“Affan, aku ingin nafkah batin.”
“Kalau kamu menginginkannya, aku bisa mencarikan pekerjaan untukmu sebagai PSK. Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau.”
Hulya Anindita tidak pernah membayangkan pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru berubah menjadi neraka. Menikah dengan Affandy Frazendra tanpa pernah bertemu sebelumnya membuat Hulya harus menjalani rumah tangga dengan seorang pria yang bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai istri.
Kebencian Affandy tidak berhenti pada sikap dingin dan pengabaian. Hulya harus menerima penghinaan, kekerasan, bahkan perlakuan kejam yang perlahan menghancurkan dirinya. Ironisnya, pernikahan itu justru terjadi atas keinginan Affandy sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecupan Singkat
Hulya Anindita pulang ke rumah dengan hati yang benar-benar hancur setelah mendengar pengakuan Tiffany. Bagaimana mungkin Affandy melakukan hal seperti itu, sementara selama ini ia berusaha menjaga dirinya dari pria lain?
Hulya menangis di sudut ruangan. Wanita itu tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk menghadapi kelakuan suaminya. Hatinya mulai lelah setelah mengetahui semua kenyataan dari Tiffany.
"Hulya!"
Terdengar teriakan Affandy dari luar. Pintu terhempas dengan keras. Sepertinya laki-laki itu sedang diliputi amarah.
"Hulya!"
Affandy melihat istrinya sedang duduk di lantai dengan air mata yang terus mengalir. Rahangnya mengeras, sementara tatapannya terlihat tajam. Ia menghampiri Hulya dengan langkah cepat.
"Sini kamu!"
"Aw!"
"Sakit, Affan. Lepasin!"
"Kamu mulai berani main-main sama aku?"
"Lepasin. Tangan aku sakit!" Hulya berusaha melepaskan genggaman pria itu.
"Affan, aku mohon, lepasin."
"Hiks ... Hiks..."
"Sakit?" tanya Affandy dingin. "Itu balasan karena kamu sudah menampar Tiffany."
"Dia duluan, Affan. Dia terus gangguin aku."
"Hiks ... Hiks ... Lepas."
Air mata Hulya semakin deras. Rasa sakit yang ia rasakan sudah tidak tertahankan lagi.
"Kamu jangan bohong, Hulya. Tiffany ke sana cuma mau duduk, tapi kamu malah menampar dia."
"Affan, aku mohon. Tangan aku sakit."
"Sakit, 'kan? Ini yang aku rasain setelah kamu menampar kekasihku."
"Hiks ... Hiks... Sakit."
Affandy semakin mengeratkan genggamannya pada pergelangan tangan Hulya. Pria itu seolah tidak peduli dengan rasa sakit yang ditimbulkannya.
"Affan, berhenti."
"Rasain aja, Hulya. Kamu sendiri yang cari ribut sama aku."
"Affan, aku nggak kuat. Lepasin. Hiks!"
"Nikmati aja, Hulya. Ini, 'kan, yang kamu mau."
"Affan, aku mohon, lepasin."
"Kamu yang mulai duluan. Jadi rasain aja."
"Hiks ... Mama, Papa..."
Tangisan Hulya berubah menjadi isak yang semakin memilukan. Seketika Affandy melonggarkan genggamannya ketika Hulya berteriak memanggil orang tuanya.
Hulya segera memegangi pergelangan tangannya yang sudah memerah.
"Hiks..."
Ia menangis tersedu-sedu.
"Sakit," lirih wanita itu.
Hulya menatap Affandy dengan mata sembap.
"Kamu mau tahu kenapa aku nampar dia?"
"Itu karena salah kamu."
"SALAH KAMU, AFFAN!" bentak Hulya.
"Aku mencoba menjaga diri, tapi kamu malah tidur sama perempuan lain."
"Hiks ... Hiks..."
"Tidur? Maksud kamu?"
"Aku udah tau, Affan. Ternyata kamu itu laki-laki murahan."
"Hulya!"
"AFFANDY FRAZENDRA! Aku belum selesai ngomong."
"Aku ngobrol sama tetangga kita, kamu marah besar. Sedangkan kamu, dengan mudahnya tidur sama perempuan lain. Laki-laki macam apa kamu?"
"Hiks..."
"Mana harga diri kamu sebagai laki-laki?"
"Hulya, aku—"
"Diam, Affan. Kalau kamu nggak menerima aku sebagai istri, nggak apa-apa. Aku terima."
"Tapi setelah Tiffany bilang kalau kalian sudah tidur bersama..."
"Hiks ... Hiks ... Hatiku sakit, Affan."
Hulya melangkah lebih dekat. Tiba-tiba ia memukul dada pria itu berkali-kali.
Bugh! Bugh! Bugh!
"Kenapa kamu jahat sama aku? Aku salah apa?"
Affandy hanya diam. Untuk pertama kalinya, pria itu tidak mampu membalas perkataan Hulya.
"Kamu menyiksa aku gara-gara perempuan itu."
Bugh! Bugh! Bugh!
"Aku nggak minta dicintai, Affan. Setidaknya kamu jangan main kasar sama aku."
Hulya mendorong tubuh pria itu.
"Besok aku mau pulang ke Kalimantan. Aku kangen sama orangtuaku."
"Hulya..."
Wanita itu berbalik. Perlahan, ia berjalan menuju kamar. Pergelangan tangannya terasa begitu sakit akibat perlakuan Affandy tadi.
Affandy hanya terdiam, lalu menatap telapak tangannya sendiri.
"Hulya..." ucapnya lirih.
[] [] []
Malam tiba. Affandy terbangun dari tidurnya. Ia baru menyadari bahwa setelah bertengkar dengan Hulya, dirinya tertidur di sofa. Sebelum beranjak, Affandy merenung sejenak. Ia baru benar-benar menyadari bahwa dirinya telah melakukan kekerasan terhadap istrinya.
Affandy Frazendra memperhatikan rumah mereka yang begitu sepi. Tidak terdengar suara apa pun. Ia kemudian melangkah menuju kamar.
Di sana, seorang wanita terlihat duduk di lantai sambil memeluk lututnya sendiri. Affandy mendekat. Hulya sama sekali tidak menyadari kehadiran pria itu karena sedang membelakanginya.
"Mama..."
"Hiks..."
"Tangan Hulya sakit."
"Hiks ... Hiks..."
"Papa bilang Hulya akan bahagia sama suami Hulya sendiri. Nyatanya enggak, Pa."
"Hiks ... Hiks..."
"Cuma Papa yang tahu bagaimana menjadikan Hulya seperti seorang ratu."
"Hiks..."
"Sakit..."
"Hulya mau pulang. Hulya kangen sama Mama, Papa."
"Kenapa takdirku harus seperti ini, Tuhan?"
"Hulya."
Hulya menoleh ke belakang. Begitu melihat Affandy, tubuhnya seketika menegang. Ketakutan terlihat jelas di wajahnya.
"Jangan, Affan."
Hulya menggelengkan kepalanya.
"Jangan apa-apain aku. Aku mohon sama kamu."
"Sini," ajak Affandy.
"Enggak, aku takut. Aku nggak mau."
Hulya berusaha beranjak dari tempat duduknya. Namun, Affandy lebih dulu menarik tubuhnya hingga wanita itu berada dalam pelukan suaminya.
"Hiks ... Jangan pukul aku."
"Sakit."
"Jangan nangis lagi, ya."
"Sakit, Affan."
"Iya, iya ... Besok pagi kita ke dokter."
Hulya masih sesenggukan. Affandy mengusap kepala wanita itu dengan lembut.
"Besok aku mau pulang."
"Nggak boleh, kamu harus tetap di sini."
Affandy tidak mungkin membiarkan wanita itu pulang dalam keadaan seperti ini. Ia takut keburukannya terbongkar kepada semua orang.
"Aku takut sama kamu."
"Hiks ... Hiks..."
"Nggak usah takut lagi. Aku nggak akan marah."
"Aku mau pulang, hiks."
Perlahan Hulya mulai tenang. Tangisnya mereda dalam pelukan Affandy. Tiba-tiba terdengar suara ponsel. Affandy merogoh saku celananya. Ketika melihat layar ponsel, ternyata Tiffany yang menghubunginya. Affandy langsung mematikan panggilan tersebut.
Lagi dan lagi Tiffany mencoba menghubunginya, tetapi Affandy tetap mengabaikan panggilan itu. Untuk kesekian kalinya ponsel Affandy berbunyi. Kali ini, orangtuanya yang menelepon.
"Mami."
Affandy segera menjawab panggilan video tersebut.
"Assalamualaikum, Mi."
"Waalaikumsalam," jawab seorang wanita yang terlihat dari layar ponsel.
"Gimana kabar kalian? Kenapa nggak pernah datang ke sini?"
"Alhamdulillah baik, Mi. Andy lagi sibuk. Jadi nggak ada waktu untuk ke rumah."
"Hulya mana?"
"Ada, Mi."
"Di mana?"
Affandy tersenyum simpul.
"Kamu bohongin Mami, ya?"
"Enggak," ujar Affandy.
"Mana Hulya? Mama mau bicara sama dia."
Affandy menjauhkan ponselnya dan memperlihatkan Hulya yang sudah tertidur dalam dekapannya.
"Ini yang katanya nggak ada waktu. Ternyata semua waktunya sama istri," ucap Maria.
Affandy tersenyum malu mendengar perkataan ibunya.
"Ya sudah, deh. Mami tutup dulu, ya. Jangan lupa kasih Mama cucu."
"Hehehe..."
Sambungan telepon pun terputus.
Affandy mengangkat tubuh istrinya dan memindahkannya ke atas ranjang. Melihat Hulya yang tertidur, iman Affandy kembali goyah. Ia bingung dengan perasaan yang muncul dalam dirinya. Ada sesuatu yang ingin ia lakukan, tetapi hati kecilnya menolak.
"Maaf, Hulya," lirih Affandy.
Cup!
Satu kecupan singkat ia berikan di bibir wanita itu.
Affandy mengusap bibirnya sendiri.
"Kenapa sama kamu, Andy? Kamu nggak boleh melakukan itu. Kamu nggak cinta sama dia. Kamu cuma kasihan."
"Yang boleh mengandung anak kamu cuma Tiffany. Nggak ada perempuan lain lagi."
Hulya memiringkan tubuhnya dan membelakangi Affandy.
Hal itu membuat Affandy terdiam. Namun, ketika melihat tangan Hulya yang masih memerah, ia kembali tersadar bahwa perlakuannya tadi sudah salah besar.