewasa.