Rian Prasetyo dapat sistem gila: rugi = uang pribadi.
Masalahnya, setiap kali dia mencoba bangkrut, bisnisnya malah meledak sukses. Gaji karyawan selangit? Mereka jadi super loyal. Jual murah-murah? Pelanggan membludak.
Bikin game asal? Jadi bestseller dunia. Semua orang yakin dia jenius. Padahal dia cuma mau rugi.
Dari sarjana pengangguran dengan Rp 15.000 di kantong, Rian terpaksa menjadi bos konglomerat terkaya se-Indonesia — dan dia BENCI setiap rupiahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 017: Dewa Saham
Rian Prasetyo memandang angka Rp 2.000.000.000.000 di panel Sistem Rugi selama hampir satu jam.
Dua triliun.
Jika dipakai membuka toko, toko itu mungkin malah ramai.
Jika dipakai membuka restoran, restoran itu mungkin jadi tempat wajib foto orang kaya.
Jika dipakai membuka minuman murah, Jakarta mungkin minum madu sampai tahun depan.
Jika dipakai membuka game studio, bisa saja tiga orang yang dianggap gagal tiba-tiba membuat karya bagus.
Rian membutuhkan medan yang benar-benar kejam.
Tempat uang orang pintar pun bisa hilang dalam sehari.
Tempat analisis setebal kitab tetap bisa dihajar rumor.
Tempat semua orang pernah merasa jenius sebelum grafik merah menampar wajah.
Ia menatap Bagas Wicaksono dan berkata, "Aku akan masuk saham."
Bagas yang sedang makan roti berhenti mengunyah.
"Bos, lu yakin?"
"Sangat yakin."
"Lu ngerti saham?"
"Tidak."
Bagas memejamkan mata. "Kenapa jawaban paling menakutkan selalu keluar dengan nada paling tenang?"
Rian membuka daftar perusahaan di Bursa Efek Indonesia. Ia tidak memakai margin, tidak memakai leverage, tidak meminjam uang, dan tidak menyentuh instrumen yang bisa membuatnya melanggar aturan sistem.
Ia hanya membeli saham biasa.
Dalam jumlah yang membuat meja analis gemetar.
Strateginya sederhana.
Cari perusahaan dengan reputasi buruk.
Laporan keuangan jelek.
Prospek industri suram.
Komentar publik pesimis.
Semakin orang menjauh, semakin Rian mendekat.
"Bos," kata Bagas setelah melihat daftar itu, "ini semua saham yang orang forum bilang jangan disentuh bahkan pakai sarung tangan."
"Bagus."
"Ada yang bisnisnya nyaris mati."
"Lebih bagus."
"Ada yang analis kasih rekomendasi jual dengan huruf kapital."
Rian mengangguk puas. "Itu yang kita beli banyak."
Bagas menatapnya seperti menatap orang yang memilih jalan berlubang karena lubangnya terlihat artistik.
Minggu pertama, Rian memasukkan dana besar ke IDX.
Rp 2 triliun dari Dana Sistem.
Ditambah sebagian dana perusahaan yang sah dan sudah dipisahkan untuk investasi jangka panjang.
Total portofolio mencapai sekitar Rp 2,33 triliun.
Setiap transaksi dilakukan terbuka, melalui jalur legal, tanpa hutang dan tanpa trik gelap.
Rian bahkan meminta tim keuangan menulis catatan kepatuhan agar sistem tidak punya alasan membatalkan kerugian.
Ia menunggu kejatuhan dengan hati hampir damai.
Hari pertama, beberapa saham naik sedikit.
Rian tidak panik.
Fluktuasi biasa.
Ia bahkan membuat teh, duduk lebih santai, dan membuka catatan kecil berisi alasan mengapa portofolio ini seharusnya hancur.
Satu perusahaan memiliki pabrik tua.
Satu perusahaan sedang kehilangan pelanggan.
Satu perusahaan bergerak di sektor yang semua analis anggap sudah habis.
Satu lagi punya laporan tahunan yang bahasanya terlalu indah untuk angka yang begitu buruk.
Rian menulis satu kalimat di bawah daftar itu:
Tidak mungkin semua naik.
Hari ketiga, rata-rata portofolio naik sepuluh persen.
Rian mulai curiga.
Akhir minggu pertama, saham-saham yang ia beli naik rata-rata tiga puluh persen.
Rian duduk kaku di depan layar.
"Bagas."
"Ya, Bos?"
"Ini grafiknya salah?"
Bagas menatap layar, lalu menelan ludah. "Kalau salah, semua aplikasi saham se-Indonesia salah bareng."
Di luar kantor, para analis mulai berbisik.
Garuda Emas masuk ke saham tidur.
Ada dana besar mengumpulkan perusahaan jelek.
Mungkin ada informasi tersembunyi.
Mungkin Rian Prasetyo tahu sesuatu.
Minggu kedua, bisikan itu berubah menjadi arus.
Investor ritel mulai mengikuti. Grup diskusi saham penuh tangkapan layar. Akun-akun finansial membuat analisis panjang tentang "pola akumulasi Garuda". Saham-saham yang tadinya sepi mendadak ramai seperti pasar malam.
Ada yang membuat diagram.
Ada yang membandingkan keputusan Rian dengan investor legendaris dunia.
Ada yang menulis, "Kalau Rian masuk, berarti ada hidden value."
Rian membaca kalimat itu dan hampir tertawa pahit.
Hidden value?
Nilai tersembunyi yang ia lihat hanyalah potensi tersembunyi untuk rugi.
Tapi pasar tidak peduli niat.
Pasar hanya melihat uang besar bergerak.
Dan ketika uang besar itu memakai nama Garuda Emas, orang-orang mulai memperlakukan setiap langkahnya seperti wahyu.
Kenaikan meluas.
Empat puluh persen.
Enam puluh persen.
Beberapa saham menyentuh hampir dua kali harga beli.
Rian menatap layar dengan wajah kosong.
Ia sengaja membeli perusahaan yang menurutnya tidak punya masa depan.
Pasar justru menganggap ia menemukan masa depan yang belum dilihat orang lain.
Seorang analis di televisi bisnis berkata, "Rian Prasetyo tampaknya menerapkan strategi contrarian ekstrem. Ia menghindari perusahaan yang sedang indah dan memilih perusahaan yang bisa berbalik arah setelah mendapat kepercayaan pasar."
Rian menunjuk televisi.
"Itu fitnah intelektual."
Bagas mengangguk pelan. "Tapi fitnahnya keren, Bos."
Minggu ketiga, namanya meledak.
Sebuah media finansial online menerbitkan artikel panjang:
Dewa Saham: Bagaimana Pemuda 24 Tahun Mengubah Arah IDX dengan 2 Triliun.
Foto Rian dari acara bisnis lama dipakai sebagai gambar utama. Di bawahnya, orang-orang menulis komentar seperti sedang melihat legenda turun ke bumi.
Dewa Saham.
Jenius muda.
Warren Buffett rasa Nusantara.
Rian membaca komentar terakhir dan hampir melempar ponsel.
Lebih buruk lagi, beberapa wartawan mulai menunggu di lobi gedung.
"Pak Rian, apa strategi Anda dalam memilih saham turnaround?"
"Pak Rian, apakah Garuda Emas sedang membangun konglomerasi lintas sektor lewat pasar modal?"
"Pak Rian, apakah benar Anda sengaja masuk ke saham yang diremehkan untuk mengangkat industri nasional?"
Rian ingin menjawab, "Saya hanya ingin rugi."
Yang keluar dari mulutnya adalah, "Kami melihat potensi yang belum dihargai pasar."
Ia berkata begitu karena terdengar aman dan tidak terlalu panjang.
Bagas yang berdiri di belakangnya langsung menatap langit-langit, seperti ingin meminta maaf kepada masa depan.
"Bos," bisiknya setelah wartawan pergi, "kalimat itu terlalu mahal."
"Aku tahu."
"Orang akan mencetaknya di poster."
"Aku tahu."
Keesokan harinya, kalimat itu menjadi judul baru.
Potensi yang Belum Dihargai Pasar: Filosofi Dewa Saham Muda.
Rian membaca artikel itu dalam diam.
Mulutnya sendiri sudah berkhianat.
"Aku beli saham sampah," katanya kepada Bagas. "Sampah."
Bagas mengangkat bahu. "Mungkin di tangan lu, sampah jadi pupuk."
"Jangan puitis."
Pintu ruang rapat terbuka sebelum Rian selesai menderita.
Seorang pemuda masuk dengan jaket mahal, sepatu mencolok, rambut ditata terlalu niat, dan ponsel gaming di tangan. Ia tersenyum lebar seperti orang yang selalu punya akses ke ruangan mana pun.
"Bang Rian!"
Rian mengangkat alis.
Pemuda itu menepuk dada. "Raka Wijaya. Teman-teman manggil gue Raka. Profesi utama: penyihir."
Bagas menatapnya. "Penyihir?"
Raka mengangkat ponsel. Di layarnya terlihat karakter game berjubah dengan tongkat besar. "Mage. Damage dealer. Kalau di dunia nyata, pekerjaan sampingan gue adalah anak orang kaya."
Rian merasa lelah sebelum percakapan dimulai.
"Ada keperluan?"
"Gue mau ikut Bang Rian investasi." Raka duduk tanpa diminta. "Lima ratus miliar. Cash. Legal. Bersih. Papa gue bilang jangan, berarti biasanya menarik."
Bagas mencondongkan tubuh. "Lu selalu investasi berdasarkan larangan papa?"
"Tidak selalu," jawab Raka santai. "Kadang berdasarkan skin baru di game. Tapi untuk Bang Rian, ini beda. Ini seperti ketemu NPC legendaris yang kasih quest rahasia."
Rian memijat pelipis.
Pemuda ini punya terlalu banyak uang dan terlalu sedikit rasa takut.
Kombinasi yang, sayangnya, sangat umum di sekitar Rian belakangan ini.
Rian menatapnya.
Lima ratus miliar datang dengan gaya anak muda memesan kopi.
"Kamu tahu saya membeli saham berisiko?"
"Justru itu keren." Mata Raka berbinar. "Semua orang beli yang aman. Bang Rian masuk ke tempat yang orang lain takut. Itu gaya build mage late game, bukan nekat."
Rian tidak tahu harus mulai membantah dari kata mana.
Belum sempat ia menjawab, Pak Budiman mengirim pesan: ada beberapa kolega ingin bertemu.
Sore itu, ruang rapat PT Garuda Emas Group menjadi lebih ramai.
Pak Agung Permana datang dengan suara berat dan gaya pengusaha bahan bangunan. Pak Djoko Susanto, lelaki tua berwajah tenang, membawa map properti. Pak Ferry Salim, lebih muda dan rapi, berbicara cepat tentang teknologi dan platform digital.
Mereka semua datang karena satu alasan.
Dewa Saham.
Pak Agung berkata, "Saya suka keberanian Anda. Saya ikut 500 miliar."
Pak Djoko mengangguk. "Saya sudah lama di properti. Anak muda yang bisa membaca siklus pasar seperti Anda jarang. Saya ikut 500 miliar."
Pak Ferry tersenyum. "Data sosial menunjukkan nama Anda punya efek pasar. Saya juga ikut 500 miliar."
Rian duduk di ujung meja, merasa seperti orang yang menggali kubur lalu orang-orang antre menjadikannya kolam renang.
Ia mencoba menolak dengan cara halus.
"Bapak-bapak paham bahwa pasar saham berisiko?"
Pak Agung tertawa. "Tentu."
"Bisa turun tajam."
Pak Djoko menjawab tenang, "Justru karena itu kami memilih ikut orang yang berani saat semua orang takut."
"Tidak ada jaminan."
Pak Ferry tersenyum lebih lebar. "Kalau ada jaminan, return-nya tidak menarik."
Rian kehabisan amunisi.
Setiap peringatan berubah menjadi bukti kebijaksanaan di telinga mereka.
Raka mengangkat tangan. "Berarti total tambahan dua triliun, Bang. Party."
"Ini bukan party," kata Rian.
"Benar," kata Pak Budiman yang ikut hadir dengan senyum puas. "Ini awal lingkaran investor."
Rian menutup mata.
Lingkaran.
Kata itu terdengar seperti jebakan yang sopan.
Malamnya, setelah para investor pergi, Raka masih bertahan. Ia duduk di sofa sambil memainkan game di ponselnya.
"Bang Rian," katanya tiba-tiba, "kalau memang cari proyek besar, gue punya sesuatu."
Rian sudah terlalu lelah untuk takut. "Apa?"
Raka menggeser ponselnya ke meja. Di layar ada foto deretan bangunan beton setengah jadi, besi karatan, rumput liar, dan pagar proyek yang catnya mengelupas.
"Taman Hijau Lestari," kata Raka. "Proyek perumahan di pinggir Jakarta. Developer kabur. Dua ribu lebih pembeli kena masalah. Orang-orang sudah capek berharap. Ada pihak yang mau jual sisa lahannya dengan harga sekitar sepertiga pasar."
"Kenapa tidak ada yang ambil?" tanya Rian.
Raka menghitung dengan jari. "Sengketa dokumen, amarah pembeli lama, biaya konstruksi lanjutan, reputasi buruk, akses jalan belum ideal, dan semua orang takut kalau masuk ke sana malah diseret masalah sosial."
Setiap kata membuat mata Rian makin terang.
Sengketa.
Biaya.
Amarah.
Reputasi buruk.
Itu bukan daftar masalah.
Itu daftar harapan.
Rian menatap foto itu.
Bangunan mangkrak.
Pemilik lama kabur.
Dua ribu keluarga terluka.
Butuh dana besar.
Risiko hukum.
Risiko sosial.
Risiko konstruksi.
Untuk pertama kalinya sejak saham-saham sialan itu naik, mata Rian kembali menyala.
"Proyek mangkrak?"
Raka mengangguk. "Mangkrak parah."
"Butuh banyak uang?"
"Banyak banget."
Rian perlahan tersenyum.
"Ini terdengar... sangat rugi."
Raka tertawa. "Gue tahu Bang Rian bakal suka."
Rian mengambil ponsel itu dan memperbesar foto pagar proyek.
Taman Hijau Lestari.
Akhirnya.
Sebuah kegagalan yang bahkan terlihat mahal dari foto.
Mungkin kali ini, ia benar-benar menemukan lubang yang cukup besar untuk menelan dua triliun.