Pradipta mendirikan divisi PRADA TRACE. Dia menerima klien yang ingin mencari anggota keluarga, teman, atau kerabat yang hilang. Pradipta bekerja sama dengan Gilang dalam menjalankan PRADA TRACE.
Namun setiap kasus yang mereka dapat, selalu menuntun mereka ke sebuah misteri yang harus dipecahkan.
Terkadang, orang yang mereka cari sudah menjadi arwah. Gilang pun harus menggunakan kemampuannya untuk menemukan jejak arwah dibantu oleh Prisa dan Jung Kook.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran yang Tak Sempat Terucap
Arga terus menyaksikan saat jasadnya dimasukkan ke liang lahat. Pria itu terus melihat Indri yang masih menangis. Tak ayal, hal tersebut membuat Arga bersedih. Dia tidak bisa pergi jika Indri terus bersedih seperti ini.
Acara pemakaman pun akhirnya selesai. Satu per satu warga yang mengantarkan Arga ke pembaringan terakhirnya meninggalkan area pemakaman. Giana berinisiatif untuk menemani Indri yang masih terlihat terpukul.
“Ayo, In,” ajak Giana.
“Aku masih mau di sini,” jawab Indri dengan suara serak karena terlalu banyak menangis.
“Arga udah tenang di tempatnya. Kalau kamu seperti ini, justru memberatkan Arga nantinya. Kamu harus kuat, In. Aku tahu ini sulit buat kamu. Tapi aku yakin, Arga ingin kamu menjalani hidup dengan baik walau dia nggak ada di sisi kamu lagi.”
“Semua gara-gara aku, Gi. Kalau aku nggak ngancam mau bunuh diri, Arga nggak akan nekat pergi malam-malam buat nemuin aku. Kenapa aku egois banget. selama ini Arga sabar banget menghadapi aku.
Bahkan dia selalu nasehatin aku supaya aku nggak berantem terus sama Mama dan Papa. Yang bikin aku sakit hati, kenapa Mama dan Papa nggak mau melihat sisi baik Arga. Kenapa mereka selalu melihat orang dari materi aja.”
“Aku tahu ini berat untuk kamu, In. Tapi Tuhan nggak akan kasih cobaan melebihi kemampuan hamba-Nya. Tuhan kasih cobaan buat kamu itu karena kamu mampu melewatinya.”
“In, ayo pulang, Nak. Kamu jangan seperti ini. Arga pasti sedih kalau lihat kamu kayak gini,” sambung Ratna. Wanita itu juga ikut membujuk Indri.
“Ibu… aku udah nggak bisa lihat Arga lagi. Aku nggak bisa dengar suaranya lagi. kalau aku kangen dia, gimana?”
Indri kembali menangis. Ratna membantu Indri bangkit lalu memeluknya. “Ibu juga sangat sayang Arga. Dia anak yang baik. Ingatlah semua kebaikannya dan jangan lupa kirimkan doa untuknya.
Itulah cara terbaik yang bisa kita lakukan untuknya. Simpan semua kenangan baik tentangnya di dalam hati dan pikiranmu. Itu obat kangen paling mujarab.”
Indri mengangguk pelan. Berbicara dengan Ratna sedikit banyak membuat perasaannya tenang. Arga memang banyak menceritakan tentang Ratna.
Sama seperti halnya Ratna, Arga juga sudah menganggap wanita itu sebagai pengganti ibunya dan sangat menyayanginya.
Sebelumnya, Indri sempat bertemu dengan Ratna beberapa kali. Namun, baru kali ini dia berbicara panjang lebar dengan wanita itu.
Berkat bujukan Ratna, Indri akhirnya mau meninggalkan makam Arga. Sesekali wanita itu menoleh ke belakang.
Sepertinya masih berat meninggalkan kekasihnya terbaring sendirian di sana. Ratna merangkul bahu Indri, mencoba memberi kekuatan kepada wanita muda itu.
Pradipta, Gilang, dan Giana bergegas menyusul Ratna. Ada hal berkaitan dengan tahlilan yang ingin dibicarakan Pradipta.
“Bu Ratna, soal tahlilan, rencananya mau diadakan di mana?” tanya Pradipta setelah berhasil menyejajari langkah wanita itu.
“Mau di rumah saya, boleh. Tapi Pak RT mengusulkan di mushola aja, supaya banyak yang datang dan mendoakan Arga. Saya juga setuju. Anak-anak yang diajar mengaji oleh Arga juga bisa datang untuk mendoakannya.”
“Kalau begitu, apa Ibu bisa mengaturnya? Malam ini tahlilannya dimulai, kan?”
“Iya. Saya akan mengurusnya,” jawab Ratna cepat.
Pradipta tersenyum lega. Selain bisa menjalankan amanat Danu, Pradipta juga bisa mengajak orang-orang yang mengenal Arga untuk mendoakan pria itu.
“In, aku mau bicara,” ujar Gilang kepada Indri.
Ratna melepaskan rangkulannya dan membiarkan wanita itu berjalan dengan Gilang. Sedangkan Pradipta berjalan bersama Ratna dan Giana. Pria itu membicarakan pelaksanaan rencana tahlilan nanti malam.
Sementara itu, Gilang membicarakan rencana Arga untuk merasukinya dan mengucapkan perpisahan kepada kekasihnya, Indri.
“In, kamu tahu, kan, kalau aku ini indigo?” tanya Gilang membuka pembicaraan.
“Iya. Kenapa? Oh ya, apa Arga masih ada?”
“Iya. Dia masih ada. Dia belum bisa pergi. Ada yang masih dipikirkan olehnya.”
Tidak ada tanggapan dari Indri. Wanita itu menduga, hal yang dipikirkan Arga dan membuatnya belum bisa pergi karena dirinya.
“Dia mau berbicara denganmu sebelum dia pergi. Kamu mau bicara dengannya?”
Sontak Indri melihat Gilang. “Aku bisa bicara dengan Arga? Tapi gimana caranya?”
“Aku mengizinkan Arga untuk merasukiku. Jadi, nanti yang akan berbicara adalah dia bukan aku. Kalau kamu mau, beri tahu aku kapan kamu siap. Karena setelah berbicara denganmu, dia akan langsung pergi.”
“Apa aku bisa melihatnya?” tanya Indri penuh harap.
“Soal itu, kayaknya nggak bisa,” jawab Gilang pelan.
“Aku mau bicara dan melihatnya. Apa itu mungkin? Untuk terakhir kalinya, apa bisa?”
Tidak ada jawaban dari Gilang. Membuat Arga muncul dan berbicara dengan Indri sesuatu yang mustahil untuknya. Namun kalau merasukinya dan membuat Arga berbicara langsung dengan Indri, Gilang masih bisa mengusahakannya.
“Aku akan coba tanya pada Ahqam. Siapa tahu jin moyang itu tahu caranya,” celetuk Jung Kook tiba-tiba. Rupanya, dia juga mendengarkan perbincangan Gilang dan Indri.
“Ya udah, sono. Tanyain sama si Tom Cruise, dia punya cara nggak.”
Tanpa membuang waktu, Jung Kook langsung menghilang. Gilang tetap menemani Indri kembali ke kos Arga sambil menasihatinya agar tidak berputus asa dan tetap semangat menjalani hidup.
Sesampainya di kos Arga, Ratna memberikan kunci kamar Arga kepada Indri. Wanita itu masuk ke dalam kamar yang sudah sebulan tidak pernah dibuka. Indri mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
Sebagai seorang lelaki, Arga sangat peduli akan kebersihan dan kerapian. Dia tidak pernah meninggalkan kamar dalam keadaan berantakan.
Bantal, guling, dan selimut yang terlipat tertata rapi di atas kasur. Lantai kamar memang agak berdebu karena sudah sebulan tidak pernah disapu dan dipel. Indri kemudian membuka lemari baju. Pakaian Arga juga tersusun rapi.
Di saat Indri sedang melihat-lihat keadaan kamar Arga, Ratna masuk ke dalamnya. Dia duduk di sisi ranjang sambil memandangi Indri yang sedang melihat pakaian Arga.
“Satu yang paling Ibu suka dari Arga, dia itu anak yang rajin. Dia selalu membersihkan kamarnya sebelum pergi bekerja,” ujar Ratna.
Indri mengangguk, menyetujui ucapan Ratna barusan. Setelah puas melihat isi lemari Arga, Indri hendak menutup pintunya. Namun sudut matanya melihat sebuah kotak kecil yang berada di bagian belakang tumpukan pakaian.
Indri mengambil kotak tersebut. Dilihat dari bentuknya, kotak itu tampak seperti kotak cincin. Dengan perasaan berdebar, Indri membuka kotak tersebut.
Matanya langsung berkaca-kaca saat melihat sebuah cincin yang terbuat dari emas putih dengan satu mata di bagian tengahnya.
“Ini… cincin siapa, Bu?” tanya Indri dengan suara bergetar. Dia memperlihatkan cincin dalam kotak tersebut.
Ratna menarik napas panjang ketika melihat cincin tersebut. Dia ingat betul ketika Arga mengajaknya membeli cincin itu.
“Itu… cincin untuk melamarmu,” jawab Ratna dengan suara tercekat menahan tangis.
Tubuh Indri terasa lemas. Wanita itu pun berjongkok sambil memegangi kotak cincin di tangannya.
“Arga!” panggil Indri sambil berlinangan air mata. Tangisnya seketika pecah mengetahui bahwa Arga diam-diam berencana melamarnya. “ARGA!!!”
***
Mengsyedih🤧
semoga neng Giana baik baik aja 🙏