SINOPSIS
Mati di tangan Antagonis yang kejam? Itu urusan belakangan. Tapi hidup miskin dan banyak utang? Itu penistaan bagi jiwa kapitalis Aura!
Bertransmigrasi ke dalam tubuh Elara—seorang figuran pelayan istana lusuh yang ditakdirkan mati di Bab 10—Aura menolak menyerah pada takdir novel klise. Berbekal insting bisnis tingkat dewa dan satu koin emas pusaka curian, ia nekat menerobos masuk ke ruang kerja Pangeran Caden, sang Antagonis utama yang dingin, sadis, dan luar biasa kaya. Bukannya mengemis nyawa, Elara justru memeras sang pangeran dan menawarinya proposal investasi saham!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Cincin Tunangan dan Sertifikat Keaslian
Sinar matahari pagi menembus jendela penthouse lantai 99 yang kacanya baru saja diganti kilat oleh tim maintenance magis dalam semalam (tentu saja dengan biaya yang ditagihkan ke sisa aset Pangeran Arthur).
Aura terbangun. Hal pertama yang ia rasakan adalah beban berat di pinggangnya—lengan Pangeran Caden yang memeluknya erat seolah ia adalah guling paling berharga di dunia. Hal kedua yang ia sadari adalah kilauan merah yang menyilaukan mata dari jari manis tangan kirinya.
Aura mengangkat tangan kirinya ke udara, menyipitkan mata menatap cincin berlian merah berpotongan zamrud itu.
"Gila," gumam Aura pelan. "Ini Red Diamond asli nggak ya? Seratnya bersih banget. Jangan-jangan ini cuma moissanite yang dikasih pewarna magis?"
"Itu berlian merah murni dari kedalaman Gunung Ignis, Elara. Tidak ada setitik pun cacat di dalamnya."
Suara serak dan berat itu mengejutkan Aura. Ia menoleh dan mendapati Caden sudah bangun, menatapnya dengan senyum geli sambil menopang kepala dengan satu tangan. Dada bidang pria itu terekspos sempurna.
"Oh, Bos udah bangun? Pagi, Bos!" sapa Aura ceria, sama sekali tidak terdistraksi oleh roti sobek milik Caden. Ia justru kembali fokus pada cincinnya. "Kalau ini asli, mana sertifikat GIA-nya? Eh maksudnya, sertifikat keaslian dari asosiasi perhiasan kekaisaran? Tanpa kertas sertifikat, resale value (nilai jual kembali) cincin ini bisa turun tiga puluh persen lho!"
Caden menghela napas, menarik Aura hingga gadis itu kembali berbaring di atas dadanya.
"Kau baru saja dilamar tadi malam, Asisten. Bisakah kau menunda urusan nilai jual kembali setidaknya sampai kita selesai sarapan?" Caden membelai rambut cokelat Aura dengan lembut. "Lagipula, untuk apa kau menjual cincin pertunangan kita?"
"Buat dana darurat dong, Bos!" jawab Aura logis, dagunya bersandar di dada Caden. "Kata pepatah, sedia payung sebelum hujan. Sedia cash sebelum inflasi! Gimana kalau tiba-tiba Bos dipecat dari jabatan Menteri Keuangan? Kita butuh modal buat buka usaha franchise ayam goreng!"
Tawa Caden pecah. "Dipecat? Siapa yang berani memecatku? Seluruh roda ekonomi istana ini berjalan karena emas di brankasku. Jika aku mundur, kekaisaran ini akan bangkrut dalam tiga hari."
"Sombong amat," cibir Aura, mencubit puting Caden dengan iseng.
Caden mendesis pelan, matanya langsung menggelap. Ia membalikkan posisi hingga kini menindih tubuh Aura, menahan kedua pergelangan tangan gadis itu di atas kepala. Hawa pagi yang tadinya santai berubah menjadi sangat berbahaya dan panas.
"Bos ngapain?!" Aura memekik panik, wajahnya memerah.
"Memberikan sanksi indisipliner pada asisten yang berani melecehkan atasannya di pagi hari," bisik Caden tepat di bibir Aura. "Dan aku berencana memotong gajimu seratus emas untuk setiap ciuman yang kau tolak."
"Hah?! Mana ada aturan—mphh!"
Protes Aura kembali dibungkam oleh ciuman panas sang Antagonis. Pada akhirnya, otak kapitalis Aura menyerah, karena jujur saja, pesona pria gila harta ini memang tidak ada tandingannya.
Satu jam kemudian, di Ruang VIP Departemen Keuangan.
Pintu ganda didorong terbuka. Aura melangkah masuk dengan gaya bos besar, mengenakan setelan jas putih yang sangat elegan. Di belakangnya, Caden berjalan dengan wajah sangat segar dan puas, mengenakan setelan hitam yang membuatnya terlihat seperti mafia papan atas.
Mia dan Lucas yang sedang menyusun laporan harian langsung berdiri dan membungkuk.
"Selamat pagi, Yang Mulia Pangeran Caden. Selamat pagi, Bu Bos Elara!" sapa Mia ceria.
"Pagi, Tim!" Aura bertepuk tangan sekali. "Ada pengumuman penting hari ini sebelum kita trading!"
Lucas membetulkan letak kacamatanya. "Apakah ini terkait penangkapan Pangeran Arthur dan Marquis Vane semalam, Nona Elara? Dewan Istana sedang heboh menyita aset mereka."
"Oh, itu mah berita basi!" Aura mengibaskan tangannya, lalu mengangkat tangan kirinya tinggi-tinggi, memamerkan cincin berlian merah yang memantulkan cahaya ke seluruh ruangan.
"Pengumuman pentingnya adalah: Mulai hari ini, gue resmi menjadi Pemegang Saham Mayoritas atas nyawa, aset, dan brankas milik Bos Caden! Tolong siapkan draf Press Release (siaran pers) untuk dikirim ke seluruh media kekaisaran. Judulnya: 'Merger Abad Ini: Asisten Keuangan Mengakuisisi Hati Menteri Keuangan!'"
Kening Lucas berkerut. Matanya menyipit melihat cincin raksasa itu. "T-tunggu... Cincin Berlian Darah Ignis?! Y-Yang Mulia?! Anda melamar Nona Elara?!"
"Benar, Lucas," jawab Caden santai, berjalan menuju kursi kebesarannya. "Siapkan dokumen legalitasnya. Aku ingin nama Elara masuk ke dalam akta seluruh aset pribadiku mulai hari ini."
"KYAAAAA! BU BOS DILAMAR!" Mia menjerit histeris, melompat-lompat kesenangan. "Selamat Bu Bos! Akhirnya romance di ruangan ini legal juga! Saya nggak perlu pakai penutup mata lagi kalau kalian tiba-tiba ciuman!"
"Sst! Jaga rahasia perusahaan, Mia!" Aura tertawa, menepuk pundak Mia. "Nanti pas resepsi, lo gue jadiin pagar ayu VIP. Lo pegang kotak amplop sumbangan ya! Pastiin tamu yang ngasih amplop kosong lo catet namanya ke daftar blacklist (daftar hitam) departemen kita!"
"Siap laksanakan, Bu Bos! Tugas penjaga amplop adalah kehormatan!" hormat Mia dengan gaya militer.
Lucas di sisi lain terlihat sangat pucat. Ia menelan ludah dengan susah payah.
"M-maaf mengganggu euforia ini, Yang Mulia, Nona Elara..." Lucas menyela dengan suara bergetar. "Tapi, ada masalah yang jauh lebih besar dari sekadar press release."
Aura mengerutkan kening. "Masalah apa, Pak Kacamata? Saham gandum kita anjlok?"
"Bukan." Lucas menunjuk tablet komunikasi di tangannya yang berkedip dengan stempel emas berbentuk singa—stempel Kerajaan Pusat.
"Baginda Raja... Ayahanda Anda, Yang Mulia Caden... telah kembali dari kunjungan luar negeri lebih awal setelah mendengar kerusuhan semalam. Beliau menitahkan Anda dan Nona Elara untuk menghadap ke Ruang Tahta. Sekarang juga."
Senyum Aura seketika luntur. "Baginda Raja? Rajanya beneran? Calon bapak mertua?"
"Tepat sekali, Elara," Caden berdiri dari kursinya, wajahnya kembali mendingin. "Orang tua yang selama ini membiarkan istana dikuasai oleh koruptor seperti Vane, kini tiba-tiba peduli setelah putra kesayangannya, Arthur, kujebloskan ke penjara."
Aura berkacak pinggang, menarik napas dalam-dalam. "Wah, bau-baunya ini bakal ada drama mertua feodal yang nolak menantu beda kasta nih. Bos, gue butuh data keuangan istana selama lima tahun terakhir! Mia, print semua neraca laba rugi kita! Kalau si Raja berani hina gue miskin, gue jejelin mukanya pakai laporan pajak!"
"S-siap, Bu Bos! Otw print!" Mia langsung mengetik dengan kecepatan dewa.
Caden menyeringai, matanya memancarkan rasa bangga yang luar biasa. "Mari kita temui ayahku, Calon Istriku. Kita tunjukkan padanya siapa penguasa istana ini yang sebenarnya."
boleh gak bahasa si Elera ini di ganti jadi "Aku" Jangan "Gue" biar kita baca nya enak dikit gitu thor😄kasian di pangeran di gue guein